
Happy Reading
Anin pulang, Anin masuk ke dalam rumah, tetapi ada seseorang yang mengetuk pintu dan mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam," jawab Anin dan Anin kaget ada Rifa'i bersama Putri.
"Maaf mengganggu, ini ada undangan buat kamu. Jika berkenan hadir boleh kok menghadiri acara pernikahan kami." Kata Putri yang menyeringai, dia menyerahkan undangannya dan Anin menerimanya.
"Selamat kalian sudah mau menjadi pasangan suami istri, mudah-mudahan langgeng sampai akhir hayat. Saya mau masuk dulu, saya nggak menerima tamu seperti kalian." Ucap Anin menusuk tajam-tajam, dia menutup pintu dengan keras.
"Nggak tau malu apa? Mengantarkan undangan beginian, apa maksudnya coba?" Anin jalan ke arah dapur, dia menghilangkan penatnya.
"Ada apa kamu kok marah-marah?" Bude yang baru saja melangkah ke dapur, Anin menggelengkan kepala.
"Nggak papa kok bude, cuma heran saja sama undangan ini. Baca dulu Bude! Mereka itu nggak tau malu apa?" Kesal Anin
"Siapa? Ooo ini, kamu masih cinta apa gimana ini? Hayooo ngaku. Jangan gitu mukanya!" Goda Bude, Anin mengggeleng keras.
"Bude, aku ke kamar dulu! Assalamu'alaikum, nanti Pakde pulang, Bude panggil aku saja." Anin berjalan ke kamarnya dan mengambil tas di ruang tamu, tasnya lupa dia tinggal di ruang tamu.
"Ada-ada saja Anin ini,"
"Assalamu'alaikum, Bu ini bekas siapa kok banyak tanah yang nempel di lantai."
"Waalaikumsalam... Kenapa Pak?" Pakde masuk ke dalam rumah, membuka sedikit ikatan dasinya dan menggulungkan lengan bajunya.
"Itu kok ada banyak tanah gitu, Anin kemana? Katanya tadi mau ngajak main ke restoran gitu sama jalan-jalan." Ucap Pakde, Bude mengalungkan tangannya ke leher Pakde.
"Bapak mau jalan-jalan, kok nggak ngajak ibu Pak. Bapak udah ngga sayang lagi sama Ibu? Sampai ibu di lupain, ihhhh..." Bude menarik telinga Pakde sampai memerah keadaannya sekarang.
"Ibu, sakit tau ini... Kan bapak belum jelaskan kalau ini semua permintaan Anin bukan bapak, ibu sih main narik telinga bapak. Mau copot lagi ini, sakit tau..." Pakde berdiri dan berjalan ke dapur, mengambil minum.
Pulang nggak di buatkan minum apa gimana? Malah ngomel-ngomel, Pakde sampai heran sama Bude.
"Pak, jangan marah ya! Nanti kalau bapak marah, siapa yang mijit terus siapa yang mau ndusel-ndusel bapak?"
Pakde memainkan gelas yang dia pegang dan meneguknya kembali. Pakde meninggalkan Bude yang di dapur, Anin yang keluar dari kamar ke dapur. "Bude, Pakde udah pulang?"
"Udah, lagi mandi orangnya. Tunggu dulu di sini, nanti juga orangnya ke sini."
"Oke Bude."
__ADS_1
"Emang kamu mau kemana nin?" Tanya Bude sembari menghidupkan tombol on di remote TV.
"Nggak kemana-mana, cuma mau jalan-jalan saja Bude. Bude mau ikut? Kalau Bude mau, boleh kok nanti sekalian kita makan bareng di luar." Ucap Anin, Bude langsung memegang tangan Anin. Memastikan benar atau tidak?
"Yang beneran Anin?"
"Hm, kalau Bude nggak mau, nggak papa."
"Mau, oke Bude mau siap-siap dulu."
"Ha iya..." Anin terfokus dengan film di TV, menurutnya lucu dan kocak.
Bude langsung menerjang ke kamar dan seperti orang kegirangan, mendapatkan hadiah.
***
Semuanya sudah siap, Anin menatap jalan yang macet, banyak orang yang mengeluh kalau keadaan macet seperti ini. Biasalah kalau sore itu jadwalnya orang pulang dari kerja.
Sampailah di restoran, Anin keluar dari mobil dan mereka berjalan masuk ke dalam restoran.
"Wah bagus juga Pak ini tempat makannya, ibu mau ke sini sering-sering." Ucap Bude dengan menatap semua ruangan, klasik dan modern.
"Mau ajalah yang penting kan kita makan bayar udah. Kan nggak ngutang, jadinya tenang saja kalau diolok-olok, kita udah bayar ngapain juga mereka akan mengolok-olok kita Pak." Mejanya sudah tertata rapi, Anin bersama Pakde dan Budenya duduk.
Anin memesankan makanan dan minumannya yang ingin di suguhkan nanti, tinggal pilih-pilih. Nggak usah sungkan, masalah pembayaran nanti Anin akan melunasinya.
"Bude aku mau ke kamar mandi dulu ya, soalnya kebelet ini udahan." Ucap Anin, mereka berdua ngangguk-angguk.
"Aduhh... Maaf Pak, saya nggak sengaja."
Anin terburu-buru ke kamar mandinya, sampai tidak melihat siapa yang di tabrak? Ya, laki-laki yang berjas rapi dan mata tajam.
"Mari Pak!"
Mereka berjalan, meninggalkan toilet.
Setelah selesai buang air, Anin keluar dari toilet dan dia mengamati kejadian tadi, batinnya wangi dari parfumnya sepertinya laki-laki, dan bajunya sudah ketempelan dengan parfum laki-laki yang dia tabrak tadi.
"Wah, gimana ini? Sepertinya orangnya nggak mentingin tabrakannya tadi, biasanya kan ada laki-laki yang nggak terima kalau di tabrak." Anin kembali ke mejanya, Bude mengendus-endus wangi parfum yang di gunakan Anin.
"Pasti ini Bude ngendus parfumku lagi, aduh gimana ini? Parfumnya kok nggak hilang-hilang ya baunya, sampai sekarang pun aku bau parfum orang yang ku tabrak tadi lagi." Ucap Anin, ia tidak enak dan seperti yang diduga, sekarang Bude nampol ke bajunya.
__ADS_1
"Pak ini kok ponakan kita bajunya kena parfum laki-laki sih Pak, coba bapak cium deh."
"Ada apa? Cium-cium apanya? Kok di suruh cium, emang apa yang bau?" Pakde bingung dengan ponakannya satu ini, kenapa kok ketempelan dengan wangi parfum laki-laki? Apakah dipelet atau jompa-jampi lagi ini parfum, biar Anin tertarik dengan laki-laki tersebut?
"Iya kamu tadi ketemu sama siapa nin?" Tanya Pakde
"Nggak tadi itu aku nggak sengaja nabrak orang, entah itu siapa? Karena aku udah keburu di ujung batas Pakde." Jawab Anin jujur
"Apa jangan-jangan?!!"
Pakde segera menutup mulut Bude dengan makanan, menyumpalkan mulutnya Bude dengan makanan. Sungguh romantis...
"Uhukk..." Pakde menyuguhkan minuman langsung ke mulut Bude agar tidak tersedak dengan makanan yang disumpalkan Pakde tadi.
Semenjak kejadian tadi, Anin memilih diam daripada berbicara. Sampai sekarang Anin mengingat-ingat kejadian tadi, apa ada maksud dari laki-laki yang dia tabrak tadi?
"Nin, kamu kenapa kok dari tadi diam saja? Daripada diem baik-baik, mending makan ini martabak, enak lho apalagi masih anget gini." Bude menawarkan martabaknya yang merasuki di hidung Anin, lewat angin... Wussshh...
"Makasih Bude, kesukaan aku..."
"Iya, tadi Bude yang ngomong sama bapak kalau nanti pulangnya sekalian beli martabak."
"Ooh gitu, sekarang kita sampai mana Pakde? Bukannya sebentar lagi sampai rumah."
"Iya sebentar lagi sampai rumah ini, bu ambilkan minum! Ini tenggorokan bapak seret."
"Alah sebentar lagi mau sampai, kan nanti bisa sampai rumah, minum..." Ucap Bude
"Bude jangan gitu, nanti kasian lho nggak bisa kerja Pakde! Terus nanti kalau Pakde sakit gimana? Gara-gara haus," Bude mengambilkan air mineral yang ada di botol kemasan.
Menyerahkan botolnya dan membuka botolnya, kemudian Pakde meneguknya.
Sampailah mereka di rumah dan mereka lengah-lengah di lantai, karena cuaca begitu panas membuat mereka tumbang di lantai.
Mendinginkan badan mereka, Pakde membesarkan suhu Ac-nya.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komentar positifnya 😊😊
Terima kasih 🙏💕
__ADS_1