
Happy Reading 📖
Sampailah Anin di kantor, dia terburu-buru karena jalannya macet sekali. Ada mobil kecelakaan, membuat jalannya macet sekitar 300 meter dan Anin terlambat sekitar 15 menit lebih.
“Astagfirullahalazim, maaf Pak saya nggak sengaja." Anin menabrak Aksa yang sedang membawa tas.
Aksa menerima uluran tas dari Anin, tasnya terpental jauh dan Anin yang mengambilkan tasnya.
"Terima kasih," Anin mengangguk dan Aksa kembali menatap Anin.
"Kamu terlambat?" lanjut Aksa dengan membenarkan tas kerjanya dan untung tidak ada yang rusak sama sekali.
"Iya Pak, tadi jalan bener-bener macet." Anin mengaku jujur, emang benar jalanan tidak bisa di biak dan mau nggak mau Anin mengikuti jalan.
"Sama berarti, tadi juga saya kena macet. Yaudah nanti biar saya yang ngomong sama manager kamu, kalau nggak terima atau mau pecat kamu. Biarkan saya yang menanganinya, saya masuk dulu ya. Soalnya mau rapat sama karyawan-karyawati dia atas, jabatan yang sudah tinggi." ucap Aksa dengan pergi.
"Iya Pak, silakan!"
Anin terpesona dengan penampilan Aksa barusan, tampilannya rapi dan wangi. Membuat hatinya berdenyut nyeri.
"Eh iya kerjaan," Anin mulai beriringan dengan manager yang baru saja juga masuk ke dalam.
"Anin baru berangkat kamu?" tanya managernya, tatapan seperti memidik musuh.
"Iya Pak, tadi macet dan itu searah jalan di kantor Pak. Mau lewat jalan pintas nggak ada jalan pintasnya, jadinya mau nggak mau harus nunggu macetnya reda." Jawab gugup Anin.
Managernya mengangguk.
"Nggak papa, saya juga baru berangkat."
Hatinya berbunga-bunga, akhirnya nggak jadi marah managernya.
Anin ke ruangannya, teman-teman Anin juga sudah memulai bekerja dan fokus di komputer.
"Nggak biasanya kamu terlambat Nin." Ucap sinis salah satu temannya, membuat Anin terdiam lama dan tidak menjawab pertanyaan dari temannya itu.
Nggak ada Ulfa sepi sekali ini kantor, rasanya pingin libur lagi.
"Hoii nin... Jangan ngelamun napa! Nanti kesambet setan tau rasa lu," ucapan temannya itu juga benar.
Anin membuka tasnya dan mengeluarkan berkas-berkas yang ia kerjakan kemarin, belum kelar dan belum bisa di serahkan kepada managernya.
__ADS_1
"Ulfa kemana?"
"Itu dia katanya pulang kampung, tapi nggak tau juga ya. Itu si Anin yang paling deket sama Ulfa, dia 'kan yang selalu berteman setia sama Ulfa. Pasti tau lah," mata Anin sama telinga Anin perih sekali kalau ada di sini.
Di bully mati-matian sama teman-temannya yang iri dan pinginnya Anin segera pergi jauh dari kantor ini. Itulah keinginan mereka.
"Udahlah aku mau ke toilet aja daripada di sini," Anin berdiri dan ada salah satu temannya mencekal tangan Anin.
"Kamu mau kemana? Kita 'kan udah jam kerja, ngapain mau keluar-keluar."
"Iya aku tau," jawab Anin.
"Aku mau ke toilet, kebelet pipis." Lanjut Anin dengan berbohong, mereka semua tau kalau Anin akan menghindar dari mereka.
"Yang bener?" tanya mereka, Anin mengangguk.
"Sini aja ngapa, nggak kerja emangnya? Nanti bisa di marah lho sama Pak managernya."
Anin tidak mendengarkan mereka, tetap ingin ke kamar mandi. Menenangkan pikirannya, sebelum menghadapi teman-teman kerjanya yang tidak tau aturan itu.
"Bisa panas aku di sini, ngadepin orang-orang itu. Padahal ada AC, tapi tetap panas ruangannya. Nggak senyaman di rumah." Anin melangkah, mendaratkan kakinya di kamar mandi.
"Allhamdulilah seger, ini lah kenyataannya kalau temen-temen satu kantor itu nggak ada yang normal. Cuma Ulfa aja, tapi kadang itu orang sesek kalau bicara sih." Yang di panggil denger, sepertinya nggak salah lagi si pemilik nama keselek bakso yang berkuah pedas.
"Mau ke sana, nggak ya? Masalahnya kerjaan ku belum ada yang selesai dan mereka selalu menggangguku terus kapan mau selesainya?" Anin perlahan-lahan memegang handle pintu dan ia terkejut dengan Aksa yang sudah ada di depan pintu.
Ngapain beliau ke sini?
Ini adalah toilet buat karyawati dan yang kelas bawah, maksudnya buat jajaran pekerjaan di bawah sendiri.
Apalagi banyak perempuan yang berlalu lalang, lewat di sini.
Anin menatap Aksa dengan heran, tanpa iueo.
"Pak..." Aksa menyeret tangan Anin ke lift, dia memasukkan Anin tanpa banyak berbicara dan alasannya kenapa membawa Anin?
***
"Sebenarnya ada apa sih? Masa iya aku mau di bawa ke ruangannya." Batin Anin dengan menatap Aksa, Aksa mukanya dingin begitu. Merajuk seperti anak kecil.
"Kamu! Saya tunggu di ruangan!" Dengan nada dingin dan membanting pintu, keras sekali membuat Anin terpelonjak kaget.
__ADS_1
Anin menyipitkan matanya dan menggeleng.
"Ada apa sih sebenernya? Ada masalah atau gimana? alah seterah kamu lah Pak. Saya juga sudah melakukan yang terbaik untuk perusahaan ini, apa kurangnya coba?" Ucap Anin dengan pelan dan masuk ke dalam ruangan.
Dengan menundukkan kepala, seperti hormatnya kepada yang lebih tua dan lebih bisa dikatakan orang yang berjasa di perusahaan ini.
"Kamu ini tadi---" Ucapan Aksa terpotong karena ada suara ketukan pintu.
Membuat Aksa menepuk pelan pahanya dan berdiri, melangkah ke arah pintu. Membuka pintunya dengan wajah-wajah dingin.
Sepertinya kena berita aneh ini.
"Ini Pak, katanya ada yang mau di rapatin sekarang juga. Dan itu tendernya nggak mau menunda-nunda waktunya Pak soalnya," ucap perempuan yang berbalut hijab dan manis sekali senyumannya.
"Baiklah saya akan ke ruang rapat, kamu tunggu aja di sana. Biar saya akan izin dulu sebentar," ucap Aksa dengan tegas dan lugas.
"Oh iya tidak masalah Pak, yang penting tepat pada waktunya Pak. Saya permisi dahulu pak. Karena ada beberapa berkas yang harus saya siapkan terlebih dahulu." Ucap perempuan itu dengan permisi pergi.
Aksa masuk kembali, dengan berat hati dia menunda omongannya tadi bersama Anin.
"Nanti saya akan ajak kamu makan siang di cafe dan kamu harus sudah ada di hadapan mobil saya di depan itu. Nggak pakai lama dan stay di sana." Ucap Aksa dengan membenarkan jasnya dan pergi.
"Lah haula begini doang, di tinggalin dan main nggak ngejelasin apa gimana gitu?"
Anin mendumal-ndumal tidak jelas, melihat ada CCTV di ruangan ini. Anin langsung kabur pelan-pelan, wajahnya tidak mau tertangkap kamera CCTV.
"Huh, dasar si CEO kurang ajar." Anin sampai di bawah dan betapa kurangnya dia bertemu perempuan galak sama sadis ini. Dengan lift yang masih penuh, perempuan itu juga menunggu Anin sampai benar-benar menongolkan wajahnya dihadapan perempuan itu.
"Kamu darimana aja? Kok sepertinya kayak orang ketakutan gitu,"
"Nggak kok mbak, saya habis itu. Jadinya agak sedikit lama," jawab Anin dengan tersenyum dan orang itu mengeluarkan senyuman kecut, terpaksa.
"Oh, yaudah kalau gitu saya mau ke ruangan sebelah." Perempuan si galak itu pergi dan Anin menghela napasnya lega... Sekali, tapi permasalahannya Aksa kenapa tadi?
Seperti kebakaran jenggot.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya yah 😊😊😊
thanksss 💜💙
__ADS_1