Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 19. Honeymoon Di Bandung


__ADS_3

“ Jadi, begini Tuan Muda. Sebaiknya, Nona harus menjalankan rawat jalan saja di rumah.


Saya sudah menuliskan resep obatnya dan yang harus di hindari, Tuan muda. Jadi, Tuan muda ambil saja sama suster saya, ” Dokter Edi pun pergi dan Rifa'i melangkah bersama susternya Dokter Edi.


Akhirnya Rifa'i mengambil kertas yang tebal dan isinya adalah kejutan yang benar-benar membuat dia menganga. “ Astagfirullahalazim, ternyata bohongan ini. ” Rifa'i tersenyum dan tertawa.


“ Selamat ulang tahun Pak, ” Ucap suster dokter Edi dan Rifa'i mengangguk.


“ Iya makasih Sus, ”


“ Kalau begitu saya pamit keluar dulu, ”


“ Iya Pak, maaf nggak bisa beri kado. ”


Suster dokter Edi tidak enak hati dan Rifa'i menggeleng


“ Saya udah terima kasih sama suster, ucapan itu ataupun do'a.... InsyaAllah, Allah akan mengabulkan do'anya. ”


Rifa'i keluar dan ternyata di luar, istrinya di dampingi oleh mamah Hajar.


“ Selamat ulang tahun nak, maaf tadi mamah jadi begitulah. Ceritanya panjang, bisa minta tolong sama istrimu aja. ”


Rifa'i memeluk Anin dengan erat dan mengecup bibir Anin. Anin wajahnya bersemu merah dan membalas kecupan singkat di pipi Rifa'i.


“ Heh kalian ini! Emang di sini tempatnya gituan, ini ada yang jomblo. Hatinya meronta-ronta nih,


sampe ngiler-ngiler. ”


Papah Rahmat menggoda mereka berdua dan mereka bersemu merah sama-samanya merah padam.


“ Ehem.. Pah, ”


Mamah Hajar menarik tangan papah Rahmat dan menjauhi mereka.


Anin memegang sebuah kotak kado.


“ Mas ini, aku nggak bisa memberikan apapun, sampai aku lelah cari ini. ”


Anin mengeluh karena jelas saja kadonya antik dan barang yang tidak bisa di temukan sama sekali.


“ Sekarang kita harus ke Bandung ini, ya udah yuk! Berangkat ke Bandung sekarang. ”Ajak Anin


“ Mah... Pah, kita mau berangkat sekarang. Papah sama mamah gimana? ” Tanya Rifa'i


“ Kita besok nyusul aja, papah sekalian mau lihat-lihat perusahaan cabang papah di sana. Tenang aja, rumah papah sama mamah yang jaga. ” Jawab papah Rahmat.


Papah Rahmat menggandeng tangan mamah Hajar sambil tersenyum.


“ Iya pah, jangan lupa matikan lampunya sebelum melakukan itu-itu! Hahaha, ” Ucap Rifa'i dengan pelan dan di dekat telinga papahnya.


Papah Rahmat menginjak kaki Rifa'i dan Rifa'i meringis.


“ Eh, kamu dapet darimana kok tau? ”


Papah Rahmat mulai curiga dengan sikap Rifa'i.


Rifa'i tersenyum simpul dan menyembunyikan apa yang semalam dia lakukan?

__ADS_1


Hahaha,


“ Apa jangan-jangan di kamar tamu ada CCTV ini? Apa nggak chip di selipkan di kamar ini? ”


Papah Rahmat mencubit tangan Rifa'i dan Rifa'i gemas, menggelitik perut papahnya.


“ Hahaha, aduh-aduh. Papah ini, bagaimana bisa begitu? Emang kalau berak suruh ngintilin itunya? Nggak sopan lah, terus yang jelas muntah-mutahlah. ” Jawab Rifa'i


“ Hah, mulai ini. Pasti, kamu ini, bikin papah gregetan tau nggak. Dari tadi tangan pengennya melayang aja. ”


Rifa'i tertawa terpingkal-pingkal sampai perutnya terasa keram.


“ Udah lah pah, aku mau berangkat ke Bandung. Bisa-bisa nggak jadi ke Bandung nanti. ”


Anin menyalimi tangan papah Rahmat dan mamah Hajar. Rifa'i pun sama, Rifa'i memukul punggung papahnya dengan pelan.


“ Beuh pakai jamu apa pah? Kok nggak rontok ini, ”


Papah Rahmat langsung melemparkan sepatunya dan tidak kena Rifa'i. Untung saja sepatu yang melayang kena orang yang penyakit jantungan.


“ Anak nggak tau diri pokoknya, ” Gumam papah Rahmat dengan mengambil sepatunya.


Rifa'i melangkah dan tertawa, masih saja kelakuannya tadi dengan papahnya. Rifa'i mengejar langkah Anin. Akhirnya mereka di satukan di parkiran mobil.


Dengan semangat, akhirnya Rifa'i dan Anin masuk ke dalam mobil.


“ Kalau begitu kita berdoa dulu sebelum berangkat ke Bandung. Berdoa di mulai, ”


Akhirnya mereka pun berdoa dan melakukan perjalanan di bandung.


Rifa'i menjalankan mobilnya dan ternyata semuanya sudah di siapkan oleh istrinya.


“ Akhirnya ya yang, bisa ke Bandung juga. ”


“ Hm iya mas, mampir sekalian ke lembang buat wisata di sana. ” Ucap Anin menyenderkan tubuhnya ke punggung kursi mobil samping kemudi.


“ Kamu ngantuk, yang. ”


“ Nggak kok, ini masih terjaga. ”


Anin mulai menguap beberapa kali sampai benar-benar matanya memejam.


Rifa'i menggelengkan kepalanya dan melepas jaketnya untuk Anin.


Akhirnya adzan maghrib kumandang, Rifa'i menepikan mobilnya di salah satu masjid di bandung.


“ Yang, bangun. Udah maghrib ini, ”


Rifa'i membangunkan Anin dan Anin mengerjapkan matanya.


“ Uuh... Udah sampe mas, ” Ucap Anin melihat kalau sudah berhenti di tempat.


“ Itu, buka dulu matanya. ” Ucap Rifa'i mencubit tangan Anin.


“ Eh di masjid ya, udah adzan. Kalau gitu sholat dulu lah. ”


Anin membuka pintu mobil, tetapi masih di kunci oleh Rifa'i.

__ADS_1


“ Mas, buka dulu pintunya. ”


“ Hm, maaf lupa. ” Akhirnya Rifa'i membuka kunci pintu mobil. Mereka pun keluar dari mobil dan menuju ke tempat wudhunya masing-masing.


Akhirnya mereka setelah sholat berjamaah di masjid, mereka pun duduk-duduk di teras masjid,


“ Allhamdulilah, ” Ucap Anin membuang napasnya dan mengambil minum untuk Rifa'i.


“ Ini mas minum dulu, ” Anin menyerahkan botol air minum.


“ Makasih, ”


“ Sama-sama. Oh iya sekalian cari makan dulu lah, jugaan masih capek ini. ” Anin meluruskan kakinya dan memijat kakinya yang sedikit pegal.


“ Nggak usah, bentar lagi juga nyampe hotelnya. Nggak jauh kok, ” Ucap Rifa'i dengan meletakkan botolnya di tas.


Rifa'i berdiri dan menggerakkan badannya yang pegal sekali rasanya dari perjalanan yang lumayan jauh. Tapi, rasanya jakarta sampai bandung cuma beberapa jam, karena bertabrakan dengan di rumah sakit tadi.


“ Yuk lanjutkan perjalanan! ”


Akhirnya Anin mengangguk dan berdiri, dengan membawa tas. Rifa'i menggandeng tangan Anin, Rifa'i membukakan pintu mobil untuk Anin.


Rifa'i memutar arah dan masuk ke pintu kemudi. Akhirnya mereka melanjutkan perjalanan,


Beberapa menit kemudian, mereka pun sampai di Padma Hotel Bandung. Rifa'i mengurus administrasi terlebih dahulu dan melihat kamar untuk nomor satu.


Akhirnya dapat, dari tadi tidak dapat kamar. Adanya kamar nomer tiga, tetapi karena ada yang tidak jadi menginap. Akhirnya Rifa'i dan Anin mendapatkan kamar,


Mereka pun melangkah dan membuka kunci pintu kamar, akhirnya terbuka.


“ Mas ini kamu pesan berapa hari? ”


“ Sekitar tujuh hari di sini, nanti baru ke Bogor buat jenguk nenek panti di sana. Udah lama nggak ketemu, ” Ucap Rifa'i melangkah dan menutup kamarnya.


Rifa'i melepaskan lelah dan letihnya setelah melihat ada ranjang.


“ Pengen cepet tidur ini, ” Rifa'i merebahkan tubuhnya di tengah-tengah ranjang.


“ Mas kamu mandi dulu, nanti baru aku. ” Anin membongkar kopernya dan meletakkan pakaiannya di lemari.


“ Mandi bareng aja yuk! Udah lama nggak gituan, biar hilang lelahnya. ”


“ Apaan kamu ini mas? Lelah nggak akan hilang kalau melakukan gituan. Yang ada lelahnya tambah lagi, ”


“ Nggak lah yang, namanya gituan ya, kalau lelah pasti cepet tidur. Nggak grusak-grusuk di ranjang. ”


“ Enggak, mau bereskan ini dulu. ” Ucap Anin dengan membereskan kembali.


Rifa'i pun menggendong Anin dengan secara paksa, akhirnya mau nggak mau Anin menerima.


Bersambung


Allhamdulilah.... Hehehe maaf ya, nggak up nih!!! Bagaikan di telan bumi dah, gara-gara tugas banyak....


Jangan lupa like dan komen positifnya gess!!!


Mampir juga ke instagram:

__ADS_1


@dindafitriani0911


__ADS_2