Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
Season 3- Episode 78


__ADS_3

Sekarang, hari di mana mendekati hari lahirnya baby yang ditunggu selama ini. Aksa menuruti kemauan papahnya jika ia mengambil cuti kerja selama dua bulan kurang lebih, selama dia boss jadi nggak papa.


Memerintah dan yang penting gaji aman.


Hari ini Anin sedang membereskan beberapa baju yang tersisa, karena ia masih membereskan di lemari dan di ruang ganti itu sekarang sudah ada stok baju ataupun keperluan calon anaknya kali ini.


Sudah selesai, Anin tersenyum lebar dan ia meletakkan semuanya ke satu wadah sampai benar-benar keringat membasahi badannya sendiri.


Akhirnya selesai itu, Anin keluar. Melangkah keluar dari kamar, sekarang kamarnya sudah ada di lantai bawah sebab Aksa yang ingin memindahkan jika tak perlu repot-repot istrinya naik-turun tangga.


“Mau kemana kamu?” suara itu mengejutkan Anin, singkat, padat serta jelas. Anin mendengarnya hanya tidak peduli, ia melangkah menuju ke dapur. Ia ingin mengambil snack buah yang ada di lemari kayu yang ada di bawah.


Sembari ia menghela napas mau gimana caranya agar bisa jongkok, akhirnya ia memaksakan untuk pelan-pelan duduk di lantai dapur itu.


Ia memilih untuk yang agak ada campurannya dan di sana sudah ada stok buat dirinya, itu semua entah siapa yang belikan yang penting Anin tinggal makan. Beberapa hari, sekitar dua minggu lamanya ia tak berkomunikasi dan bertukar kabar sama pakde dan budenya, katanya mereka ke luar kota selama satu bulan lamanya, dan Andini tinggal di mansionnya dimana papahnya sudah pulang dari luar negeri.


Aksa, laki-laki itu tak mau jika istrinya kenapa-napa menyusul di dapur dan ia melihat istrinya sedang berjongkok di atas lantai, membuat dirinya berdecak pelan.


“Kalau mau apa-apa bilang Nin,” Aksa ikutan jongkok membantu Anin untuk berdiri dan duduk di kursi makan.


Anin hanya mengangguk sebagai jawaban, Aksa melirik di bawah. Perut Anin sepertinya diam saja dua hari ini, entah kenapa Aksa selalu berpikiran macam-macam dan bisa jadi kalau Anin jadi cenayang, bisa dipanggang habis dia.


“Jagoan ayah, kok kamu diam aja sih?” Aksa gemas sendiri, ia pun merusut ke bawah untuk mengecek keberadaan calon bayinya yang tinggal hitungan jam akan melahirkan.


Aksa mengecup dan memberikan elusan tangannya di permukaan perut Anin yang dibaluti dengan daster itu. Aksa mengulas senyum bahagia, “Jangan capek-capek!” udah mulai itu posesifnya dan Anin merotasikan bola matanya.


“Ya sudah duduk dulu ya, biar mas yang bantu.” Ucapnya lembut, Anin hanya menatap suaminya tanpa berpindah untuk berdiri atau tidak. Aksa berdehem pelan, suaminya sudah mengode bisa kah nggak mancing kesabaran Aksa yang tiap hari prustasi hanya menjambak rambutnya untuk bentuk kekesalan.


Aksa duduk di samping istrinya dan tersenyum lembut, tangannya ada di bawah dan ia mengusap dari belakang. Anin yang merasakan hawa tidak enak itu pun menggeplak tangan suaminya dan basah yang dirasakan Aksa.


Aksa menatap heran, ia mengerutkan dahinya dan ia memegang celananya yang hampir sepenuhnya basah, Aksa melihat di bawah ada cairan yang berwarna keruh kekuningan itu dan msmbasahi lantai dapur. Sontak Aksa terkejut, “Kamu ngompol Nin?” tanya Aksa dengan gelagapan.

__ADS_1


Anin yang nge- lag itu pun tidak merasakan apa-apa hanya saja ia merasakan jika keringatnya sejak tadi bercucuran.


“Eh eng-gak kok, emang kena-pa?” Anin bingung jawabnya.


Ia jadi gelagapan itu pun beranjak berdiri, memastikan apa yang diomongkan oleh suaminya itu benar jika ia ngompol.


Anin dan Aksa bingung, dua orang itu hanya diam sejenak mengamati setiap rembedan cairan itu keluar dan keluar dari tetesan kaki Anin yang kini Anin tak sengaja pelupuknya terasa penuh dengan cairan air mata dan benar!


Tes


Tes.


Satu persatu air matanya terjerembab keluar dengan begitu ia bahagia. Aksa, ia diam. Laki-laki itu seperti orang linglung tak tahu apa-apa. Ia menilik tatapan bahagia Anin, yang menandakan ia harus apa.


“Mas, kita ke rumah sakit sekarang!” ucap Anin membuyarkan lamunan Aksa.


Aksa yang mendadak pening melihat ada suatu darah yang menggumpal turun dengan begitu saja tanpa diundang, Aksa pun pingsan melihat itu dan Anin bingung.


Ia panik, melihat itu Anin memanggil pengawal Aksa yang ada di pintu dapur itu.


Tak berselang lama atas air ketuban yang pecah tadi, Anin merasakan ada gelenyar aneh di tubuhnya dan tiba-tiba sakit menyerangnya.


Bibi serta pengawal lain berdatangan melihat itu semua mereka berpencar untuk melakukan setiap pekerjaan masing-masing. Bibi dan salah satu pengawal membantu mereka berdua, Aksa yang dibopong oleh pengawal itu di masukkan salah satu mobil berbeda dengan istrinya.


Mereka diputuskan untuk dibawa ke rumah sakit yang sama agar tidak kebingungan untuk mencarinya.


Semuanya pekerja sampai dilanda bingung sekarang, keadaan majikannya benar-benar mengkhawatirkan dan mereka hanya bisa berdo'a dari rumah.


Sampai di rumah sakit, Anin sudah diturunkan dari mobil dan para suster pun sudah di depan hanya saja tadi ada kesalahan teknis atas dasar rumah sakit kurang agak gimana gitu dengan kepala pengawal yang ada di rumah mereka.


Anin meringis kesakitan, ia hanya bisa berdo'a. Selamatkan anaknya! Kalau dia mau diambil nggak papa, yang penting anaknya nggak kenapa-napa hanya itu. Keringat sudah membasahi badan Anin.

__ADS_1


Anin dibawa ke ruang UGD di mana di situ ditangani.


“Bu, maaf mau tanya suaminya kemana?” tanya dokter itu, membuat Anin hanya menggelengkan kepala. Rasa sakit yang belum pernah ia rasakan, apa lagi ini ia harus berjuang untuk lahirannya normal dan tidak ada apa-apa.


“Maaf Bu, suaminya tadi pingsan katanya.” Suara suster itu menjawab, dan dokter itu mengangguk.


“Oke bu, maaf kalau bisa ibu tahan dulu ya. Karena dokternya masih jalan ke arah sini!” Dokter itu terus-menerus bertanya agar tidak tegang apalagi ini pertama kalinya Anin seperti ini, ia tidak menyangka akan menjadi ibu untuk anak-anak nya kalau semisal ia dipundut lebih dulu maka ia berpesan untuk menemui dirinya di mimpi anaknya.


Anin mendengarnya ngilu sendiri melihat dokter itu yang nggak guna di sini, kalau nggak guna di sini mending keluar. Akh, bikin gregetan dan suara deritan pintu semakin keras membuat semua orang di dalam sana memerhatikan dan benar itu dokter kandungan yang telah disarankan oleh Aksa.


“Maaf dokter, bisa dibantu buat lahirannya.” Ucap dokter yang menangani Anin di setiap kehamilannya dari trimester pertama.


“Hah ... Saya dok? Maaf kalau boleh tawar sih, saya mending undur diri aja dok.” Jawab dokter itu ngibrit dengan langkah tergesa-gesa keluar untuk menghindari dari kata tolong menolong.


Mungkin dokter umum jadi nggak biasa buat nangani pasien seperti ini, hanya memeriksa dan mengetahui penyakit. Hanya gitu dasar, tapi kalau sudah mapan bisa lanjut kuliah untuk menjadi dokter spesialis harus bangga.


“Maaf terlalu lama, iya saya minta ibu jangan terlalu neken buat sakitnya yang masyaAllah harus kuat bu. Mental baja dan jajan yang banyak biar kuat,” goda dokternya dan dokternya itu ganti baju di ruang steril.


Dokternya keluar dan mengecek bagaimana keadaan Anin, benar saja jika bisa dilakukan lahiran normal kali ini sebab calon anak sudah mau keluar.


Aksa, laki-laki itu sendiri sedang menunggu di luar dan ia sempat ragu untuk masuk melihat darah istrinya, sekarang jadi parnoan dia melihat darah padahal dulunya mah sering kek gitu melihat darah dan habis penembakan kok sekarang apa-apa saja untuk menghindari darah istrinya saja tidak bisa yang namanya kuat.


Tetap saja lemah, jatuhnya pingsan.


 


Oke, makasih gess yang udah mau mampir...


Maaf kalau belum bisa jadi yang terbaek😖.


Saia usahakan...

__ADS_1


Hehhehe jangan lupa follow IG din ya.


@dindafitriani0911


__ADS_2