Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 54. Adaptasi Kantor Baru


__ADS_3

Happy Reading


Pagi hari ini, Anin bersiap-siap untuk berangkat ke kantor. Sesudah makan, Anin membersihkan meja makannya.


"Untuk apa aku mengejar waktu?"


"Karena kan, waktu sangat berharga nak. Jadilah orang yang bijak menggunakan waktu." Sahut Bude yang mencuci piring, Pakde yang sudah siap menggunakan jas kerjanya. Beliau kembali kerja, karena ada proyek yang harus di bangun dengan gambarannya. Sebagai seorang arsitek dan itulah tanggung jawabnya kalau di panggil ataupun itu, beliau selalu memenuhi.


Kadang juga, Pakde tidak berangkat karena kantor belum membutuhkannya. "Wah, bapak berangkat lagi ini. Cari uang yang banyak! Jangan sampai pulang nggak bawa uang!" Ucap Bude, Pakde berjalan mendekati Bude.


"Mau apa?"


"Ini dulu, tolong benerin!" Menunjukkan kerah bajunya dan Bude membenarkannya, dengan dasi yang pas di kerah baju kerja Pakde. Anin menggeleng dan tersenyum.


"Nanti kalau pulang malam, boleh dibawakan martabak di pertigaan sana ya pak! Kalau di perempatan itu martabaknya kurang matang, jadinya udah di diemin beberapa menit, martabaknya aneh... Kalau matang kan martabaknya buat besok juga nggak papa." Ucap Bude, Pakde mengangguk-angguk.


Sepertinya Pakde selalu menurut kalau di perintahkan apa itu dan itu, suami macam apa yang selalu menuruti apa perkataan istrinya? Benar-benar menjadi teladan untuk laki-laki.


Anin POV


Aku mengalami hal seperti ini belum pernah, sama sekali, tapi kadang mengingat masa lalu itu cuma lah yang terlintas dan setelah itu hilang entah kemana?


"Bude, aku berangkat kerja dulu." Aku buru-buru berangkat, takutnya nanti sesampainya di sana telat, bisa kena cap apa nanti?


"Sama Pakde saja, Pakde akan mengantarkan kamu, nanti kalau terjadi apa-apa gimana?" Ucap Bude, Pakde melamun. Mau nggak mau ini harus di berikan ilmu buat Bude, supaya nggak selalu meminta segalanya harus di turutin.


Aku merasa kasian sama Pakde, karena meeting bisa di mulai sekitar jam 7 pagi nanti. Dan sekarang sudah jam setengah tujuh, sedangkan perjalanan menuju ke kantor itu agak jauh. Memakan waktu kurang lebih lima belas menit, nah kalau nanti Pakde akan balik ke kantor, yang ada terlambat.


"Bude nggak usah ya, aku bisa berangkat sendiri kok. Pakde bisa terlambat dan di malu-maluin satu kantor gimana? Terus, Pakde akan di pecat, nggak punya pekerjaan." Aku pintar memainkan dramanya dan syutingnya, bisa di katakan jago main bohong. Haha... Dalam hatiku serasa senang kalau Bude menjawabnya 'Iya'. Ngimpi, sesekali melihat kalau bintang jatuh, yang ada nggak akan jatuh itu bintang. Karena bintang itu di langit, jatuh serasa sakit dan patah tulang.

__ADS_1


"Oohhh, gitu... Yaudah kalau begitu, ibu akan izinkan. Tapi, Pakde akan menjemput kamu bila Anin pulang cepat." Ucap Bude, membuat Anin pusing tujuh keliling.


"Udahlah, aku maunya ini apa? Naik angkot, itu membuat udara seger, nggak kecampur dengan AC. Kalau AC nggak sehat, malah membuat kita makin menderita." Anin menyalimi bude dan Pakdenya, Anin mengambil sepatu pantofel di rak. Dia memakainya dan berangkat ke kantor, sedangkan Bude menatap Pakde dengan kebencian.


"Itu-itu kalau orang tua yang selalu membiarkan anaknya pergi, yaudah bapak berangkat sana!" Bude pergi, tidak menyalami Pakde yang sudah menggantungkan tangannya.


"Begini lah nggak di perhatikan oleh istri, pagi-pagi udah ngajak gelut." Pakde membenarkan kancing pakaian di pergelangan tangan, ia lalu mengambil tas kerja dan melangkah ke garasi mobil.


***


Sesampainya di kantor, Anin buru-buru masuk ke ruangannya. Kemarin sudah di kasih kartu nama anggota yang harus di tempel di baju, biar ada kartu keanggotaan perusahaan.


"Allhamdulilah belum telat untungnya, gara-gara angkot tadi bikin pusing."


"Ehhhmmmmmm, jadilah karyawan yang bijak menggunakan waktu. Mengerti..." Ucap manager bagian sini.


"Bapak, apa kabar pak? Sudah selesai urusannya sama CEO kantor ini?" Tanya salah satu karyawan dengan tertawa mengejek. Karena kejadian yang melibatkan managernya angkat tangan ke hadapan CEO perusahaan ini.


"Oh iya saya mau perkenalkan karyawan baru di sini, jadinya harap untuk dengarkan baik-baik!" Ucap managernya dengan mengalihkan pembicaraan.


"Selamat bergabung dan semoga kamu betah menjadi keluarga bagian perusahaan ini... Saya di sini mewakili semua bawahan saya, mengucap selamat datang dan semoga kamu menjadi yang terbaik di perusahaan." Ucap manager dengan asal kata dan ucap.


"Pak tadi bukannya kita ngomongka pembicaraan bapak, kok sekarang bahas yang ini."


"Sudah, kalian mau kerja apa mau saya pecat?"


"Galak amat pak, sabar menghadapi saya itu harusnya sabar, nggak boleh galak-galak!"


"Bodoamat, yang penting kalian kerja.

__ADS_1


Ngerti?!!" Manager pun pergi dari ruangan ini, semua karyawan diam seribu bahasa.


"Ehm, mbak boleh tanya?" Tanya salah satu karyawan kepada Anin.


"Boleh, mau tanya tentang apa?"


"Mbak, jurusannya apa ya? Kok udah handal saja masuk ke sini?"


"Iya saya jurusannya tentang perkantoran lah," jawab Anin. Anin berbohong terlebih dahulu daripada nanti bisa membuat namanya dicoret dari perusahaan ini.


"Oalah, berarti kita sama. Yaudah, perkenalkan saya Ulfa mbak. Kita berteman ya hari ini..."


Ulfa menyalami tangan Anin, dengan mengucapkan selamat.


"Makasih lho kalian sudah menjadi teman saya di kantor ini."


"Oke... Kita kan sama, nggak boleh ada yang berbeda..."


Semua karyawan mengerjakan pekerjaannya masing-masing, ada yang saling bantu karena katanya ada kata yang rumit untuk di baca ataupun masalah lain.


Setelah beberapa jam, siang pun tiba. Mereka semua istirahat di kantin, Anin dan Ulfa, bersama teman-teman lainnya sama bercanda di kantin. Saling ngobrol-ngobrol, "nin... Bukannya kamu dulu itu menantunya Bapak Rahmat ya, kok sekarang kamu kerja di sini. Kenapa?"


"Wah, kamu tau betul."


"Enggak cuma aku lihat di TV saja. Ada masalah yang merumitkan rumah tangga anak dari bapak Rahmat ini. Sampai media nggak bisa menemukan beritanya." Ucap teman Anin yang di hadapan Anin sekarang.


Anin memakan bakso dengan kuah yang pedas, bisa di katakan dua sendok makan lebih sambalnya.


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa Like dan komentar positifnya 🤗🤗


Terima kasih 🙏💕


__ADS_2