Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 44. Bude Yang Marah-marah.


__ADS_3

Happy Reading


Anin menangis sesegukan dan menatap perutnya yang sudah tidak ada gunanya, menurutnya. Anaknya sudah di alam yang berbeda dan Allah lebih sayang sama calon anaknya, andai saja waktu di ulang kembali.


Ya, dia lebih memilih nyawanya daripada nyawa calon anaknya.


"Mbak, tolong itu! Telepon kan bude saya ya mbak, suruh ke sini biar lebih mudah nanti masalahnya." Ucap Anin dengan memegang perutnya yang sedikit sakit dan Anin menangis, air matanya keluar. Dia mengelapnya dan dokter masih menyiapkan operasi untuk mengeluarkan calon bayinya, kalau memakan waktu yang lama bisa bahaya juga buat Ibunya.


"Iya mbak, saya akan telepon kan. Handponennya ada di dalam tas tadi kan?"


"He'em bu," Anin mengambil minum air putih yang ada di sebuah gelas dan meminumkan, tenggorokan kering karena menangis dengan pilu dan lara.


Mbak tadi, akhirnya menelepon Bude Wati dan teleponnya menyambung juga.


"Assalamu'alaikum... Maaf, saya mau ngabarin kalau–."


"Kamu siapa? Dimana keponakan saya? Jangan macam-macam ya kamu!" Ucap Bude Anin dengan menyerobot ucapan mbak Dwi, namanya Dwi yang punya warung tadi.

__ADS_1


"Maaf Bude, ini saya orang yang menolong dan bertanggung jawab kepada ponakan Bude yang namanya Anin kan. Nah, sekarang ponakan Bude ada di rumah sakit ini, jadi Bude ke sini dulu ya sebagai permintaan keponakan Bude sendiri."


"Terus alamatnya yang ada dimana? Rumah sakit mana? Saya kalau nggak di kasih alamatnya nanti cari-cari pasti bingung." Ucap Bude dengan sensi dari balik telepon.


"Iya saya akan kasih tapi lewat pesan saja yang enak, nanti kalau lupa kan bisa buka handphone Bude." Ucap Mbak Dwi dengan sensi juga, kalau dimarah ya harus ada balasannya. Kalau nggak ada namanya bukan Dwi kalau penyabar itu.


Sambungan telepon pun di matikan, mbak Dwi meletakkan handponennya di nakas dan mbak Dwi menunggu Anin, kalau sudah sampai Budenya Anin nanti, mbak Dwi akan pulang.


"Selamat siang bu?" Sapa dokternya dengan ramah dan dokternya melangkah masuk ke dalam ruangan.


"Siang, gimana dok? Jadi, operasi kan." Tanya mbak Dwi.


"Saya orang lain dok, bukan keluarganya, saya tadi cuma mengantarkan neng ini dok." Jawab mbak Dwi dengan berdiri.


"Maaf Bu, kalau bukan keluarganya, kita belum bisa melakukan tindakan operasi. Jadi, di harapkan menghubungi keluarganya terlebih dahulu Bu!" dokter memeriksa keadaan Anin, apakah stabil atau tidak.


"Assalamu'alaikum..." Ucap Bude dengan menyembulkan wajahnya dari balik pintu dan langsung memeluk Anin.

__ADS_1


"Waalaikumsalam Bu..." Jawab dokternya dengan menyiapkan suntikan bius.


"Nak, kamu gimana? Kok kamu bisa kayak gini, sampai Bude nggak tau."


Anin menangis dan Bude di hujani air mata sama ingus, nggak papa kalau bukan keponakannya yang sudah di anggap sebagai anaknya. Kalau lebih dari itu palingan di tendang sampai Amerika.


"Kalau gitu lakukan apa yang terbaik dok, saya nggak mau kenapa-napa kalau ponakannya saya kenapa-napa, berarti ini tanggung jawab dokter." Ucap Bude dengan keras.


Dokter itu terkejut, hampir suntikannya lepas dari tangannya dan meluncur bebas kemana saja.


"Baik Bu, kami akan bertanggung jawab kalau ada apa-apa. Tapi, jangan salahkan kami! Karena itu semua racun yang ada di dalam tubuh mbak Anin ini sudah menyebar kemana-mana! Itu semua kan di sebabkan racun, bukan kita yang mengracuni mbak Anin." Ucap dokter dengan jelas tanpa alasannya yang lain.


"Semuanya sudah siap, kita akan menindak operasi. Sus, tolong dorong brankarnya sampai ke ruang operasi ya. Saya akan tunggu di sana!" Ucap dokter melangkah keluar ruangan.


Bersambung...


Jangan lupa Like, Komentar Positif, dan Rate Lima ☺❤️🤗

__ADS_1


Terima kasih atas dukungannya dan yang sudah mampir ke sini 🙏💕


__ADS_2