
Happy Reading
Rifa'i keluar dengan balutan handuk yang melingkar di pinggangnya.
Anin menyiapkan baju Rifa'i yang di atas ranjang, sebelumnya berangkat ke sini membawa beberapa pakaian saja.
“ Mas nanti sekalian mampir ke rumah makan, sekalian makan malam gitu. ”
“ Iya nanti aku coba, ”
Rifa'i menenteng bajunya dan memakainya di kamar mandi.
Akhirnya semuanya sudah selesai dan bersiap untuk kembali ke Bandung.
Anin pun membawa baju kotor Rifa'i dan dirinya sendiri di dalam tas.
“ Ah nanti sekalian suruh pelayan buat cuci bajunya. ” Ucap Rifa'i,
“ Nggak usah, nanti aku cuci sendiri aja. ”
Anin pun keluar terlebih dahulu dan di ruang TV sudah ada nenek Sarifah di sana dengan pengurusnya.
“ Assalamu'alaikum nek. Udah seger badannya nek? Nenek yang banyak makannya sama jangan lupa buat minum obatnya! ”
“ Waalaikumsalam. Iya nenek nggak lupa, nak kamu mau kemana? ”
“ Begini nek, kita mau pulang ke Bandung nek. Mas Rifa'i nggak mau katanya mau nginap, ”
“ Hah, kok gitu? Emangnya kurangnya apa? Sampe nggak mau nginap segala, ”
“ Nggak kok nek. Tapi katanya mas Rifa'i pekerjaannya nggak bisa di tinggal nek, jugaan semua berkasnya ada di bandung, selama dia cuti tapi sambil kerja juga nek. ”
“ Oalah gitu, kalau nenek nggak maksa. Karena itu udah tanggung jawabnya sebagai seorang polisi seperti itu, nak. Kamu harus banyak bersabar nya dan setiap hari kamu harus kirim do'a buat suamimu biar bisa dapet rezeki lancar... Aamiin... ”
“ Iya nek, aku inget selalu nek. ”
Anin tersenyum dan menyalimi tangan nenek Sarifah, nenek Sarifah pun mencium kening Anin.
“ Jadilah istri yang baik nak, semoga semuanya langgeng tanpa ada sedikitpun yang akan menggangu pernikahan kalian. Nak, jangan tinggalkan nak Rifa'i dalam keadaan sakit, maupun duka yang kamu rasakan. Jangan nak! Itu semua akan di benci oleh Allah nak, perkataan 'cerai' itu laknat dalam pernikahan nak. Apakah kamu mau seperti orang-orang yang di luaran sana mengucapkan kata seperti itu? Kata yang membuat pernikahan hancur dan melebur seketika. Dalam pernikahan cuma satu jalan, bukan dua jalan nak. Orang yang selalu mengikuti napsu dan ego semuanya akan hancur dan hangus seperti kertas yang di bakar menjadi abu. Kamu harus mengerti jalannya nak. Tempuh lah pernikahan kalian dengan berbahagia dan tetap ingat, jangan lupa begitu saja dengan Allah SWT.” Jelas nenek Sarifah.
“ InsyaAllah semuanya tidak ada halangan dan ujiannya yang lebih berat lagi, amiin. ” Lanjut nenek Sarifah mengelus pelan kepala Anin.
“ Iya nek. ”
Rifa'i keluar dengan langkah biasa saja.
“ Emang nggak ada akhlak itu suami, udah tau nenek lagi sedih. Malah kayak gitu, ” Ucap Anin di dalam hati.
“ Mas salim dulu sama nenek. ” Ucap Anin dengan menyindir Rifa'i yang mendekap tangannya.
__ADS_1
“ Hahaha iya yang, bentar. ”
Akhirnya Rifa'i pun menyalimi nenek Sarifah dan nenek Sarifah mendekap pelukannya ke Rifa'i.
“ Jangan lupain nenek ya! Nenek terlalu sayang sama kalian, cucu nenek juga belum nikah. Nenek mau lihat calon cucu menantu nenek. Yaudah lah, melihat kalian ke sini membuat nenek seneng dan bahagia jika kalian udah mampir ke sini. ” Ucap nenek Sarifah dengan mengelap air matanya yang menggenang di pelupuk matanya yang sudah keriput.
“ Iya nek, kami nggak akan melupakan nenek. Aku akan sebisa mungkin untuk tidak melupakan nenek semasa hidupku. ”
Rifa'i mengecup kening nenek Sarifah dan nenek Sarifah memukul punggung Rifa'i dengan pelan.
“ Mbak... Tolong panggilkan Raihan buat turun dulu dari kamar! ” Ucap nenek Sarifah dengan menyuruh mbak Dania.
“ Baik bu, ”
Akhirnya Anin pun duduk di kursi karena kelamaan menunggu, Raihan belum juga keluar dari kamarnya.
Mbak Dania... Entah Kemana?
“ Rif... Tolong kamu dorong kursi roda nenek... Biar nenek beri pelajaran sama cucu nenek itu, udah nggak tau diri aja. ”
Akhirnya Rifa'i pun mendorong kursi roda yang di duduki nenek Sarifah, sebenarnya nenek Sarifah belum kuat untuk berjalan sendiri, tetapi harus menggunakan bantuan seperti mbak Dania sama tongkatnya. Lumpuh dan stroke yang nenek Sarifah rasakan sekarang, sampai kejadian kecelakaan yang membuat nenek Sarifah trauma dengan masa tersebut.
Nenek Sarifah pun menggedor-gedor pintu kamar Raihan, tetapi orangnya tidak menampakkan hidungnya.
“ Han... Han... ” Sampai tenaga nenek Sarifah lemas dan napasnya seperti sesak napas.
“ Kayaknya di ruang kerjanya nek. ” Ucap Anin dengan menyodorkan gelas yang berisi air minum.
Anin takjub dengan nenek satu ini, karena tenaganya masih kuat untuk menggedor-gedor pintu kamar, tetapi kok nggak bisa berjalan.
Sampailah di ruang kerja Raihan yang tidak di tutup sama sekali.
Kaki Raihan di atas meja dan membaca buku dengan minum kopi.
Nenek Sarifah pun menepuk-nepuk tangannya karena Raihan hebat dengan sikapnya seperti ini.
“ Hebat kamu han... Kamu mau nenek kembalikan ke orang tua kamu. Ha? ”
“ Jangan nek! Jangan! ”
Akhirnya Raihan terkejut dengan datangnya neneknya sendiri.
“ Dari tadi nenek panggil sampai pengen mendobrak pintu kamar kamu. ”
“ Maaf nek, masih fokus sama buku yang di kirimkan ayah, nek. Masalahnya suruh baca dalam kurun waktu dua puluh hari, nek. Jadinya aku harus ambil cuti dulu, jugaan. ”
“ Hah... Kamu ambil cuti, gara-gara ini. Aduh, kamu ini nggak bisa menjalankan apa yang di amanatkan kakek kamu, dalam segi apapun. Kamu nggak boleh libur, itu kecuali sakit. ”
Raihan memasang muka kasihan, biar neneknya bisa memberikan sedikit kelonggaran.
__ADS_1
“ Oke, nenek akan kasih waktu. ”
“ Ini Rifa'i sama Anin mau pulang. ” Lanjutnya.
“ Kok pulang Rif, bukannya kamu mau nginep di sini. Kan masih ada waktu Rif, ”
“ Maaf bang aku nggak bisa, karena masih ada pekerjaan yang belum aku selesaikan. Jadinya harus pulang, bang. ”
“ Oalah gitu ya, yaudah nanti kalau resepsi pernikahan. Jangan lupa undang aku! ”
“ Nggak mau, karena kamu belum punya pasangan juga... Hahaha, ”
“ Emang nggak boleh nek, kalau resepsi pernikahan nggak bawa pasangan? ”
“ Iya bener... Kata Rifa'i emang bener, kamunya aja yang belum cari pasangan jugaan. ”
Anin mengulas senyuman dan hatinya sekarang sudah terobati dengan luka yang mendalam baginya atas meninggalnya ibunya.
“ Ngeledek terus, ini juga buku jugaan, suruh milih jodoh sendiri atau pilihan? ”
“ Iya enak jodoh sendiri lah, tinggal cintanya sama siapa? Langsung nanti kawin lari, hahaha... ” Ucap Rifa'i dengan asal.
“ Enak banget... Ngomong seenaknya aja, kalau pilihan orang tua nanti nggak sesuai selera gimana? ”
“ Nasibnya aja begitu, ” Ucap nenek Sarifah dengan memegang tangan Anin.
“ Kok gitu nek. ”
“ Udahlah. Rifa'i sama Anin mau pulang, nanti kemaleman jugaan sampainya. ”
Rifa'i akhirnya menyalami Raihan dan Anin pun sama. Rifa'i juga mengecup kening nenek Sarifah kembali, karena kangennya terobati sudah.
Bersambung...
Jangan lupa mampir ke KBM App ya, teman-teman!!! Mohon dukungannya, teman-teman.
Ini cerita tentang anak dari Rania yang novel satunya, yang lapak sebelah judulnya
Suka Duka Bahagia
itu, kalau mau silakan mampir teman-teman.
Itu ya teman-teman ❤❤❤
Masih dua bab itu pun kalau mau, setiap hari selalu up di sana.
-Jangan lupa like dan komen ❤️❤️❤️
__ADS_1
-Mampir ke instagram, boleh follow instagram authore😜😜😜
Makasih teman-teman atas dukungannya ❤❤