Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 12. Mati Tertancap


__ADS_3

Assalamu'alaikum, balik lagi!!!


🌷Happy Reading 🌷


2 Pengawal yang tadi, akhirnya mereka laporan dengan Rifa'i. “ Ehm, maaf Tuan mengganggu. Saya mau laporan, kalau Nona menutup pintu dengan keras, Tuan. ” Ucap Riko dan Rifa'i menyemburkan es lemon teanya ke wajahnya Riko.


“ Apa? ” Ucap Rifa'i dengan nada keras dan berlari menaiki tangga, melangkah ke kamarnya. Rifa'i masuk ke dalam kamar dan memandang Anin tidak ada di kamar berarti di kamar mandi. Pikirnya,


Sedangkan Riko dan pengawal pun tidak memasalahkannya, Riko akhirnya menerima dan mengganti bajunya. Sebelumnya tidak Terima dia, tetapi urusannya sama bos mereka. Bisa-bisa semuanya hilang dan tidak di gaji sama Rifa'i.


Rifa'i melangkah ke kamar mandi dan mendorong pintu kamar mandi, ternyata di kunci. “ Yang, buka pintunya. Apa aku dobrak ini? Kamu kenapa yang? ” Ucap Rifa'i dengan menggedor-gedor pintunya.


Akhirnya Anin membuka pintunya dan menampar pipi Rifa'i. 'plak' bunyi nyaring suara tamparan tangan Anin ke pipi Rifa'i. “ Apa mas, mau apa kamu? Hwa-hwa, ” Ucap Anin memukul dinding dan menangis histeris.


“ Yang, kamu kenapa? ” Ucap Rifa'i dengan bingung. Karena Anin menampar wajah Rifa'i dengan cukup keras. “ Mas, kamu itu jadi laki-laki. Nggak tau diri dan nggak peka, udah tau aku beberapa hari ini ingin membuang moodku untuk bahagia. Tetapi, hari ini di hancurkan dan melebur tidak sesuai dengan kenyataannya. ” Ucap Anin. Membuat Rifa'i membelalakkan matanya, “ Maksudnya apa? ” Ucap Rifa'i di dalam hati.


Rifa'i memegangi pipinya yang cukup panas sekali karena tamparan Anin sedikit keras.


“ Hwa-hwa, aku mau pulang ke rumah bude aja. Daripada di sini nggak dianggap. ” Ucap Anin dengan menangis dan Rifa'i mencegah tangan Anin, Rifa'i pun memeluk Anin. Anin memukul dada bidang Rifa'i dengan keras. “ Aku udah nggak kuat, kamu itu jadi laki-laki tidak ada gunanya. ” Ucap Anin dengan terisak dan akhirnya semua kata-kata yang membuat Rifa'i marah. “ Kamu itu sebenarnya kenapa? Tiba-tiba tampar pipiku. Aku butuh penjelasan bukan butuh tangisan kamu, ” Ucap Rifa'i dengan nada dingin dan mencekal tangan Anin dengan keras.


“ Kamu nggak sadar apa? Kamu itu laki-laki b***t, nggak tau diri. ” Ucap Anin dengan mengeluarkan kata-kata kasar. Membuat Rifa'i semakin muak dengan kata-kata Anin.

__ADS_1


“ Kenapa? Aku itu butuh penjelasan bukan begitu. Apa salahku? Ha, apa? ” Ucap Rifa'i sambil memedam amarahnya. “ Ya, tadi kamu becanda dengan pelayan mu itu, yang nggak tau diri. Semuanya, ” Ucap Anin. “ Ya Allah yang, semuanya itu, salah paham kamunya yang. Aku nggak pernah namanya jatuh cinta dengan seseorang yang belum aku cintai yang. Tanpa terkecuali istriku sendiri, ” Ucap Rifa'i dengan tersenyum kembali dan Anin pun menjadi bingung.


“ Ha, apa kamu bener mas? Aku nggak akan maafkan kamu, sebelum kamu belikan aku somay. ” Ucap Anin dengan tertawa di dalam hati. “ Ha apa yang? Kamu ini nge-prank aku ya, awas aja nanti malam. Bisa 100 ronde, nggak berhenti pokoknya. ” Ucap Rifa'i dengan tersenyum. “ Oh gitu ya, ya udah kalau gitu. Sampai 100 hari kamu nggak akan bisa menyetuhku dan nggak boleh satu kamar sama aku. ” Ucap Anin dengan senyum liciknya dan tidak akan kalah dengan Rifa'i. Rifa'i mendengar itu semua seperti menyerah saja dalam hidupnya, karena perkataan tadi membuatnya ingin mati tertancap perkataan Anin.


“ Eh, kok gitu yang. Iya udah, kalau gitu aku suruh pelayan dulu buat belikan somay nya. ” Ucap Rifa'i dan membuat Anin melototkan matanya. “ Hm, siapa yang menyuruh kamu untuk membelikan somay? ” Ucap Anin melipatkan tangannya di dada. “ Hehehe, yang lagi males mau pergi. Soalnya panas yang di luar, ” Ucap Rifa'i. Akhirnya Anin mengambil tindakan yaitu mengangkat tangannya dan bersiap-siap untuk memukul Rifa'i.


Dengan cepat Rifa'i berlari dan menuruni tangga. Akhirnya Anin tertawa cekikikan di kamar. “ Aduh bisa aja kena prank. Whahaha, ” Ucap Anin dengan terpingkal-pingkal sampai Anin tersungkur di ranjang.


“ Untung aja nggak di lantai, aduh pasti kualat sama suami ini. ” Ucap Anin dengan menyeret kakinya ke sofa dan menengok ada panggilan tidak terjawab di handphonenya Rifa'i.


“ Siapa ya? ” Ucap Anin dan Anin pun tidak memikirkan jauh-jauh. Akhirnya, Anin turun dari kamarnya dan menuju ke dapur. Anin mengambil cemilan di sana, ternyata habis semua. “ Eh maaf Bu, mau tanya, ini cemilan dikulkas kok nggak ada bu? ” Tanya Anin kepada bibi Ijah. “ Eh iya non, maaf itunya habis. Tinggal makanan Tuan aja yang masih non, itu di ruang tamu non. ” Jawab bi Ijah.


Anin pun mengangguk dan membuat teh untuk dirinya sendiri. “ Bi gulanya ada dimana?” Tanya Anin dan bi Ijah tidak mendengarkan karena bi Ijah mengucurkan kran. Anin mengambil toples yang berisi garam dan dia tidak tau kalau itu garam. Soalnya bentuknya seperti gula, Anin pun mengaduknya dan meletakkannya di meja makan. “ Ehm, bu ada pisang nggak? ” Tanya Anin dan bi Ijah mengangguk dengan mematikan krannya. “ Itu ada di lemari es, adanya pisang buah Non. ” Jawab bi Ijah dengan membersihkan dapur.


Anin membuka kulkas dan mengambil pisangnya. “ Uh ini kayaknya dingin, tapi nggak papalah. Jugaan panas begini, ” Akhirnya Anin menutup kembali kulkasnya dan membawa pisangnya ke meja.


Rifa'i yang baru pulang dari beli somay, akhirnya menuju dapur dan langsung menyomot tehnya Anin. Dengan begitu Rifa'i menyemburkan tehnya, “ Buah... Ih, bi ini teh apa teh? ” Ucap Rifa'i dengan melototkan matanya ke bi Ijah.


“ Eh mas, kamu udah pulang. Kenapa kok minum air banyak? ” Tanya Anin yang melihat Rifa'i minum air putih sampai lantai penuh dengan air. Anin yang membawa pisang pun di letakkan di meja makan.


“ Ini teh yang buat siapa? Rasanya kaya buat mati rasa, ” Ucap Rifa'i dengan mengelap mulutnya sama sapu tangannya. “ Emang kenapa? Yang buat aku, ” Jawab Anin dengan mengupas kulit pisangnya. “ Ha, beneran yang. Aduh asin banget rasanya, pengen jauh-jauh, udah lah bi Ijah buang itu. Buatin yang baru aja bi, ” Ucap Rifa'i dengan minum air putih lagi dan bi Ijah pun mengambil gelasnya. Dan bi Ijah langsung membawanya di tempat cuci piring.

__ADS_1


“ Hm, maaf mas. Tadi aku udah tanya sama bi Ijah tapi nggak di jawab. Ya udah, aku ambil aja, soalnya bentuknya sama kayak gula. Jadi, aku nggak tau kalau itu garam. ” Ucap Anin dan Rifa'i mengangguk.


Rifa'i memutar arah dan mendekati Anin. Rifa'i menyuruh Anin untuk duduk dan Rifa'i mendaratkan bokongnya di kursi sampingnya Anin. “ Iya, nggak papa. Maafkan mas juga, yang. Soalnya marah-marah, karena tehnya, ya udah kalau gitu somay nya di ambil itu. Mau makan somay nggak? Jangan nangis! Udah... ” Ucap Rifa'i dengan nada begitu lembut.


Anin akhirnya mengambil somay nya dan meletakkannya di piring. Akhirnya mereka pun memakan somay nya.


Dengan begitu menjadi pemandangan bagi pelayan yang membersihkan lantainya.


Bersambung


Jangan lupa like dan komen positif ya!!!!


Mampir ke instagram yuk!!!!


@dindafitriani0911




__ADS_1


#Terima kasih


__ADS_2