
Happy Reading 📖
Anin akhirnya di antarkan pulang oleh si Aksa, ternyata tadi pakai cegat segala taksi yang di pesan Anin.
Mobil Aksa masih bertengger di halaman depan kantor, mereka akhirnya kembali ke halaman kantor dan Anin senang, dia punya orang yang buat nebeng setiap hari.
Nggak perlu mengeluarkan biaya.
Dua orang itu sudah melakukan perjalanan dan Aksa memilih untuk diam, Anin dia memencet-mencet mobil Aksa, tangannya sudah gatel menyentuh layar.
"Mau apa kamu?" Aksa melirik di arah Anin, Anin mengalihkan pandangannya ke depan. Jalanan yang begitu macet dan nggak seperti biasanya. Begitu lenggang dan bisa di lalui dengan cepat tanpa ada halangan, yaitu macet.
"Nggak papa Pak, oh iya besok bapak kerja?" tanya Anin dengan menengok ke arah Aksa dan Aksa memutar-mutar kemudi mobil.
Ia melakukan sesuai petunjuk arah.
"Iya, saya masih ada di kantor nanti. Tapi, lusa mau ke Bandung. Ada hal penting yang harus saya lakukan selama satu bulan di sana." Ucap Aksa dengan berwibawa dan menjaga omongannya jika ada karyawannya. Terkadang Aksa salah berbicara. Dan menyakiti hati karyawannya, begitu pula karyawannya langsung mundur. Meminta mengundurkan diri dari perusahaan.
"Oalah gitu Pak," hah jawaban apa itu?
Padahal Aksa dari tadi ingin tau jawabannya gimana? Tapi, Anin jawabnya sesimpel itu.
Tidak memikirkan perasaan Aksa, yang sejak tadi di dalam hati menggebu-gebu ingin meminta jawaban tadi.
__ADS_1
Selama itu mereka berdua diam dan tidak terasa sampai di depan rumah Pakde bersama budenya Anin. Anin ke luar dari mobil dan mengucapkan 'terima kasih' sebelumnya.
Aksa pun memasang wajah tersenyum kecut, karena Anin tidak memberikan keterangan panjang-lebar.
Anin membuka gerbangnya dan melambaikan tangan sebagai tanda terima kasih.
"Kayaknya Pak Aksa mukanya serius banget sama aku ya, kok aku perhatikan Pak Aksa itu orangnya mempunyai khas-khas dingin seperti es batu, apalagi itu keras kepalanya." Anin melangkah masuk ke dalam rumah, Pakde dan budenya masih menonton TV.
Menunggu Anin pulang.
"Assalamu'alaikum," ucap Anin. Membuat mereka mendongakkan kepalanya ke arah pintu dan bude langsung menghampiri Anin.
"Wa'alaikumsalam nak. kamu ke mana aja? Kok, baru pulang." Bude membantu Anin, menuntun Anin ke sofa.
Agar capeknya hilang sebentar.
Menaikkan suhunya agar lebih dingin.
"Nak, nggak baik buat kesehatan. Apalagi kamu habis pulang dari kerja. Nah, sebaiknya kamu mandi sama air hangat." Nasehat pakde dengan baik dan halus.
Anin menggeleng.
"Lagi males pakde, pingin nonton ini dulu."
__ADS_1
Mereka pun menatap TV, ternyata ada film yang harus di tonton. Anin tidak sanggup berjalan lagi, tenaganya susah mau di kumpulkan.
Dia males mau mandi.
"Yaudah kalau gitu, bude siapkan. Nanti biar pakde kamu yang junjung." Emangnya tubuh Anin barang gitu, seenaknya mau junjung-junjung.
Pakde mengode bude, artinya Pakde tidak mau melakukan itu. Siapa sangka, bude melotot ke arah pakde dengan tatapan tajam.
Siap-siap nanti malam di terkam sama harimau apa nggak serigala.
"Iya-iya," ucap Pakde dengan keras.
Anin mengarah pada mereka. "Iya apanya pakde? Kok kayak menyetujui apaan gitu."
"Nggak papa kok nak, cuma pakde terpaksa aja buat ngomong 'iya' sama bude kamu itu." jawab pakde dengan asal ceplas-ceplos.
.
.
.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya yah, maaf kemarin nggak up ❤️❤️❤️
Terima kasih 🙇