Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
–S2– Episode 60. Tak Taunya... Eee


__ADS_3

Happy Reading


Setelah masuk CEO itu mengingat-ingat siapa perempuan ini, sepertinya pernah bertemu.


Oh, iya dia pernah bertemu dengan perempuan ini. Yang tidak sengaja ia tabrak pas di rumah makan hari apa itu.


"Ulfa ini siapa?" Tanya Anin dengan bangun dari brankar, memegang kepalanya yang sedikit pusing.


"Ehem, perkenalkan saya Aksa." Jawab Aksa.


Aksa Mirza Raditya, seorang CEO dari perusahaan yang Anin garap menjadi karyawan di sana. Anin tersenyum miring dan melirik Ulfa yang gelagatnya ketakutan sampai Anin ingin bertanya.


"Iya, kenalkan saya Anin Pak. Maaf kalau saya tadi merepotkan bapak," ucap Anin dengan tidak enak hati.


"Nggak papa, saya juga inginnya membantu. Baiklah kalau gitu kamu pulang dulu istirahat, 'kan nanti kalau sudah sembuh bisa bekerja seperti biasanya." Ujar Aksa


"Kok bapak menyuruh saya untuk pulang, saya 'kan masih ada pekerjaan di kantor. Bukannya bapak client kantor dan ingin membicarakan soal project yang masih di bangun?"


Aksa menggeleng, "Bukan, saya ini CEO dari perusahaan yang kalian kerjakan sekarang. Jadinya, saya berhak untuk mengendalikan atas semua aset ataupun pekerjaan karyawan saya sendiri. Bukannya, peraturan kantor kalau ada seseorang yang sakit itu tidak boleh bekerja dan harus mengambil cuti tiga hari." Ucap Aksa, membuat dua orang itu tercekat dengan perkataan Aksa yang beberapa menit jadi angin sekarang.


"Hah, berarti bapak CEO perusahaan itu." Ucap Anin dengan memastikan apakah benar atau salah kalau Aksa CEO perusahaan yang dia kerjakan sekarang.


"Yah, saya ini CEO kalian. Yang kalian tahu pasti kalian tidak percaya dengan saya, iya kebanyakan orang yang saya temui dan bekerja sama dengan saya orangnya sudah mempunyai anak sama istri, tapi saya di sini juga sudah siap mengarungi dunia kebisnisan. Bukan berarti muda nggak boleh di garis terdepan," Iya tak iya juga, Ulfa penuh pelik dari tadi. Apa yang di pikirkan sejak tadi?


Anin menepuk bahu Ulfa dan Ulfa hanya termenung. "Ulfa, kamu kenapa?"


Ulfa baru sadar kalau Anin, temannya ini bertanya. Ulfa memikirkan motornya sejak tadi, motornya belum ia setang terus kunci motornya saja masih menempel di motor. Motornya hilang atau di rusak oleh karyawan lain, bagaimana?


"Pak, tolong antarkan saya ke kantor dulu ya Pak! Nanti saya akan dimarah sama Pak managernya gimana? Saya saja dapat pekerjaan udah untung-untungan ini. Masa iya saya harus dipecat." Ucap Ulfa dengan memohon agar Aksa menganggukkan kepala dan mengantarkan Ulfa ke kantor kembali.


"Udah tenang aja, masalah motor kamu ada yang mengurusnya kok. Saya akan tanggung jawab, karena sejak tadi saya lihat kamu memikirkan motor kamu itu 'kan." Ulfa membuang napasnya lega, ini orang bener-bener baik di luar dalam, apa cuma pasang muka? Eeh, nggak baik kayak gitu. Nanti bisa aja nggak terima, nanti Ulfa yang di santet secara pelan-pelan.


"Wah, emang ini si Sio nya bener-bener ngerti apa yang di bicarakan di hati. Apakah Pak Aksa mempunyai mata batin atau instingnya yang lewat dan begitu lewat, langsung nangkap pelajaran instingnya." Ucap Ulfa di dalam hati.

__ADS_1


"Saya boleh mengajak kalian untuk makan siang hari ini saja, kita boleh saling mengenal. Bukannya saya lancang atau pun mengajak kalian tanpa alasan. Saya ingin mengenal dan sesama karyawan harus saling mengenal." Anin memberikan kode kepada Ulfa, dia mencubit pelan tangan Ulfa.


"Iya Pak boleh kok." Jawab Ulfa, Anin membelalakkan matanya dan menggeleng pelan ke arah Ulfa.


"Kalau nggak mau juga nggak papa, saya akan langsung mengantarkan kalian pulang ke rumah. Saya juga banyak pekerjaan nanti," ucap Aksa dengan menyunggingkan senyuman. Senyumannya itu bikin meleleh dan adem buat Ulfa. What? Tidak, tahan Ulfa!


"Jangan Pak! Saya juga mau kenalan, apa lagi kalau makan gratis di bayarin sama atasan lagi. Bikin kantong tebel lagi Pak," sungguh memalukan ini teman. Karyawan macam apa ini?


Anin diam seribu bahasa.


Ulfa bener-bener bikin moodnya hancur dan malunya itu bikin orang gertak dianya sendiri. Kasih timpukan karung biar nggak memalukan.


"Bisa jalan sendiri 'kan nin?"


pertanyaan macam apa ini? Ya Allah Anin harus sabar dan mengelus hatinya hari ini.


***


"Mas, mau makan?"


"Iya. Laper ini perutnya," jawab Rifa'i


Putri mengambilkan sepiring nasi dan lauk-pauk yang sudah menutupi nasinya. Rifa'i menarik lidahnya dan Putri menyerahkan piringnya.


"Ini sendoknya," Putri mengambilkan sendok, lalu dia menyerahkan kepada Rifa'i.


Rifa'i dan Putri memakan makanannya dengan satu piring berbarengan.


"Maaf mas, mbak. Ini minumannya kalau haus, katanya Pak Revino nanti selesai makan di suruh dandan lagi. Pakai pakaian simpel dan estetik, pokoknya wedding organizernya sudah siap." Ucap orang yang bertanggung jawab tentang wedding organizernya.


"Oke, Pak." Jawab Putri, mengambil selembar tisu dan mengelapkan ke tepi bibir Rifa'i.


***

__ADS_1


"Wah, nggak pernah makan di sini." Bisik Ulfa


"Hem, sama." Jawab Anin dengan ketus, yang bahagia Ulfa, sedangkan Anin dari tadi cemberut saja. Tidak ada tersenyum sedikit yang terukir di bibirnya.


Aksa di belakang, mengikuti bagaikan layaknya seorang bodyguard yang menjaga dua perempuan ini.


"Wiiihhh... Mahal juga ini nin, nanti kalau nguras hartanya Pak Aksa gimana? Terus, kita dikatakan korupsi atau--"


"Udahlah kamu ini, bikin malu terus kalau bicara itu di jaga. Kita itu di depan CEO bukan di depan suami sendiri, jaga sikap lah! Jangan kayak anak kecil gitu!" Ucap Anin memberikan nasehat agar si temannya satu ini menjaga tata cara ucapan maupun tingkah lakunya.


"Iya-yah, bawell..." Anin memutar bola matanya dengan malas, menghadapi Ulfa bikin pusing tujuh keliling, mending punya anak sepuluh daripada menghadapi Ulfa layaknya bocah.


Yang bawel siapa? Anin yang di salahkan.


"Kalian boleh pilih-pilih dulu, saya mau bertemu dengan seseorang. Karena ini juga menyangkut pekerjaan kalian." Aksa pergi, mereka menatap nanar demi apa harus menuruti perkataan sangat CEO.


"Ihhh... Bener juga 'kan dugaan ku, kalau Pak Aksa itu pasti ada muka busuk di belakang. Kamu ini main terima-terima saja tadi. Terus, nanti kalau kita di pecat, harus bilang apa nanti? Pakde dan Bude ku yang ada marah Ulfa." Ucap Anin, Anin malas bertemu dengan atasan. Musti, dia harus sabar dan menghadapi semuanya.


Ulfa orangnya mudah percayaan kata orang. Mau jualan minyak wangi dengan harga dua puluh juta pun dia beli, asalkan embel-embel yang mempengaruhinya.


"Ya 'kan nggak tau nin, coba tadi Pak Aksa bilang. Pasti aku tolak nin," sesal Ulfa.


Aksa membawa seseorang, Anin dan Ulfa tidak tau dengan wajah orang itu, sepertinya mereka pernah mengenalinya tapi entah dimana?


Anin terkejut dan membelalakkan matanya sampai lebar-lebar, menutup mulutnya agar tidak ada serangga yang masuk ke dalam mulutnya.


"Astagfirullahalazim..." Ucap mereka berdua, orang itu menyunggingkan kepalanya dan tersenyum melihat mereka berdua melongo.


Bersambung...


Jangan lupa Like dan Komennya yah 😊😊😊


Terima kasih 🙏💕

__ADS_1


__ADS_2