
Happy Reading
Sampailah di rumah sakit, Anin menggandeng tangan Rifa'i dan mang Jalal memarkirkan mobilnya terlebih dahulu.
Anin POV
Aku ingin sekali merengkuh tubuh Rifa'i, tetapi dia menolaknya dan aku menggandeng tangannya.
Setiap kali begitu, aku sulit bernapas karena mas Rifa'i menolakku mentah-mentah.
Sampailah di ruang ICU. Papah duduk sambil melamun dan hatinya pasti terluka.
“ Assalamu'alaikum Pah. ”
Aku mendekati papah Rahmat dan menyalimi tangan beliau, yang penuh keringat dingin.
“ Pah, mamah gimana keadaannya? ” Tanya suamiku sambil mengeluarkan air matanya.
“ Tunggu dokternya dulu. Dokter masih menangani di dalam. ”
Aku pamit untuk keluar sebentar, membelikan minuman dan makanan untuk papahku.
“ Mas aku keluar dulu ya. ”
“ Mau kemana? ”
“ Pergi sebentar. ”
“ Nggak usah. Kalau mau apa, tinggal bilang sama mang Jalal. ”
Mas Rifa'i mendekatiku dan memeluk tubuhku.
“ Nggak usah pergi kemana-mana! Kamu harus di sini. ”
“ Iya mas. ”
Aku menurut, kalau tidak menurut bisa-bisa terancam.
Ruang ICU terbuka, keluarlah seorang suster yang berusaha menampilkan wajahnya untuk tetap tersenyum.
“ Keluarga dari Ibu Hajar? ”
“ Iya saya suaminya Sus, ada apa? ”
Suster itu menarik napasnya pelan-pelan dan membuangnya.
“ Begini Pak. Maaf sekali atas semuanya, Ibu Hajar sudah meninggal dunia Pak. Hm, kami sudah berusaha tetapi Allah sudah berkehendak Pak. Maaf sekali atas semuanya Pak, kami akan mengurus jenazahnya Pak. ”
Papah Rahmat langsung memukul tembok rumah sakit dan tangannya terluka.
Aku melihat suamiku menangis dalam diam dan aku juga terpukul melihat ini semua.
“ Innalillahi Wa Innalillahi Roji'un. Ya Allah.. ” Ucapku di dalam hati.
Kenapa semuanya bisa terjadi?
Sementara Nenek Sarifah meninggal sama dengan mamah Hajar.
“ Ya Allah... Apakah engkau terlalu sayang kepada hambamu ini? Sampai semuanya meninggalkan kita. ” Ucapku di dalam hati dengan menangis segugukan.
Author POV
__ADS_1
Rifa'i akhirnya menerobos masuk ke dalam ruang ICU dan papah pun sama.
Anin mengikuti masuk, melihat keadaan mamah Hajar yang sudah tidak bergerak dan tubuhnya sudah kaku.
Rifa'i langsung memeluk mamah Hajar yang sudah tidak bernyawa, sedangkan papah.
Menangis....
“ Maaf Pak... Sebaiknya kita urus dulu jenazahnya. Terus Bapak bisa menyelesaikan semuanya Pak. ” Ucap dokter yang membuat papah Rahmat melayangkan pukulan kepada dokternya.
“ Kenapa kamu nggak bisa nolong istri saya? Kenapa? Kalau saja tadi, kamu mementingkan pasien lain. Tidak pernah namanya istri saya meninggal. ’’
Papah Rahmat emosi dan melayangkan beberapa pukulan terhadap dokternya.
Anin berusaha mencegahnya dan papah Rahmat mendorong tubuh Anin.
“ Auuww... ” Pekik Anin dengan keras, kepalanya terbentur dinding rumah sakit.
“ Astagfirullahalazim. Ya Allah yang... ”
Rifa'i dengan cepat membantu Anin untuk berdiri dan ada mang Jalal yang mencegahnya.
“ Sus tolong istri saya. ”
Rifa'i membawa Anin di ruang UGD untuk di tangani lebih lanjut, Anin pingsan di gendongannya akibat benturan keras yang di timbulkan papah Rahmat.
Rifa'i pun melepaskan gendongannya dan Anin di periksa oleh dokter.
Rifa'i menunggu hasil pemeriksaan dokter, akhirnya dokter selesai memeriksa tubuh Anin.
“ Begini Pak. Saya mau jelaskan kalau ibu nggak apa-apa. Untung saja ibu tidak jedotin kepalanya dengan keras, kayaknya ibu nyangga dengan tangannya. Jadinya, ibu cuma terkejut saja dengan perilaku Bapak tadi. ”
“ Ya Allah... Makasih ya dok, ”
“ Maaf ya yang. Aku nggak ngeliat tadi, aku nggak terima kalau kamu kenapa-napa? ”
Akhirnya Rifa'i lebih mengalah karena Anin tidak apa-apa? Jugaan papahnya emosi karena tidak terima mamahnya meninggal.
Rifa'i juga harus mengikhlaskan mamahnya, biar tenang di sana.
Dia harus kuat dan mengurus papahnya.
“ Benar kata kamu yang. Semuanya harus ikhlas dan tegar. Aku udah mengikhlaskan mamah dan kamu juga bisa mengikhlaskan ibu jugaan. ”
Hatinya perih sekarang, istri, mamah, papah, dan nenek Sarifah semuanya dalam keadaan berduka.
“ Aku harus kuat. Nggak boleh lemah! ”
Rifa'i mengecup kening Anin dan kening Anin keringatnya bercucuran, sampai Rifa'i mengelap dengan tangannya.
“ Yang cepetan bangun ya! Kita urus pemakaman mamah. ”
Akhirnya Anin mengerjapkan matanya beberapa kali dan melihat sampingnya kalau ada suaminya yang wajahnya penuh dengan keringat.
Seperti orang olahraga di pagi hari.
“ Mas. ”
“ Iya. Ada apa? ”
“ Nggak. Bukannya mas mau urus pemakaman mamah. ”
__ADS_1
“ Tunggu kamu kalau udah sadar yang. Maafkan papah tadi ya, papah emosi. Jadinya, kalau emosi udah nggak bisa di kendalikan lagi. Bisanya cuma mamah yang bisa mengendalikan emosinya. ”
“ Iya nggak papa mas. ”
Rifa'i mengecup berulang kali kening Anin dan Anin tersenyum.
“ Kalau begitu kita pulang yuk mas! ”
Rifa'i mengangguk dan menggandeng tangan Anin.
****
Sampailah di rumah yang sudah banyak orang dan tetangga pada muncul.
Nenek Rani belum di kabari, apa nanti jadinya?
Bisa-bisa mendadak sakit jantung karena terkejut dengan mamah Hajar meninggal dunia.
“ Assalamu'alaikum. Turut berduka cita ya Pak. Maaf saya sempat salah kemarin, kalau saya meminta uang sumbangan kepada ibu Hajar. ”
“ Nggak papa Pak. Kami sudah ikhlas dan menerima semuanya. ”
Rifa'i melihat papahnya di kamar, Rifa'i menghampiri papahnya yang melamun dan termenung.
“ Assalamu'alaikum Pah. ”
Papahnya tidak menjawab dan Rifa'i mendekat ke papahnya.
Menerjang pelukan dan menangis dalam diam.
“ Pah. Jangan begini Pah! Papah mau lihat mamah sedih di alam sana, papah nggak mau lihat mamah bahagia di sana. Ha? ”
Papah Rahmat langsung menampar pipi Rifa'i dengan keras. Dengan mata tajam dan menukik seperti pukulan bola voly.
“ Jangan bawa-bawa itu semua! Papah minta kamu keluar dari kamar papah sekarang. ” Ucap papah Rahmat dengan dingin dan mengusir Rifa'i.
“ Pah.. Papah nggak bisa apa lihat mamah bahagia? Ha? Suami macam apa papah ini? ”
Papah langsung mendaratkan tangannya ke pipi lagi, sampai benar-benar terasa sakit dan kebiruan sudah menapak di wajah Rifa'i.
“ Ngomong apa kamu? Macam anak nggak tau sopan santun aja? Papah itu butuh sendiri, papah nggak mau di ganggu. Kamu keluar sekarang atau papah nggak anggap kamu sebagai keluarga ini lagi! ” Ucap Papah Rahmat dengan mengangkat tangannya seraya untuk memberikan tonjokan kepada Rifa'i.
Rifa'i dengan langkah tertatah-tatah dan memegang pipinya, tepi bibirnya sudah penuh dengan darah dan muncratan darah yang begitu banyak.
Rifa'i mengelap tepi bibirnya dan melangkah ke mushola rumah.
Kata mamah.
“ Jangan pernah membenci papah mu nak! Jangan juga meluapkan amarahmu kepada istri mu. Itu semua merupakan dosa yang kamu tanggung seumur hidup kamu nak, semuanya di benci oleh Allah nak. Kalau kamu sedih atau hati mu terluka, obatilah dengan sholat dan membaca Al-Quran nak. ”
Kata yang di ucapkan mamahnya sebelum meninggal dunia, jauh-jauh sebelum hari kematiannya.
Rifa'i mengambil air wudhu dan membasuh bibirnya dengan air.
Sampai gusinya sekarang berdarah dan berkumur dengan air yang suci ini.
Pada akhirnya sedikit perih, tetapi dia harus kuat.
Bersambung...
Ini yang bisa author minta, sedikit lagi mau konflik ini. Ayuk, siapa yang mau nunggu konflik? Hahaha... Kehaluan makin ningkat teross 🤣🤣🤣
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya ❤️❤️❤️
Dadah 🤣🤣🤣