Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
Season 3- Episode 82


__ADS_3

“Ada apa pak?”


Pertanyaan itu yang Anin ucapkan saat melihat tatapan yang serasa aneh di matanya. Revino, laki-laki itu duduk di sofa tanpa dipersilakan dengan orang yang dihadapannya.


Masa iya tega sama ayah sendiri, kata Revino yang membenarkan jasnya itu. Rasa waspada ada di dalam hati perempuan itu yang masih curiga sama orang yang bertingkah laku seenaknya ini.


“Duduk dulu, nak!” lah bukannya ini rumahnya, Anin menatap garang dan laki-laki berkerut itu terkekeh ringan.


Anin berdecak di dalam hati, ini orang gila apa ya? Ditanya ada apa kok mengalihkan pembicaraan antara mereka. Minta digebuk ini orang!


“Hm, maaf saya sebagai tamu mau membicarakan ini dengan kamu, nak. Ini penting,” ucap laki-laki itu yang terbawa aura serius dan Anin hanya menatap datar, perempuan itu sudah terlalu lama menunggu orang yang dihadapannya itu berbicara berkelit tanpa to the point.


Kan harus ngeluarin the power kalau ngomong sama orang yang lelet.


”Anda to the point langsung aja! Nggak usah terlalu lama mikirnya!” kata Anin mengeluarkan nada ngegasnya dan Revino menatap mantap.


Kalau mau terjadi apa-apa di depannya, ia serahkan semuanya. Untuk sementara waktu, ia akan memberikan waktu sampai benar-benar putrinya merasakan ada ikatan batin.


“Oke, saya mau bicara jujur mengenai diri saya sendiri. Saya adalah---” ketika itu ucapan laki-laki tua itu terpotong dengan suara Aksa yang berat dari pintu utama melangkah menuju ruangan.


Mata sayunya dan langkah yang sedikit diseret, agak keterlaluan emang ini menantu! Datang pas nggak waktunya, ia akan menagih ucapan menantunya di kala itu.


Aksa berjalan ke arah istrinya sedang berdiri sambil menatap dirinya, “Maaf ada tamu ya?” tanyanya cengengesan dan Anin hanya menatap datar, ia duduk di sofa dan suaminya duduk di sampingnya.


“Bau apa nih?” tanya Aksa sembari bertanya, karena ia merasa ada yang bau dari tadi entah kenapa menempel saja mau pulang pun susah fokus di jalan, bertanya-tanya dengan sopirnya.


Perempuan itu mengerutkan keningnya, ia curiga ada yang aneh dan benar saja Anin mengendus bau suaminya seperti ada yang bisa mengeluarkan bau badan gitu, apalagi bau prengus plus baunya seperti bau nginjak tai ayam.


Revino hanya mengamati mereka, ia bosan sendiri di sini. Mau menjelaskan takutnya Aksa yang masih mau mengikut campur urusannya.


Aksa mengangkat sebelah sudut bibirnya, ia menatap mertuanya dengan tatapan tak terbaca. Sulit untuk menemukan jati diri ataupun kepribadian laki-laki tua yang mengangkat kakinya ke paha, menopang kakinya. Seperti pria tua itu capek duduk lama di sofa itu, dengan kaki yang panjang.


“Ada apa pak tua, kok ke sini?” senyumnya mengejek dan pria tua itu pun melotot, kenapa jadi dipanggil pak tua. Ais, kurang ajar sekali menantunya kali ini janji nggak tutuk panci terus diputuskan di kepala menantunya yang kurang ajar itu.


Mendengar itu Anin mencubit perut suaminya itu dan alhasil suara mengaduh itu keluar dari mulutnya. Seenggaknya bisa belajar sopan santun, masa iya mau dilibatkan dengan kata kurang sopan santun itu menjadi rumit permasalahannya.

__ADS_1


Anin pun beranjak pergi, biar mudah saja dua orang itu membahas obrolannya kali ini. Dan setelah benar-benar pergi, Revino melongok dan memastikan kondisi aman lancar terkendali.


Aksa mengamati mertuanya itu hanya menggelengkan kepala, “Ngapa malu-malu sih pak tua.” Ucapnya dengan mandang sedikit terkekeh, artinya menertawakan mertuanya sendiri.


“Uuu, menantu kurang ajar kamu!” hardik Revino yang sedikit mengeluarkan sifat aslinya, muncul begitu saja dan Aksa tergelak, ia menatap mertuanya dan menyalami mertuanya dengan berhormat layaknya kedatangan pahlawan saja.


Cih pahlawan kepagian.


Datang nggak pas waktu yang tepat soalnya.


“Hm, bapak mertua kenapa ke sini?”


“Iya, tadi beneran putri saya ‘kan? Kok kamu tinggal begitu saja, nanti kalau ada apa-apa gimana?” protesnya menatap tak suka kepada Aksa, Aksa menatap balik tajam.


Orang tua satu ini tak tahu apa-apa mending diam saja.


Aksa meletakkan tangannya ke pahanya dan mengetuk-ngetuk.


“Iya ayah ke sini boleh langsung ngomong aja, jika ayah kepingin putri ayah segera tahu tentang permasalahan ini!” tepat sekali dia ngomong dan tidak memikirkan ke depannya itu bakal terjadi apa.


Telunjuknya bergoyang, menandakan ia tidak menyetujui keputusan mertuanya. Memang jika ayah mertuanya ini jika datang ke sini akan berbicara seadanya dan terang-terangan saja, kesepakatan itu tlah mereka jalin dari mereka beradu mulut itu.


“Lah kenapa nak?” tanya ayahnya yang mengerutkan keningnya.


Aksa menghela napas pelan, “Maunya gitu tapi kalau istri saya mendengar ini tidak baik untuk masuk ke telinganya. Jadi, Aksa harap kita ke ruang kerja Aksa saja yang kedap suara.” Dengan akhiran menyombongkan kedap suara dan itu ia cetak tebali jika ruangan di rumah ini banyak yang kedap suara. Tapi, tidak bagi ruang tamu itu dan endingnya bakalan menggelegar kemana-mana suaranya.


Kedua orang itu beranjak pergi dari sana, mereka menuju ke lantai bawah sendiri samping dengan taman itu dan itu ada ruangan yang tampak kecil dari luar tapi sekali lagi bolehkah ayah mertuanya itu menganga jika seperti ini.


Melihat interior yang benar-benar bikin banjir liur, benar apa kata menantunya jika berita itu tak seberapa dibandingkan dengan harga banderol barang di rumahnya, tidak bisa ditawar dan benar-benar bikin besar kepala yang punya rumah.


Boleh kalau menyombongkan jika itu sungguh nyata.


Revino masuk ke dalam dengan Aksa yang sudah duduk di kursi yang membuatnya betah untuk tempat di sana, apakah boleh ia mencobanya. Dilihat dari raut wajahnya, ia suka penasaran dan Aksa saja hanya senyam-senyum tanpa menanggapi mertuanya yang tingkat level gengsinya tinggi.


“Oke, segera aja ya pak tua. Nggak suka kelana pikirannya saya mah on the time.”

__ADS_1


“Kayak jajanan aja,” decak mertua Aksa dan Aksa---pria itu memutar kursinya dan Revino melirik laki-laki itu yang sorot matanya seperti orang kelelahan dan begadang.


Begitulah yang dinamakan bapak, ya harus kudu siap nanggung risikonya.


“Begini, pak tua–”


“Jangan panggil pak tua kalau nggak kepingin molor waktunya!” ucapnya tidak terima dipanggil Aksa yang seenak jidat manggil begitu, apa salahnya coba ia bercandaan dengan sohib sekaligus menantunya ini.


“Ya udah, oke. Aksa menyarankan jika ayah nggak boleh mengambil keputusan yang mendadak, perlu waktu buat meresapi. Kalau ayah keras, bakal perjuangin itu semuanya sia-sia yah yang ada di dalam diri ayah. Ayah butuh pendekatan buat anaknya, kalau ayah gegabah nggak mungkin ayah akan bisa diakui selamanya untuk Anin sendiri. Kalau bisa dari tatapan matanya. Mengandung arti yang berbeda,” ujar menantunya panjang tak heran lagi jika Aksa tak bisa diganggu gugat keputusan ataupun memberikan masukan yang jelas rinci tapi tidak ada yang menanggapi dirinya.


“Ya terus? Nak, kau coba berkaca jika ayah kepingin ketemu anaknya itu pasti akan bertindak senekat mungkin walau itu ujungnya pupus harapannya. Egonya yang tinggi,” jawab Revino, dua orang itu sama-sama tegas dan bisa diajak beradu duel tanpa mengurangi egonya masing-masing.


Jika marah, adu bacok kali yang seru!


Sekali mati, mati semua nggak akan ada orang yang bisa menyaksikan kecuali Tuhan yang di atas. Maha Kuasa yang berkehendak untuk bisa menakdirkan jika umat manusia itu sampai di situ umurnya.


----


Assalamu'alaikum gess.


Hehehe Oke kalau ada kesalahan Din minta maaf ya selagi lebaran pun kita harus bermaaf-maafan dan Labaik Allahuma Labaik...


Selamat Hari Raya Idul Adha gess, bisa makan sate lagi nih gess apa nggak baksok🙂.


Huhuhu selamat membaca ges. Buat menemani aja biar nggak sepi di malam takbiran ini-:')


Nangis denger lantunan merdu.


Allhamdulilah bisa ketemu sama hari raya ini😊, hehehe bisa ya follow ig Din biar tetap slayy💅 dan tetap dapet info up apa nggak, tapi aku kadang jarang suka ngasih info soalnya ketiduran.


@dindafitriani0911


Makasih:), maaf panjang lebar❗


Wassalam.

__ADS_1


__ADS_2