
-Apa kamu masih menyimpan hati untukku nin? Aku masih merasakan bulir-bulir cinta masih tumbuh di hati ini, setiap menatapmu aku merasakan ada yang mengganjal di hati.-
Rifa'i
Happy Reading
"Si-ap-pa yang mau bunuh calon anakku sendiri pah? Aku nggak seperti itu pah, jangan terlalu percaya sama omongan Pakde pah! Itu nggak benar." Papah Rahmat mengangguk dan menggenggam tangan Anin yang dingin.
"Papah sebenarnya juga kurang percaya, tapi papah sedikit terbawa suasana, jadinya dimaklumi saja nak."
"Iya pah, aku maklumi. Pah, aku keluar dulu bentar. Ini ada yang menelepon," papah Rahmat mengizinkan dan Rifa'i keluar dari ruangan Anin di rawat.
"Siapa ini?" Rifa'i menatap layar handphone yang nomernya tidak di kenal dan Rifa'i menjauh dari ruangan, menuju ke taman. Rifa'i pun mengangkat teleponnya dan ada suara laki-laki yang ribut dari balik telepon.
"Selamat Sore," ucap formal Rifa'i.
"Sore, apa kabarnya Pak?"
"Siapa kamu? Saya nggak kenal sama nomernya, kok kamu tau nomer saya."
"Oke, bapak nggak usah pura-pura nggak tau atau gimana Pak! Saya sudah mempunyai bukti kejahatan bapak selama bapak mencampurkan minuman istri bapak sendiri. Bukti ini mengarah di bapak, jadi jangan harap bapak bisa bebas kemana-mana!" Ucap orang yang tidak di ketahui dan Rifa'i diam seribu bahasa.
"Kenapa bisa-bisanya orang ini menuduh saya? Bukannya tadi juga, Pakde seperti itu. Apakah dalang di balik ini semua adalah pekerjaan Pakde?" Gumam Rifa'i dan tidak ada sahutan dari balik telepon, Rifa'i mematikan sambungan sepihak.
"Ini sepertinya ada yang menutupi kejadian ini, tetapi ini orang seperti ada dendam di Anin. Apa Putri atau orang lain?" Rifa'i memikir di sana yang mustinya harus di selidiki ini semua sampai kasusnya tuntas.
__ADS_1
Rifa'i balik lagi ke ruangan Anin di rawat dan melangkah pelan agar tidak ketauan oleh papah Rahmat. Wajahnya nggak boleh tegang bisa di interogasi sampai 24 jam nanti, nggak bisa tidur. Kata-katanya akan terngiang-ngiang sampai kebawa mimpi.
"Ada apa nak?"
"Nggak papa, kok pah. Cuma ada beberapa masalah di kantor, biasalah kalau nggak ada aku jadinya kantor akan berantakan dan pada berantem." Jawab Rifa'i dengan mencari alasan yang tepat.
"Baiklah kalau seperti itu, papah mau cari bunga buat mamah kamu besok. Papah mau ke makam mamah kamu, besok kamu antarkan papah ke makam! Biar kantor yang handle asisten papah nanti."
"Baik Pah," Rifa'i menurut dan ada seorang suster yang masuk ke dalam bersama dokternya.
"Maaf mengganggu Pak, boleh saya periksa dulu keadaan pasien?" Ucap dokter itu dengan mengeluarkan stetoskopnya.
"Silakan dok!" Papah Rahmat memberikan jalan agar dokter memeriksanya dengan mudah.
"Bagaimana keadaan menantu saya dok?"
"Kalau begitu, kami permisi keluar dulu ya Pak. Mari!" Dokter keluar dan Rifa'i memandang Anin yang pucat pasi, sepertinya dokter itu abal-abal.
"Pah, kok aku nggak percaya sama dokter tadi. Dokternya itu aneh terus nggak seperti yang di bayangkan." Papah Rahmat tersenyum dan tertawa. Menepuk bahu sang anak, "artinya kamu cemburu sama dokter tadi. Dokternya masih muda dan ganteng lagi."
"Siapa yang cemburu pah? Aku nggak cemburu, papah ini." Bela Rifa'i, dia tidak mau menjadikan bahan tertawaan papahnya.
***
Beberapa jam, Rifa'i mulai bosan dan keluar, masuk seperti orang kesulitan mencari teman.
__ADS_1
"Pah, pakde sama bude kemana? Kok belum ke sini juga, kita kan mau pulang."
"Sabar tunggu sebentar! Kamu nggak sabaran saja, bukannya kamu tadi ngomong di mobil kalau mau nginap di sini. Menunggu istrimu, sekarang kamu malah ngajak pulang. Ingkar janji berarti kamu tadi."
"Kok masih ingat pah-pah. Papah ini kalau di ajak jalan-jalan apa gimana bicara yang tadi di ungkit lagi. Hhhh... Kemana ini Bude sama Pakde? Udah tau kita itu banyak pekerjaan, kenapa malah ninggalin ponakannya sendiri?" Ucap Rifa'i di dalam hati dan menopang dagunya di atas pahanya dengan tangannya.
"Pah, apa aku harus menyelidiki kasus ini?"
"Sudah, papah udah menyelidiki kasus ini. Dari perkembangannya anak buah papah tadi, katanya ada orang yang mencoba untuk membunuh Anin dan calon anaknya, untung saja pemilik warung itu cepat tanggap, membawa Anin ke rumah sakit. Kalau tidak, mereka akan di jadikan komplotan juga sama orang yang berusaha membunuh Anin. Maka, dari itu papah bingung. Kenapa mobil yang di bawa orang itu tidak di temukan sekali dengan plat nomor polisi di daerah sini? Apa dia sudah mengganti plat nomor polisinya? Tapi, papah udah mempunyai bukti yang lain, kalau sudah kekumpul semuanya buktinya. Papah akan serahkan ke polisi, kita nggak boleh macam-macam dengan orang itu. Sepertinya orang yang nggak main-main." Jelas papah Rahmat dengan panjang kali lebar, Rifa'i mengangguk-angguk, nggak mengerti apa yang di bicarakan papahnya.
Tangan Anin bergerak dan matanya mengedip beberapa kali, menatap seluruh ruangan. Ada dua orang, papah Rahmat dan Rifa'i.
"Hm," deheman yang membuat Rifa'i tersadar dan menatap Anin yang menatapnya juga.
"Kamu emang cantik dan hatimu baik, tetapi hatiku sudah aku berikan kepada Putri. Kamu boleh bahagia nin, bersama laki-laki lain, tapi kenapa hatiku yang ada di dalam nggak rela melihat kamu dekat sama laki-laki lain?"Ucap Rifa'i di dalam hati dengan menatap lekat Anin dari kejauhan.
"Ehh, nak kamu mau minum?"
"He'em pah, tolong ambilkan minum!"
Papah Rahmat mengambilkan minumnya dan membantu Anin untuk minum.
Bersambung...
Jangan lupa beri Like dan Komentar positifnya
__ADS_1
☺☺☺
Terima kasih atas dukungannya dan yang sudah mampir ke sini 🙏💕