Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 85. Tidak di harapkan


__ADS_3

Happy Reading 📖


Setelah mengambil kunci, Anin membuka pintu yang akan ia masuki sekarang juga. Dan matanya cepet kemana-mana, terbelalak oleh ruangannya yang cukup besar dan paham betul Anin dengan ruangan ini sampai ia bingung, barangnya banyak dan kursinya empuk sekali.


"Ya Allah aku nggak pernah sebelumnya merasakan seperti ini, niat hati mah aku mau aja jadi karyawan itu udah setengah mati senengnya. Sekarang pak Aksa menaikkan jabatan ku sebagai asistennya. Aduh, mimpi apa semalam? Makanya tadi telat, untung Pak Aksa nggak marah sama saya." Ucap Anin dengan mengelus permukaan meja. Masih mulus seperti tidak ada lecetan sama sekali.


Anin menghempaskan pantatnya ke kursi kemudian dia menikmati pemandangan indah jika Anin membalikkan kursi.


Pemandangan dari atas gedung dan sepertinya Anin sudah jatuh cinta sama jabatannya ini. Naik gaji pasti, terus naik jabatan yang pasti di tempatkan yang terbaik. Tapi, ada masalah satu yang belum bisa Anin selesaikan!


"Ya Allah apa aku harus sekarang mengabari papah, jika aku nggak bisa ke sana. Yah, aku harus bertemu dengan Putri. Meminta agar ke sana menemani papah untuk berbuka maupun bersahur." Ucap bersemangat Anin dan Anin membuka pintu, brukk...


"Maaf bu', saya nggak sengaja. Karena saya mau bertemu dengan ibu. Nanti jam sebelas siang ada rapat bu, ibu yang akan menggantikan posisi Pak Aksa mulai beberapa hari nanti." Mata Anin melotot dan baru saja mau keluar, sebentar sudah ada yang memanggilnya.


'Iya, nanti 'kan rapatnya? Saya mau keluar sebentar, oh iya kabarnya mau dapat mobil dinas ya? Tapi, ke mana?" tanya Anin, katanya sih kalau udah jabatan tinggi pasti di kasih mobil dinas dari kantornya sendiri.


Dan karyawan yang di sana tidak tau menau soal itu, kecuali memang dari sananya sudah ada perjanjian atau gimana?


"Baiklah kalau kamu tidak tau, saya mau keluar dulu. Nanti kalau yang mencari saya, cukup bilang keluar ya. Jangan mencari alasan yang tidak-tidak, saya nggak mau ada kesalahpahaman!" Ucap Anin dengan memegang karyawan perempuan tersebut.


Emang siapanya? Kok di suruh-suruh, bukan asisten Anin juga.


Anin pergi keluar dan karyawati tadi masih bengong, ada karyawan yang lewat memerhatikan tingkah aneh yang di sebabkan oleh karyawati.


"Oiii, lu ngapa senyam-senyum sendiri kayak gitu, mohon maaf ya ini kantor. Nah, nanti jangan di salahin orang lain kalau kamu udah kekadaran warasnya ya udah di bawah rata-rata." Ucap karyawan tersebut dengan mengejek.


"Eh kamu puasa kan? Muslim kan? Sesama muslim kita masih menjalankan ibadah puasa, sebaiknya nggak saling mengejek gitu lah. Emangnya saya senyam-senyum sendiri? Kamu ini sudah berpikiran yang engak-enggak, jadi sebelum bicara alangkah baiknya kamu bertanya dulu!" Karyawati itu pun pergi dan laki-laki yang masih berdiam di sana sama-sama mencerna perkataan yang barusan ia dengar.


"Alah, iya sih kita puasa tapi juga saya kan membenarkan apa yang saya maksud! Dia nya aja yang nggak peka." Tukas karyawan dengan berjalan ke arah lift.


***


Anin di taksi, berdiam sejak tadi. Ketika di tanya sopir taksi harus dua kali bertanya baru di jawab oleh Anin. Sampai menguras emosi sekali, sopir juga mengingat jika dirinya sedang menjalankan ibadah puasa.

__ADS_1


Sabar... Sabar, jiwanya tetep menggebu-gebu sampai keringat ikut menetes, karena menahan emosi itu.


"Pak, jalannya ke jalan STU iya Pak." Ucap Anin, gitu lah sedari tadi. Pak sopir menghela dan mengelap keringat yang menetes dengan tisu.


Akhirnya tiba di rumah Putri dan Rifa'i yang baru, dia mendapatkan alamat tersebut dari sang Papah yang setia menjawab apa yang selalu di pertanyakan oleh Anin sebelumnya.


"Sudah sampai mbak!" Seru pak sopir dan Anin membuka pintu taksi, membayar taksinya secara langsung kepada sopirnya.


"Maaf ya Pak, kalau saya sudah membuat kesal dan bapak pun sepertinya juga udah kesabarannya mau hilang. Ini saya tambahi uang ongkosnya, ini juga cukup buat buka bersama sama keluarganya Pak nanti." Ucap Anin dengan menyerahkan ongkos lembaran dua.


"Eh, tapi nggak apa-apa ini?" Dan Pak sopir membenarkan betul-betul, jangan sampai Anin berbohong! Jugaan buat apa Anin berbohong, ini dia mengasihkannya juga ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan kembali.


"Iya Pak, saya ikhlas sampai jiwa dan raga saya juga mengatakan kenapa nggak ikhlas, toh ini bulan puasa seharusnya ada kalanya kita berbagi kebaikan dan saling membantu lah Pak." Ujar Anin dan memastikan jawabannya itu benar-benar masuk di dalam hati sang sopir.


"Makasih ya nak, maaf tadi bapak ngedumel sama kamu. Bapak kadang orangnya sabar, kadang juga kalau moodnya nggak baik pun bapak banyak-banyak bersabar. Dan kini bapak nggak sabaran orangnya, dari sahur sampai sekarang pun marahnya masih sama." Tutur Pak sopir, Anin tidak jadi masuk ini kalau di ajak ngobrol saja.


"Pak sekali lagi maaf banget, ini saya mau masuk duluan iya Pak. Soalnya sudah di tunggu sama yang punya rumah," Anin cepat-cepat mengalungkan tasnya dan Pak sopir mengangguk.


"Terima kasih mbak, semoga Allah membalas kebaikan mu ini."


Anin memencet bel rumah yang ada di pintu, dan yang menjawab Putrinya sendiri.


"Iya, siapa?" Putri membuka dan mukanya berubah menjadi kecut sama asam.


"Ngapa kamu ke sini?" lanjut Putri dan Anin melongok ke dalam, tidak di persilakan untuk masuk atau gimana gitu.


"Emm, Putri aku mau ngomong tapi bukan di sini. Bolehkah masuk dulu, biar nggak kaku nanti omongan saya." Anin membenarkan posisi kerudung dan Putri memutar bola matanya dengan malas.


Putri tidak mengharapkan Anin untuk datang, tetapi apa yang terjadi? Jika ada yang perlu di bicarakan, kenapa Anin nggak langsung ke kantor Rifa'i?


"Boleh kalau gitu, masuk aja nin!"


Akhirnya, ada yang membuka sedikit lowongan buat Anin masuk ke dalam. Putri duduk berhadapan dengan Anin.

__ADS_1


"Sebenarnya kamu ke sini mau apa?"


Dari tadi menunggu jawaban, Putri sudah benar-benar terkuras tenaganya dan tenggorokannya serasa mengetat.


"Put, aku ke sini mau ngobrol baik-baik ya. Jangan kamu usir aku sebelum aku ngomong ini tentang papah mertua kamu itu!" Jawab Anin dan Putri pun melotot.


"Kenapa papah mertuaku nin?" tanya Putri dan Anin menghela napas dalam-dalam.


"Kamu tau nggak kalau papah itu sedang sakit, dan dia butuh teman untuk menjadi penyemangat dalam hidupnya. Dan maksud ku, aku mau bicara kamu ke sana sama suami mu itu. Menemani papah untuk melihat kesehatannya bagaimana? Dan kamu sama suamimu juga menemani papah selama berpuasa ini. Jangan sampai kamu menyia-nyiakan mertua seperti papah! Pada dasarnya papah orangnya baik dan sayang sekali sama orang yang sudah menyayanginya dari hati. InsyaAllah kamu akan di terima dan menjadi menantu yang di harapkan oleh papah.


Sayangi seperti kamu menyayangi papah kamu sendiri Put. Aku sebenarnya tidak tega, apa berbuat? Aku nggak di izinkan oleh Bude dan Pakde ku. Itulah yang aku sampaikan mudah-mudahan ada sedikit parau hati kamu itu terbuka." Jelas Anin dengan panjang.


"Iya nanti aku akan ke sana, itu doang kan? Nggak ada yang lain."


Hah, apanya jawaban yang tidak paling di tunggu. Padahal Anin ingin menunggu jawaban Putri itu panjang seperti pertanyaannya juga.


"Astagfirullah, nggak-nggak." Setannya udah menggebu-gebu ingin menampar Putri dan Anin timpal dengan pikiran yang jernih.


Akhirnya, dia tidak jadi dan menahan tangannya untuk tidak melakukan ini-itu.


"Oke lah, aku mau balik ke kantor dulu. Salam buat suamimu juga," Anin mengalungkan tasnya kembali dan berjalan melangkah ke arah pintu.


"Tunggu dulu nin! Aku belum selesai bicaranya, kamu yang benar kalau bicara nin! Apa ini cuma tipu daya muslihat kamu dan kamu juga akan balikan sama mas Rifa'i." Terka Putri dan Anin membelalak.


"Kamu kok segitunya sih Put, aku kan udah bilang dari awal. Aku nggak akan di izinkan kembali untuk bertemu sama papah dan suami mu itu. Kenapa kamu mencoba untuk menuduhku?" Ujar Anin.


"Iya, udah kalau gitu sana pulang! Saya sudah malas melihat wajah kamu lagi." Bukannya mengucapkan terima kasih atau gimana?


Anin kesal ke sini cuma di permainkan hatinya, sama-sama jahat sekali mereka.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya ya 😊😊😊

__ADS_1


Terima kasih😌🙏, selamat menjalankan ibadah puasa semoga lancar sampai berbuka...


__ADS_2