
Happy Reading
Dunia menjadi indah bila tak ada rasa dendam dan kedamaian itu akan muncul dengan sendirinya, bila kita sama-sama saling melengkapi.
Bude mengaduk-aduk buburnya yang di mangkok dengan di taburi bawang goreng. "Gimana sama sekali nggak kasih uang lagi itu bapaknya? Dari dulu mainnya pergi terus." Bude berbicara dengan buburnya dan mengaduk-aduk teh yang dia buat untuk Pakde, atas kesalahan Bude yang tadi. Pakde yang memerhatikan bude, jadi salah tingkah dan menatap kumisnya di kaca.
"Pak, ini tehnya. Ibu mau nyuapin ponakan kamu itu, ibu minta maaf tadi ngungkit-ngungkit masa lalu. Ibu sebel Pak, itu bapaknya kok nggak balik-balik. Kan kasian Pak, apa udah meninggal berarti kalau nggak balik?" Bude meletakkan segelas teh di meja.
"Apanya?"
Pakde yang mengelus jambang kumisnya dan meraba-raba kumisnya, yang sudah panjang berarti harus di cukur kalau udah panjang.
"Bapak kamu ini, denger apa nggak sebenarnya? Ibu heran sama bapak itu, setiap bicara tentang adeknya nggak terlalu di tanggepin."
"Lho mau gimana lagi ibu?"
"Ya, nggak gimana-gimana."
"Yaudah kalau gitu, silakan antarkan buburnya nanti takut kalau Anin lemes di tengah mimpi gimana? Kan bapak yang selalu salah." Ancam Pakde, benar adanya begitu. Bude tidak ada yang namanya dengan kata salah, kalau dia benar-benar salah berarti yang pertama kalinya dia akan mengakui kesalahannya dimana? Bisa di jelaskan baik-baik.
"Oke, baik ibu mau ke kamarnya Anin sekarang. Nanti jangan lupa itu bersihkan dapurnya!" Ucap Bude dengan mengambil nampan di meja makan dan melangkah pergi ke kamar Anin.
Membuka handle pintu, kreek... Suara pintu, dengan hati-hati Bude membawa buburnya dan melangkah masuk ke dalam.
"Rupanya udah tidur, kalau gitu di sini dulu, biar nanti di makan sama Anin." Ucap Bude, Bude menarik selimutnya sampai dada dan mengecup singkat kening Anin.
"Bude tinggal dulu nak, kalau ada apa-apa panggil Bude. Assalamu'alaikum.." Bibir Anin umik-umik dan melongok kan ke samping, ternyata budenya sudah pergi.
"Allhamdulilah... Pasti Pakde sama Bude tadi habis bertengkar gara-gara aku. Aku pokoknya nggak boleh nyusahin mereka, aku harus kuat." Anin pun berdiri dan mengambil nampan yang di atas meja, mulutnya sesekali mengecap.
"Kangen masakan ibu kalau begini, ibu apa kabar? Aku di sini baik bu, ibu di sana juga baik kan. Kata ibu, nggak boleh jadi perempuan lemah di depan laki-laki. Aku harus kuat dan semangat, InsyaAllah kalau nanti ada panggilan dari pengadilan agama, aku akan penuhi."
Anin memakan buburnya dan Bude tiba-tiba masuk ke dalam, Anin terkejut kalau Budenya masuk. "Kamu nggak tidur nak?"
__ADS_1
"Hehehe maaf Bude, tadi cuma tutup mata saja. Terus bau buburnya langsung bubrah semua mimpi yang aku perbarui tadi."
"Oh iya, aduh kamu ini. Bude jadi malu kan, gara-gara masakan bude. Enak nggak?"
"Enak pollll Bude... Sampai bau buburnya itu menyengat di hidung." Puji Anin, biarlah Budenya di puji-puji dapat pujian aja orangnya udah seneng.
"Haha... Kamu ini bisa aja... Bude mau ngomong, kalau nanti kamu dijatuhkan talak ke dua gimana?" Ucap Bude, Bude membahas perceraian Anin dan Anin merengut.
"Mau gimana lagi Bude? Kalau mas Rifa'i udah menjatuhkan talak, yaudah aku juga harus terima dan ngalah Bude." Anin melanjutkan makannya dan Bude menghela napasnya.
"Kalau itu udah keputusan kamu, Bude dan Pakde akan mendukungmu nak. Jangan sampai merubah keputusanmu ya nak! Bude nggak mau kalau kamu mengubah semua keputusan yang ada." Anin mengangguk-angguk dan setelah selesai, Anin meletakkan nampan di tangan Bude.
"Maaf Bude, ini tolong di bawa ke dapur!"
"Baiklah kalau begitu, bude ke dapur dulu."
***
Rifa'i menyunggingkan senyuman dan menatap ruangannya, ada suara ketukan pintu. Membuat Rifa'i berdiri dan melangkah, membukakan pintunya.
"Maaf Tuan, Tuan besar ingin bertemu dengan anda sekarang di ruangan pribadinya." Ucap pengawal dengan hormat dan pergi dari pandangan Rifa'i.
Rifa'i menggidikkan bahunya dan berjalan menuju ruangan pribadi papahnya. Sampailah di ruangan pribadi papah Rahmat, Rifa'i masuk ke dalam. Di sana papahnya sedang berbincang dengan seseorang, perasaan ruangan ini pribadi tidak boleh di masuki oleh orang lain, kecuali papah Rahmat menyuruh dan mengizinkan untuk masuk. Tapi, Rifa'i tidak perlu memikirkannya.
"Selamat pagi Tuan Wijaya Koesoemo, apa kabar anda Tuan?" Papah Rahmat pun mendongakkan kepalanya dan menatap Rifa'i dengan tatapan benci, tajam menukik.
"Silakan anda pergi terlebih dahulu!" Ucap dingin papah dan orang itu pun pergi dari lift pribadi papah Rahmat yang ada di ruangan ini.
"Kabarnya allhamdulilah baik, bagaimana keadaan anak yang tak tau diri?"
"Ooo, ternyata anda memanggil nama saya anak tak tau diri, berarti saya bukan anak anda berarti ya... Padahal darah dagingnya siapa? Tetapi, bapak mengatakan kalau saya anak tak tau diri. Tolong anda pikirkan baik-baik!" Rifa'i menghempaskan bokongnya ke kursi yang biasa di tempati oleh papah Rahmat.
"Oke, papah nggak mau basa-basi sekarang, papah mau to the pointnya saja. Apa kamu mau menikah dengan Putri?"
__ADS_1
"Hm, gimana pah? Kalau menjelaskan itu panjang sekali, nanti papah pusing di tengah jalan gimana? Kan yang susah siapa?" Rifa'i ingin bermain-main terlebih dahulu kepada papahnya, papahnya nggak bisa di ajak berbicara dengan kepala dingin selalu inginnya panas.
"Kamu jangan ngancam papah! Papah ingin kamu jawab sekarang! Jangan sampai kamu terluka karena papah!"
"Ohhhooo, papah aku mau ngomong ya, kita itu bicara dengan kepala dingin. Jangan selalu panas, terus nanti kalau panas ada peperangan yang ada!" Papah Rahmat berdiri dan menenggelamkan tangannya ke dua saku celananya.
"Oke, papah ngalah. Papah ngomong baik-baik ini, tolong dengarkan! Nak, apa kamu mau menikah dengan Putri?" Ucap Papah Rahmat dengan lembut dan Rifa'i tersenyum. Mendekati papahnya dan memegang tangan yang sudah keriput, kadang juga suka tremor sendiri.
Rifa'i mencium tangan papahnya, seraya ingin meminta restu dan meminta izin untuk menikahi Putri. "Pah, aku mau kalau papah itu mengizinkan aku menikah dengan Putri ya pah!" Seru Rifa'i.
"Ehm..." Papah memikirkan bagaimana nasibnya ke depan? Papah masih mempunyai dendam kepada ayahnya Putri, itu juga karena persaingan bisnis yang zaman bahulak.
"Menikahlah nak, kalau itu yang kamu mau. Papah akan merestui kalian, kalau kamu sudah menjatuhkan talak ke tiga untuk Anin, tapi papah tidak akan memberikan hak warisan untuk kamu. Papah ingin kamu hidup sederhana dan papah ingin kamu melihat Putri, apakah Putri akan betah dengan kamu? Apakah Putri akan setia dan siap menerima segala apapun keadaan kamu?" Ucap papah Rahmat dengan mengeluarkan map dan berisi kertas yang sudah ada tulisan karya papah Rahmat.
Di bawah sudah ada tanda tangan yang di atas materai yaitu papah Rahmat, sedangkan satunya kosong. "Oke, baiklah kalau keinginan papah begitu. Rifa'i akan hidup dengan sederhana, pasti Putri akan bahagia dan bersedia untuk hidup sederhana." Rifa'i pun menandatangani surat itu.
"Ini sudah kan pah, nggak ada yang lain."
"Besok kamu hadiri di kantor, untuk pembahasan CEO yang akan menggantikan kamu."
"Cepat amat pah, emang udah ada orang yang akan menduduki kursi CEO pah?"
"Sudah, papah sudah mempercayai seseorang yang akan menggantikan kamu."
"Kalau begitu aku mau pergi ke kantor dulu ya pah, mau bahas proyek terakhir dan itu membahas statistik data proyek, bagaimana data perkembangan proyeknya? Berhasil atau tidak." Ucap Rifa'i dengan merapihkan bajunya dan pergi dari ruang pribadi papah Rahmat.
"Johnson, aku akan memulai permainan ini. Apakah kau yang berhasil atau aku? Kita lihat, pembalasanku dari dulu belum aku sampaikan kepadamu. Kita akan bertemu di kemudian hari, aku akan menjadikan ini untuk membahas masa lalu kita yang begitu amat kelam." Ucap Papah Rahmat dengan pelan, meminum air yang sudah di sediakan oleh pelayan. Glekkk...
"Allhamdulilah..."
Bersambung...
Jangan lupa Like dan Komentar positifnya 😊😊
__ADS_1
Terima kasih atas dukungannya dan yang sudah mampir ke sini 🙏💕