Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
Season 3- Episode 83


__ADS_3

Anin, perempuan itu habis mengasihkan asinya untuk putranya yang tadi menangis kencang sampai tidak bersua.


Perempuan itu tak menyangka, putranya menangis kencang. Ia sampai mengeluarkan air matanya dan menenangkan putranya.


Ada suara ketukan pintu, Anin menjawab dengan deheman dan laki-laki itu suaminya ternyata. Habis pulang dari kantor, Aksa pun berjalan sembari menggerakkan tubuhnya.


Aksa melihat istrinya yang sedang memunggungi dan suara ringisan lolos keluar dari mulutnya.


“Nggak papa, nin?” tanya Aksa yang melepas jas kantornya, ia harus ke kantor tadi sebab ada sedikit masalah. Dan ia tadi mengurus hewan kurbannya, yang akan dikurbankan esok hari dan hari ini para pekerja diharapkan untuk puasa.


Anin yang ditanya seperti itu buru-buru menghentikan aktivitasnya, sepertinya putranya ini sudah memejamkan matanya.


“Nggak mas,” Jawab Anin yang menutup dadanya kembali dengan kerudung rumahan dan Aksa yang melihatnya ketar-ketir sendiri, ia menelan saliva.


Aksa tak pikir panjang, alangkah baiknya ia mandi.


Aksa berjalan ke kamar mandi, untuk mandi karena badannya sudah lengket dan bercampur bau keringat. Aksa sebelumnya mengambil air minum yang ada di meja, entah itu bekas mulut siapa yang penting haus bisa agak sedikit terobati.


Aksa menegak habis, karena haus sekali tadi. Mau mampir ke restoran tidak jadi sebab ia memikirkan istrinya di rumah, masa iya dia enak-enak di luar istrinya mengurus anaknya.


Aksa lanjut ke kamar mandi melakukan rutinitas mandinya.


Anin, perempuan itu beranjak dari ranjang. Ia sedikit kelelahan sebenarnya, mau tidur saja suara rengekan dan tangisan menggema, jadi alangkah baiknya ia mengistirahatkan dulu tubuhnya di sofa.


Ia melebarkan kakinya dan merasakan sensasi, ia menatap langit-langit kamar.


“Hm, besok udah lebaran. Ya, berarti harus masak hari ini buat buka puasa sama lebaran besok, oh iya kok lupa nyuruh mas Aksa buat beli kue tadi. Mau bikin nggak sempet,” ucapnya diselingi helaan napas.


Ia sempat mau titip kue tapi terlambat sudah sebab Aksa cepat-cepat ke kantornya.


Suaminya itu puasa hari ini dan kemarin katanya mau puasa, eh malah ketiduran sampai pagi. Jadi, gantinya sekarang.


Anin menatap gelas bening yang ada di kaca, matanya membulat.


Ia meraih gelas kaca bening itu, ia sempat terheran dengan gelas yang pertama berisi air penuh, sekarang kok bisa itu habis tak tersisa. Perempuan itu menatap pintu kamar mandi, pasti ini semua suaminya. Padahal ia sudah rela buat ke dapur mengambil air minum, eh kok ya dihabiskan suaminya.


”Ya udah lah, ambil lagi.”


Anin beranjak pergi dari kamar, mumpung putranya itu masih menutup matanya dan ia sedikit menoleh ke belakang, di ranjang itu. Putranya masih anteng dan ia terkikik geli, ia pun keluar dari kamar.


Untung saja kamarnya tak jauh dari dapur, jadi nggak susah buat jalan jauh ke dapur.


Anin sampai di dapur dan ia berjalan ke arah meja makan, matanya menyipit ketika ada selembar kertas serta di sampingnya sedikit tidak terbentuk kertasnya dan di atasnya amplop.


Anin memegang gelas itu meletakkan di atas meja dan sedikit menjauh dari amplopnya, ia memindahkan ke samping dan meraih kertas itu.

__ADS_1


Membalikkan kertas itu, di saat itu pula suara teriakan mamah mertuanya yang dari pintu utama dan Anin tak jadi membaca kertas itu.


Anin beralih tatapannya, di mana si mamah mertua yang membawakan beberapa bingkisan dan di belakangnya ada papah yang membawakan beberapa plastik. Begitu banyak barang yang dibawa, Anin tersenyum terus ia melangkah lebih dekat.


Mamah Aksa menyambutnya dan membalas tatapan Anin.


Mamah Aksa itu meletakkan barang-barangnya di atas meja makan, Anin menyalami mereka berdua. Mamah Aksa membalas dengan pelukan juga, saat itu Anin merasakan ada yang basah di bajunya. Sepertinya ia akan memeras susu untuk anaknya, buat stok dan biasanya pengawetan diletakkan di kulkas. Entah itu benar apa nggak, soalnya dia nggak tahu dan pernah ada kata yang ia pahami sebenarnya.


Tapi, sebaiknya Anin menanyakan itu kepada mertuanya yang sudah berpengalaman, soalnya kalau ada sepupu Aksa yang main ke rumah dan mertuanya itu selalu memanjakan dalam segi apapun walaupun itu sepupu angkat.


“Nin, mamah kangen lho sama kamu.” Baru beberapa hari yang lalu bertemu, ini kali keduanya mamah dan menantu ini bertemu dan Anin tak mempermasalahkan.


Orang sibuk mana bisa diganggu gugat, Anin memaklumi saja. Ia mengangguk, “Pah, duduk dulu! Mamah juga,” Anin mempersilakan mereka untuk mengikuti Anin ke ruang keluarga yang lebih luas.


Mereka duduk di sofa, Anin sambil menyiapkan makanan serta minuman untuk mertuanya. Namun, mertuanya sempat tidak memperbolehkan dan Anin dasarnya keras, jadi mau nggak mau mereka menuruti.


Sementara Aksa---pria itu mengeringkan rambutnya, dari kamar mandi itu masih menggunakan bath-rope dan ia sambil bernyanyi, tanpa sadar matanya berkeliling. Memandang malaikat kecil itu yang ditinggal di sana sendiri, Aksa meletakkan handuknya di tempatnya dan melihat putranya itu sendiri, dia memilih untuk menunggu putranya.


“Ditinggal ya, nak? Huhuhu .... kacian,” Aksa menggendong putranya yang mengedipkan matanya. Ntahlah di dalam hatinya mungkin ini bapaknya beneran? Kok nggak mirip, ya putranya ini selebihnya mirip ibunya sendiri alangkah beruntungnya, padahal yang tanam benih siapa.


Kok jadi mirip istrinya, siap-siap nanti kalau sudah besar mau nyaingin ayahnya sendiri.


Aksa menimang dan sambil melihat pemandangan di luar, di sana memang dekat sekali dengan taman. Sudah menjadi draft dari Aksa dan Anin jika kamar mereka akan berada di sekitar taman, biar agak nggak jauh banget buat jemur anak-anaknya nanti.


Lelaki itu membuka pintu yang ada menunjukan ke taman itu, dan sampai beberapa kali menertawai putranya yang mengeluarkan liurnya, ia membawa tisu untuk mengelap.


“Oke, sekarang kita ada di taman. Nanti kalau udah gede bisa ke taman yang lebih besar dan ada binatangnya, biar putra ayah ini bisa belajar.” Ucapnya dan mengelus pipi gembul putranya.


Beberapa hari di rumah, membuat putranya itu semakin gembul dan bisa dikatakan anaknya ternutrisi dengan baik.


Iya masa mau ditelantarkan.


Aneh, satu kata buat Aksa.


Aksa mencium pipinya, yang bau minyak telon membuat dia semakin candu buat menciumnya dan ia mengunyel pipinya sampai merah dan putranya itu merengek, lama kelamaan putranya mengeluarkan liquid bening yang keluar dari kelopak matanya.


Sontak Aksa bingung, sukses membuat putranya menangis.


Aksa menimang putranya, memukul pelan pinggul anaknya itu.


Sampai di mana di situ putranya itu menangis kencang, ia pun sampai tersandung-sandung mau ke dalam kamar lagi dan menemui istrinya yang keluar kamar, ntah itu kemana. Yang penting ketemu, makanya jangan sok-sok an mau ngurus kalau ujungnya di kasih maknya.


Ia tak sadar jika masih menggunakan bath-rope, mau ganti tapi ini anak nggak bisa diajak kerja sama jadi baiknya ia keluar dari kamar menuju dapur. Tidak ada siapapun, ia mendengar suara obrolan dari ruang keluarga, masalah mau ada orang itu dipikir terakhir.


Sampai di ruang keluarga, ia membeku tapi suara nangis putranya tak dikondisikan lagi semakin bertambah kencang dan obrolan di sana pun terhenti. Anin, wanita itu sedang asyik ngobrol berjengkit kaget dan ia langsung mendekati suaminya itu, memandang sedikit sinis.

__ADS_1


Anin mengambil alih gendongannya, Aksa matanya tak henti-henti menatap orang tuanya dan deheman istrinya untuk dirinya akhirnya Aksa sadar jika ia begini keadaannya dan ia kembali ke kamar dengan langkah sedikit dipercepat.


Kedua orang tua itu tertawa pelan, bisa-bisanya nggak sempet buat ganti baju dan Anin menimang, tapi tetap saja putranya ini menangis dalam gendongannya.


“Mungkin buang air kecil nak,” ujar mamah mertuanya itu yang mendekati Anin, Anin mengerutkan keningnya dan betul saja jika popoknya merembes buang air kecilnya itu.


“Hancing ya nak, hohoho... Iya, bentar!” Anin tiba-tiba begitu, sebenarnya dia itu tidak bisa yang namanya bisa berdekatan ke anak kecil, nggak bisa buat anak kecil itu jatuh ke pandangannya. Ia cuek nggak peduli orangnya.


Iya tapi ia harus menerima keadaan sebenarnya jika ia sudah menyandang gelar sebagai ibu untuk putranya selamanya, sampai ke surga di bawah telapak kaki ibu.


Penerus masa depan ayahnya dan bisa menjadi panutan untuk adek-adeknya.


Anin menggantikan popoknya, untung saja suaminya membawakan popoknya tadi. Mau di pampers takut iritasi bukan pengiritan.


Selagi masih bisa pakai popok kenapa nggak pakai popok.


Setelah wangi, ia tadi membaluri tubuh putranya dengan minyak telon agar menutupi bau bekasnya dan Anin selesai memakaikan, malah putranya diambil alih oleh mamahnya Aksa.


Mau apa juga, mamah mertuanya itu belum memegang putranya dan dari lahirnya putranya ini, mamah sama papahnya lagi perjalanan bisnis. Mau nggak mau harus menunda sana nggak bisa menemani menantunya yang lagi lahiran.


Sama seperti bude dan pakde, pakde ada launching proyek di luar kota selama seminggu, nggak mungkin kalau bude nggak diajak jadi bude dan pakde kemarin ke sininya.


***


Sementara lelaki tua itu memegang kursi kerjanya dan menatap layar laptop, ia sekarang ada di rumah istrinya. Eh bukan melainkan istri yang nggak sah kalau menurutnya, hanya sebatas satu rumah dan satu tempat tinggal.


Lelaki tua itu sebenarnya mau pulang ke mansionnya, tapi ayah angkat istrinya itu menyuruh untuk menahan agar tidak pulang terlebih dahulu. Ada suatu rahasia yang tersimpan apik dari balik wajah mereka.


Pastinya Revino tak kelewatan untuk berita ini, ia saja tidak sabar menunggu ayah angkat perempuan itu.


Revino tak fokus, ia sesekali menatap foto bayi yang ada di atas meja itu. Bayi yang cantik, menggunakan bando di kepalanya dan Revino mengelus foto itu.


“Nak, ayah emang peng*cut ya. Nggak berani buat ngomong yang jelasnya gimana.” Lelaki itu menghela napas, kapan ia bisa mendapatkan kepercayaan untuk menjadi seorang ayah di sisa kehidupannya.


 


Woke, dah up lagi ya?


Huhu maaf kalau lama upnya, ya gini putus idenya kalau mendekati end itu, uh gimana sabar nggak nunggu eps end?


Hehhehe, tinggal 3 bab lagi mungkin menuju end dan harus siap berpisah yah.


Mungkin nanti ada sekuel buat Anin dan ayahnya, apa mungkin Anin bisa memaafkan ayahnya dan menerima kehadiran ayahnya?


Sekuelnya cuman beberapa bab doang, tapi entah itu kapan. Saia mau fokus ke novel anaknya Aksa sama Anin dulu di ijo, baru nanti saia kerjain kalau sempet 😂.

__ADS_1


Oke makasih-


__ADS_2