
Happy Reading
Anin menjadikan hal ini dalam kenangan, sekarang dia ada di hadapan Rifa'i.
"Kamu, ahhh..." Rifa'i menghempaskan bokongnya ke kursi taman dan menatap Anin dengan tatapan sendu.
"Kenapa mas? Ada apa? Kok gitu." Ucap Anin dengan mengepalkan tangannya.
"Kamu beneran hamil anak aku?"Ucap Rifa'i dengan memegang pahanya.
"Iya mas ini bener anak kamu." Sebenarnya Anin tidak mau mendekati Rifa'i, karena tangannya sudah tidak suci lagi.
Dua perempuan sekaligus di embat, perempuan mana yang terima di perlakukan seperti itu.
"Hm, kalau begitu nanti anak itu lahir, kita akan cek darahnya sama atau tidak. Kalau anak itu sama berarti aku akan akui dia sebagai anak aku, tetapi sidang perceraian akan tetap berlanjut dan hak asuh anak akan jatuh ke tanganmu. Aku sudah ikhlas dan harta gono gini nanti akan aku berikan. Jangan sungkan untuk bertemu denganku karena anak ini kalau benar-benar ini anak aku!" Ucap Rifa'i dengan tegas dan lugas.
"Iya aku akan siap menerimanya. Daripada balikan sama seorang laki-laki yang tidak tau malu dan bejat." Anin memegangi perutnya dan melangkah ke dalam, tetapi di cegah oleh Rifa'i.
"Jangan dulu! Masalahnya ini belum kita kabulkan permintaan papah. Kita harus menjalaninya, kalau nggak di jalankan papah tidak setuju kalau aku menikah dengan Putri." Ucap Rifa'i dengan memegang tangan Anin, Anin menghempaskan tangannya dan melipat tangannya agar tidak kemana-mana.
"Apa masalahnya?"
"Begini, papah minta aku buat menemani kamu selama kamu nanti akan melahirkan anak ini. Aku harus tanggung jawab untuk itu semua, apa kamu mau kalau aku selalu dekat sama kamu? Aku menjalankan ini cuma perintah saja ya, bukan mau balikan lagi sama kamu!" Jawab Rifa'i dengan kembali duduk dan memegangi dagunya.
"Oke, kalau itu permintaan papah. InsyaAllah aku sanggup, tapi cuma sebatas teman saja... Nggak lebih!" Ucap Anin mengalihkan pandangannya ke lain bukan di sisi Rifa'i.
"Baiklah kalau begitu, kita setuju. Dan mulai besok, aku akan ke rumah kamu, artinya aku bukan ke rumah kamu tapi ke rumah Putri. Aku akan memainkan permainan ini." Ucap Rifa'i, Anin mengangguk dan melangkah kembali ke ruang tamu.
Rifa'i tersenyum smirk dan memainkan permainan ini sangatlah mudah, baginya, tapi apa nggak memikirkan akibatnya nanti?
Anin berjalan ke ruang tamu, di sana papah Rahmat lagi menatap layar handphone.
"Assalamu'alaikum pah." Papah Rahmat menatap Anin dengan tatapan tidak biasanya, kenapa dia sedikit menampilkan senyumannya?
__ADS_1
Yang pasti setuju dengan tawaran ataupun permintaan papah Rahmat.
"Gimana?"
"Sudah Pah, nanti aku pikirkan kembali."
"Yaudah kalau begitu, kamu mau makan apa atau mau apa nak?" Tanya papah Rahmat, biasanya orang hamil pinginnya apa-apa.
"Nggak kok Pah. Aku nggak pingin apa-apa." Aneh, ya waktunya kan bentar lagi mau lahiran.
"Hm, jangan di pendam ya! Kalau butuh sesuatu bilang sama papah, nanti papah akan turutin."
"Iya Pah, nanti aku bilang sama papah ku yang ganteng ini." Anin tersenyum dan menatap ada makanan di meja ruang tamu.
Dia membukanya, ada beberapa snack dan Anin mengambilnya dengan rasa senang hati. Perutnya gerak-gerak seraya minta di elus-elus.
"Aduh Pah, cucu papah gerak-gerak ini." Papah langsung terkejut dan reflek memberikan elusan di perut Anin.
***
Menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata dan memikirkan bagaimana jalannya alurnya nanti?
***
"Oh iya Pah, papah selama ini butuh Anin nggak? Kalau papah butuh Anin bisa papah ngomong sama Anin."
"Nggak kok nak, papah cuma butuh anak dan cucu papah yang nanti akan bahagia bersama papah di masa tua papah ini nak. Papah ingin kalian bahagia, karena masa tua papah jangan kalian permainkan! Papah ingin bahagia melihat kalian bahagia. Biar nanti di alam sana papah dan mamah bisa melihat kalian tersenyum, tidak meninggalkan jejak di dunia ini." Anin terharu dengan penuturan papah Rahmat.
Apakah bisa dia mengabulkan permintaan papah Rahmat? Karena dia juga ingin bahagia.
Karena bahagia adalah hal yang sulit untuk dilupakan dan di kenang untuk selamanya.
"Hm, papah jangan sampai kecapean ya! Soalnya papah kalau udah lewat batas, takutnya nanti ada apa-apa, papah nggak bilang." Anin menasehati papah Rahmat dan mencium tangan yang sudah kaku untuk di pegang. Sebenarnya bukan masalah umur, tetapi papah mempunyai riwayat penyakit jantung membuatnya sedikit khawatir dengan keadaan papah Rahmat.
__ADS_1
"Iya nak, papah akan ingat nasehat anak papah ini yang cantik dan selalu memberikan kehangatan bagi papah."
"Kalau begitu, Anin mau makan Pah. Soalnya lapar, jugaan bude tadi cuma masak buat pagi tadi. Bude sama Pakde masih ada acara penting soalnya, jadi aku tadi ke sini buat menghilangkan bosan ku yang berlarut."
"Iya nak, kalau kamu kangen sama papah. Pintu rumah papah akan papah buka lebar-lebar kalau kamu ke sini nak." Ucap Papah Rahmat mengulas senyuman kepada Anin dan Anin melangkah ke ruang makan.
Di sana sudah ada beberapa makanan yang telah di sediakan sama pelayan. Papah Rahmat mengikuti langkah Anin dan mengambil langkah duduk untuk menghilangkan rasa sesaknya.
"Yaudah papah sekarang makan juga ya! Nanti kalau papah nggak makan, sakit lagi." Ucap Anin dengan mengambilkan nasi dan lauknya untuk papah Rahmat.
"Iya nak." Mereka pun makan bersama, papah Rahmat memikirkan bagaimana nanti kalau anaknya cerai? Nasibnya menjadi apa?
Sedangkan Rifa'i, ada di ruang kerja dan mengurus semua pekerjaan di kantor.
"Kenapa aku lebih memilih Putri daripada Anin ya? Apa aku laki-laki boros sama seorang perempuan, kalau udah bosan aku ganti pasangannya. Sampai Anin mengolok-olok aku sebagai laki-laki b***t lah apa nggak b******n lah... Aku emang laki-laki yang nggak tau diri dan memilih jalan seenaknya. Nggak malu gitu sama seorang perempuan?" Rifa'i menyangga dagunya dan memutar kursinya.
"Iya aku laki-laki nggak tau diri sama nggak tau malu, tapi aku butuh begitu. Nggak butuh secara lahir, aku butuh secara lahir dan batin terpenuhi, nggak setengahnya." Ucap Rifa'i menatap langit dengan penuh hati.
"Langit menerima, tetapi kenyataannya aku nggak. Artinya apa pernikahan ini aku akan lanjutkan atau sebaliknya?"
***
Anin selesai makan, dia sedikit susah bergerak. Berat badannya naik sekitar 15 kilo dari hari sebelumnya.
"Pah, ehm... Gini aku mau liat ikan papah yang di akuarium itu pah, kayaknya menarik."
"Iya nak, nggak papa, kolamnya ada di ruangan sana. Papah belum lama belinya, dari Australia sana papah beli, sebelumnya papah mau pesen ikan hiasnya di Belanda tapi papah tertarik sama yang itu. Jadinya, papah beli yang itu aja."
"Padahal banyak lho pah, ikan hias di Indonesia. Kenapa papah sampai pesen dari luar negeri? Bukannya ikan hias di Indonesia juga menarik," ucap Anin.
"Nak, papah tertarik tapi ada hal yang bikin papah kenang-kenangan sampai sekarang, dulu mamah liburan ke Australia, nah terus mamah sama papah jalan-jalan di sana, di taman ada kolam, ada beberapa ikan hias yang di budidayakan di sana. Mamah jadinya pingin budidayakan ikan hias, tapi sampai sekarang papah belum mengabulkan permintaan mamah. Jadinya, papah beli ikan hias ini di Australia." Ucap papah Rahmat dengan termenung memikirkan masa lalunya yang sungguh terindah baginya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Komentar Positif, dan Rating Lima ya 😊🤗❤
Terima kasih atas dukungannya dan kalau sudah mampir ke sini🙏💕