Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 28. Melihat Gundukan Pemakaman Mamah


__ADS_3

Happy Reading


Anin tidak melihat Rifa'i dari tadi, dia pun mencari di setiap sudut ruangan.


“ Mas kamu kemana? ”


Anin akhirnya melihat Rifa'i yang duduk dengan bersimpuh dengan tangan berdo'a di mushola.


“ Ya Allah mas. ”


Anin menghampiri Rifa'i dan Rifa'i menutup do'a nya. Dengan begitu Rifa'i menoleh dan Anin terkejut, wajahnya Rifa'i babak belur seperti orang di baku hantam.


“ Astagfirullahalazim, mas. Kamu kok kayak gini, tadi emangnya kamu kemana mas? ”


Anin mengambilkan kotak P3K di lemari, setiap ruangan pasti ada kotak P3K.


“ Nggak papa kok yang. Tadi aku cuma ke kamar papah, mastikan kalau papah nggak apa-apa. ”


“ Hm, kamu ada-ada aja. Kalau papah itu moodnya lagi nggak baik malah di ganggu. Jadinya gitu. Babak belur kayak gini, sakit nggak? Kalau nggak sakit aku nggak obati. ”


“ Iya sakit lah. Masa nggak sakit, ini juga habis kena tonjok tadi. ”


“ Ehm gitu ya. Yaudah sini aku obati! ”


Anin mengobati tepi bibir Rifa'i dan Rifa'i sesekali meringis.


“ Assalamu'alaikum Tuan. ” Ucap mang Jalal membawa beberapa berkas di tangannya.


“ Waalaikumsalam mang. Ada apa? ”


“ Begini Tuan, saya memberitahukan kalau Tuan Rahmat mengalami depresi akut, Tuan. Dari dokter, mengeluarkan kalau Tuan Rahmat sesekali mengeluarkan semuanya Tuan, termasuk orang yang ingin mendekatinya kecuali itu bener-bener orang yang di sayanginya, Tuan. ”


“ Hah... Apa? ”


“ Ya Allah, terus gimana ini mas? ”


Rifa'i memikirkan dan menoleh ke atas. Sinar matahari mulai terang arti kata itu semua ada artinya.


Bahwa sesuatu yang tidak membuka kuncinya, maka akan di beri keterangan oleh siapapun termasuk orang terdekat.


“ Hm... Udah itu semua akan saya handle mang, InsyaAllah saya kuat menghadapinya, apakah papah bisa melakukan hal keji kepada darah dagingnya sendiri bersama mamah? Semuanya akan terlewati bersama-sama, mamang cuma bantu aja yang penting semuanya bisa di handle.


Nanti kalau kantor biar siapa yang ngurus, tapi kalau ada waktu saya akan mengurus kantor papah. ”


Mang Jalal mengangguk dan artinya setuju dengan semuanya asalkan beres, tetapi kapan akan beresnya?


“ Baik Tuan. Kalau begitu saya permisi, assalamu'alaikum Tuan sama Nona. ”


“ Waalaikumsalam. ” Jawab mereka berdua dengan lemas dan tidak berdaya selayaknya tidak terima dengan cobaan seberat ini.


“ Ya Allah kenapa cobaan begitu berat untuk kami lakukan? Tetapi, aku nggak boleh nyerah pokoknya. ”


Mang Jalal kembali lagi.


“ Maaf Tuan, tadi mau nyampein tapi keburu pergi, jadinya begini Tuan. Saya memberitaukan kalau Jenazah Nyonya mau di berangkatkan, Tuan. ”


“ Yaudah kita berangkat, tetapi papah gimana? ”


“ Hm, bener Tuan. Tuan Rahmat mau di ajak atau tidak? ”

__ADS_1


“ Mas. Nggak usah terlalu pikirkan papah, papah jugaan masih sakit butuh istirahat, nanti kalau udah sembuh. Kita ajak ke pemakaman mamah, kasian papah kalau sampai benar-benar tidak terima nanti di pemakaman. Apa jadinya nanti? ”


Ucap Anin dengan mengambil keputusan agar sang papah bisa beristirahat, walaupun hatinya gundah dan sakit sekali yang pasti.


“ Iya betul Tuan, bener kata Nona, kalau semuanya di jalani baik-baik, InsyaAllah Allah akan mengabulkannya dan mencabut cobaan yang di terima oleh Tuan. ”


Rifa'i mengangguk dan badannya semangat lagi, karena di berikan dukungan dari istrinya dan anak buahnya.


“ Yuk, kita berangkat! Mang, mamang yang bawa mobilnya ya, takut mas Rifa'i drop di jalan nanti. Siapa yang tanggung jawab nanti? ”


“ Baik Nona. Mari! ”


Akhirnya pengangkatan jenazahnya pun sudah ada si mobil ambulans.


Aku membukakan pintu untuk mas Rifa'i dan aku ikut masuk ke dalam.


Yang jaga papah ada banyak orang, ada anak buah papah yang begitu banyak masihan, semuanya sudah di pecat secara hormat, tetapi mereka masih memiliki hati untuk orang yang berjasa menurut mereka.


Sampailah di pemakaman umum dekat di rumah papah Rahmat, sekitar dua kiloan lebih lah.


Rifa'i menginjakkan kakinya di tanah kuburan ini, sebelumnya meletakkan sandalnya di dalam mobil.


Anin menatap gundukan-gundukan tanah pemakaman, mengingat ibunya. Lebih dari seratus hari ibunya meninggal dunia.


Begitu cepat meninggalnya.


Sekarang waktunya menguburkan jenazah ke liang lahat, Rifa'i turun ke liang lahat dan menerima jenazah mamahnya.


Yang mengadzani, Pak Haji yang selalu di masjid, yang masjidnya sekitaran rumah papah Rahmat.


Akhirnya selesai mengadzani, mencangkul tanah-tanah yang di atas dan meratakan dengan cangkul seperti tanah lagi.


Rifa'i matanya merah sedikit ingin menangis, tetapi dia tahan karena nggak boleh menangis, nanti mamahnya bisa sedih di alam sana. Agak sedikit meninggi baru di kasih papan nama(batu nisan). Terus di ratakan lagi, Rifa'i naik dari beberapa centi. Setelah selesai,


Semuanya sudah pulang, tinggalah Rifa'i yang mengungkapkan rasa hatinya.


“ Mah... Mamah yang tenang si sana ya, InsyaAllah Rifa'i akan sanggup menerimanya, mamah yang selalu mengingatkan kalau hidup itu nggak semangat, apa gunanya? ”


“ Walaupun hatiku sedih melihat mamah sudah tutup mata selama-lamanya, hati Rifa'i masih ada di dalam diri mamah. Pokoknya... Aku harus kuat, nggak boleh pantang menyerah. ”


Rifa'i berdiri dan mengelap keringatnya yang tadi merembes keluar.


“ Mang pulang ya! ”


“ Baik Tuan. ”


Anin tersenyum dan membawa hati yang sedikit gembira, melihat Rifa'i lebih ikhlas dan bisa menjalankan semuanya.


Anin membasuh kakinya dan tangannya di kucuran, Rifa'i juga.


Selesai, mereka pun masuk ke dalam mobil tanpa pembicaraan apapun.


Di dalam mobil, Rifa'i hanya melamun dan terdiam sendiri.


“ Mas, jangan ngelamun! ”


Rifa'i mengangguk dan terdiam, membuat Anin menghela napasnya.


“ Mang, berhenti di gang depan ya. Saya mau pulang ke rumah bude. ”

__ADS_1


Rifa'i kaget karena ucapan Anin yang baru saja di omongkan beberapa detik yang lalu.


“ Kamu mau kemana yang? ”


“ Enggak, mau ke rumah bude aja. Daripada di sana di cuekin, terus diem aja. Lama-lama bisa jadi bisu nanti. ”


“ Mau pulang kamu? ” Ucap Rifa'i dengan dingin dan tidak terima dengan masalah ini.


“ Iya. Aku jenuh udahan, kamu itu kayak nggak ada semangatnya gitu. Jangan mempersulit keadaan lah mas! Bukannya seperti itu, tapi aku itu butuh pembicaraan bukan diem aja. ”


“ Maaf tadi, aku memikirkan untuk semuanya secara matang-matang bukan diam sama melamun yang. ”


“ Oke. Kalau begitu, yaudah mang lanjut aja perjalanannya. ”


“ Baik Nona. ”


“Allhamdulilah, mudah-mudahan masalahnya nggak panjang. Ini aja udah buat mamang dag-dig-dug non, aduh bisa gawat kalau ada pertengkaran nanti. ” Mang Jalal sedikit terbawa alur perasaan mereka masing-masing. Karena itu dia harus rileks dan tenang.


Bisa-bisa dia juga terbawa emosi nantinya.


“ Oh iya mas. Nanti kantor gimana? ”


“ Udah ada yang handle nantinya. Aku masih mau fokus sama kerja aku, dinas di kantor. ”


Anin mengangguk paham dan dia tidak mau menjelaskan panjang kali lebar.


Sebenarnya hatinya merasa tidak nyaman dengan penggantian CEO di perusahaan nantinya.


Tetapi, dia harus menerima. Kenapa nggak terima? Itu juga bukan urusan dia, dia nggak berhak atas semuanya.


Sampailah di rumah papah Rahmat, ada beberapa orang saja di sana, yang takziah.


“ Assalamu'alaikum. ” Ucap Rifa'i dengan melangkah masuk ke dalam rumah, yang penting mengucapkan salam sebelum memasuki rumah.


“ Waalaikumsalam. ” Jawab Anin.


Rifa'i duduk di lantai, mengobrol-ngobrol bersama orang yang sedang takziah.


Anin ke dapur, di sana ada pelayan yang membuat makanan untuk di sediakan nanti kalau ada orang takziah lagi dan untuk nanti malam.


“ Non... ”


“ Eh bi, apa kabar? ”


“ Allhamdulilah baik Non. Ya Allah Non, Non sehat-sehat kan, bibi sampai lupa sama Non. Karena saking banyak pikiran Non. ” Ucap bi Isah dengan mengelus pundak Anin.


“ Hahaha... Emang iya bi, sampai aku banyak sekarang kalau makan. Doyan makan terus pokoknya. ”


Bi isah tertawa dengan pelan, melihat senyuman Anin begitu membuatnya terasa sedikit terluka karena kepergian Nyonya Hajar.


“ Yaudah bi, ini kuenya mau di letakkan di depan kan bi? ”


“ Eh iya, lupa bibi. Gampangan lupa, maklum umur udah lebih kayak gini jadinya. ”


Bersambung....


Jangan lupa like dan komen positif ya ❤❤❤


Tet-tet-toet 🤣🤣🤣 nanti ada konflik yuk!!!

__ADS_1


Siapa yang mau konflik, beberapa part lagi lho.


Tunggu ya 👍👍👍


__ADS_2