
Happy Reading
"Seperti ini, apa aku harus menggugurkan bayi ini? Tetapi, bayi ini nggak bersalah."
––Anin Fitri Ani––
***
Anin termenung di dalam kamar, dia memikirkan calon anaknya nanti mau di kemanakan?
"Setiap ukiran wajah seorang bayi, pastilah sungguh mempunyai arti yang dalam. Aku berdosa kalau menggugurkan bayi di dalam ini, ibu macam apa kalau aku seperti itu.
Ya Allah..." Anin mengelus-elus perutnya dan menatap langit yang begitu cerah.
Semangat yang sekarang dia butuhkan, Anin berdiri dan keluar dari kamarnya.
Anin berjalan ke arah dapur, Anin membuat jus jeruk karena rasanya pingin yang kecut, manis.
Anin membuka kulkasnya dan di sana, dia pingin ngadem pikirannya, tapi malah nggak suka dengan bau yang di kulkas.
"Hwek... Hwek..." Anin memuntahkan cairan bening dari mulutnya karena bau yang tak sedap didalam kulkas.
Bude yang lagi menggosok baju, terkejut dan meninggalkan pekerjaannya. Pakde juga, yang lagi mencuci motornya, meninggalkan pekerjaannya juga.
Berlari ke dapur, karena suaranya dari arah dapur.
Anin membayangkan tadi, rasanya ingin muntah lagi dan mereka yang berlarian tadi, sampai di dapur.
Bude sempat terkejut, tenyata ngidam dan sickness-sickness itu, yang penting arti kata nggak mau dekat dengan barang yang nggak dia suka, nanti bakal mual.
"Pak ambilkan minyak kayu putih dulu! Biar reda muntahnya," Pakde menurut dan mengambilkan minyak kayu putih di lemari.
"Nak kamu duduk dulu! Kamu minum dulu ini!" Bude mengambilkan segelas air putih dan Anin meminumnya.
"Allhamdulilah," di letakkannya gelasnya dan Anin menghempaskan tubuhnya ke kursi. Bude mengoleskan minyak kayu putihnya di seluruh bagian leher Anin.
"Kamu mau apa? Kalau mau apa-apa tinggal ngomong saja, Bude bisa bantu kapan saja!"
Bude memijat-mijat bahu Anin dan mengelus-elus perut Anin. Anin mengelengkan kepalanya dan menyadari kalau Bude sama Pakdenya orang penting. Disini dia cuma menumpang, tapi kok di hormati bagaikan raja dan ratu di Kerajaan.
Hahaha...
"Terima kasih Bude sama Pakde, tapi Anin nggak mau merepotkan kalian berdua. Anin udah bersyukur, Pakde sama Bude bisa nerima Anin tinggal di sini aja Allhamdulilah... Apalagi Pakde sama Bude memberikan kasih sayang? Ya Allah, Anin bakal balas semua jasa kebaikan selama ini. Memang bukan orang tua, tapi kalian emang bagaikan bintang menerangi setiap malam Anin. InsyaAllah Allah akan menggantikan perjuangan Pakde dan Bude selama ini. Amiinn ya robbal allamiin..."
__ADS_1
"Aamiin ya Allah..." Bude dan Pakde mengamini dan Bude melangkah, mendekati Anin, mengecup kening Anin dan merengkuh tubuh Anin.
"Yaudah Bude, Bude sekarang lanjutin aja pekerjaannya daripada nggak selesai-selesai nanti."
"Iya sayang, kalau begitu Pakde sama Bude mau lanjutin pekerjaan kita ya. Kamu kalau butuh sesuatu panggil Bude sama Pakde juga nggak papa."
"Iya Bude." Mereka pun kembali ke pekerjaannya masing-masing dan Anin sekarang mengambil jeruknya di lemari.
Anin mengupasnya dan memotong-motong jeruknya, memilih biji-bijinya agar tidak di haluskan bersama sarinya nanti sama kulitnya sekalian di buang.
"Andai saja kalau Ibu masih hidup, aku nggak perlu numpang sama mereka." Anin memandang jendela yang di dapur, sepi jalanannya. Karena mereka semua kerja dan paling lambat sore, mereka pulang.
Semuanya sudah selesai, akhirnya Anin menuangkan jusnya ke dalam gelas dan mencampurkan es.
Weuuhh seger nikmat...
Anin duduk dan menikmati kue yang di buat Budenya kemarin bersama jus jeruknya.
***
Rifa'i menunggu papahnya yang sekarang sudah ada di rumah papahnya.
Tadi, dia sempat cekcok bersama papahnya. Sekarang dia memilih untuk mengurus papahnya terlebih dahulu, agar sehat kembali.
Papah Rahmat sejak tadi termenung dan melamun, entah apa yang di pikirkan?
Rifa'i menepuk bahu papahnya, membuat Papah Rahmat membuyarkan lamunannya dan menatap manik mata anaknya. "Pah, papah kenapa? Ada apa kok dari tadi melamun?"
Bingung mau jawab apa, papah Rahmat tersenyum dan menggelengkan kepalanya. "Nggak kok nak, papah cuma mikir, kamu harus pergi jauh-jauh dari Putri itu nak. Karena Putri emang bukan orang sembarangan nak. Kamu jauhi Putri nak, jangan sampai kalian berdua menuju pelaminan!"
Rifa'i mengangguk, dia sebenarnya malas ribut dengan papahnya karena ini dan itu yang pasti.
Dia sekarang fokus dengan keadaan papahnya yang lemah dan kurang fit.
"Papah sekarang makan dulu ya. Terus minum obat, lalu istirahat. Papah harus sehat dan bugar lagi. Kalau papah nggak sehat siapa yang susah? Papah sendiri sama Rifa'i kan pah?"
"Iya nak, papah mau makan kok." Rifa'i mengambil sendoknya dan menyuapi papahnya.
"Oh iya pah, kantor siapa yang ngurus?" Rifa'i ingin mencari tau, sekarang siapa yang mengurus kantor?
"Hm, sebenarnya akhir-akhir ini papah nak yang ngurus. Karena papah benar-benar muak sama kamu, jadinya papah yang turun tangan langsung ke kantor." Papah mengambil minum dan meminumnya.
"Lha siapa itu? Sekretaris pribadi papah kemana kok nggak ngurus kantor?"
__ADS_1
"Gini nak, Fadli itu sekarang istrinya mau melahirkan. Jadinya, dia mendampingi istrinya saat-saat begini. Jugaan kantor udah memberikan cuti untuk siapapun yang istrinya mau melahirkan."
Rifa'i meletakkan mangkuknya, karena sudah habis. Emang papah nggak mau buang-buang makanan sekarang, baginya mubazir dan sayang kalau udah di buat. "Ini pah!" Rifa'i menyerahkan obatnya dan gelasnya.
Papah Rahmat langsung menelan obatnya dan meminum airnya.
"Yaudah papah istirahat dulu!" Rifa'i membenarkan bantalnya dan menarik selimutnya, agar sang papah tidak kedinginan.
Rifa'i melangkah keluar, membawa nampannya dan membuka pintu lalu menutupnya kembali.
"Apa aku tanya dulu sama Putri ya. Dimana dia sekarang? Soalnya dari tadi aku belum teleponan sama dia." Rifa'i meletakkan nampannya di atas meja, melangkah ke kamarnya dan mengambil handphonenya yang lagi di cas.
Rifa'i mencabutnya, kemudian dia membuka handphonenya dengan kunci.
Kata sandinya saja belum di ganti, seperti biasa tanggal pernikahannya bersama Anin.
Rifa'i memencet IKON telepon dan akhirnya menyambung juga. Putri langsung mengangkatnya, "*h*alo mas, gimana papah?" Suara Putri yang lagi makan.
"Baik, sekarang udah istirahat. Nanti juga sembuh, udah makan, udah minum obat." Rifa'i duduk diatas ranjang dan menyenderkan punggungnya di kepala ranjang.
"Gitu ya, mas besok kita jalan-jalan ya. Soalnya aku udah bosan nih mas, aku disini sendirian lagi. Nggak ada siapa-siapa."
"Tapi Putri, aku juga besok ada kerjaan di kantor. Papah belum tentu sehat besok, sekarang saja kantor nggak ada yang handle. Cuma ada sekretaris itunya papah, wakil Direktur Utama aja udah tua. Mau di ganti lagi nggak ada calon."
"Oalah gitu ya, tapi mas, besok ya. Aku mohon!" Putri memohon dan Rifa'i mau gimana pun harus menerima.
Karena dia udah terlanjur cinta sama sayang mau di kemana kan lagi?
"Iya besok kita jalan."
"Beneran mas, janji. Kalau kamu lewat dari satu detik maka aku–."
"Jangan! Yaudah kalau gitu mas tutup dulu teleponnya, mas mau kerja dulu."
"Iya mas, semangat terus ya mas."
Akhirnya mereka memutuskan sambungan, Rifa'i membuka whatsapp-nya, banyak panggilan yang tidak terjawab dari kantor.
Bersambung...
Jangan lupa Like, Bintang Lima, dan Komentar Positifnya ☺☺☺
Terima kasih yang sudah memberikan dukungan dan yang sudah mampir ke sini 🙏💕
__ADS_1