
Happy Reading 📖
Setelah bertemu dengan papah, dan berakhir pertemuannya di pemakaman. Juga selesai berziarah ke makam ibunya Anin.
Mereka sampai di rumah dan melanjutkan acara punggahan selepas ba'da maghrib. Hanya orang-orang tertentu yang di undang siang tadi sama Pakde.
Anin masuk ke dalam kamar, ada yang harus ia bicarakan hati ke hati. Karena rasanya tidak enak kalau membocorkan rahasia yang tadi dia omongkan bersama papah.
"Ya Allah gimana besok? Apa aku harus ke rumah papah dan minimal minta cuti sama HRD-nya sekitar satu minggu gitu ya? Hem, aku nggak punya nomernya lagi, dan besok kalau aku ke kantor minta izin yang ada mereka pada heran semua lagi. Ahh..." Anin prustasi, Anin ingin menemani sang papah. Tidak ada waktu kecuali hari-hari libur seperti tanggal merah.
Tanggal merah juga nggak cukup bagi Anin, nanti papah akan curiga dengan Anin. Apakah sudah tidak kangen lagi sama papah? melupakan semuanya, di anggap nggak berbakti namanya.
Suara azan berkumandang dan Anin mengambil air wudhu ke kamar mandi, melakukan sholat maghrib secara sendiri. Tidak berjamaah bersama Pakde dan Budenya.
Memilih untuk sholat di kamar.
"Assalamu'alaikum warohmatuloh... Assalamu'alaikum warohmatuloh..." Anin salam dan menghadap arah kiblat. Meminta ampunan kepada yang maha Kuasa dan di berikan kesehatan agar bisa menjalani ibadah puasa sampai hari kemenangan tiba.
Setelah selesai, Anin melipat mukena dan menggantungkan di kursi. Nanti isya' akan sholat tarawih bersama di masjid, sekarang sudah ada yang ngumpul semua di rumah ini.
Pada kumpul di ruang tengah dan tamu. Anin memakai kerudung rumahan dan mengintip dari pintu kamar. "Belum setengahnya, ya udah ke dapur aja dulu."
Anin berjalan lewat ruang TV dan langsung ke dapur, bude yang menyiapkan piring dan koran di letakkan di atas meja. Tradisinya di sini seperti ini, menjelang ramadhan karena bude kebagian hari ini. Jadinya, di adakannya hari ini.
"Bude," seru Anin dan menyalami tangan bude, bude pun tersenyum.
"Sudah sholatnya?" tanya bude yang mengambil plastik di lemari dan untuk persediaan nanti.
"Udah bude, oh iya nanti sahur pakai apa bude? kayaknya yang enak itu yang pakai kuah bude kalau sahur." Ujar Anin, membuat ada suara kekehan kecil dari mulut Bude.
"Iya, bude nanti akan siapkan sesuai selera mu nak. Jangan lupa bangun lebih awal dan bantu bude memasak!" Bude sambil menunggu di kursi, kalau kelamaan berdiri. Sedikit-dikit nanti selepas tarawih bisa encok ke depan.
"Oke, bude. Hem... Bude," Anin bingung mau menyatakan hal tadi sore. Yang ia bahas bersama papah.
"Apa? Ada masalah?" Bude bertanya-tanya dan mengernyitkan keningnya.
__ADS_1
Ketika Anin sedang bengong.
Bude menepuk pundak sang ponakan yang lagi di landa lamun, lamunan Anin buyar dan Bude memberikan kode kepada Anin untuk menjawab pertanyaannya tadi.
"Eh iya, maaf bude. Gini aku tadi ketemu sama papah, dan beliau---"
Belum juga lengkap, bude sudah menggasak pembicaraan Anin.
"Apa ada masalah dengan papah mu itu, kan namanya udah mantan ngapa kembali lagi sih? Udah jadi di tenggelemin itu kenangan itu, nggak usah di balikkan." Membuat hati Anin sedikit parau dan Anin membuang napas panjang.
"Kamu mau di manfaatkan oleh papah mu itu, hah... Bude aja sampai heran dengan papah mu itu, nggak salah apa memunculkan wajahnya kembali di mantan menantunya ini." Ketus bude, Anin udah menduga kalau budenya akan selalu marah jika membahas tentang ini.
***
Acara punggahan pun selesai, hal tadi belum selesai di bicarakan katanya di lanjut nanti. Sebentar lagi juga sudah masuk di adzan isya'. Anin sudah bersiap-siap untuk pergi ke masjid bareng-bareng.
"Pak, bapak bawa motor aja biar ibu sama Anin pergi jalan kaki. Dan ini musimnya orang curi-curi motor, kan kasian motornya di tinggal di rumah. Nanti ada yang maling lagi." Ucap Bude yang terdengar samar-samar dari pendengaran Anin.
Anin keluar kamar dan melihat Pakde yang membereskan karpet-karpet yang masih tergelar di lantai. Pakde cuma mengangguk-angguk sampai bude yang memakan ingkung ayam yang nggak nawar-nawarin tetangganya.
Tapi, apa bude yang memakannya sendirian?
Anin mengejutkan budenya sampai tersedak-sedak oleh keadaan.
"Nah, durhaka. Wallahu alam..." Lontar Pakde, membuat bude melirik dengan tatapan tajam dan Anin mengambilkan minum untuk bude.
"Eheeeem... Bapak," serius bude dan Pakde tidak berani untuk menatap bude.
"Ehhh... Bulan Ramadhan lho ini, udah lah bude jangan marah-marah! Ini bude habiskan semuanya ayamnya, nggak ada sisa pula." Ujar Anin melihat piring yang tak tersisa dan tulang-tulang ayam pun di lahap habis sama bude alias kucing yang di pelihara di rumah ini.
"Alah, itu masih di wajan kalau mau. Ibu mau wudhu dulu, bapak sekalian ganti baju dan wudhu." Ucap bude.
"Iya, bapak juga ngerti lah." Jawab Pakde dan bude menyambar dengan tatapan, Anin menutupi bude agar tidak marah-marah.
"Udahlah bude, apa susahnya to memaafkan. Nggak ada yang susah bude," berkali-kali di nasehati tidak mempan.
__ADS_1
Harusnya ada pencair mata yaitu uang, pasti bude tidak akan marah kembali. Baru tadi pagi beli baju lebaran sendiri lagi di pasar dan tidak ada hawa nafsu untuk mengajak Anin ataupun suaminya sendiri.
"Pakde, nggak usah nanggepin itu bude. Sama aja pakde di makan hewan buas." Kata Anin.
"Mendingan di makan hewan buas nin, daripada tatapan mata bude kamu itu." Sahut Pakde dan membuat Anin terkekeh.
"Haha... Iya pakde, awas aja nanti kalau ada orangnya, wuih tujuh keliling nggak bisa diemin itu mulutnya." Pakde tertawa dan menggulung beberapa karpet.
***
Setelah, semua siap. Bude dan Anin berangkat duluan, Pakde menyusul nanti. Azan sudah berkumandang beberapa menit yang lalu.
"Bude, yang bener lewat jalan sini?" Anin agak sedikit ragu melihat jalan sepintas.
"Hem, nggak tau nin. Bude agak ragu sih sebenernya, tapi ini emang jalan sepintasnya ada di sini." Jawab Bude, sedangkan Anin menggeleng.
Masa iya bulan Ramadhan kayak gini ada setan lewat, kan katanya kalau gini masih di kengkeng di neraka, di simpan.
"Ya udah kita balik lagi yuk bude! Sepi ini jalan, nggak ada senggang buat orang-orang yang lewat atau gimana gitu." Ujar Anin dan bude mengangguk, akhirnya mereka lewat jalan raya dan sampailah mereka di masjid.
Sudah kumpul semua untuk berbondong-bondong sholat isya dan tarawih bersama-sama.
"Assalamu'alaikum, bude." Ucap salah satu perempuan yang berinisial tetangga sebelah.
"Wa'alaikumsalam... Iya, mari masuk! Oh iya tadi kita ketemu, saya mau bahas pengajian nanti yang akan di agendakan di pertengahan Ramadhan nanti.
Kita nanti sekalian membahas bersih-bersih masjid. Nah, bahasnya sama bu ustazah." Ucap bude dan perempuan itu mengangguk, bude memilih untuk bersama perempuan tetangga sebelah. Anin memilih dengan anak-anak muda.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya teman-teman 😊😊😊
Selamat berbuka teman-teman 🤗🤗🤗
Terima kasih 🙏💕
__ADS_1