
Happy Reading
Yah, papah Rahmat yang datang dengan seseorang perempuan. Siapakah di balik sosok perempuan itu? Apakah calon mamah tirinya?
Ini masih muda sekali dan masih bau kencur masa iya mau di nikahin sama papahnya.
"Pah, apa kabar?"
"Allhamdulilah baik, kamu gimana?"
"Sama pah, ini siapa pah?"
"Ini asisten papah yang ada di kantor. Dia bukan orang kepercayaan papah, tapi ada yang memasukkan dia ke kantor papah... Katanya mencari pekerjaan begitu, yaudah papah terima saja. Kamu gimana? Apakah mau nikah sama Putri?"
"Ooo gitu Pah, iya Rifa'i mau menikah sama Putri pah. Papah apa mau memberikan restu untuk datang ke sini."
"Nggak papah cuma mau menyampaikan surat wasiat yang papah tulis kemarin. Kamu mendapatkan hak warisan dengan seperempat harta papah, seperempatnya lagi buat kaum yang nggak mampu, dan setengahnya lagi akan papah berikan kepada Anin." Sahut Papah Rahmat dengan mengeluarkan map merah berisi tulisan yang latin dan bersambung.
"Ini kamu tanda tangani, papah mau kamu mengurusnya dengan baik. Dan papah akan memberikan harta ini setelah kamu benar-benar mengetahui siapa sebenarnya Putri?"
Asisten papah Rahmat tersenyum dan menatap seisi ruang tamu rumah Rifa'i.
***
"Oke, kamu saya terima kerja di sini sebagai karyawan biasa, sepertinya kamu mempunyai bakat terpendam. Dan saya nggak memilih apapun itu jurusannya yang penting bisa memainkan otak. Kamu besok harus berangkat pagi dan jangan sampai telat!"
"Allhamdulilah, terima kasih banyak Pak."
HRD itu menjabat tangan Anin, "selamat bergabung di perusahaan kami. Jadilah yang terbaik dan membanggakan di perusahaan kami ini yang masih merintis karier bersama-sama."
"Baik Pak, terima kasih juga sudah menerima saya dari segi keburukannya dan kelebihannya. Saya akan berjanji untuk bersungguh-sungguh dan menggapai semua impian perusahaan ini."
"Kalau begitu kamu boleh pulang dan ingat besok kembali lagi ke kantor ini!"
"Siap Pak."
__ADS_1
Anin senang, hatinya berbunga-bunga padahal jurusannya dokter, tapi kok di terima di perusahaan sebesar ini. Wah, impian Anin masuk ke dalam perusahaan ini dan menjadi anggota dari perusahaan ini.
"Allhamdulilah bisa kan, akhirnya dapet juga. Tapi, bukannya tadi nggak interview kok main terima saja itu HRD. Nanti kalau di marah sama CEO-nya gimana?"
Anin melangkah keluar dari perusahaan dan sudah keluar dari area perusahaan, Anin memberhentikan sebuah angkot.
"Apa aku mimpi indah semalem ya? Kok sekarang udah menjadi anggota dari perusahaan itu." Gumam Anin, orang-orang di sekitarnya melihat heran karena di perusahaan yang di masuki Anin itu perusahaan tidak main-main, karena penjagaan ketat sekali.
"Mbak, mbak... Jadi karyawan di perusahaan tadi?" Tanya orang yang di pojokkan angkot.
"Iya, emangnya kenapa?"
"Handal sekali mbak ini menjadi anggota perusahaan tadi, saya aja bolak-balik ke sana katanya nggak ada lowongan pekerjaan yang ada saya sekarang kerjanya di pabrik. Padahal lulusannya dari sarjana S2 mbak, saya nggak keterima di sana. Sama saja saya di bohongin setiap hari, suruh datang tiap hari. Tapi apa?" Jelas orang itu dengan nada menyesal.
"Loh kan S2 mbak, bukannya ini mbak nggak ngambil aja perusahaan lain?" Ucap salah satu penumpang angkot.
"Nggak, karena saya mau ketemu sama CEO-nya. Siapa kok nggak pernah yang namanya keluar di TV? Padahal perusahaan lain aja yang kecil-kecilan masihan semua CEO-nya saja di beberkan di berita. Lha ini? Saya kepo sekali, katanya ngiming-ngiming ya, itu apa CEO-nya itu nggak pernah datang dan itu semua pekerjaannya di handle sama asisten pribadinya. Dan asisten pribadinya itu orangnya nggak mau ditemuin oleh siapapun, kecuali benar-benar tangan kanannya sendiri." Gosip yang beredar di perusahaan itu memang sekarang masih saja muncul dan kerap terjadi kericuhan antara calon karyawan yang ingin mendaftarkan diri di perusahaan itu.
Simpang siur antara karyawan dan calon karyawan yang di sana. Mereka semua bergosip dan mengedarkan berita yang tidak jelas asal-usulnya.
"Iya saya untungnya cuma dua hari, tapi buat makan empat hari aja cukup. Nggak sampai segitunya buat ke sana."
Anin mendengarkannya sungguh benar-benar terpojok sekarang, mau dikatakan apa yang penting dia diam saja? Daripada ikutan ngomong tapi nggak jelas, nanti takutnya fitnah yang ada.
"Sudah sampai, mending kalian ini kalau gosip nggak di sini, tapi di jalanan sambil pegang mangkok ni, kalau ada yang mau! Terus sambil berkata 'Gosip-gosip baru enak lho' itulah caranya biar nambah uang saku kalian." Dengan begitu mereka marah dan kesal, membuat mereka menghamburkan uangnya ke sopir angkot. Mereka semua keluar, cuma ada beberapa orang saja di angkot dan Anin.
"Udahlah bang kalau di gituin mereka marah, saya saja panas kupingnya di sini."
Angkot berjalan kembali dan Anin memikirkan perkataan orang-orang tadi, coba dia punya paket data, dia akan serching. Mencoba kabar yang beredar dan memikirkan baik-baik.
Sesampainya di rumah, Anin masuk, mencuci tangannya terlebih dahulu dan kakinya sebelum masuk ke dalam rumah.
"Gimana nak?" Bude keluar membawa sapu dan tersenyum, melihat kalau di tangan Anin nggak ada amplop coklat lagi.
"Allhamdulilah di terima bude." Anin meletakkan sepatunya di rak dan masuk ke dalam, melangkah ke dapur mencari air minum karena dia benar-benar lelah hari ini, sebenarnya juga nggak lelah banget tapi cuacanya hari ini yang panas sekali. Meletakkan tas di atas meja makan dan mengambil air minum.
__ADS_1
"Dimana nak?" Tanya Pakde dan Bude dengan mendekati Anin, ingin mendengarkan pembicaraan Anin.
"Perusahaan mana tadi ya, lupa aku. Perusahaan Mirza Sanjawa. Nggak tau katanya ada yang simpang siur sama berita yang beredar di TV ya Pakde, Bude?"
Pakde menganga dan melongo habis, sampai menggebrak meja makan. Bude terkejut dengan tingkah Pakde yang aneh, Pakde mondar-mandir dan menghela napasnya.
"Kamu... Kamu..."
"Ada apa Pak?" Tanya Bude dengan menenangkan Pakde, menuntun untuk duduk di kursi makan.
"Ya Allah nak, kamu sudah berurusan dengan Mirza Sanjawa nak. Orang yang nggak pernah di ketahui keberadaannya sampai sekarang." Ucap Pakde dengan prustasi dan sesekali pernapasannya naik turun.
"Emangnya kenapa Pakde?"
"Bu coba kamu searching di internet dan lihat itu perusahaan Mirza Sanjawa, beredar kabar yang nggak jelas dan wara-wiri."
Bude mengangguk dan apa yang dikatakan Pakde, Bude turuti.
Deggg... Beredar kabar beberapa menit yang lalu dan beberapa jam... Banyak sekali beritanya dan ini satu lagi.
"Iya Pak, apa yang dikatakan Pakde kamu benar nak. Seharusnya kamu ngomong dulu sama Bude tadi interviewnya dimana?"
"Maaf Bude, Pakde. Anin nggak ngerti tadi, Anin cuma ngertinya masuk dan lolos interview Bude, Pakde." Sesal Anin, Pakde melamun dan Bude mendesah berat. Apakah ini benar-benar cobaan untuk mereka semua? Menghadapi dengan segala keputusan yang ada.
"Yaudah nggak papa, Pakde dan Bude akan menanggung segalanya sama apa yang terjadi. Pakde tadi juga belum sempet mau ngomong sama kamu kalau ada lowongan pekerjaan di perusahaan pakde bekerja. Tapi di bagian keuangan, itupun kalau kamu mau."
Anin menyesal dan ingin sekali dia keluar dari perusahaan itu, tapi apakah Anin tidak tau kalau sudah masuk di perusahaan itu nggak boleh ada yang namanya mencoreng nama baik perusahaan. Baik itu segi dari mengeluarkan diri dari perusahaan ataupun perusahaan yang memecat secara tidak terhormat dengan karyawan itunya sendiri.
Bersambung...
Jangan lupa Like dan Komennya ya 😊😊😊
Terima kasih yang sudah memberikan dukungannya dan yang sudah mampir ke sini
🙏💕
__ADS_1