Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 71. Uang lima ratus perak


__ADS_3

Happy Reading 📖


"Maksudnya turun gimana? Turun harganya atau masalah proyek." Putri memakan dengan sangat pelan dan mendengarkan penuturan sang suami.


"Ya turun drastis perusahaan. Mau bangkrut," Putri menatap tajam dan menggeleng.


"Kok bisa?"


"Hem gimana lagi, 'kan ada saingannya Put." Jawab Rifa'i dengan menunyah nasi gorengnya dan sambil ia menatap Putri.


"Oo, jadi perusahaan itu yang membuat perusahaan papah turun. Udahlah nggak usah khawatir, biar nanti aku bilang sama papah. Supaya mau kerja sama dengan perusahaan itu biar semakin di tangguhkan nantinya." Ucap Putri dengan mengelap mulutnya dengan tisu.


"Kalau gitu aku berangkat dulu ya, nanti kalau ada apa-apa bilang." Ujar Rifa'i dengan menghampiri Putri dan memegang rambut Putri.


"Hati-hati nanti." Pesan dan nasehat Rifa'i di angguki oleh Putri. Rifa'i mengecup kepala Putri dan memberikan sebuah kotak bludru warna merah.


"Apa ini mas?"


"Buka aja, nggak papa kok! Hadiah buat kamu." Rifa'i tersenyum dan Putri membuka kotaknya.


Mulutnya ternganga karena Rifa'i memberikan cincin dan ia pakai langsung, Rifa'i pun membantu menyematkan cincin yang akan bertengger di jari manis Putri.


"Terima kasih mas, kamu memang bener---" Putri tidak bisa berkata apa-apa, ia merengkuh tubuh Rifa'i dan terharu dengan Rifa'i.


"Iya nggak papa kok, itu juga sudah kewajiban ku untuk membahagiakanmu. Emm, aku berangkat dulu ya. Di pakai terus, apalagi sama cincin kawin itu. Jangan sesekali kamu melepasnya! Berarti kamu telah menghianati artinya pernikahan Put." Ucap Rifa'i dengan menyayat hati Putri.


Kemarin dia melepas cincinnya karena bertemu dengan si laki-laki yang ingin Putri manfaatkan.


Dan sekarang suaminya membahas cincin perkawinan, membuatnya tidak bisa melakukan apa-apa.


"Oke mas. Aku mulai sekarang akan memakai cincin ini," ucap Putri. Membuat Rifa'i mendaratkan tangannya dan memegang kening Putri.


"Iya maafkan perkataan ku tadi, jangan diambil hati! Takutnya nanti kamu menyakiti hati kamu dengan perkataan ku tadi. Yaudah aku kerja dulu ya, assalamu'alaikum..." Rifa'i menyalami Putri dan memberikan kebahagiaan atas semuanya.


Hanya Putri tersenyum ketir dan dia bisa menjadi istri durhaka kepada suami. Karena telah menghianati pernikahannya sendiri, padahal di cokol hatinya ada perasaan sayang sangat besar untuk Rifa'i.


Tapi, demi apapun dia harus melakukan pembalasan dendamnya kepada Anin dan Aksa.

__ADS_1


Putri melambaikan tangannya dan mengantarkan Rifa'i sampai teras depan rumah, Rifa'i mengklakson mobilnya dan membalas melambaikan tangannya.


***


Anin pulang dari pasar, ia pun langsung menuju ke kamar mandi untuk melakukan rutinitas mandinya agar terlihat wangi dan cerah untuk di tatap semua orang.


Masa iya mau bau kecut kalau di kantor, bisa aja nanti di ketawain satu kantor.


Memalukan satu kantor.


"Ini dikemanain lagi keranjangnya." Bude marah karena tas belanjanya tidak ada.


"Ada apa buk?" tanya pakde dengan membawa tas kerjanya dan pakde meletakkannya di atas meja makan.


"Tas belanja ibuk Pak," jawab bude dengan cemas dan Anin keluar dengan mengacak-acak rambutnya yang masih basah.


"Eeeh bentar!"


Bude mencegat Anin dan Anin menyipitkan matanya, ada apa?


"Mana tas belanja bude?"


Bude mengangguk dan pergi, mengambil belanjaannya.


"Pakde mau berangkat kerja?"


"Iya ada masalah yang harus di selesaikan di kantor, jadinya pakde nggak mau libur-liburan. Katanya bos pakde di kantor, nggak ada yang libur kecuali tanggal merah doang." Ucap pakde dengan menyeruput teh yang sudah di buatkan oleh bude.


Anin mengambilkan secaruk nasi, sayur terong, dan ikan yang di goreng, bersama telur dadar di goreng.


"Ini pakde." Makanan buat pakde dan Anin bisa melanjutkan dirinya untuk mengambil piring dan sarapannya.


Pakde memakan dengan lahap, sedangkan bude menata sayuran dan apa itu di kulkas. Yang bisa diawetkan.


"Allhamdulilah... Kenyang, kamu gimana mau bareng sama pakde atau pakai taksi?" Tanya pakde, mengambil teko kaca dan pakde tuangkan air minum untuk menghilangkan keseretan di tenggorokan.


"Bareng pakde aja lah, jangan pakai taksi! Apalagi ini akhir bulan, 'kan belum pada gajian. Takutnya nanti kurang uang bulanannya." Ucap bude, bude menghampiri mereka berdua yang masih duduk.

__ADS_1


"Hah, ibu-ibu. Kenapa malah ngirit sekarang? Giliran kalau gajian, tetangga sebelah aja sampai heran setiap hari belanja. Terus, ibu lupa apa yang di katain ibu itu selalu ada imbal baliknya! Kadang kalanya kota di atas bu, jangan ngeremehin namanya uang lima ratus perak! Dulu aja katanya abah, uang lima ratus perak itu susah carinya. Noh jangan liat atas terus! Liat bawah, banyak orang yang kesusahan buat cari makan, terus ibu enak-enaknya pamerin barang. Sekarang rasakan sendiri!" Sindiran halus dari pakde tidak mempan sama sekali.


Malah sekarang bude membanting wajan dengan tidak sengaja, wah pagi-pagi ngajak ribut ini orang... Haha...


"Emangnya salah ibu kalau gitu, namanya juga hidup zaman sekarang. Jangan bedain sama yang dulu Pak, memang kalau zaman dulu mah mau beli tapi kudu jual barang dulu, apa nggak barter baru boleh itu milikin barangnya. Lah sekarang mahal semua pak, kita tinggal ekspos apa kek langsung di bayar. Katanya sih, itu selebgram itu. Di endors terus dapet duit sama barangnya langsung. Contohnya orang ngartis-ngartis mah banyak, selalu menghindari namanya pertanyaan apa nggak itu di panggil, pura-pura nggak denger." Ucap bude dengan panjang kali lebar, malah bahas selebgram.


Haha... Padain sama orang dulu...


Yah namanya juga sosial media belum tentu bisa bahagia di dunia nyata, belum tentu pernikahan yang di pajang di sosial media itu bahagia. Pada kenyataannya setiap hari di selingkuhi apa nggak di sakiti.


Apa nggak sakit itu...


Anin menggelengkan kepalanya, bisa-bisanya bude juga ingin terekspos dengan kamera dan julid namanya sosial media.


Nggak enak Anin bayangkan saja.


Enak juga di dunia nyata, bisa ketemu yang namanya bahagia apa nggak tulusnya itu orang.


"Alah bude ini bisa aja, udah pakde yuk berangkat sss!" Demi apa dia harus melihat pertengkaran kecil diantara bude dan pakdenya.


Tapi, seneng liat draindo kocak.


Bude menghujam pakde seperti lirikan matanya dan pakde memberikan senyuman hangat tapi bude menatapnya dengan tusuk panah itu.


Cepat dan terkena anak panahnya bisa... eeekkk...


Mati perlahan-lahan.


"Yaudah bapak berangkat sama Anin yah. Jangan marah! Nanti kalau masih marah nggak di kasih itu-itu lagi lho, dari uang nafkah sampai uang batin." Dengan begitu bude membuang mukanya dan pergi jauh-jauh.


Pakde pun melangkah ke garasi mobil dan untung mobilnya sudah di panasi.


Oke, baru bisa berangkat. Masalah marah-marahan terakhir. Anin memilih untuk menelepon Ulfa. Kawan kopong... Anin memilih nama yang pas buat Ulfa.


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya 🔥🔥

__ADS_1


Terima kasih 🙏💕


__ADS_2