Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 68. Mengajaknya


__ADS_3

Happy Reading 📖


Anin selamat karena hampir kena cutter selepasnya dia jengkel dan kesal paketnya itu isinya apa?


"Allhamdulilah akhirnya bisa kebuka," Anin menumpuk sampahnya dan membuka isi suratnya.


"Astaga, ini apa? Tulisan kek gini mana bisa baca, pakde ini apa? Pakde tau, atau pakde pernah nemu kosakata seperti ini?" tanya Anin menunjukkan suratnya dan pakde menggeleng.


Sepertinya orang iseng ini, tapi masa iya lewat ekspedisi kalau ngirim. Biasanya kalau lewat ekspedisi sendiri orangnya nggak mau yang aneh-aneh, ngirim paket ya ngirim. Nggak sesampainya seperti yang di ketahui Anin sekarang.


Heran dengan ini orang. Maunya apa?


"Buang ajalah nin, nggak penting kayak begini. Aneh ini paket, masa iya isinya cuma surat doang dan anehnya kenapa ini orang buntel surat sampai beratus-ratus lembar kertas. 'kan capek nin, orangnya nggak mikir apa." Bude juga ngedumel dari tadi.


"Yaudah kalau gitu, buang berarti? Nggak ada yang tau ini, siapa tau ada yang ngerti masalah beginian." Kekeh Anin dengan membaca ulang surat tersebut.


"Bude sama pakde mau ke kamar dulu ya, kamu di sini nanti kalo ada kurir lagi itu bayaran ongkirnya sama buat semua kurirnya biar tau rasa itu orang. Nggak tau apa kita itu butuh duit buat lebaran," ucap Bude dengan berdiri. Pakde juga ikut berdiri dan meminum kopi yang tinggal sedikit.


"Iya okee... Bude, jangankan mau bayar ongkir. Ini mah buat beli permen." Ujar Anin, Anin menggelengkan bahunya dan menatap arah jam.


Ada sedikit waktu bertemu dengan Rifa'i, membahas masalah tadi.


Ia ingin masalahnya clear nggak ada halaman yang berlembar-lembar untuk di selesaikan.


"Eh apa aku ngomong aja ya sama si Ulfa? Curhat sedikit nggak papa kali ya, dia mah colek dikit palingan malu-malu. Tapi, en-nggak aku mau pikir sendiri, nggak boleh urusan orang lain di campurin baur sama urusanku sendiri." Anin pun mengelap handphone dan memencet iKON telepon.


"Nah, aku baru aja mau telepon. Eh, bentar ini nomer telepon siapa? aku baru tau ini nomer."


Anin mengangkat telepon itu dan ada suara hembusan napas di sana.


"Anin, assalamu'alaikum... Maaf mengganggu," ucap Aksa dari balik telepon.


"Wa'alaikumsalam, ada apa Pak? Emangnya bapak mengganggu apanya?" tanya Anin dengan memukul pahanya dan menggigit bibirnya.


Siapa tau ini bos mau apa-apa?


Atau ada yang lain, dengan kata pekerjaan Anin tidak beres. Tapi 'kan Anin selalu mengerjakannya dengan baik tanpa salah sedikitpun.


"Gini, besok malam kita makan malam di resto mau nggak?"

__ADS_1


Hah, apakah ini pertanda mau di lamar?


Anin senyam-senyum sendiri tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan si bos.


"Gimana nin?"


Sekali lagi Aksa memanggil namanya dan Anin mengangguk lebih cepat.


"Iya Pak saya mau."


***


Aksa mengangguk dan tersenyum si pujaan hati yang selalu di nanti-nanti, akhirnya Aksa mendapatkan pilihan perempuan terbaik. Dan Anin bisa menaklukkan hatinya yang dingin itu, seperti orang nggak punya hati, nggak cair-cair. Bikin iri para perempuan nih yang ada.


"Yaudah kalau gitu, besok saya akan jemput kamu kalau boleh. Apa kamu mau berangkat sendiri?" tanya Aksa dengan menyikut lengannya ke meja dan menatap bayangan Anin yang sedang melamun.


"Saya sendiri aja Pak, besok bapak tinggal share-lock aja ke pesan. Nanti biar saya yang akan ke sana naik taksi,"


"Oke kalau gitu saya tutup teleponnya ya, saya ada pekerjaan yang numpuk nih. Apalagi butuh banyak tanda tangan sama saya," sekali lagi Aksa menahan tawanya.


Apa yang lucu coba?


Apakah Anin sudah menjalankan rumah tangga, sepertinya sudah paham dengan adanya 'rumah tangga'. Aksa pun memutuskan sambungan sepihak, meletakkan handphone di samping laptop dan menatap layar laptop yang begitu numpuk pekerjaannya.


Masih 50 berkas yang belum ia tanda tangani dan ada pekerjaannya yang lain, yang akan di presentasikan besok hari bersama tender dari Amerika sana.


"Apa aku besok sekalian beli cincin yah?" ucap Aksa dengan menopang dagunya dan kacamatanya pun ia lepas.


Matanya perih karena pekerjaan dari tadi belum selesai-selesai, ini juga pekerjaan yang sungguh membagongkan sekali.


Asistennya berkata kalau dia akan honeymoon sama istrinya ke Bali dan Aksa yang mengerjakan semuanya.


Padahal, Aksa bilang kalau mau honeymoon bilang dulu sebelum jauh-jauh hari menentukan honeymoon kapan?


Nah, asistennya bilang nggak sempat mau izin cuti karena keluarga dari pihak perempuan memojokkan asistennya itu.


"Hah, coba aja kalau nggak ini. Pasti pekerjaan ku nggak numpuk segunung anakan kek gini. Mana udah habis kopi empat gelas dari tadi, bisa jadi besok aku nggak bisa presentasi dengan baik dan tidak sejalan dengan normal meetingnya. Awas aja kalau udah pulang, aku kasih timpukan kertas yang begitu banyak. Emangnya pekerjaan ini harus di selesaikan dalam kurun dua puluh empat jam. Mati gue nanti," ucap Aksa dengan menyeruput kopinya.


Cemilan dan sisa-sisa roti berserakan di lantai sampai Aksa membanting berkasnya gara-garanya bikin emosi dan bisa jadi berkas itu nggak akan selesai selamanya.

__ADS_1


"Sebelumnya Anin itu apa???" Ini pikirannya ke sana terus, kapan mau selesai?


Aksa memikirkan kalau Anin sesuai hatinya, sepertinya udah menikah dan katanya sih janda.


Aksa mencarinya sampai ujung orok, sampai kena sialnya sendiri dia.


Di kejar orang seperti layaknya pencuri dan dia malam, badannya remuk semua.


Sekarang, dia merasa kalau dirinya belum pantas untuk di sisi Anin.


Umurnya saja sudah matang sekali, akan busuk palingan. Tapi, nggak beda jauh dari umur Anin. Sekitar 3 bulan, masih muda sekali jauh umur mereka.


"Ah, udah jangan mikir ke sana. Pekerjaan aja belum selesai, mau di itu-ituin. Sampai ujung dunia pun aku harus bertanya dengan Anin sendiri," Aksa pun kembali memakai kacamatanya dan ada suara ketukan pintu.


Membuatnya membukakan pintunya.


"Ada apa?" ucapnya dengan menyembulkan harimaunya di dalam.


Ada seseorang yang melahirkannya dan mengurusnya sejak kecil, Aksa menatap heran si ibunya ini.


Sang ibu sepertinya habis terapi, wajahnya segar dan kembali seperti semula.


Perempuan yang berkursi roda itu menghela napasnya dan memegang lembut tangan sang anak.


Memeluknya sebagai kerinduan yang mendalam baginya, karena sudah dua hari tidak bertemu dengan anak tersayangnya ini.


Aksa kuat... Nggak boleh nangis, dia habis membentak ibunya beberapa menit yang lalu.


Sampai ia sadar kalau air mata ibunya turun dari kelopak mata sang ibu. Aksa menatap derasnya air matanya.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya teman-teman


❤️❤️❤️


Jaga kesehatan 😊😊😊


Maaacihhh 🙏🙏❤❤

__ADS_1


__ADS_2