
Beberapa hari akhirnya terlewati, sekarang sudah menuju puasa yang ke-23 hari dan Anin melewati itu semua tidak segampang yang di jalankan, maupun itu dan ini harus di turuti semua apa yang di minta oleh Bude sama Pakdenya.
Nanti malam akan di adakannya acara buka bersama dengan keluarganya Aksa, di rumah Bude sama Pakde Anin. Untuk mengadakan ini juga Anin kerepotan sendiri. Akibatnya, dia tidak siap dengan keadaan seperti ini.
"Pak, ini nanti kalau kurang belanjaannya tanya saja sama tukang sayurnya. Karena orangnya juga jago buat masakan yang enak. Kan sebentar ponakan kita mau nikah, jadinya harus meriah dong nggak boleh malu-maluin keluarga laki-lakinya." Ujar Bude, Pakde membanting yas belanjanya yang masih kosong.
"Seng di gede'ne gengsi teros... Nanti malam nggak usah tidur sama bapak. Apasih yang di besarin dan kita secukupnya saja kalau berbuka, jika halnya yang berlebihan apakah boleh menurut agama? Tidak, ibu mikir lah di luaran sana juga banyak orang yang ekonomi rendah tapi berbuka seadanya makanan saja yang di makan. Terus, kalau anaknya banyak itu maka mereka juga berbagi sesama saudara. Gitulah, ambil petikan dari cerita orang luaran sana." Nasehat Pakde dan Bude menatap bawah meja makan, sedangkan Anin asyik bermimpi sampai pulaunya sudah banyak airnya.
"Iya, jangan mandang ke sana juga lah Pak! Apa nggak malu bapak dengan keluarga konglomerat lagi, kita ketemu lagi sama namanya keluarga kaya raya sampai tujuh turunan pun nggak akan habis-habisnya itu uang. Nggak malu?" Bude tetap kekeuh, tidak ada niatan untuk mengubah keputusannya dan Pakde semakin prustasi. Keputusan juga sudah tepat sekali menurut Bude.
"Iya, tanya aja sama Pak Ustaz kalau nggak kepingin bapak yang jelasin dan jika bapak yang jelaskan juga akan berbelit-belit. Dari itu, ibu tanya setiap semua Pak Ustaz maupun Pak Kyai, ataupun semuanya lah yang beragama. Ibu tanya baik-baik, 'sesuatu yang berlebihan itu tanggapannya gimana?' itu yang di tanyakan. Biar mikir sedikit, bapak mau berangkat dulu. Assalamu'alaikum, jangan lupa tutup pintunya!" Ucap Pakde dengan menenteng tas belanja dan melangkahkan kakinya keluar rumah.
"Astagfirullahalazim, benar juga. Berarti nanti ada sisa kita harus berikan kepada orang yang membutuhkan ini. Bagi-bagi takjil nanti," Ucap Bude dengan semangat. Kotak pun masih tersedia banyak di lemari, buat stok nanti.
Ataupun nanti buat takir di masjid, itulah yang ada di pikiran Bude. Emang kadang sengkleknya nggak kunjung-kunjung sembuh malah makin menjadi.
"Bener bude, hoammmm..." Bude terkejut untung jantung tidak lepas dari organ tubuh, jika saja copot siapa yang mau menggantikan? Bude menjitak pelan kepala Anin, untuk segera membuka matanya.
"Kamu sejak tadi molor terus kayak celana kolor, udah kamu bantuin bude masak. Kalau nggak, bude mu samsak kamu nanti." Wah, ngeri kali ini budenya.
__ADS_1
"Oke, iya nanti Anin bantu. Tapi, mau ngumpulin nyawa dulu. Kan namanya habis tidur bude dan pekerjaan pun harus di selesaikan besok kemudian akan libur selama setengah bulan. Karena sudah menjelang hari raya idul fitri jadinya kantor akan bercuti terlebih dahulu." Ucap Anin dengan menggertukkan tangannya dan Bude menggeleng.
"Wudhu dulu, biarkan lelah hilang dan merasa segar. Yang penting jangan minum air! Kasihan itu puasa kamu selangkah lagi juga akan berbuka. Tunggu beberapa jam pun akan nggak kerasa sama sekali jika kamu membantu bude." Ucap Bude dan Anin pun melangkah ke arah kamar mandi. Anin menghidupkan air kucuran, dan menghadap ke arah jendela. Tercetak jelas matanya yang sedikit menghitam. Karena efek begadang gara-gara pekerjaan, kalau pekerjaan nggak sebanyak ini juga Anin akan tidur sampai energinya akan kuat lagi di pagi hari.
Malah, baru mau meminum airnya untung ingat sama kucuran yang berbunyi. Anin pun menatap kucuran bayangkan saja es teh, wah enak sekali sepertinya. Padahal jam tiga sore, masih ada sekitar 3 jam lebih lah. Semangat, tetapi badannya sudah letih dan hawa panas juga menyelimuti setiap badannya.
Sinar terik pun juga tak kunjung terbenam, panas sekali.
"Aninnnnnnnnn..." Teriak budenya dengan keras dari dapur, dan Anin buru-buru menyemplungkan gayung dan membasuh mukanya secara merata. Anin keluar dari kamar mandi dan cengar-cengir di depan budenya.
"Kamu ini mau nyemplung apa gimana? Terus mau minum air?" Sudah berprasangka buruk saja si Budenya ini, iya emang benar-benar awalnya tergoda dengan air yang mengalir, tetapi Anin sudah beristighfar beberapa kali agar melupakan buka dengan air kran.
***
Aksa menyimpan berkas-berkas yang sudah ia selesaikan hari ini, dia liuk-liukkan badannya.
Agar tidak terasa pegal dan capek, "Aksaaaaa..." Seru Ibunya dari luar dan langsung menghamburkan pelukkan sampai mau napas saja tidak bisa karena ibunya mencium beberapa kali. "Iya ibu, kok ibu sudah ada di sini?" Tanya Aksa.
"Kamu ini bukannya seneng apa gimana? Nanti ada acara buka bersama di rumah teman lama Ibu, kamu harus ikut dan Ibu mau kamu menikah dengan ponakannya. Kasian itu ponakannya, udah janda tapi masih muda dan cantik lagi. Walaupun ibu liatnya di foto, tapi emang benar-benar katanya teman lama ibu dulu si suaminya itu nggak bisa di percaya. Jadinya, sekarang mereka bercerai lah. Aduh, ibu capek dari bawah kekuasaan sini lari-lari. Huuuuuuuhhhh..." Dengan membuang napasnya beberapa kali, Aksa pun menuntun Ibunya untuk duduk di kursinya dan Aksa memilih untuk berdiri.
__ADS_1
"Hah, kok janda sih Bu?" Memilih bertanya-tanya, padahal di kantor dia nggak tau jika Anin terlebih dahulu menyandang status janda. Yang ia tau dari dulu Anin bermusuhan dengan Rifa'i, CEO kantor sebelah.
"Heh, tapi cantik lho apalagi nanti kamu menatapnya palingan juga kamu akan langsung pdkt." Ucap Ibu Aksa, Ayah Aksa pun menyembulkan diri dari pintu ruang kerja Aksa.
"Sa, di luar ada paket katanya bibi. Entah dari siapa? Katanya sih makanan, kamu order makanan?" Tanya sang Ayah dan Aksa baru ke ingat jika dirinya tadi memesan makanan lewat online. Aksa melenggang keluar dan mereka pun membuntuti Aksa, dan memilih di meja makan. "Ibu kenapa rumahnya besar ini nggak ada penghuninya?" tanya Ayah Aksa, Ibu Aksa membereskan sendok di wadahnya.
"Iya mas, aku juga heran kok sama Aksa itu. Memilih jadi bujang lapuk apa gimana?" Si yang di bicarain pun datang. Nyinyirin terus, eh nggak boleh seperti itu. Batin Aksa, Aksa pun meletakkan tote bag-nya di meja.
"Ya udah sekarang mau bahas itu 'kan? Buka bersama, aku siap-siap dulu. Nanti ini makanan bisa sekalian di makan untuk buka bersama nanti." Ujar Aksa dengan berjalan menuju ke kamarnya, Ibu dan Ayah Aksa menunggu di meja makan.
Bertanya-tanya tentang pengeluaran biaya rumah dan keperluan Aksa kepada Bibi.
Happy Reading 📖
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya gaisss 😁😁😁
Terima kasih 🙏💕
__ADS_1