
“ Ibu engkau yang sudah melahirkanku sampai aku besar. Aku tetap akan ingat pesanmu, ”
- Anin Fitri Ani
🌷Happy Reading 🌷
~Di rumah Rahmat dan Hajar~
Setelah mendengar kabar yang begitu menduka mendalam. Rahmat sampai terkejut, “ Inalilahi Wa Inalilahi roji'un. Ya Allah, mbak. ” Rahmat menjatuhkan handphonenya dan membuat Hajar yang baru masuk ke kamar terkejut.
“ Mas kamu kenapa? Ada apa kok banting handphone lagi? ” Ucap Hajar dengan penasaran. “ Dek, mbak Siti udah meninggal dunia. ” Sontak saja Hajar terkejut dan pingsan.
“ Ya Allah dek, Pak... Bu, ” Ucap Rahmat dengan menggelegar suaranya di penjuru ruangan.
Pengawal dan pelayan pun berbondong-bondong masuk ke kamar Tuan sama Nyonyanya. “ Mang, tolong panggil Dokter Edi, mang. Semuanya bubar, mang jalal dan tiga pengawal, kalian semua ke rumah mbak Siti. Urus semua pemakamannya sampai selesai, saya akan menyusul nanti di sana, jangan sampai ada yang berbondong-bondong untuk ke sana! Saya nggak mau ramai dan saya nggak akan izinkan kalian semua ke sana karena saya nggak mau ada yang membuat kericuhan di sana. Mengerti kalian semua, ” Mereka pun mengangguk dan pergi.
Yang di tugaskan Rahmat, akhirnya mereka semua berangkat dan dokter Edi baru saja sampai dan masuk ke kamar mereka. “ Maaf Tuan, apakah saya boleh memeriksa Nyonya? Tuan. ” Sebelumnya dokter Edi adalah anak dari dokter pribadi keluarga Wijaya Koesoemo. Dokter Edi adalah dokter muda yang masih lajang dan seumuran dengan anak dari Rahmat yaitu Rifa'i. “ Iya boleh, saya mengerti ilmu kedokteran jugaan. Itu semua ada batasannya jugaan, ” Rahmat mengerti semua itu dan akhirnya dokter Edi memeriksa Hajar.
Dokter Edi selesai memeriksa keadaan Hajar dan dokter Edi menghela napas dalam-dalam.
“ Begini Tuan, Nyonya cuma terkejut saja. Jantungnya agak kambuh, jadi di harapkan untuk tidak mengetahui hal-hal yang membuatnya terkejut. ” Rahmat terkejut karena selama ini Hajar tidak memberitahukan tentang penyakitnya.
“ Ya udah ed. Kamu bisa pulang, kamu tulis resep obatnya. Terus saya mau kamu cari dokter spesialis buat mengobati istri saya, ed. ” Ucap Rahmat dan Edi pun mengangguk.
“ InsyaAllah secepatnya Tuan, saya akan mencari dokter untuk Nyonya, Tuan. ” Edi memasukkan barang-barangnya. “ Maaf Tuan, nanti ada suster buat mengantarkan obatnya, Tuan. Jadi, saya izin pamit dulu. Karena pasien di rumah sakit juga banyak, Tuan. ” Ucap Edi,
__ADS_1
Rahmat pun mengangguk dan Edi pun keluar dari kamar mereka. Rahmat menunggu istrinya siuman dan akhirnya Hajar mengerjapkan matanya. “ Mas, ” Hajar pun langsung menghamburkan pelukannya ke Rahmat.
“ Eh, dek. Kamu kan masih sakit jugaan, jadi nggak boleh kemana-mana. ” Ucap Rahmat dan Hajar menggelengkan kepalanya dengan pelan.
“ Mas kita harus melihat pemakaman mbak Siti, mas. Aku masih kuat buat berjalan jugaan. ” Rahmat mau nggak mau harus menerimanya dan menggandeng tubuh Hajar yang masih lemas. Mang Darso pun menyetir mobilnya, sedangkan pasangan itu di kursi penumpang.
********
Anin tidak kuat menahan air matanya yang begitu berlarut dalam kepedihan yang dia alami sekarang. Budenya pun menggandengnya dan budenya ikut menangis. “ Udah nak, ikhlaskan saja dan do'akan ibumu biar di terima amal ibadahnya selama di dunia ini nak. Hiks, ” Budenya mengelap air matanya dengan tisu dan Anin tetap saja, air matanya mengalir begitu saja. “ Iya bude, ” Ucap Anin dengan lemas.
Semuanya pun sudah selesai dan sekarang waktunya untuk berangkat ke pemakaman.
Suara iringan pembawa jenazahnya pun bersuara dan jenazahnya pun diangkat ke dalam mobil ambulan. Hajar melihat itu tidak kuasa menahan tangisannya dan menangkupkan wajahnya ke dalam dada Rahmat. Anin pun sama memeluk bude Wati, bude Wati mengelus-elus punggung Anin.
Semuanya pun berangkat, Anin dan bude Wati gabung di mobilnya Rifa'i. Di sana ada pakdenya, pak Rwanda, Rifa'i, bu Shanty, bude Wati, dan Anin. Mereka pun berangkat dan beberapa menit, akhirnya sampai di pemakaman. Anin pun turun dibantu oleh bu Shanty dan bude Wati.
Setelah begitu do'a pun di pimpin oleh Pak Haji Ahmad sebagai Kyai. Setelah semuanya selesai, akhirnya semua pulang. Tinggalah keluarga dan mereka pun mendoakannya kembali.
Akhirnya selesai dan Anin pun berjalan bersama budenya, bu Shanty sudah pulang duluan tadi. Tinggal Bude Wati, Pakde Edi, Rifa'i, dan Anin.
Mereka pun membasuh kakinya dan tangannya di makam. Akhirnya mereka pun masuk ke dalam mobil, Anin yang tubuhnya lemas pun di kasih minyak kayu putih. “ Nak, kamu istirahat dulu ya. Nanti bude akan bangunkan kalau udah sampe. ” Ucap bude Wati. “ Bude, itu di belakang ada selimut sama bantal bude. Biar Anin bisa nyaman istirahatnya. ” Ucap Rifa'i sambil menyetir mobilnya.
“ Iya, ” Bude Wati pun mengambilkan bantal dan selimutnya. Anin pun tidur di paha budenya dan bude Wati mengelus-elus rambut Anin.
“ Oh iya Pak, itu minum dulu Pak. Kasihan Anin Pak, mukanya pucet. Nak tolong berhenti di apotek dulu nak, beli obat untuk Anin. ” Pak Edi mengambilkan air mineralnya dan Rifa'i memberhentikan mobilnya di apotek. Rifa'i membeli tolak angin dan pocari sweet. Dengan cepat, akhirnya Rifa'i kembali ke mobilnya.
__ADS_1
“ Ini bude, ” Rifa'i pun menyerahkan obatnya tersebut dan duduk di kursi kemudi. Rifa'i pun menjalankan mobilnya dengan kecepatan rata-rata. Bude Wati meminumkan pocari sweetnya dan Anin bangun dari tidurnya.
Sampailah Mereka di rumah dan di sana cukup ramai. Membuat Anin di boyong ke rumah bude Wati. Sampailah di rumahnya, Anin pun di gendong oleh Rifa'i dan di letakkannya tubuh yang kecil tersebut di ranjang. Rifa'i mengulas senyuman dan mengecup pelan kening Anin.
“ Sabar ya yang, aku akan selalu menemanimu sampai kita akan di jemput di pangkuan Allah SWT nanti. ” Rifa'i pun mengelus-elus rambut Anin dan tangannya.
Bude Wati masuk membawa bubur hangat dengan teh hangat. “ Nak, kayaknya nak Anin belum makan. Jadi, kamu suapi aja ya nak. Bude mau ke sana lagi soalnya banyak tamu. ” Ucap bude Wati meletakkan nampan itu di meja. “ Iya bude, maaf merepotkan bude. ” Ucap Rifa'i dengan tidak enak hati kepada budenya.
“ Iya nggak papa, ” Ucap bude Wati dengan begitu bude Wati mencium kening Anin dan mengelus kepala Anin. “ Cepat berlalu ya nak... Bude juga tau itu akan pahit dan pedih jika kehilangan ibu. Yang membesarkan dan melahirkan serta mengandung selama sembilan bulan nak. ” Ucap budenya di dalam hati, Rifa'i pun menyalami tangan budenya. “ Ya udah, di jaga baik-baik. Assalamu'alaikum, ” Ucap budenya.
“ Waalaikumsalam, ” Ucap Rifa'i.
Bersambung
Jangan lupa Like dan Komen positif
Mampir yuk!!! Di instagram,
@dindafitriani0911
•
•
•
__ADS_1
# Terima kasih... Lop-lop....