Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
Episode 94. Ketulusan dan Kesabaran


__ADS_3

Bude, mengetuk beberapa kali pintu kamar Anin berada sampai lelah akhirnya Bude kembali ke kamarnya, dengan raut wajah kecut.


"Kenapa itu wajah di tekuk gitu?" Pakde sehabis melakukan sholat isya, melihat Bude grusak-grusuk masuk ke kamar.


"Anin nggak bukain pintu Pak, makanya aku agak kecewa gitu. Ya udah mending ke kamar aja, daripada nunggu Anin buka pintu." Jawab Bude dengan melepas kerudungnya.


"Masa sih?"


"Iya, Pak. Coba saja bapak yang ketuk pintu! Pastinya tidak dengar." Pakde, kemudian mendekat ke Bude.


"Semoga saja Anin dan Aksa, samawa sampai akhir jannahnya masing-masing ya!" Bude mengangguk.


"Pak, kapan kita punya anak? Kata dokter juga nggak ada masalah sama kita, kenapa kita nggak di percayai untuk menjadi orang tua sih, Pak?" Gerundel Bude, Pakde tersenyum tipis.


"Namanya takdir seperti itu, Bu. Sudahlah, jangan terlalu di pikirkan!" Bude menaruhkan kepalanya di atas pundak Pakde.


"Makasih ya, Pak. Sudah menemani aku selama ini, walaupun usia kita sudah tidak muda lagi tetapi kita berusaha untuk melakukan yang terbaik." Tutur Bude.


"Iya, bu. Ibu sudah sabar, dan bisa mengerti keadaan ini semua." Pakde mengecup kening Bude, Bude meneteskan air mata terharu.


Betapa indahnya, atas limpahan umur dan rezeki yang menggantikan, bersama itu pula menginginkan seorang darah dagingnya sendiri.


Bukan karena mengharapkan ini perceraian, semuanya ada waktu untuk di bicarakan lagi. Karena bersama kita saling melengkapi, dan bisa mengerti keadaannya masing-masing.


Selama kurang lebih pernikahan Bude dan Pakde berjalan sekitar 28 tahun, belum juga di karuniai seorang anak dan mereka menanti itu semua dari dulu, dahulu pun mereka di ujung tanduk pernikahan, akhirnya semuanya mereka jalani dengan penuh kesabaran.


Sampai sekarang, ketulusan, dan kesabaran memang menjadi terpenting untuk mereka.


***


Makan pagi, ya setelah menunggu berjam-jam untuk memulai makan pagi, setelah tidur panjang dan sudah segar kembali di hari ini.


Di mulai dengan pertama, makan pagi setelah itu bersiap-siap untuk berpulang ke rumah masing-masing.


"Aksa," panggil Ibu Aksa.


"Iya, bu. Ada apa?" Aksa menyelesaikan makan paginya, jangan membuang makanan!


Prinsip Aksa seperti itu, makanan yang tidak enak, jangan di makan tetapi di buang untuk di makan hewan yang membutuhkan lagi.


Jangan sampai basi!


"Kamu antarkan Anin pulang ya!" Bude dan Pakde sudah awal pulang, katanya Pakde ada pekerjaan yang mendadak.


Makanya Pakde pulang lebih awal, sedangkan Anin masih ada di sini.


"Lah terus ibu sama ayah, gimana?"


Menumpuk piringnya, lalu meminum air yang sudah tersedia di gelas bening itu.


"Ya, kita sudah menelepon Pak sopir buat menjemput kita, nak jangan macam-macam ya! Apalagi kamu ini seorang yang memiliki pekerjaan yang berat, dan bisa di pandang sebagai seorang terhormat! Tidak mungkin kamu akan melakukan ini-itu." Ucap Ibu, kata-katanya seperti menyindir.


"Nggak mungkin lah, bu. Namanya juga laki-laki harus bertanggung jawab, berani menanggung dan meraih semuanya dengan caranya sendiri, asalkan caranya tidak salah." Jawab Aksa, Anin di sana terdiam dan tidak melanjutkan makannya kembali.


Sepertinya tersinggung dengan perkataan ibunya Aksa tadi, yang menyinggung atas perkataan terhormatlah dan terpandang, ya jika dia tidak pantas untuk menjadi istrinya, kenapa tidak di pecat saja dari calon istrinya Aksa secara terang? Tidak menyinggung seperti itu.

__ADS_1


"Sudahlah bu, jangan begitu! Kamu ini, asalkan anak kita bahagia, udah cukup itu membuatku bahagia dan emangnya ibu nggak mau kalau Aksa bahagia?" timpal Ayah.


"Iya." Diam dan tidak berani beralasan lagi.


Aksa mengerti ini, dia tidak berani berdebat dengan ibunya, ibunya selalu emosi dan Aksa memang terpancing jika kata-kata ibunya yang memancing emosinya naik, kadang saja Aksa berdebat tentang penghasilan dan pengeluaran kantor, itu juga menjadi masalah untuk Ibu.


"Ya sudah, yuk kita pergi!"


Anin mengangguk, dan menatap koper itu, isinya tidak penuh cuma beberapa alat dan pakaian yang ia bawa.


"Assalamu'alaikum," Aksa menyalami ibunya dan Anin sama, mengikuti di belakang.


"Wa'alaikumsalam, jaga baik-baik!" Ucap ibunya dengan pelan.


Aksa mengangguk.


"Nak, maafkan perkataan ibu tadi yang menyinggung kamu... Sudahlah, ibu akan menerimamu di keluarga ini! Sekali lagi maaf, ibu tidak bermaksud untuk mengatakan yang tidak-tidak, hanya saja mengingatkan." Dengan mengecup kening Anin dan tersenyum, Anin terpaku dengan keadaan.


Kenapa rasanya begitu nyaman sekali dan hangat ketika di dekap sama di berikan kasih sayang dari ibunya Aksa.


Anin bersalah sangka tadi, maaf Bu... Kalau aku salah sangka sama kamu.


"Iya, saya minta maaf bu."


Mereka pun terasa hangat, dan membuat Aksa tersenyum, Ayah Aksa pun menggandeng dan memeluk Aksa.


"Istrimu pasti baik!"


"Iya baik, masa engga."


Sebagai bahan candaan, membuatnya agak sedikit tersulut emosi.


"Hehhehe... Enggak, udahlah aku nggak mau kalau berseteru lagi sama ayah, berbulan-bulan menunggu itu dan kehangatan itu tiba kembali, yang ada keheningan dan tidak ada sama sekali saling membahu." Memukul-mukul pundak ayahnya.


"Sudahkah kamu menjadi anak baik?"


"Sudah, kan kalau nggak baik berarti ayahnya juga nggak baik. Lah kalau Aksa nggak baik, pastinya semua keluarga nggak baik. Satu darah, pasti akan selalu seperti itu." Ucap Aksa, Ayah terkekeh.


"Sifat itu menurun dari kakek, nenek! Bukan dari orang tua kebanyakan." Jawab Ayah.


"Aksa dan Ayah..." Seru ibu Aksa.


Ayah dan Aksa saling pandang, dan mata ibu tidak bisa di satukan lagi keadaannya.


Bagaimana ini?


"Antar Anin pulang!"


"Iya, ibu. Sakit...." Aksa mengaduh pelan ketika punggungnya di tepuk-tepuk.


"Lebay..."


"Emang apa kata Lebay? Nggak tau 'kan? Hahaha... Yuk pulang!" Tanpa lambat, dan dengan cepat mereka pulang.


Tidak ada dosa sekali ini anak sama orang tua, punya anak kok gini. Sabar, karena sebentar lagi akan tiba saat waktunya juga.

__ADS_1


***


"Mas..."


"Iya," jawab Aksa.


Aksa membuka pintu bagasi mobil dan mengangkat koper untuk di masukkan ke dalam bagasi mobil.


"Aku mau bicara sama kamu, seumpamanya kalau kita tidak di karuniai seorang anak, apa kamu bisa menerima ku dengan kenyataan sesungguhnya?" Aksa berbalik badan dan mengunci setiap pergerakan Anin.


"Jangan bilang seperti ini! Itu semua hanya Allah yang tau, meski aku bukan orang yang pintar dan pandai agama, aku paham. Sebab semua itu di lewati dengan begitu pelik, sulit, dan susah jika ada badai menerjang biduk rumah tangga kita, anak bukan menjadi terpenting yang penting saling percaya dan melengkapi!" Aksa membenarkan posisi kerudung.


"Iya mas, kita contoh saja Pakde dan Bude ku." Aksa membeliakkan matanya.


"Kenapa?"


"Iya, Pakde sama Bude tidak mempunyai anak selama dua puluh delapan tahun. Selama itu mereka memang pernah di ujung pelampiasan pernikahan, dan mereka akhirnya mempertahankan pernikahan sampai saat ini. Umur, dan kesehatan mereka juga sudah tidak memadai lagi untuk mempunyai seorang anak. Aku sih bangga sama mereka," jawab Anin dengan tersenyum.


Aksa menggeleng tidak percaya.


"Kamu ini, nggak percaya coba tanya langsung sama mereka!" sambung Anin, Aksa membukakan pintu untuk Anin.


"Terima kasih," Aksa tertawa.


"Sama siapa saja?"


"Casu." Jawab Anin.


"Heh, apa tadi?"


"Calon suami, udahlah kapan kita pulang kalau becanda?" Aksa melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya.


"Sudah jam tujuh lebih," Anin lantas memegang handle pintu mobil dan menutupnya.


"Aduh, pelan-pelan lah!"


"Iya, ini pelan kok." Aksa dan Anin pun melanjutkan perjalanan mereka, sampai rumah Bude dan Pakde Anin.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya 😊😊


Bentar lagi mau tamat ya, menuju ending mereka.


Sepertinya sudah banyak bab, yang di lewati dan banyak perubahan tentang bab-bab itu yang di judul pertama ya.


Karena tidak bisa menyelesaikan, aku harap nanti ada masalah yang merumitkan lagi dari pernikahan mereka, gimana-gimana?


😂😂😂... Lanjut ke season 3, oke... Oke,🤪🤪.


Judul pertama, insya Allah nanti ada sangkut pautnya sama dengan perjalanan pernikahan mereka. Gimana siap nangis, jengkel, dan bisa dikatakan geregetan..


Wahhhhhhh.... Napas dulu, 🤗


Terima kasih 😌🙏

__ADS_1


__ADS_2