
Suara takbir berkumandang dan semua orang sekarang sedang berkumpul di ruang keluarga. Rumah Aksa dan Anin banyak orang, Aksa memang mengadakan acara untuk makan malam bersama bagi para pekerja beserta keluarganya.
Semuanya diajak yang penting makan-makan.
Anin, perempuan itu masih di dalam kamarnya. Karena tadi sempat bocor, putranya kini ada di tangan mamahnya yang sedang menimang memberikan susu yang ada di dot itu, stok asi tadi masih sisa.
Makanya, Anin berjaga-jaga agar putranya tidak menangis.
Anin, perempuan itu kembali lagi ke ruang keluarga. Sudah berganti dengan gamis yang berbeda dan kerudung yang lebih panjang, Anin pun mendudukkan dirinya di sebelah suaminya yang sedang menatap layar handphone.
Anin, jari lentiknya itu mengelus paha suaminya yang terbungkus dengan celana panjang formalnya itu dan sontak Aksa mengalihkan tatapannya ke pupil gelap milik Anin itu. Anin malu-malu itu ingin berucap malah dipotong oleh deheman papah Aksa.
“Sa, di luar ada tamu itu.” Ucap papahnya dengan tatapan datar dan dinginnya, Aksa menaikkan sudut alisnya.
“Siapa, pah?” papah hanya menggedikan bahunya, tak tahu.
Aksa menatap istrinya, istrinya mengode untuk segera keluar.
Raut wajah Aksa seketika berubah, ia pun berjalan keluar dari ruang keluarga dan meninggalkan orang-orang yang di sana sibuk merangkai barang-barang yang akan digunakan tasyakuran dan aqiqah untuk putranya.
Aksa berjalan menuju ke taman, di situ ada lelaki yang membelakangi dirinya, berpenampilan seperti orang yang tak dikenali.
Memakai kemeja hitam dan kacamata hitam serta semuanya hitam, tak ada kata kehidupan yang cerah bagi orang ini.
Lelaki itu berdecak, ia menemui laki-laki yang sedang berdiri serta tangan yang disembunyikan di saku kedua celana bahannya itu.
“Ada apa?” tanya Aksa tiba-tiba tanpa salam atau gimana.
Aksa wajahnya yang tenang dan damai itu menatap sekeliling taman, tanpa menunggu lama lelaki tua itu berbalik.
Sebenarnya umurnya belum tua-tua amat, masih seumuran mungkin sama papahnya tapi Aksa selalu berkata lelaki tua.
“Hai nak, apa kabar dengan kamu, cucu saya serta anak saya?” Aksa mengeryit, ia menatap lelaki tua itu dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.
Kenapa lelaki ini lagi, datang tak pas waktu saja kalau bude sama pakde tahu pasti mereka sudah mengusir mentah-mentah.
Aksa berdecih pelan, “Kenapa datang tiba-tiba tanpa diundang?” sindiran itu di akhir kata, Aksa membenarkan posisi pecinya yang sedikit miring. Ia memang tadi habis sholat berjamaah di masjid yang ada di komplek nya itu.
Lelaki tua itu tergelak, “Bukannya aku mau bicara sejujurnya. Jika aku ayah dari istri mu, kebetulan ada banyak orang yang sedang berkumpul.” Senyum smirknya ia keluarkan, Aksa mengerti. Tidak bisa memandang remeh orang yang di depannya ini, sangat berbahaya jika bermain dari balik selimut.
Kan nggak bisa ditebak.
“Hhh, maaf bapak bisa nggak ditunda dulu. Soalnya kalau acara ini berantakan jadi nggak enak,” mata teduh lelaki tua itu menajam dan menatap penuh marah.
“Apa maksudnya? Saya tidak diundang begitu, kamu mau durhaka sama saya!” hardik lelaki tua itu, lelaki tua itu bisa ditebak mengepalkan tangannya dan urat-urat yang ada di sekeliling lehernya keluar.
“Pak, maaf nanti darah tinggi lho, inget!” ucap kurang ajar menantunya itu kini lelaki itu menetralkan emosinya, ia tak mau meledakkan pistol sekarang juga untuk menembak jantung ataupun otak bodoh menantunya ini.
“Jangan mengalihkan pembicaraan kamu!” Geram lelaki itu dan Aksa lagi-lagi dibuat tertawa oleh mertuanya.
“Iya deh pak, saya mau bilang kalau bapak ngomong sekarang juga bakalan sampai mulut bapak berbusa nggak bakal deh mereka percaya.” Mulut si bapak tua itu bungkam dan menatap tajam menantunya.
“Saya akan buktikan itu!” remeh Aksa dan mendudukkan bokongnya tepat di samping bapak mertuanya yang baik itu.
“Saya awasin sampe dapet hatinya Anin, susah pak buat dapetin hati Anin kalau bapak sukses buat taklukin hati Anin. Bapak, bisa minta apa aja sama saya.” Janjinya untuk memberikan semangat dan Revino serasa direndahkan dari nada bicaranya, emang apaan.
Dia mau minta apa aja tinggal telpon orang yang bekerja dengannya, dibayar nggak makan gaji buta.
Buat apa gunanya kalau ada orang yang bekerja dengannya.
Mertuanya ini sepertinya pantang menyerah sebelum semuanya ia dapetin sama halnya dengan dia sendiri.
“Oke, kalau begitu berarti saya boleh ya makan bersama kali ini.” Tangan kanan pria tua itu memegang pundak dan mata teduh itu kembali dikeluarkan untuk menantu yang kurang ajarnya, hatinya saja dari tadi gelisah dan pikirannya entah melayang kemana.
“Tidak ada bapak, saya maunya bapak cepetan pulang gih. O- iya saya lupa jika di dalem ada kakak bapak sama kakak ipar bapak, nanti kalau ada apa-apa saya nggak mau tanggung jawab soalnya.” Aksa mengukirkan senyum smirknya hampir tidak terlihat, lelaki itu menengok ke arah anak buah Aksa yang setia menemani tuannya itu.
Lelaki itu membenarkan kacamatanya dan berdiri, malas juga lama-lama dia berdebat dengan orang yang nggak penting ini tapi penting kalau pas penting aja.
__ADS_1
“Saya pulang,” tanpa permisi atau apa lelaki itu berjalan ke mobilnya dan Aksa hanya melihat tanpa ada niatan menjawab, ia mengukirkan senyumnya.
Senyum mengejek yang pasti, Aksa baru ingat jika malam ini malam takbiran jadi harus memaafkan dan saling meringankan beban orang lain.
Aksa mengangkat tubuhnya, ia beranjak dari sana karena mobil mertuanya itu sudah menjauh dari kawasan rumahnya ini.
Ya keuntungannya mobil itu tak tampak seperti kehidupan, karena mobilnya hitam plus Aksa saja yang matanya masih sehat tak nampak orangnya.
“Hilih koleksinya nggak seberapa dibandingkan aku,” sombongnya dengan berlagak koleksi mobilnya yang tak jauh harganya dengan mobil yang dinaiki pak tua tadi.
Aksa masuk ke dalam rumah, laki-laki itu malas lama-lama di luar. Para perempuan sedang ada di dunia perdapuran sekarang sementara laki-laki membuat kreasi dan membereskan beberapa barang yang akan digunakan.
Aksa melihat semua ruangan yang sudah tertata rapi, ia kini duduk di samping papahnya yang sulit terbaca tatapannya, papahnya itu sedang membolong kertas tapi sampai melotot begituan. Aksa terkekeh di dalam hati, mungkin jika lepas akan dicopot itu pita suara Aksa lama-lama menertawakan bukannya membantu.
Leher pak tua sama matanya itu nggak copot apa rasanya.
Aksa menengadahkan tangannya yang maish kosong itu dan papahnya kini beralih ke mata Aksa yang sedang mengode.
Papah Aksa tak mengerti, sebaiknya ia lanjutkan sekarang jangan sampai anaknya ini mengganggu dirinya dan ketenangan segenap jiwa raganya yang tlah hancur sekarang di posisi tidak elite mana. Di atas lantai terus sandal sebagai alasan dia tempat duduk, kalau dipost di grup chat mungkin akan ditertawai oleh teman-temannya dan dunia persohibannya.
“Oh iya pah,” Aksa mengembalikan tangannya sebab papahnya sepertinya tidak membutuhkan tangannya dan papahnya kini kembali menatap dirinya.
“Oke Anin kemana?” Papah Aksa memajukan dagunya untuk memberikan kode, Aksa berdecak pelan.
Apakah bisu ini papahnya, dasar anak kurang ajar!
Aksa pun beranjak pergi dari sana, menuju ke dapur dan di sana banyak wanita-wanita. Tapi, Aksa selalu tidak peduli, laki-laki itu tak punya malu menginjakkan kakinya ke dapur.
“Oh iya Sa, tadi siapa nak yang dateng?” kucep sudah mamahnya bertanya mana bisa Aksa membohongi perempuan cantik itu yang masih mulus wajahnya walau ada sedikit bentuk keriput tapi Aksa tetap menghormati ibunya yang telah melahirkan ke dunia ini.
Aksa diam dia, laki-laki itu tak mampu mengeluarkan kata-kata. Di benaknya ia diimbangi dengan kata jujur atau tidak, ia menatap istrinya yang sedang menggendong putranya dengan menyusui anaknya.
“Nin kamu tidur aja daripada seperti ini, nggak enak posisinya.” Perhatiannya tampak dari raut wajah suaminya ini khawatir jika putranya ini tersedak asi.
“Iya mas,”
Anin dan Aksa sekarang ada di kamar, Anin sudah dibaringkan ke atas ranjang. Putranya masih ada di bude, jadi Aksa tak berani untuk mengambil alih. Laki-laki itu mengusap dan melepaskan kerudung Anin, mudah sekali untungnya. Anin tak memakai kerudung segi tiga, ia memakai kerudung rumahan.
“Maaf nin, aku nggak bisa ngomong apa adanya.” Ucapnya sambil menopang tubuhnya untuk tidak menimpa badan istrinya dan menatap wajah istrinya dari samping. Sebenarnya dari tadi ia sudah tahan mati-matian, sampai di kamar mandi pun ia tak berani apa-apa.
Karena Anin belum melewati masa nifasnya.
Tiba-tiba saja tangan Anin bergerak dan Aksa hanya diam menatap istrinya, ia tertimpa tangan istrinya. Aksa ketar-ketir sendiri, ulahnya ini semua.
Aksa mengembalikan tangan Anin pelan-pelan agar istrinya ini tidak terganggu, ia saja hampir menahan napasnya kalau saja Anin terusik.
Aksa menghembuskan napas pelan dan ia beranjak dari sana, ia akan segera kembali jika orang-orang sudah tidur di rumahnya. Mereka semua akan menginap di sini nantinya sampai hari aqiqah dan putranya itu belum masih mempunyai nama.
Jadi, Aksa sedang mencari nama dan menimbang bagaimana, itu akan ia rundingkan bersama istrinya nanti.
Seharusnya ia malam ini mengurus hewan kurban yang akan dikurbankan esok hari, tapi Aksa menyuruh salah satu pengawal untuk mengurus hewan kurbannya. Dia tadi sempat mengecek dengan harga-harga yang lebih umum dari biasanya dan Aksa menyetujui itu semua.
Makanya Aksa sedikit terlambat pulangnya.
Setelah pulang dari sholat eid, ia akan mengurus hewan kurbannya. Sedikit bersosialisasi dengan masyarakat, pastinya masyarakat sekitar akan meluangkan waktu untuk saling membahu pada saat hari cuti. Mereka semua yang ada di perumahan ini pasti sibuk orangnya, nggak kenal waktu ya jadi meliburkan sejenak.
Aksa, laki-laki itu menyetuput kopinya dan pandangannya tak jauh dari putranya yang sedang bermain. Walau putranya tak bakal mengerti, tapi sejauh ini putranya hanya tersenyum dan menutup matanya. Matanya belum sepenuhnya terbuka sempurna, karena masih beberapa hari dilahirkan di dunia.
“Nak, papah tadi bilang kalau besok biar papah sama pakde yang ngurus rumah. Kamu bantu-bantu orang-orang yang akan kurban besok, sedikit lah bersosialisasi dengan lingkungan sekitar.” Mamahnya sedikit memberikan wejangan dan Aksa mengangguk, ia setuju jika bersosialisasi lebih penting dan bisa menyambung tali silaturahmi antar tetangga.
Besok akan perdana orang-orang bakal ngumpul di sini, Aksa hanya bisa mengucapkan terima kasih masih diberikan kesempatan untuk bisa berkumpul.
“Sa, sebenarnya tadi siapa sih?” tanya mamahnya lagi.
Aksa menoleh, “Tadi orang nggak gabut mah. Mampir ke sini nggak bilang,” jawab Aksa menatap iris mata mamahnya.
Jawaban itu sontak bagi papah serta pakde lelucon, mereka tertawa.
__ADS_1
“Masa iya gabut, nak?” papah menaikkan salah satu sudut alisnya dan menatap Aksa meminta kejujuran.
“Ck, iya pah. Cuman Aksa ladeni dia biar nggak ganggu,” balas Aksa yang matanya memandang tak suka. Apa-apaan papahnya ini tidak memberikan kepercayaan untuk anaknya sendiri.
“Papah cuman tanya, nak. Kok jawab ngegas sih!” bikin emosi kepalang di ubun-ubun ini papahnya, Aksa tak menggubris. Ia mengambil handphonenya dan kopi yang ada di meja.
Mamah Aksa melotot ketika putranya itu membawa gelas bening yang berisi kopi, sejak kapan anaknya bisa ngopi dan perasaan dari remaja tak pernah ia melihat putranya meminum kopi. Selalu ia larang, apalagi dengan suaminya yang melarang keras putranya untuk meminum kopi.
“Sebentar, nak!” papah buka suara dan mamah hanya bisa diam, di dalam hati memaki putranya yang bodoh itu. Tidak bisa kah membuat keributan untuk satu malam ini saja.
“Ikut papah ke belakang, taman belakang masih dirawat ‘kan?” tanya papah dengan raut tenang tanpa ada emosi.
“Hm, masih pah. Emang kenapa?” geram sebenarnya dan papah mendahului langkah Aksa, Aksa bengong, laki-laki itu sudah menjauh dan Aksa mengikuti di belakangnya.
“Kami pamit dulu bu, soalnya udah ngantuk.” Dua orang yang tak muda lagi itu sudah berasa berat dan harusnya ini jam istirahat.
“Iya kalau begitu, saya mau mengembalikan ini cucu saya ke kamar kedua orang tuanya.”
Pasangan itu mengangguk dan tersenyum.
Sekarang semua orang di sini sudah mengantuk, bude serta pakde sudah pamit terlebih dahulu dan mamah Aksa mengantarkan cucu laki-laki nya ini ke kamar orang tuanya sebab cucunya sudah tidur dengan wajah yang tenang.
Mamah Aksa cuman mengecam jika suaminya itu melukai putranya kembali, ia tak tinggal diam.
Ia akan meminta suaminya untuk melukainya juga, tak tanggung itu semuanya ibu pasti akan membela meski dengan cara berbahaya sekalipun.
“Nak, maaf mamah nggak bisa nolong kamu! Dulu kamu sempat bahaya gara-gara kamu ngopi sama ngerokok. Itu pasti buat papah mu nggak tenang buat anak kesayangannya agar tak terjerumus, apalagi sampai mengonsumsi obat-obatan.” Ucap lirih mamah Aksa sampai terdengar telinga bude yang sedang ingin ke dapur.
Ingin mengambil air minum untuk berjaga pakde yang tiap malam kadang suka batuk.
Bude tersenyum, ia menyentuh pundak mertua ponakannya itu.
“Bu udah malem, kok belum tidur?” bude mengalihkan sumpah tidak curiga.
Karena bude ada di sini, mamah Aksa merubah mimik wajahnya semaksimal mungkin tidak diperlihatkan dan mamah Aksa tersenyum tipis.
“Iya bu, ini lagi nunggu papah Aksa sama Aksa.”
“Oh iya udah. Kalau gitu saya temenin aja,” seru bude dan mamah Aksa menjawab gelengan kepala.
“Tidak usah bu, nanti ibu sakit lagi kalau nunggu lama-lama terus suami ibu gimana?” seakan lupa jika ia meminta izin sebentar, bude lagi-lagi hanya membalas senyuman nyengir.
“Iya sudah, saya pamit dulu bu. Mau ngambilin minum,” mamah Aksa memberikan jalan, bergeser dan bude berjalan ke dapur.
“Iya bu,” meski terlambat tapi terdengar oleh bude.
Posisi mamah Aksa memang menghalangi jalan ke dapur, tapi tak lama mamah Aksa melangkah ke ruang keluarga untuk menunggu suaminya serta putranya.
“Apa aku susul aja ya, udah nggak enak perasaan.” Mamah Aksa menggigit bibirnya lantaran sudah beberapa menit, kini angka jam sudah pukul tengah malam.
Rasanya tak enak nanti kalau ada keributan terdengar oleh orang-orang yang sedang beristirahat.
Akhirnya mamah Aksa menyusul sebelum adu bacok dimulai.
-:)
Gimana puas nggak 🤣...
Rekor bersejarah buat saia.
Oke jan lupa follow ig din ya!
@dindafitriani0911
Tinggal dua bab lagi sampek gumoh pokoknya 😌😭....
Woke see you:)
__ADS_1