
Happy Reading
Napas yang terengah-engah di tengah pusaran ranjang, Anin mengambil jurus keajaiban karena Rifa'i ******* habis bibir Anin.
Akhirnya Anin terpaksa memberhentikan permainan Rifa'i, Anin mengambil bajunya yang sudah tidak karuan dimana tempatnya?
Anin pun masuk ke dalam kamar mandi, untung saja kamar mandi ada di kamar. Coba saja kalau kamar mandi di luar, pasti akan susah untuk berjalannya.
“ Hah emang mainnya berhenti aja di tengah jalan. Ini ulatnya masih meronta-ronta lagi, udahlah, sabar-sabar. ”
Tetapi si ulat masih bergerak-gerak dan meminta untuk menengok rumahnya untuk memenangkannya.
“ Udah... Jangan gitu lah! ”
Akhirnya Rifa'i beranjak dan turun dari ranjang. Kemudian, melangkah ke ruang TV. Ternyata di sana Raihan sedang membawa berkas dan teleponan dengan orang lain.
“ Bang. ” Panggil Rifa'i,
“ Hm, apa? Bentar dulu Rif. ”
Akhirnya Raihan memutuskan sambungannya dan melangkah mendekati Rifa'i.
“ Ini gimana bang? Si ulat nggak mau diem nih, dari tadi udah aku diemin tapi nggak mau. ”
Raihan bingung yang di maksud Rifa'i.
Akhirnya Rifa'i menunjuk ke bawah,
“ Astagfirullahalazim Rif, kamu ini. Oke, aku punya ramuannya. Nanti aku suruh suster buat carikan, biar si ulat bisa diam. ”
“ Hah jangan suster lah! Abang aja, ”
“ Tinggal ke kamar mandi udah, itu pakein sabun colek biar bisa diem. ”
Akhirnya Raihan membawa berkasnya dan kabur sebelum Rifa'i marah.
“ Itu mah bukan ramuan bang, mau jerumuskan aku kayak gitu. ”
Akhirnya Rifa'i pun ke kamar mandi.
******
Raihan ke ruangannya dan meletakkan berkasnya.
“ Emang itu Rifa'i nggak malu apa? Aib di ranjang malah di sebar ke orang lain, minta resep ke aku, tapi aku aja belum nikah. ”
Raihan tidak memikirkannya, yang penting sekarang pekerjaannya beres semua.
“ Kapan beresnya kayak gini? Ini lagi. Sebuah kertas tapi berapa halaman lagi? Kayak kamus KBBI aja. ”
Raihan membukanya dan terkejut isinya apa?
“ Hah apa ini? ”
Raihan membacanya sampai bawah, ternyata semuanya harus di baca sampai selesai dalam kurun waktu dua puluh hari. Buku itu adalah pemberian ayahnya yang ada di London.
“ Aku harus telepon ayah sekarang. Pokoknya aku nggak mau, emang apaan? Aku nggak punya otak di tambah lagi ini, bisa-bisa nanti aku kena serangan otak mendadak lagi. ”
Akhirnya Raihan menelpon ayahnya dan untung saja tersambung.
“ Selamat pagi ayah. ” Sapa Raihan dengan tersenyum yang melebar.
__ADS_1
“ Pagi, eh tumben kamu nelpon ayah. Emangnya ada apa? ” Jawab ayahnya dengan meminum teh nya.
Mencetak raut wajah sang ayahnya, Raihan semakin geram dengan ayahnya.
“ Ibu kemana yah? ”
“ Ibu lagi masak, emang kenapa? ”
“ Nggak papa, cuma aku kangen sama ibu. Coba mana ibu yah, aku kangen nih. ”
Akhirnya ayah Raihan pun memberikan teleponnya kepada ibunya.
“ Selamat pagi anak ibu, kesayangan ibu. Apa kabar sayang? ”
“ Baik bu. Ibu gimana kabarnya? ”
“ Sama nak. Jangan lupa jaga kesehatannya! Ibu mau masak dulu ya, nanti malem ibu sama ayah hubungi lagi. ”
“ Bye-bye kesayangan ibu. ” Lanjutnya.
“ Iya bu. Aku juga sayang ibu sama ayah. ”
Akhirnya handphone di ambil alih oleh ayah kembali,
“ Mau nanya apa? ” Tanya ayahnya.
“ Aku mau tanya yah? Ini emangnya buku dari kiriman ayah untuk aku? ”
Raihan memperlihatkan bukunya yang tebal dan bikin orang pusing melihat bukunya saja. Buku itu langsung menutupi wajah Raihan dan Raihan pun meletakkan buku tersebut ke asalnya lagi.
“ Bener nak. Jangan lupa di baca! Ayah tunggu jawaban kamu nanti, ayah nanti mau pulang sama ibu. Pokoknya nanti harus ketemu jawabannya, kalau nggak jawab berarti ayah sama ibu nggak bisa pulang nak. Ayah ingin kamu anak yang ayah sama ibu impikan nak, ”
Ucap ayahnya dengan menutup sambungan sepihak.
Akhirnya Raihan beranjak dan handphone berbunyi, ada pesan masuk dari ayahnya.
From : "Jangan coba-coba untuk tidak membacanya! Ayah sama ibu akan kecewa kalau kamu tidak membacanya. "
Pesan yang di kirim oleh ayahnya, membuat hati Raihan sedikit terluka.
“ Hah emangnya apa ini? Kok segitu pentingnya, terus berkas ini mau di kemanakan? ”
Raihan semakin kalut dan bingung. Membuat Raihan mengacak-acak rambutnya.
Raihan pun membacanya dan dari mulai halaman pertama, membuatnya bingung dan tidak mengerti.
“ Tulisan apa ini? ”
“ Ah ini pasti tulisan Ayah, nggak tau ini tulisan layaknya tulisan ilmiah aja. ”
Akhirnya Raihan mencari kamus ilmiah dan membacanya satu-persatu, membuat matanya sedikit lelah.
“ Emang nggak ada akhlak, ini juga. Berlembar-lembar suruh baca dalam kurun waktu dua puluh hari... Emangnya profesor gitu, profesor aja belum tentu bisa, goblok-goblok... Ini kamusnya ada di belakang, oalah... Emang kayak gini kalau IQ rendah...”
(goblok: Bodoh)
“ Eh aku tadi ngomong apa? Hah ya Allah aku udah merendahkan diriku seperti ini, dosa han, dosa. Allah nggak pernah namanya mengajarkan umat-Nya untuk selalu menyalahkan dirinya sendiri. Huh emang ya, maafkan Raihan, ayah. Tadi, Raihan cuma kebawa emosi dan napsu Raihan, jadinya kayak gini. ”
Raihan membacanya dan mulai paham, apa yang di maksud ayahnya?
Isinya : Mencari Jodoh Dalam Do'a
__ADS_1
*****
Anin memakai kerudungnya dan Anin pun berdiri, Rifa'i tiba-tiba masuk. Membuat Anin terkejut, sampai mau terjungkal ke belakang.
“ Mas kamu ini, kalau mau masuk itu ucapkan salam. ”
“ Iya maaf, tadi reflek karena ada nenek tua di dalam dapur. Terus, aku larilah. Nenek tua itu tertawa sendiri gitu yang, makanya aku takut. Sambil ngaduk-ngaduk sayur gitu. ” Ucap Rifa'i, membuat bulu leher Anin meremang.
“ Hah kamu ini, halu apa gimana? Jangan-jangan bohong kamu mas! Kalau itu syaiton, kenapa nggak ganggu mas. Mas, Allah selalu melindungi kita. Kenapa masih percayaan gitu? Emang syaiton itu lebih banyak daripada manusia di bumi ini. Di samping kita aja juga ada, tapi kita nggak bisa lihat. Coba kita ke dapur yuk! Memastikan dulu, apa bener itu nenek tua atau bukan. ”
Akhirnya Rifa'i mengangguk dan memilih untuk di belakang istrinya.
“ Kamu depan yang! ”
Akhirnya Anin pun ada di depan dan Rifa'i pun mengekor di belakang Anin.
Sampailah di dapur, benar dugaan Rifa'i. Ada seseorang nenek tua yang mengaduk-aduk sayur.
Membuat Rifa'i semakin menggigil ketakutan. Karena sampai saat ini, dia belum pernah di temui barang halus.
“ Assalamu'alaikum nek. ” Sapa Anin,
“ Waalaikumsalam, ” jawabnya dengan halus.
“ Allhamdulilah, bener-bener bukan dugaanku. ”
Anin membuang napasnya dengan lega dan nenek tua tersebut membalikkan badannya,
“ Eh nak ada apa? ” Tanya nenek tua tersebut dengan tersenyum.
“ Nggak papa kok nek. Kami cuma lewat terus sapa nenek, ” jawab Anin.
“ Ya udah kalau begitu nek, kami permisi. ”
Akhirnya Anin pun melangkah ke kamarnya dan membuat Rifa'i tertinggal.
“ Hahaha... ” Ketawa yang membuat Rifa'i semakin takut.
Membuat Rifa'i lari dengan kencang dan sampai Rifa'i terpeleset, untung saja dia cepat berdiri.
Anin dan Rifa'i pun di kamar, membuat Rifa'i ingin segera pergi dari rumah ini.
“ Yang, Kita pulang aja yuk! Aku takut ini, nggak bisa tidur nanti. ” Rifa'i tidak mau ada disini karena ada nenek tua itu yang membuatnya takut.
“ Ya Allah mas, ini masih sore. Jugaan nggak akan ganggu, kalau kita nggak
mengganggunya. ”
“ Hah... ” Rifa'i membuang napasnya. Baginya sungguh berat kalau menemukan film yang kisahnya horor baginya. " Phobia " Kata yang ada di pikirannya.
“ Kalau gitu, kamu mandi terus nanti pulang. ”
Ucap Anin dengan membereskan ranjangnya.
“ Oke... ” Jawaban Rifa'i dengan bersemangat.
Bersambung...
-Jangan lupa like dan komen❤️❤️❤️
-Jangan lupa mampir juga dan saling follback di instagram 😜😜
__ADS_1
@dindafitriani0911