
...Holla......
...Kalau kurang jangan didzholimi!...
...Hahaha......
...Yak kalau typo bisa di komen perkatanya!...
...Happy Reading......
...***...
Dimana di sini, Anin tengah tampak masih menutup matanya, ia lelah buat mengejan tadi.
Sempat mau putus asa, ragu atas itu semua tapi Anin bisa meyakinkan dan Aksa di sampingnya sedang mengadzani anaknya, mulutnya bergetar ketika melihat anaknya yang sudah keluar ke dunia dan ia sambut dengan penuh perjuangan.
“Maaf dok, bisa saya masuk?” tanya Aksa berani tanpa ada apapun itu, ia harus menemani istrinya yang sedang berjuang untuk melahirkan anaknya, entah itu jenis kelaminnya apa yang penting bisa keluar dari kandungan.
Anin yang napasnya dibantu oleh suster itu pun tersenyum manis sampai-sampai dokter itu tak kalah manisnya, kalau tidak posisi genting Aksa akan menampol dan menonjok muka mulus temannya itu yang sok songong jadi dokter.
Uh, Aksa sudah gatal rasanya.
Dokter itu mengangguk saja, toh ia dibayar dan kenapa suami nggak ndampingi istri ketika melahirkan. Sama-sama buat di depan mata dan melahirkan? Oh tidak, seharusnya hargai perempuan mu yang sudah susah-susah merawat benih mu sampai benar-benar di mana sekarang waktunya melahirkan kamu tidak menampakkan hidungmu.
Tentu laki-laki kejam.
Merasa membuat dan menanam, kok ya nggak ngerti yang namanya perjuangan untuk menanam itu harus membesarkan sama-sama maupun yang terjadi itu harus dijaga.
Dokter itu mengecek, apakah sudah mulai pertanda.
Untuk ekspresi jangan ditanya, muka Aksa sudah pucat pasi dan ia mendekati Anin, mengomat-kamitkan suatu bacaan do'a agar istrinya ingat sama yang Maha Kuasa, yang berkuasa di mana pun itu mau cabut nyawa sekarang pun boleh saja.
***
Setelah semuanya berjalan dengan normal dan allhamdulilah Allah telah memberikan jalan kehidupan untuk bayinya dan ibunya.
Aksa mengecup setiap sudut wajah Anin yang masih terlihat cantik walaupun keadaannya tak memungkinkan, Anin hanya memakai daster serta kerudung itu sudah tak tertata rapi keadaannya.
__ADS_1
Tak terasa air mata Aksa yang sudah ia tahan begitu lolos keluar dan menetes setiap permukaan wajah Anin, ia menangis bahagia kali ini. Ia sudah menjadi ayah, apakah ia bangun dari mimpinya dan ternyata ini nyata kini bayi itu sudah bersih dari sisa-sisa air ketuban dan semuanya berkat Tuhan serta dokter yang sudah menangani istrinya.
Nano... Nano, mendengar dan melihat semuanya ia dengar dengan jelas.
Aksa sampai menggigit bibirnya hingga berdarah, suster yang ada di dekat Anin hanya bisa menahan tawanya. Ikutan ndredeg kali ya, tapi ya mau gimana mereka sepanjang suami-istri ya nggak mungkin cuman salah satu yang merasakan.
Aksa menggendong bayinya, mata Anin masih menutup akibat bius dan selama obat bius masih tercerna maka dokter, temannya itu menyarankan untuk istirahat terlebih dahulu.
Mereka bertiga sekarang ada di ruang rawat Anin, kebetulan pas membersihkan bayinya tadi ada kemungkinan suster sudah memindahkan di ruang VVIP.
Ya, di gendongannya sekarang ada bayi putra tampan seperti bapaknya. Narsis kali bapak kau, nak!
***
Aksa sekarang memegang bayinya dengan lembut dan tenang selesai mengumandangkan adzan untuk putranya, ia sesekali memegang pipi putranya serasa lembut betul tidak seperti bokongnya yang begajulan ke mana-mana. Tak membentuk, tidak semulus yang dibayangkan.
Aksa menimang bayi itu sambil menampilkan deretan giginya, ia sampai seperti orang gila nhomong-ngomong sendiri, wajahnya memang mirip dirinya dan hanya jiplakan mata serta bibir saja yang sama dengan istrinya.
Candu.
Hahaha, Aksa terkekeh di dalam hatinya menatap putranya yang tampan. Benih bibit unggulnya, masa iya mau dipadanin sama pengawalnya yang botak dan mana suka ngawur kalau bicara.
Ia menatap sekelilingnya, ternyata ruangan ini serba putih itu dan ia lantas beralih ke pria dewasa yang memunggungi dirinya sambil bergumam seperti menimang bayi. Anin matanya mengerjap pelan, ia lupa kalau dirinya sudah melahirkan anaknya yang pertama.
Perempuan itu kini pelan-pelan, mengangkat tubuhnya untuk duduk di bed hospital itu. Anin mulutnya membentuk lengkungan senyuman itu pun memanggil suaminya.
“Mas Aksa,” panggilnya dan Aksa untuk kali ini dia tidak mengidahkan pandangannya. Anin menghela napas, siapa sih yang melahirkan kok bisa-bisanya ia tidak dipedulikan. Saking asiknya menimang anaknya itu.
Anin beranjak dari ranjang pelan, ia sepertinya sudah bisa berjalan tanpa peduli nanti jatuh atau berakibat fatal yang penting ia bisa melihat di mana dia tadi ingin melihat namun lagi-lagi matanya menutup dengan tak eloknya dia mau memandang wajah anaknya untuk pertama kalinya.
Langkah Anin membuat Aksa sedikit bingung, ada suara pijakan di lantai tapi siapa.
“Mas Aksa, bisa nggak aku gendong?” tanya Anin bersama itu Aksa menoleh ke belakang, melihat itu Aksa meletakkan putranya itu di tempat yang sudah disediakan oleh pihak rumah sakit.
Aksa tampak kesusahan, karena pertama kalinya ia menggendong seorang bayi dan itu tidak pernah ia lakukan selama ini. Ya mau siapa, nggak punya saudara hanya saja sepupu angkat dan itu juga sudah besar.
Akhirnya Aksa selesai meletakkan dengan pelan itu menghampiri istrinya takut ada apa-apa, apalagi beberapa jam itu membuat Aksa hanya trauma jika melihat istrinya begini. Tau gitu ia akan menandatangani jika operasi jalan terbaik buat Anin.
__ADS_1
Tapi, Aksa tidak boleh egois.
Itu sama saja menentang semuanya, kalau Allah memberikan jalan untuk kelahiran putranya itu normal maka ia harus menerima keputusan Tuhan yang berikan.
Selagi masih bisa normal, kenapa nggak normal ya biasanya kalau orang kaya pinginnya gitu apalagi dokter yang ngerti dengan keadaan begitu pula memanfaatkan keadaan, tapi nggak semua dokter begitu.
Sama saja ia merusak citra nama seorang dokter yang menjadi pahlawan untuk istrinya sedang berjuang melahirkan, apalah dirinya yang nggak bisa apa-apa coba aja kalau dia seorang dokter gitu. Setiap kali melahirkan pasti sanggup buat nemani istrinya untuk lahiran.
Harus bertanggung jawab konsekuensi yang diberikan.
“Iya, kamu kok turun bukannya istirahat dulu?” seraya melarang tapi menatap tatapan maut Anin bikin Aksa nyalinya yang awalnya ingin melarang tak jadi melakukan.
Anin menghirup napasnya dalam, “Kenapa emangnya? Jugaan lahiran normal, kalau bisa jalan itu masih bisa dikasih kepercayaan sama Allah, nggak setiap orang merasakan sakit sampai berhari-hari.” Hardik istrinya yang tidak bisa diganggu gugat dan Aksa memberikan ruang, ia bergerak untuk duduk di soffa single itu.
Bolehkah Aksa meringis mengingat kejadian beberapa jam itu, ngilu sendiri mau punya anak bakalan terulang lagi. Akh, nggak nyesel pastinya.
Anin tersenyum lebar, ia menunduk dan mengambil putranya yang tampan itu ke gendongannya, anak itu menggeliat. Anin melihatnya lucu sekali ini anaknya. Ya, ia mengingat penantian beberapa tahun menjadi istri akhirnya ia bisa merasakan ibu untuk selamanya.
“Iya susui dulu, kata dokter tadi kalau sudah bangun susui dulu putranya tampan kita ini. Hm, aku mau ambilin makanan kamu dulu. Kamu di sini sendiri nggak papa?” tanya Aksa yang bersiap untuk beranjak pergi mengambilkan makanan dan Anin hanya menganggukan kepala, kepalanya tidak menoleh.
Fokusnya ke putra tampannya ini, hidung dan semua itu jiplakan Aksa dari tinggi, sampai Anin pernah bilang jika anak pertamanya bakal mirip siapa.
Pasti Anin, sebab anak pertama itu kadang turunnya ke ibunya.
Tapi, nggak tahu juga itu sudah melawan hukum di mana-mana kalau bentuk dan rupa pasti akan mirip sebab sudah pasti keturunannya bakal menurun ke anaknya, mau sifat dan semuanya yang penting anaknya sehat walafiat bisa lahir di dunia ini.
Diberikan tanda kehidupan, semuanya tergantung pada yang Maha Pencipta segalanya.
Allah yang punya, bukan manusia.
Hahaha 😂, gimana bakalan keulang lagi nggak tuh si babang Aksa?
Oke, makasih buat yang udah mampir dan sekali lagi buat kalian.
Jan lupa follow IG din!
__ADS_1
@dindafitriani0911
See, bakal balik di episode selanjutnya 💖