
Happy Reading
Anin menunggu sampai beberapa menit kemudian, akhirnya suster memanggilnya dan Bude Wati menggandeng tangan Anin.
Pada saatnya, Pakde mengepalkan tangan dan menghampiri Rifa'i yang tak tau ruangannya dimana?
Pakde pun bertanya dengan suster, biasanya mengerti tetapi ntah lah.
Akhirnya Suster mencari data atas pembayaran nama Rifa'i.
“ Ada nggak Sus? ” Tanya Pakde dengan melipat tangannya dan Suster mengecek data-data perkembangan beberapa hari lalu, ada pembayaran atas nama Rifa'i.
“ Ada Pak. Ini ruangannya ada di kamar anak-anak Pak, nama ruangannya Ruang Anggrek nomer dua puluh empat. ” Ucap Suster dengan menunjukkan bukunya.
“ Terima kasih Sus. ” Dengan langkah panjang, Pakde menaiki lift dan akhirnya sampai di ruangan anggrek, tetapi kok nomernya jauh amat ya?
Inilah Ruang Anggrek nomer dua puluh empat, Pakde langsung masuk tanpa melepas sepatunya terlebih dahulu ataupun tanpa salam.
Pakde tidak terpikirkan dengan perkataan Suster tadi, ruang anak-anak.
Pada kesempatan ini, Pakde menghajar habis-habisan Rifa'i dan anak Putri menangis kencang karena ada suara keributan.
Putri mengambil tindakan dan menggendong putranya itu.
Dengan susah dan berat, dia menenangkan anaknya dan Rifa'i tidak sampai di situ saja, Pakde sudah di hantam layangan pukulan oleh Rifa'i.
“ Bapak tua yang terhormat, sekali lagi saya ucapkan kalau saya sudah menjatuhkan talak untuk istri saya, kenapa bapak nggak terima? Eeh, salah bukan istri, tapi mantan istri. Yaudah bapak sekarang keluar, apa mau saya panggilkan satpam buat ngusir bapak. ”
“ Kamu itu nggak tau malu apa? Udah tau dulu kamu yang mau sama ponakan saya, tetapi kamu menghianatinya? Apa salahnya? ”
“ Karena dia nggak bisa melakukan apa yang saya mau? Hamil nggak, saya percuma Pak. Kalau ponakan bapak itu nggak bisa hamil, karena prinsip saya ingin sekali mendengar suara tangis bayi Pak. Bapak emangnya betah? Oh, iya lupa bapak kan nggak punya anak. Selamanya akan begini, kenapa bapak nggak menceraikan ibu Pak? Bapak itu cuma nggak di hargai sebagai laki-laki. ”
“ Jaga ucapanmu! Jangan sampai Allah membalikkan omongan kamu! Emang, kamu bukan laki-laki sejati terhadap pasangan, bisanya cuma memikirkan anak-anak. Saya nggak akan segan-segan untuk membalaskan dendam saya ke kamu, karena telah menghianati artinya sebuah kekeluargaan. Ngerti kamu? Bisa searching, apa arti dalam keluarga itu? Coba cari penjelasan sama Kyai ataupun gimana? Kamu pikirkan sebelum terlambat. Jangan napsu saja yang kau lakukan, tetapi dari hati ke hati! ”
Pakde mengambil peci-nya dan keluar dari ruangan yang membuatnya emosi dan darah tinggi.
Rifa'i diam di tempat dan Putri menangis karena Anaknya kejang-kejang.
“ Mas cepet panggil dokter! ” Rifa'i menengok dan membuatnya terkejut seketika.
***
Anin yang baru saja selesai di periksa oleh dokter, dia pun turun dari brankar dan di gandeng oleh dokternya.
__ADS_1
Dokter itu menghela napasnya dan menulis beberapa resep obat.
“ Bagaimana dok? ” Bude membantu Anin untuk duduk dan di sebelahnya bude mendaratkan bokongnya di kursi.
“ Begini, maaf sekali lagi bu. Saya harus menyampaikan sebesar-besarnya, karena ibu Anin mengalami stres dan itu juga menjadi kendala bagi ibu, tetapi saya membawa kabar bahagia kalau ibu hamil. Sesuai dengan hasilnya tadi, saya bisa melihat kalau ibu hamil. Dan ini saya merasa sedih, karena Ibu Anin stres dan itu bisa jadi mempengaruhi janinnya bu. Jadi, harap ibu minum vitamin dan obat-obatan yang sudah saya buat resepnya. Silakan ibu bertindak ke apotek biar nanti apoteker yang mengambilkan obatnya! ”
Anin menatap perutnya yang sekarang dia memiliki gandolan, kenapa baru sekarang?
Apa Anin bisa menarik omongannya yang tadi siang?
Ya Allah sungguh miris sekali...
Anin keluar bersama bude nya dan bude menatap kursi yang kosong, kemana suaminya?
“ Eh Pakde kemana nin? ”
Anin di bantu untuk duduk dan akhirnya dia menatap belas kasihan kepada anaknya yang di kandungnya sekarang.
Bude menatap Anin yang mengeluarkan air matanya, bude memeluk tubuh Anin dari samping dan mengelap air mata Anin.
“ Nak, jangan bersedih! Kalau kamu menangis terus, anak yang di dalam kandungan kamu bisa sedih. Apa kata dokter tadi? Kamu nggak boleh stres berlebihan, nanti kita bicarakan sama Pakde. Bude mau ke apotek dulu, kamu di sini dulu ya. ”
Anin mengangguk dan mengeluarkan senyumannya, tetapi di hatinya masih menaruh luka.
Pakde yang babak belur akibat pukulan Rifa'i yang keras tadi, membuatnya membeli masker untuk menutupi wajahnya karena wajahnya penuh lebam ungu-ungu.
“ Nggak papa ndok, ” nah, ini dia pasti lembut banget kalau ngomong.
“ Bude kemana? ”
“ Ke apotek, lagi mengambil obat Pakde. ” Jawab Anin dengan mengambil buku KIA ( Kesehatan Ibu dan Anak) yang di sampingnya, Pakde terkejut dan mengambil bukunya.
“ Ndok, kamu hamil? ”
“ Iya Pakde. ”
“ Ya Allah kenapa di saat ini, Allah kasih keturunan, tetapi Allah lebih menyayangi pernikahan ini. Apakah artinya ini, Allah merestui pernikahan ini? ” Ucap Pakde di dalam hati.
“ Allhamdulilah ndok. ” Pakde mengusap tangan Anin dan mengusap perut Anin yang masih rata, tetapi di sana ada bayi yang berkembang dengan umurnya sekitar kayak biji cambah.
Bude yang membawa kantong plastik berisi obat dan vitamin. Bude terkejut dengan Pakde,
“ Pak, kamu kenapa? ” Bude membuka maskernya dan terkejut dengan luka lebam yang tercetak jelas di wajah Pakde.
__ADS_1
“ Kamu kenapa Pak? ” Ucap Bude dengan keras dan membuat orang-orang yang di sekitar menatap mereka.
“ Bu, jangan di sini! ” Pakde malu dan menggandeng tangan Bude, Bude menghempaskan tangan Pakde dan menggandeng tangan Anin.
“ Gawat nih... ” Pakde menatap jelas wajah bude yang meminta untuk di jelaskan.
“ Bisa-bisa nanti malem nggak bisa kelonan, kelonan sama kucing aja kalau nggak di kelonin.
Udah lah, nggak usah bahas itu. ” Gumam Pakde dengan raut wajah takut dan hawa dingin menyelusuri wajahnya.
Bude Wati sama Anin berjalan duluan, sedangkan Pakde Edi mengekor di belakang.
Layaknya pembantu... Hahaha,
Sampailah di parkiran dan Pakde membukakan pintu mobilnya untuk bude sama Anin.
Mobil pun berjalan dengan kecepatan rata-rata dan mampir ke masjid untuk melaksanakan sholat maghrib.
***
Setelah melaksanakan sholat maghrib, mobil pun melaju pulang ke rumah, mampir beli martabak kesukaan Pakde Edi.
Akhirnya sampai di rumah, Bude membuka gerbangnya dan Pakde melajukan mobilnya sampai ke garasi mobil.
Anin membuka pintu mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah.
“ Makan dulu nak, bude tadi masak sayur bening bayam sama sambel terasi, terus ada ikan lele goreng. Kesukaan Pakde kamu itu, sambel terasi sama tahu, tapi nggak ada tahu jadinya lele goreng aja. ”
“ Iya bude, Pakde sekalian di ajak makan. ”
Bude menghampiri Pakde yang masih di teras dan menjewer telinganya.
“ Duh, bu... Sakit... ” Pakde meringis-ringis dan mengusap telinganya yang memerah.
“ Makanya dari tadi itu dengerin! Kamu mesti harus di kasih pelajaran pokoknya, nanti urusannya. Sekarang makan dulu! ”
Pakde menurut layaknya induk sama anak.
Mereka makan dan Anin sampai makan dua kali lipat dari biasanya.
Bersambung...
Jangan lupa Like dan Komentar Positif
__ADS_1
❤️❤️❤️
Terima kasih 🙏💕