
Happy Reading
Anin meletakkan obat dan vitaminnya di mejanya. Sekarang dia ingin makan sate sebenarnya, tapi buatan sendiri.
"Kenapa aku pingin sate? Ini masih jam delapan, nggak papa lah, aku pergi sendiri. Daripada merepotkan Pakde," Anin membawa dompetnya dan berisi uang sisa belanja.
"Pasti mereka udah pada tidur, tapi nanti kalau belum tidur gimana?" Anin membuka pintu kamarnya dan jelas di sana Bude nya lagi memijat kepala Pakde nya.
"Hm, gimana ini?" Anin melangkah, mendekati mereka berdua. Pakde mengisyaratkan untuk berhenti memijat, akhirnya Bude berhenti dan mendekati Anin.
"Ada apa nak?" Bude meletakkan minyak kayu putihnya di meja dan Anin duduk di sofa.
"Bude, apa boleh aku keluar bentar?"
"Mau kemana emangnya?"
"Mau sate bude, kayaknya nyidam."
Bude memegang tangan Anin dan menatap bola mata Anin.
"Iyaudah kalau begitu, Pakde belikan aja. Pak, tolong ke warung sate, beli sate kambing aja daripada sate ayam. Enak sate kambingnya,"
"Tapi Bude, Anin nggak mau merepotkan." Pakde mengambil kunci motor dan mengambil jaketnya.
"Udah nak, pakde aja yang berangkat. Kasian nanti anak kamu yang ada di dalam, yaudah bu, jaga ndok dulu ya. Nanti kalau ada apa-apa telepon bapak. " Pakde memakai jaketnya dan melangkah keluar.
"Kamu belum minum susu kan? Bude, buatkan ya. Nanti kalau kamu nggak minum susu hamil, nanti anak kamu nggak bisa berkembang."
"Nggak usah Bude, aku bisa buat sendiri. Bude kan capek, nanti kalau kecapean gimana?"
"Nggak kok nak, Bude buatkan aja. Kamu di sini aja, kalau mau ganti chanel TV, ini remotnya."
Anin pasrah karena mereka berdua memang menyayangi Anin sejak kecil, mau gimana lagi? Mereka tidak mempunyai anak.
Kata dokter, Bude tidak akan bisa mempunyai anak karena rahimnya sudah di angkat, Pakde juga kurang setuju dengan mengasuh anak di panti asuhan.
Sampai mereka berdua bertengkar akibat Bude ingin mengasuh anak di panti asuhan.
Tetapi, Pakde tidak setuju karena mempunyai banyak alasan.
"Ini, Bude sekalian mau lipat baju dulu nak. Kamu di sini, Bude mau ambil pakaiannya dulu."
"Iya Bude." Anin mengganti chanel TV lain, tetapi yang ada di TV cuma berita banjir terus, sampai ada orang yang kena penyakit kulit dan kekurangan air bersih.
Ya Allah berita yang wara-wiri sampai saat ini, musibah memang datang begitu saja.
"Ya Allah kasian mereka, ada yang begitu lagi."
Anin meringis-ringis dan menatap belas kasihan kepada mereka semua, efek hamil kayak gini jadinya.
Pakde yang baru saja pulang dan meletakkan kunci motornya sama melepaskan jaketnya.
__ADS_1
"Ini nak, satenya. Ada sesuai pesanan," Pakde mengasihkan bungkusan plastik dan di sana udah ada bungkusan dau pisang yang berisi sate.
Ini nih, kayaknya lontong bukan satenya.
"Pakde beli lontong buat siapa?"
"Biasa Pakde pingin lontong, kayaknya enak."
"Pak... Udah pulang?" Bude yang membawa setumpukan baju di keranjang dan di letakkan di bawah.
"Udah bu. Sekalian beli lontong tadi," Pakde mengambil piring dan sekalian wadah sendok.
"Pak, kamu beli lontong. Ibu mau Pak, tolong potog-potongin ya Pak."
Pakde memotong-motong lontongnya menjadi kecil-kecil yang enak di makan nantinya.
Anin membuka bungkusannya dan liat bumbu kacangnya, enak nih. Anin mengambil satu tusuk dan dia memakannya.
"Pakde mau?"
"Nggak usah nak, buat kamu aja. Pakde sama Bude makan lontongnya aja." Jawab Bude dengan menumpuk bajunya di keranjang.
"Iya makasih Bude."
Anin menatap mereka berdua yang membangun rumah tangga sekitar 23 tahun lamanya, belum juga di karuniai seorang anak, tetapi mereka memang romantis tak kalah dengan yang lain.
"Bude, aku nggak habis ini. Gimana? "
"Yaudah Bude, Pakde. Aku mau tidur dulu, udah ngantuk soalnya."
Anin menyalami Pakde dan Bude nya sebelum tidur, dia membawa segelas susu hamilnya.
Pakde yang mengambil sendok, eh ternyata lontongnya sudah habis.
"Maaf Pak, ibu ngabisin lontongnya. Tadi, liat itu ibu takut, jadinya fokus ke lontong."
"Nggak papa bu, bapak juga udah kenyang."
"Makasih Pak, ibu udah maafkan bapak."
Pakde senang, akhirnya Pakde memeluk Bude dengan erat dan menciumi wajah keriput Bude.
"Pak, gimana talak pernikahan Anin sama Rifa'i, apa tetap berlanjut?"
"Begini bu, tadi bapak telepon pengacara buat ngurusnya, tapi katanya kalau emang benar hamil, antara menjatuhkan talaknya itu nanti setelah lahiran dan setelah lahiran, masa nifas kan belum selesai, jadi Rifa'i nggak boleh menjatuhkan talaknya. Selama sekitar sepuluh bulan setengah kayaknya," Pakde memberikan penjelasan panjang lebar, Bude mengangguk dan arti kata setuju.
"Sekalian balikan lagi Pak, daripada menjatuhkan talak kepada Anin."
"Iya kalau Rifa'i setuju, si perempuan itu emang perempuan yang nggak main-main bu, orang akalnya kayaknya licik bu."
"Ya tinggal jebloskan aja ke penjara."
__ADS_1
"Bu... Bu, kalau kita pintar lebih dari perempuan itu, kita menang. Kalau kalah gimana? Nangis yang pasti."
" Bener juga, tapi kasian juga sama ponakan kita Pak. Bapak ini nggak tau apa? Dari dalam pedih banget Pak, terus luarnya. Matanya ternodai, ah bapak ini nggak tau aja soal hati perempuan. Perempuan kalau di sakiti ada bekasnya yang masih ada di dalam Pak. Hwaaa..." Bude menangis terseguk-seguk sampai Pakde bingung.
"Ibu nih, jangan di bawa alur cerita! Aduh, bu. Bapak yang susah kayak gini,"
"Apanya yang susah?" Matanya melotot ke arah Pakde dan Pakde ketakutan.
"Nggak kok bu. Ibu mau apa?"
"Ibu mau numpuk bajunya dulu di lemari, bapak di sini dulu ya! Nanti kita omongkan lagi masalah tadi."
Bude membawa tumpukan bajunya di keranjang dan di bawa ke kamarnya.
"Kenapa kok malah itu, nggak mikir apa? Dia yang sudah merebut kehormatan Anin, tapi dia nggak tanggung jawab." Pakde sungguh menyesal, janji pernikahan itu cuma satu kali untuk di katakan, tetapi apa?
Semuanya lebur dari mulutnya Rifa'i.
"Pak, besok mau kerja?"
Bude yang melangkah, mendekati Pakde dan menghempaskan bokongnya di sofa.
"Hm, besok bapak nggak ada kerjaan di kantor, Direktur cuma bahas produk yang di hasilkan sekarang. Barangnya berkualitas dan itu pun menarik bagi investornya, bu. Kita belum bicarakan tentang proyek."
"Kan gajinya masih ngalir, mengapa pusing Pak?Bapak itu seharusnya nggak usah pusing!"
"Bukan pusing bu, tapi memikirkan itu talaknya Anin. Gimana nanti? Apa Rifa'i mau tanggung jawab?"
Bude mengambilkan buah di kulkas dan mengelupas kulit jeruk untuk di makan.
"Nah, kan pastinya Rifa'i ya mau lah. Masa dia sudah menjelajah di kepemilikan Anin, kenapa dia nggak mau tanggung jawab?"
"Masalahnya bu, orang itu udah nggak percaya lagi sama kita. Takutnya nanti Rifa'i menuduh yang nggak-nggak."
"Ibu juga mikirnya gitu. Hah, emang itu anak harus di beri pelajaran."
"Nggak ada kapoknya bu. Orang itu mah, kalau di beri pelajaran malah ngelunjak."
Bude menggedikan bahunya dan fokus di channel TV-nya. "Yaudah lah, kalau begitu nanti keputusannya gimana?"
"Pak, capek ibu. Boleh ya minta kerokan, soalnya badannya kayaknya masuk angin."
"Alesan terus, tadi makan aja enak-enak. Tapi sekarang minta kerok,"
"Hehehe... Maaf namanya juga angin nyelusupnya sekarang."
Pasangan sejati, dalam susah, bahagia, dan duka yang merana, mereka berdua sama-sama sejatinya pasangan.
Bersambung...
Jangan lupa kasih Like, Komentar Positif, dan Bintang lima ☺☺☺
__ADS_1
Terima kasih 🙏💕