
Happy Reading
Membuat Bude tercengang sekarang adalah bagaimana bisa papah Rahmat di sana? Dan menemani anaknya untuk menikah, bisa-bisa ini membuat kabar hot untuk Anin ini.
Bude mengambil handphone di samping TV, karena ia cas tadi. Memegang gagang handphone dan Pakde mencegahnya.
"Kamu mau apa?" Tanya Pakde, membuat Bude menurunkan tangannya. Tidak bisa berbuat apa-apa kalau suaminya sudah marah dan tidak bisa dikendalikan yang ada.
"Aa-nn-uuu Pak, bapak mau telepon Anin... Mau suruh dia buat belikan buah di pasar tradisional, katanya di sana murah-murah gitu Pak." Ucap Bude mengalihkan pembicaraan daripada berurusan dengan Pakde nanti takutnya dihukum atau dikasih nasehat begitulah yang membuat bude merasa salah.
"Ooh gitu, tadi mana kopinya?"
"Itu ada di meja makan, di sana ada pisang juga. Tadi, sekalian buat pisang goreng."
Bude tadi buat pisang goreng nyambi nonton TV, dengan kata berantakan, sampai meja ke meja kotor kena terigu.
"Lah, bukannya nonton TV tadi... Kok bisa buat pisang goreng." Tanya Pakde dengan menyomot pisang goreng dan memakannya.
"Hehehe, nggak kok Pak tadi ibu buat pisangnya sama nonton TV." Pakde mengangguk-angguk, tanpa marah ataupun gimana?
***
Anin di kantor, dia dari tadi bolak-balik ke toilet, entah tadi memakan apa? Perutnya mules dan bikin bolak-balik ke toilet.
"Aduuuh, gimana ini? Ulfa, tolong antarkan aku pulang yuk! Aku udah nggak tahan ini," ucap Anin. Anin menarik-narik baju Ulfa. Ulfa bingung kenapa dengan temannya ini?
"Kamu emangnya kenapa? Kok dari tadi bolak-balik ke toilet." Tanya Ulfa
"Nggak tau, makanya itu. Yuk anterin di rumah sakit terdekat aja kalau gitu, apa nggak apotek buat nangkal mulesnya!" Ulfa mengambil kunci motornya bersama jaketnya.
"Kamu tunggu aja di depan, aku mau ambil motorku di belakang itu. Jadinya, kamu nggak capek-capek buat ke sana." Ucap Ulfa, Anin mengangguk dan berjalan dengan sempoyongan.
Memegang perutnya yang sakit, dia tidak bisa apa-apa. Bibirnya saja pucat pasi, padahal makanan yang dia makan juga nggak basi.
Ulfa menjalankan motornya dan sampailah di depan, Anin sudah di dekati oleh orang-orang kantor.
"Aduh, kenapa itu Anin?" Ulfa menaruhkan motornya sembarangan arah, dia melangkah mendekati temannya itu.
__ADS_1
"Maaf kak, ada apa? Astagfirullahalazim..." Ucap Ulfa dengan melongo dan Anin di tonton oleh orang-orang di sekitar, karena badannya penuh dengan luka merah-merah.
"TIIIINNNN..." Suara mobil yang mengklakson dengan keras, karena ada motor yang menghalangi jalan mobil itu.
"Mbak, maaf itu motornya di minggirkan dulu, bos kita mau lewat." Ucap salah satu orang yang ada di sana.
"Eeh, iya lupa... Pak, ini tolong di antarkan di rumah sakit saja. Ada yang bawa mobil sekarang? Biar lebih mudah." Ucap Ulfa, mereka menggeleng dan Ulfa menghela napasnya berat.
"Mbak, mbak budeg apa gimana? Ini Pak bos mau lewat, tolong pinggirkan dulu motor bututnya itu." Ucap sang sopir dari jendela kemudi mobil.
"Ada apa sih? Kamu ini jangan teriak-teriak! Biarkan saya yang keluar," bosnya keluar dan sang sopir takut kalau nanti bosnya akan memarahi satu persatu karyawannya.
Yah, bosnya adalah CEO perusahaan ini. Dia seorang pengusaha muda dan bisa mendapatkan penghargaan yang selama ini dia impikan dari kecil. Katanya orang-orang CEO perusahaan ini bersembunyi, tapi entah kenapa sekarang CEO-nya berubah pikiran. Sekali-kali mengunjungi perusahaannya sendiri.
"Ada apa ini?" CEO belum mengenalkan diri dari perusahaan ini. Baru sekali ini menginjakkan kaki di perusahaan. Bisa-basi pun terdengar dari mulut ke mulut. CEO itu pun menghampiri Anin yang pingsan dan dengan terkejutnya dia melihat Anin badannya memar, merah-merah seperti itu. Karyawannya pada melongo sampai ada juga yang mau pingsan.
"Kenapa kalian membiarkan teman kalian seperti ini? Tolong angkat perempuan ini ke mobil saya, biarkan saya yang akan mengantarkan perempuan ini." Ucap tegas, lugas CEO-nya. Membuat orang-orang di sana tidak mendengar apa perkataannya CEO-nya.
"Kalian ini... Jangan mulai membuang-buang waktu! Waktu juga berharga, apalagi ini nyawa. Jangan di sia-siakan!" CEO menghampiri mobil yang terparkir di keadaan yang sama.
"Kamu sekarang turun, pinggirkan itu motor. Biar saya yang menangani ini semua." Sopir gelagapan, dia keluar dari pintu kemudi dan membiarkan bosnya menangani perempuan tadi.
"Siapa teman dekatnya perempuan ini?"
"Saya Pak," jawab Ulfa
"Kamu, kamu, dan kamu angkat perempuan ini ke mobil saya. Biar nanti saya yang akan tanggung jawab semuanya, kalian boleh lanjutkan pekerjaannya masing-masing!" Ucap CEO tersebut, membuat karyawan lain masuk. Yang di tunjuk laki-laki itu membantu mengangkat Anin ke dalam mobil untuk di bawa ke rumah sakit.
Sampailah di rumah sakit, laki-laki yang tadi memanggil suster untuk mengeluarkan Anin dalam mobil.
Suara gesekan brankar berbunyi dan Anin di masukkan di ruang UGD untuk di tindaklanjuti bersama dokter yang akan menangani Anin.
"Kamu temennya perempuan tadi?"
"Bukan Pak, tapi kami seruangan gitu. Tapi, temennya juga."
Ulfa duduk di kursi, menjaga jarak antara laki-laki itu. Ulfa tidak mau dikatakan nanti udah menggoda laki-laki itu.
__ADS_1
Dokter keluar dari ruangan.
Mendekati laki-laki itu, membuang napasnya sebentar dan menariknya kembali.
"Bagaimana keadaannya dok?"
"Begini, pasien tidak mengalami apa-apa. Cuma masuk angin saja dan bisa dikatakan alergi dengan makanan yang harus dihindarinya. Saya sudah membuatkan resep obatnya tadi, silakan di tebus di apotek ya! Kalau begitu saya tinggal dahulu, nanti juga suster akan berbicara kalau pasien sudah sadar." Ucap dokter dengan melangkah pergi.
"Allhamdulilah nggak kenapa-napa, untungnya saja Anin cepet ditolong, kalau nggak tadi bisa gawat seratus persen." Ucap Ulfa dengan berlebihan.
"Pak, kita masuk yuk! Lihat Anin gimana?" Ajak Ulfa, membuat laki-laki itu mengangguk dan melangkah masuk ke dalam UGD.
***
Rifa'i tersenyum melihat Putri dengan balutan khas adat Jawa itu, pernikahannya tidak seperti dulu. Cuma ada beberapa ritual saja yang dilakukan.
"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Putri dengan panggilan istimewanya. Rifa'i membenarkan posisi duduknya dan memegang pipi Putri yang lembut dengan bedak anti luntur.
"Nggak papa kok, cuma saja aku bingung sama kamu. Kenapa cantik sekali? Padahal 'kan kamu anak kandung mama Oliv, tapi cantiknya melebihi mama Oliv." Gombalan Rifa'i.
Putri mencubit pelan tangan Rifa'i yang ada balutan beskap yang pas di badan Rifa'i.
"Hahaha... Ehm Put, aku mau tanya... Papah kemana ya? Kok dari tadi nggak kelihatan selesai ijab kabul tadi." Tanya Rifa'i, dia tidak melihat papah Rahmat menemaninya sampai ritual adat pun papah Rahmat tidak ada di dekatnya.
"Nggak tau Rif, bukannya tadi papah selesai menjadi saksi nikah. 'Kan papah ngomong mau ke toilet, tapi sampai sekarang papah belum juga memunculkan belang hidungnya." Jawab Putri memakan kue bolu, untuk mengganjal perutnya agar tidak meminta untuk memakan hal yang aneh-aneh.
Tamu begitu banyak, membuat Putri dan Rifa'i kewalahan sendiri. Pada akhirnya mereka memutuskan untuk dikamar terlebih dahulu, nanti baru dilanjutkan acaranya.
Papah Rahmat sejak tadi sudah pulang dirumah, tidak mau melihat kebahagiaan terpencar di hati anaknya.
"Kenapa coba menikah dengan anak dari musuhku? Kalau nanti Revino balas dendam bagaimana? Dan akan berlanjut ke Rifa'i, anakku sendiri." Ucap Papah Rahmat mengetuk-ngetuk meja, memikirkan nasib anaknya. Yang pasti akan menjadi tumbal diantara perselisihan mereka berdua.
Bersambung...
Jangan lupa Like dan Komentar positifnya yah 😊😊😊
Udah mulai up rutin mulai besok, cerita di sebelah udah tamat.
__ADS_1
Terima kasih 🙏💕