
Happy Reading
Setelah bersahur, Anin melakukan zikir di mushola rumah bersama bude, dan Pakdenya yang mengaji al-qur'an.
Sembari menunggu azan shubuh berkumandang, Pakde tidak jadi berangkat ke masjid. Di karenakan hujan deras yang lebat dan mengakibatkan tidak bisanya untuk melewati masjid. Karena masjid pasti banjir kalau sudah di landa hujan deras seperti ini.
"Allhamdulilahhi robbil aalamiin..." ucap Anin menutup zikir dan Anin meletakkan buku yang ia kaligrafi kan tadi sekaligus menggambar sesuai ingatannya ketika mengalami masa-masa zaman dahulu mengaji di asrama.
Meskipun sekilas saja, Anin mesti harus tau apa perbedaannya? Dari mana asal-usulnya? Sejarahnya, dan sebagainya. Anin kupas tuntas dari dulu, sampai ia rela mati-matian untuk mencari jawaban teka-teki yang di berikan oleh guru asrama.
***
Semuanya berjalan lancar, Anin pagi-pagi bangun sehabis sholat shubuh dan membersihkan rumah, bersama bude-nya.
Cuaca juga belum terik dan masih sedikit gerimis, Pakde sudah berangkat lebih awal. Katanya ada urusan mendadak yang harus di kerjakan sekarang. Anin berangkat nanti bersama taksi saja, uang pun sudah di sediakan oleh pakde untuk membayar uang ongkos, pulang pergi.
Anin sebenarnya tidak enak hati kepada pakde-nya yang tiap hari menanggung berat uang saku dan ongkos buat berangkat kerja, terkadang uang pun di lebihkan. Harus diam-diam tanpa sepengetahuan bude, bisa ngamuk kalau bude tau. Bukannya kasih sayang di lebihkan, tapi itu sudah sepantasnya Anin menerima.
"Bude, ini taruh dimana?" tanya Anin dengan mengangkat pot bunga yang besar ukurannya sampai bunganya menutupi wajah Anin.
Tingginya lebih dari Anin dan Anin dengan bersungguh-sungguh menilai kan arti bunga ini, karena bunga ini mulia sekali. Sampai tinggi pun hampir sama dengan Anin.
Seperti itukah isi hati Anin. Dengan kata lain, dia ingin memelihara kucing, tapi tidak di perbolehkan oleh pakde sama budenya. Terkata mitos di sini yang banyak di jumpai di masyarakat, Anin tidak mau ambil tindakan.
Karena sudah peraturan warga sini, jika ada yang memelihara kucing berarti harus memelihara kucing bagaikan seperti memelihara dirinya sendiri.
__ADS_1
"Taruh situ aja! Biar nanti bude yang tata, kamu cepetan mandi lah. Nanti terlambat lagi," ucap bude dan Anin sebenarnya mau berangkat, tapi masih hujan dan biasanya kalau hujan. Enaknya langsung bobo manis di kamar, mau ngapain yang penting enak di kamar.
Jugaan ini puasa, mau gimanapun puasa tetep aja pakai niat untuk berpuasa. Kalau kebanyakan tidur jadinya nanti kurang pahalanya. Mending banyak-banyak baca buku yang berfaedah dan dapet ilmunya.
"Alah nanti aja bude, tinggal ini doang kan yang belum di bereskan." Ujar Anin, Bude mengangguk dan mengangkat bersama potnya. Daripada Anin nggak kuat mengangkat pot, ini juga pot mahal. Bisa jadi Anin yang di suruh ganti ini pot, apalagi ini pot sekarang jarang di temukan.
"Sudah bude, aku mau ke kamar mandi dulu bude. Bude nggak papa kan di rumah sendiri? Apa aku temenin aja, izin sehari." Anin memilih untuk jalan sendirinya, dia ingin free hari ini aja.
Tapi, kalau badan di manjain takutnya keblabasan.
"Alah kamu ini mau libur hari ini 'kan?" tanya budenya membuat Anin menyunggingkan senyuman dan cengar-cengir.
"Iya, kok bude tau." Ucap Anin, Bude pun mengambil tindakan dan menjitak kepala Anin.
"Salah bude, kepalang pusing tujuh keliling bude. Baru itu yang benar." Rampas Anin.
"Iya, itu pokoknya sama aja. Yang penting sekarang kamu pikir-pikir itu pekerjaan mu, sayang kan. Jadi, terbuang sia-sia karena pekerjaan yang tinggi, terus kamunya juga mendapatkan pekerjaan itu susah. Walaupun, bude sebelumnya selalu memojokkan kamu agar cepat mencari pekerjaan." Ucap bude, mengingat kemarin malam. Baru teringat Anin, kalau dirinya telah naik jabatan atas usahanya selama ini.
Dia sebagai sekretaris pribadi si CEO harus bekerja secara profesional, tidak asal-asalan yang penting berangkat tapi tidak mencontohkan bagian bawah. Apalagi pekerjaan Aksa yang begitu numpuk sampai beribu-ribu lembar belum di selesaikan dan terlampaui oleh kegiatan tanda tangan. Anin harus memberikan waktu yang sebanyak mungkin, untuk memberikan hasil yang terbaik dan bisa memberikan namanya sampai di ingat di mana pun Anin berada.
"Iya bude, Anin lupa kalau hari ini Pak Aksa berangkat lebih awal. Untuk menghadiri acara pengangkatan jabatan Anin bude, aduh lupa sekaligus kelupaan bude." Ujar Anin dengan cepat ia melangkah ke kamarnya.
Dan,
Brakkkk...
__ADS_1
Anin membanting pintu dengan keras, Bude tersentak dengan bantingan pintu yang di timbulkan Anin. Bude kembali bertanya-tanya di dalam hati.
"Wah, berarti ponakan ku udah naik pangkat di kantor. Hummm, bapak aja kalah yang berlama-lama di kantor dan jabatannya pun belum di naikkan sama sekali. Apalagi gajinya, huuh dasar itu bos mah pelit. Nggak mikir keperluannya banyak, tapi sekarang Anin sudah memiliki pekerjaan dan yang pasti pekerjaannya nggak main-main, gaji besar dan berada di jangkauan seorang CEO." Gumam bude sambil berkhayal. Anin menikah apalagi dengan orang yang terhormat dan tersohor kembali, pasti bude tidak akan sia-sia kan itu waktu.
Bude menabrak potnya, "aduh Anin ini mah kamu taruh potnya nggak sesuai." Mengaduh Bude sambil memencet-mencet kakinya yang sakit dan Bude berjalan ke meja makan.
"Ya Allah gara-gara Anin ini, udah jelas-jelas suruh di bawah tapi malah di atas kalau meletakkan potnya." Dumal bude, Bude memegang kakinya yang sedikit kebiruan dan ada kulit yang sedikit menganga.
"Udah bude jangan marah-marah nanti puasanya kurang pahalanya! Anin berangkat dulu ya, bude jaga rumah baik-baik. Ini rumah juga bude dan Pakde tinggal. Nanti kalau ada yang nyolong bilang aja sama Pak Polisi." Ucap Anin dan bude bersikeras untuk menahan Anin.
"Sebentar, kamu mau di jadikan apa di kantor?" tanya bude, Anin mengusap wajahnya dengan bedak yang tidak tau arahnya kemana.
"Aku mau berangkat, ini bedaknya tolong benerin bude! Jangan sampai terlambat! Bisa, ditunda lagi nih kalau berangkat terlambat. Assalamu'alaikum... Pulang terlambat nanti bude, kerjaan numpuk di kantor." Teriak Anin dari luar yang memegang handphone sembari memesan taksi online.
"Astagfirullahalazim, ponakan nggak tau diri. Emang teriak-teriak itu nggak ngurangin pahala puasanya, apalagi sama orang tua." Bude menatap semua ruangan, sepi kali rasanya.
Kegiatan di pagi hari, biasanya di sambut bude yang selalu teriak-teriak karena membangunkan Anin dan Anin selalu terlambat untuk bangun. Sampai terkadang bude menyumpalkan air di dalam mulut dan bude juga marah-marah kerajaannya sama Pakde tiap pagi. Sekarang itu jadi kenangan dan bulan puasa juga bude maklumi.
Suaminya tahun lalu berangkat pagi, pulang malam dan ini juga sudah di lalui bersama. Walaupun keindahan hanya sementara di dunia, tapi kehangatan keluarga menjadi yang terindah di dunia. Pekerjaan memang hal penting, baginya keluarga juga penting. Maknanya, bude akan pahami dengan sendirinya. Jika suaminya tidak bekerja, berarti dosa besar bagi suaminya karena tidak menafkahi secara nyata. Sama-sama mengerti dan paham maksudnya dalam keluarga, saling melengkapi dan mendukung atas apa yang selalu di amalkan untuk hal yang baik.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya teman-teman ❤️❤️❤️
Terima kasih, dan selamat menjalankan ibadah puasanya. Semoga full sampai hari kemenangan... Aamiin ya robbal aalamiin 🙌🙏
__ADS_1