
Happy Reading
Pakde yang duduk santai, Bude yang ngomel-ngomel karena Anin belum pulang-pulang juga dari tadi.
"Pak itu Anin gimana? Nanti kalau ada apa-apa bagaimana? Kasian lho pak lagi ngandung soalnya. Cepet bapak susul ke warungnya pakai motor!" Pakde tetap santai dan fokus di layar TV, tidak mendengarkan apa perkataan dari istrinya.
Bude menyerobot remote TV dan mematikannya, sedangkan Pakde tetap fokus di kulit kacang. Terkejut kalau TV-nya mati mendadak, tetapi lampunya masih hidup, artinya nggak mati listrik.
"Bu, kok mati TV-nya. Bukannya tadi hidup, tapi kenapa sekarang mati?" Bude mengeluh dan merasakan sensasi menyegarkan di kulitnya, Pakde terkena pukulan dari tangan istrinya sendiri. "Kok di pukul, bapak nggak salah kan bu. Kenapa di pukul?"
"Ada nyamuk lewat tadi, makanya bapak itu dengarkan ibu kalau ngomong. Bapak ini pura-pura nggak tau apa gimana?" Bude kesal dan melangkah, mengambil minum di meja makan.
"Iya bapak tau, yaudah bapak nyusul Anin dulu ya. Ibu di rumah dulu, kalau ada apa-apa tinggal telepon bapak!" Pakde mengambil kunci motor di atas kulkas dan melangkah keluar, tetapi ada taksi di luar gerbang.
"Eh siapa itu?" Pakde membukakan gerbangnya dan keluarlah Anin yang menangis terisak-isak sampai hidungnya peluh dengan ingus.
"Assalamu'alaikum Pakde," Anin menyalami Pakde nya dan masuk, melolong begitu saja.
Pakde terkejut dengan tingkah Anin, Pakde masuk dan disana Anin menumpahkan semua air matanya di pelukan sang Bude.
"Ya Allah emang bener-bener itu anak nggak tau apa, kalau selama ini dia yang udah buahin anak ini, tapi dia nggak percaya. Bener-bener Bude nggak terima pokoknya." Bude yang melotot dan menghentakan kakinya dengan keras, membuat Pakde takut dan tidak berani mendekati mereka berdua.
"Pak, sekarang kita jebloskan aja ke jalur hukum Pak, ibu udah nggak terima Pak kalau kayak gini keadaannya. Bapak sekarang panggil pengacara bapak buat dia suruh ke sini, ngurus semuanya."
"Tapi bu, proses hukum nggak akan berlaku bila Anin hamil Bu. Mau dikemanain itunya? Kalau bapaknya di penjara, siapa yang akan membiayai itu-itunya ataupun Anin masih membutuhkan Rifa'i buat menemaninya persalinan." Bude mengepal tangan kuat-kuat dan Pakde mundur beberapa jangkah.
"Yaudah kalau itu mau bapak, ibu nggak memaksa. Bapak sendiri kan yang buat omongan." Anin menggeleng lemah dan Bude mengelus-elus punggung Anin.
"Sabar ya nak. Kamu insyaallah pasti kuat dan menjalaninya dengan mudah." Anin berdiri dan melangkah pergi ke kamarnya tanpa kata.
__ADS_1
Sedangkan, dua sejoli ini tatap-tatapan dengan mata yang satunya kejam dan yang satunya lemah, tidak mau di tatap.
***
Rumah Sakit
Rifa'i memapah tubuh papahnya dan sampailah di ruang UGD, dokter dan suster membantunya.
"Maaf Pak, bapak tunggu dulu disini! Kami akan berusaha semaksimal mungkin, Pak." Rifa'i menurut dan menunggu didepan ruangan UGD.
Putri yang tiba-tiba datang, dia mendekati Rifa'i dan mengelus tangan Rifa'i. "Mas kita serahkan semuanya kepada dokter dan suster yang menangani, kita duduk dulu ketimbang kamu mondar-mandir, menghabiskan semua
tenagamu." Rifa'i duduk dan membuat Putri menjalankan misinya berhasil.
"Akhirnya berhasil juga tadi, kalau nggak berhasil, bisa-bisa bahaya mengancamku." Ucap Putri di dalam hati dan menampilkan wajah bersimpatinya agar di kagumi oleh Rifa'i.
"Kenapa aku percaya dengan omongan Putri daripada Anin? Apa ada benernya kalau Anin itu hamil dari darahku, apa sebaliknya? Aku ragu untuk itu, beberapa hari sebelum kejadian kemarin. Emang aku sering melihat Anin pucat dan sering mengeluh pusing. Tapi aku nggak percaya kalau dia emang hamil." Ucap Rifa'i di dalam hati dan mengacak-acak rambutnya.
Dokter yang baru saja keluar, mencopot stetoskop yang di sampirkan di lehernya.
"Begini, apakah ini keluarganya?"
"Iya Pak saya anaknya, bagaimana keadaan Papah saya dok?" Rifa'i berdiri dan menghampiri dokternya.
"Iya Pak, saya mau sampaikan kalau pasien mempunyai penyakit jantung, jadinya harap bapak bijak dengan orang yang seperti ini keadaannya! Kalau bapak nggak memfosir emosi bapak, bisa jadi kemungkinan pasien tutup usia Pak. Dan jangan memperbanyak masalah yang pasti pak! Membuat pikirannya campur aduk jadi satu, bisa stroke kemungkinan terbesarnya." Ucap dokter itu dengan panjang kali lebar, Rifa'i menganguk-angguk dan masuk kedalam UGD. Menatap papahnya yang terbaring dengan cairan infus yang menancap di tangannya dan di bantu oksigen yang menempel di hidungnya.
Innalillahi...
Begitulah cobaan yang dia alami sekarang, antara memilih untuk berjuang hidup bersama Putri tanpa Papah Rahmat, atau bersama Anin, lengkap dengan kasih sayang papahnya.
__ADS_1
"Pah, maafkan aku, aku emang bukan anak kebanggaan papah, tetapi aku berusaha untuk menyayangi papah sampai papah bener-bener melihatku bahagia. Aku juga ingin bahagia Pah, aku ingin melihat kecerahan di wajah papah dengan memberi cucu Pah, tapi aku nggak bisa. Aku memilih untuk bahagia dan benar-benar perempuan yang bisa mencintaiku sepenuhnya."
Tangan papah Rahmat bergerak-gerak dan papah Rahmat mengedipkan beberapa kali matanya dengan di iringi menetesnya air matanya.
"Nak..." Ucapnya dengan lemah, Rifa'i langsung mencium beberapa kali tangan papahnya.
"Pah, papah mau minum?" Papah Rahmat menggeleng dan menatap benci kepada Putri.
"Nak, pa-pa-h ma-u ngo-mo-ng sa-ma ka-mu. Ja-ng-an ad-a pe-re-mp-uan i-ni!" Ucap papah Rahmat dengan terbata-bata dan Rifa'i melirik Putri, mendekati Putri.
"Sayang kamu pulang dulu ya, nanti aku telepon lagi kalau udah selesai urusannya." Putri melirik Papah Rahmat yang membuang wajahnya jauh-jauh.
"Tapi mas, kalau nanti kamu butuh sesuatu gimana? Aku kan bisa menemani kamu."
"Kan ada mang Darso sama Mang Jalal yang bisa membantu aku. Kamu pulang, nanti si empunya nangis lagi kalau kamu nggak pulang. Yang pasti cari mamahnya." Rifa'i tersenyum dan mengecup kening Putri.
Siapa lagi empu itu? Empu adalah anak dari Putri, namanya Ilyasa Al-Ayubi, anak dari Putri Johnson dan suaminya yang sudah meninggal dunia yaitu Fathian Al-Ayubi karena kecelakaan yang di rencanakan, ada yang coba melakukan pembunuhan kepada keluarga Johnson, tetapi yang kena imbasnya adalah suami Putri. Sampai saat ini pelakunya belum juga tertangkap dan terbongkar semuanya.
"Yaudah aku pulang dulu ya mas, nanti kalau ada apa-apa kabarkan aku!" Rifa'i mengangguk dan Putri melambaikan tangannya kepada Papah Rahmat tanpa sepengetahuan Rifa'i.
"Hahaha, kasian juga itu tua bangka, udah sekalian aja tutup usia biar nggak merepotkan semua orang." Ucap Putri didalam hati, melangkah keluar dari ruangan UGD.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Bintang Lima, dan Komentar Positif ya☺☺☺...
Kalau mau mampir ke instagram boleh, di sana nanti ada pemberitahuan kalau novelnya up atau tidak, boleh juga kalau minta follow, author Follow kembali, DM tentang novel ini juga boleh.
@dindafitriani0911
__ADS_1
Terima kasih yang sudah mampir dan memberikan dukungannya 🙏💕