
Beberapa bulan kemudian, waktu sudah terlewati sekitar tiga bulan dan sekarang ini putra Aksa serta Anin sudah menginjak umur tiga bulan kurang lebih. Mereka kini berada di rumah bude serta pakde untuk menginap di sana, katanya Anin—perempuan itu menginginkan mengunjungi makam ibunya sore nanti.
Ia sudah lama sekali tak menginjakkan kakinya ke makam, gundukan tanah yang menutup semuanya dan terjelas bagaimana itu orang yang sudah meninggal yang tak akan pulang kembali jika sudah berkembali ke tanah.
Anin kini siap-siap untuk ke makam dan suaminya sudah menggunakan gamis laki-laki dan pakde yang sudah siap untuk berangkat. Di rumah ditemani oleh bude serta mamah Aksa yang akan menginap nanti malam, sebab papahnya Aksa benar-benar repot hari-hari ini.
“Nak, ayo keburu maghrib nanti!” ajak pakde dan mereka berdua mengangguk.
Mereka berjalan keluar dari pintu utama rumah, di sana mobil Aksa sudah siap di tempatnya. Untung saja muat buat tiga mobil perkarangan pakde ini, meski sedikit sempit dan seperti kekurangan tempat.
Ya, tetangga yang berdekatan dan semuanya disini letaknya amat tidak strategis jika dibuat untuk membangun rumah yang lebih luas dan lebar lagi.
“Sayang sempit ya, ini rumah apa gubuk sebenarnya?” ya, awalnya Aksa terkejut mendengar penuturan dari papahnya yang tadi mengantarkan mamahnya ke sini. Hanya bercanda, tapi seperti melewati batasannya.
Aksa tak menyangka, tapi papah sebelumnya sudah meminta maaf.
Mau seberapapun nanti bakalan dihisab buat perhitungan waktu hisab di akhirat nanti, saling menyindir tadi sebenarnya tapi Aksa tidak mempedulikan jika mereka berdebat kecil.
Untuk mereka ini hal biasa sudah banyak hujatan yang mereka terima.
Kini mereka sudah masuk ke dalam mobil dan tempatnya masing-masing, Aksa yang di depan dan pakde menyopir mobilnya katanya ingin menginginkan mobil seperti ini tapi belum bisa beli sama pajaknya nanti bisa ngos-ngosan.
Ngerti pokok buat pajak mobil saja sudah ketar-ketir, apalagi punya mobilnya tambah runyam lagi dan Aksa mempercayakan semuanya dengan pakde Anin.
Anin di belakang, “Hati-hati pakde! Awas lecet nanti, ganti rugi nggak banyak lho pakde. Paling satu miliar yang murah,” spontan pakde melototi Anin.
Anak ini mendoakan yang tidak-tidak, dan pakde sebelum itu menghela napas.
“Eh rileks pakde,” tawanya yang mendengar helaan napas yang begitu kentara.
“Hm iya makasih, nak. Tapi, kamu udah buang kentut belum?” pakde melipat dahinya berkerut-kerut itu dan Anin sontak tertawa keras ketika mobil sudah dijalankan menjauh dari perumahan itu.
Ternyata kalau dilihat pakde lebih lihai menjalani mobilnya, setiap kali ada acara memang ia memakai mobil kesayangannya walau udah brebet katanya. Cuman pakai alasan aja, biar dihadiahi.
“Kalu kentut emang bisa dibuang?” dan Aksa tertawa mendengar pertanyaan polos yang keluar dari mulut istrinya itu.
Perempuan itu cantik dan anggun ketika memakai gamis serta kerudung segitiga yang panjang. Aksa tak bisa menjelaskan lagi, laki-laki itu hanya termenung.
Bekas luka? Sempat beberapa kali dijahit di dokter, dan luka itu belum sepenuhnya kering. Ternyata ia terkena pecahan kaca gelas bening yang dulu mempunyai masalah dengannya. Tidak bisa gitu kalau sebagai saya yang jadi gelas disalahkan.
“Nin, kalau dibuang emang yang nampung siapa?” kini Aksa yang menjawab sebab tak mau istrinya mengganggu keputusan final Anin, Anin—wanita itu tak bisa ditebak dari mulut dan wajahnya yang hampir rata polosnya.
“Iya nggak mau siapa itu, mau kamu juga nggak bakal mau.” Anin menggulungkan bibirnya dan menatap suaminya yang menyadarkan dirinya itu yang mau meloloskan pikirannya menjadi buruk lagi.
Astagfirullahalazim.
Setelah beberapa menit mereka diam, tak ada lagi yang keluar dari mulut Anin yang cerewet itu. Minta dikucir sama ekor kucing. Biar bisa sekalian kucep.
”Udahlah sekarang fokus ke jalan aja,” jengah melihat mereka berdua tanpa henti beradu mulut. Pakde jadi tidak fokus nantinya.
Kini mereka terdiam dan menatap jalanan yang sedikit ramai dari biasanya, suaminya itu tidak bekerja selama satu minggu lebih dan pekerjaannya semua diselesaikan oleh asisten pribadinya. Entah, mau difosir apa gimana tiba-tiba tadi mendapatkan panggilan jika asistennya itu sakit jadi Aksa ke rumah sakit dahulu sebelum ke makam sekarang ini.
Setelah beberapa menit berjalan, kini sudah sampai tujuan yang akan dituju dan mereka sudah bersiap untuk keluar dari mobil.
“Mas, kamu mau beli bunga sekalian nggak?”
“Buat apa? Mandi bareng,”
“Astagfirullahalazim, kalau otak kotor dibawa ke sini bakalan suci gitu?” tanya Anin sambil mengangkat tangannya ke pinggang dan menekuknya, Aksa terkekeh.
Ia menggaruk tengkuknya yang tak gatal, sementara pakde. Lelaki tua itu menyipitkan matanya, tak lain sedang menilik sebuah kereta besi yang tampak ia kenali dari platnya.
“Kenapa pakde?” Anin melihat sorot mata pakde dan pakde gelagapan sendiri, pakde menelan ludah.
Dia sekarang hanya menjawab dengan gelengan kepala.
“Yuk lah! Udah ini bunganya.” Aksa menjulurkan tangannya dan ia memegang satu plastik yang berisi bunga, sehabis ia beli tadi ketika Anin dan pakde berbincang.
Anin memegang buket bunga itu dan bunga yang ada di plastik, mereka kini berjalan ke makam tempat di mana ibu Anin dikebumikan di situ untuk selamanya.
Aksa, ia lebih dulu langkahnya dan sampai di sana ada seseorang lelaki dari belakang yang sedang bergumam membacakan do'a serta orang yang berdiri tak jauh di belakangnya.
Aksa mengerutkan keningnya dan Anin juga, ia tak pernah menemui seseorang laki-laki yang berkunjung hanya saja pernah Anin menemui jika ada taburan bunga di atas liang lahat ibunya itu yang masih segar. Tapi, Anin tak pernah menanyakan persoalan itu.
Pakde, ia terpaku rasanya ingin mengucapkan larangan jikalau Anin bertanya. Ia harus jawab apa. Pakde menggeleng dan berdehem pelan, mereka pun maju sampai ke tempat peristirahatan terakhir ibunya Anin itu.
Lelaki yang berdiri itu tak jauh pun segera mendekati tuannya agar berjaga untuk tuannya sendiri. Tuannya itu terusik, Aksa dan Anin menebak jika lelaki ini tak seorang yang mengetahui jika mereka salah tempat.
Aksa yang maju dan ingin menepuk pundak lelaki yang berjongkok itu ditepis oleh anak buahnya itu dan mendapatkan tatapan tajam dari lelaki yang menahan tangannya itu.
__ADS_1
“Oh jadi main kasar! Saya mau ucapkan jika ini anda salah makam, berarti harusnya pindah segera dan—” ketika ingin melanjutkan pembicaraannya itu, lelaki berjongkok itu berdiri dan menarik kacamatanya yang berwarna hitam itu dilepas.
Lelaki berjongkok itu tersenyum devil dan menatap mereka semua, detik waktu ini Anin matanya berkilat, ia tidak menyangka orang ini ada di makam ibunya sendiri.
Apa sih yang mau dilakukan oleh orang ini yang sedikit aneh ini, perasaan ia tak memiliki rasa apapun itu dan lelaki ini tetap saja mengintil sampai ke kehidupannya yang baru itu.
Lelaki itu menatap kakaknya sendiri, kakak kandungnya itu penuh tanda senyum dan pakde yang ditatap sedikit takut dengan adeknya sendiri. Sebab, tak akan pernah yang namanya bisa mendapatkan tatapan tajam adeknya sendiri termasuk orang tuanya dulu.
“Mau apa kamu pak tua?” tanya sinisme Anin dengan bola mata memutar.
Pakde, ia seperti menggigit lidah sendiri rasanya begitu ngilu mendengar ponakannya yang memanggil bapaknya sendiri dan bapaknya itu dengan kata-kata kasar.
“Huh, maaf siapa di sini yang pak tua. Bukan saya saja,” Lelaki itu tak terima nampaknya tapi seperti orang yang terpancing emosinya.
“Oh iya? Pakde to, lupa saya.” Kekehnya sedikit memberikan candaan padahal bercanda itu dengan batas yang sudah ditentukan dan tidak melampaui batas.
“Ada apa kamu ke sini?” tanya pakde dengan tatapan datar serta dinginnya dan lelaki itu tampak melayangkan tangannya untuk meminta salim kepada kakaknya sendiri.
“Sebagai adek kandung biar jadi adek kandung yang baik.” Diselingi ucapan seperti itu, kedua pasangan itu tampak sedikit terkejut dengan penuturan yang diberikan.
Alangkah baiknya jika ia bongkar sekarang juga.
Ya, laki-laki itu Revin tak jauh dari itu Revino mengode anak buahnya untuk mengambil beberapa berkas dan di sana sudah ada berkas yang tampak dibawanya. Di sebuah amplop itu dikasihkan kepada tuannya itu.
“Ini, tolong pahami nak!” dengan berkata lembut dan matanya tak jauh ia melirik kakak kandungnya itu sendiri.
Anin yang tak tahu apa-apa itu menerima sebab amplop itu entah berisi apa tapi kok dikasih dirinya, ia bingung.
Anin menatap suaminya sebagai jawaban, Aksa hanya diam tanpa mampu untuk menjawab. Di benaknya sekarang berpikir jika Anin bakal tidak menerima kehadiran lelaki itu.
“Apa ini pak?”
“Buka saja nak,” perintah Revino mengembangkan senyumnya itu.
Anin itu membuka pelan, di depan makam istrinya ia bisa menyaksikan kalau ini benar-benar anaknya, putrinya sendiri yang tak pernah ia bayangkan jika ia mempunyai putri kandung dari dagingnya sendiri.
Dulu, istrinya tak pernah bercerita jika ia mempunyai seorang anak dan perempuan itu tak pernah jujur jika mempunyai anak, lelaki itu sungguh curiga.
Dan tujuh bulan baru ketahuan jika itu anaknya sendiri, Revino tak menyangka jika di kala itu benar-benar diombang-ambing antara masalah dan memberatkan calon anaknya itu sendiri.
Jantung pakde serasa akan copot di tempat, berdegup kencang dan ia tidak mau jika nantinya Revino akan lebih dekat lagi dengan ponakannya itu sendiri. Tapi, ia tak bisa menyalahkan takdir jika Revino itu ayahnya.
Anin yang membuka amplop itu tidak merasa apa-apa, ia membuka lebar-lebar lembaran putih itu dan ada logo rumah sakit di atasnya.
Anin mengerutkan keningnya, siapa?
Lalu, mata Anin bergerak menuju ke bawah di sana ada tertera huruf sembilan puluh sembilan koma-koma itu menunjukkan bahwa ayah biologis dari Anin sendiri adalah Revino.
“Hah! Maksudnya apa? Aku nggak paham—ini siapa? Revino,”
Anin yang menggaruk kepalanya yang tak gatal itu bertanya kepada orang-orang yang disekelilingnya dan menatap pakdenya yang menundukkan kepala.
Lantas pakde menarik kembali kepalanya dan menatap ponakannya itu.
“Tanya saja sama ayahmu sendiri!” Jawab pakde memberikan pengertian itu dan Anin menatap laki-laki di depannya yang tersenyum hangat kepadanya.
“Bapak siapa? Kok tiba-tiba tahu nama lelaki yang nggak pantes disebut namanya untuk menjadi seorang ayah! Jawab, pak!” Anin butuh jawaban, Aksa sedikit menoleh.
Iya, pasti sudah bisa ditebak jika Anin bakal tidak bisa menerima sekarang dada kalau lelaki ini menjawab dengan yang pasti.
Sementara Revino, hatinya berdenyut sakit mendengar perkataan putrinya itu sendiri dan lelaki itu menghela napas pelan, ia harus bisa menjawab. Menjabarkan pelan-pelan agar putrinya itu mengerti apa yang ada di masa lalunya dengan istrinya itu sendiri, ibu dari putrinya ini.
“Ehm, nak. Maaf kalau laki-laki itu sekarang ada dihadapan mu ini, ayah kamu sendiri nak.” Jawab Revino menampilkan gigi-gigi putihnya itu.
Tampang tak datar yang ia keluarkan, didominasi mata yang kelam mengandung banyak kerinduan dengan istrinya sendiri. Harus keluar dari masalah itu, rumit dan sulit yang ia hadapi.
“Hahaha, anda lucu sekali! Mending anda pulang saja! Itu jelas tes DNA palsu kalau anda tahu. Iya ‘kan mas?” di akhir ia bertanya kepada suaminya, menoleh ke suaminya dan Aksa yang pura-pura tak tahu itu hanya diam, tidak merespon pertanyaan istrinya sendiri.
Revino sekali lagi hanya menjawab senyum dan mengalihkan tatapannya kepada kakak kandungnya itu, “Kak. Nggak ada yang mau dijelasin?” bisik Revino sedikit terkekeh.
Pakde lagi dan lagi diam, bergeming agak membuat Revino sedikit emosi dan ia harus menetralkan emosinya agar tidak mencapai klimaksnya nantinya.
Ia tak mau menyakiti hati istrinya yang sudah berbeda alam itu, ia mau membahagiakan anaknya dan sebelum kehidupannya yang berbeda ia bisa merasakan sebagai seorang ayah.
“Ditanya kok pada diem sih!” kesal Anin menggulung bibirnya itu dan melangkah lebih dekat ke pakdenya, menatap iris mata pakdenya lebih dekat.
“Pakde, Anin minta penjelasan!” seru Anin dengan bersemangat dan pakde itu mengangkat salah satu sudut bibirnya itu.
“Pakde mau jelasin, tapi—pakde maunya kamu menerima apa adanya nantinya ya? Janji nggak marah ya?”
__ADS_1
Mata Anin itu bergerak dan memutar bola matanya malas.
“Oke, siap. Anin bakal dengerin kok,”
“Iya pakde mau ngomong, sebenernya kalau yang diomong laki-laki itu benar adanya, Revino itu ayah kamu. Sekarang orangnya ini ada di belakang kamu itu,” Pakde menampilkan senyumnya yang berseri-seri tidak mau ia memperlihatkan kesedihannya jika Anin mau menerimanya dengan ikhlas.
Anin, perempuan itu syok. Dia tak mampu mendengar jawaban pakde nya itu, ia selalu melihat laki-laki itu tampak wara-wiri di TV tapi apa? Tak pernah menanyakan dan sekali lagi mencari, mengulik info. Tak pernah laki-laki itu lakukan, dan sekarang kenapa tiba-tiba lelaki itu datang tanpa ada kabar. Laki-laki yang pernah meninggalkan ibunya di kala mengandung, tak pernah menanyakan gimana keadaannya dan ibunya yang dulu terapi sampai beberapa kali ke psikiater untuk mengobati ibunya yang stres.
Tidak ada yang membantu ibunya, itu dulu dan sampai sekarang tetap membekas di hati Anin mendengar perkataan orang lain yang sudah lebih dulu mengerti rumah tangga orang tuanya itu, pakdenya?
Orang laki-laki yang ia temui pada saat ibunya yang hampir bunuh diri dan saat itu benar-benar di atas kehendak Tuhan jika ibunya benar-benar bunuh diri.
Karena bunuh diri itu dosa sekali, tampak nanti jika meninggal. Di alam kubur akan menjadi apa, lantas perbuatan itu benar-benar tidak disukai Tuhan.
“Iya-iya, aku mau pulang saja! Jangan temui saya sampai kapanpun pak tua! Saya tidak mau mempunyai ayah seperti anda! Yang kejam tak punya hati sedikitpun kepada seorang wanita, wanita yang sekarang menjadi istri anda pasti bahagia karena anda lebih menyayangi dirinya!” Anin tampak perempuan itu memandang bengis dan benci itu menarik tangan suaminya untuk segera pergi dari pemakaman ini.
“Pakde kalau mau pulang, silakan nanti pakde naik taksi saja!” Anin meninggalkan beberapa uang ratusan itu lima lembar.
Dan Aksa ia harus mengikuti langkah Anin yang begitu cepat.
Tapi sebelum itu Revino, lelaki itu mengejar putrinya dengan leleran air mata serta keringat yang muncul dengan cepat.
Lelaki itu memberhentikan putrinya dan ia berjongkok ke bawah, menatap tatapan bengis dan putrinya itu menangis dengan terisak, ia ingin mengusap dan mengecup putrinya itu namun tak ingin ia menambah beban serta emosi putrinya itu.
Kini lelaki itu berbicara, “Maaf jika ayah terlambat nak. Ayah ngerti—”
“Sebaiknya anda menyingkir pak tua!” Anin beralih jalannya, ia memilih jalan yang kosong dan lagi menarik suaminya dengan kuat, menahan rasa emosinya itu yang ada di pikirannya dan tatapannya benar-benar kosong.
Ia tak mengira bahwa laki-laki itu ayahnya, ayah yang nggak pernah mencari keberadaannya.
Ayah! Satu kata, lelaki yang seharusnya cinta pertama bagi putrinya.
Ini tidak!
Anin, perempuan itu sudah menjauh. Sementara laki-laki itu masih berjongkok dengan salah satu kaki sebagai tumpuan.
“Maaf kak...”
Revino yang ini tampak rapuh dan benar-benar tidak bisa menerima keadaan, kakaknya yang tak jauh itu membantu adeknya itu untuk berdiri, mengusap punggung adeknya.
Tak sungkan Revino langsung memeluk kakaknya itu.
Bagaimana pun kakak harus melindungi adeknya, itu sudah pesan dari orang tuanya dulu untuk menjaga adeknya walau sudah menikah. Kakak tetap menjadi tempat tumpuan kedua setelah kedua orang tuanya meninggal.
“Kak, apakah aku terlalu cepat buat ngejelasinnya? Kak, aku ingin aku jadi ayah buat putri ku kak, apalagi aku ingin menjadi seorang ayah untuk putri kandung ku sendiri bukan orang lain. Aku ingin memeluk dan menghangatkan tubuhnya untuk beberapa hari, tapi putri ku seperti tidak menerima untuk kehadiran ku—” lelaki itu tampak menangis lebih deras, sangat berbeda dan tak jauh memandang tuannya yang amat memilukan itu dengan nada sempat berhenti sesaat.
Pakde menahan air matanya untuk tidak jatuh, mata tua serta rabun dekat tak terlalu bisa melihat karena ia sudah benar-benar mengikhlaskan untuk bisa tua bersama istrinya.
“Kak, maaf aku nggak bisa jadi ayah. Harap aku minta maaf, tolong sampaikan kepada putri ku. Aku akan pergi jauh, tak akan menemui lagi putri ku. Aku bisa melihat putri ku bahagia dengan laki-laki pilihannya. Titip pesan saja kak, aku tetap sayang sama kakak. Tapi, aku nggak bisa buat hidup terus begini.” Ucapnya dengan kata-kata yang tak pantas untuk didengar oleh kakaknya itu.
Pakde, tak terasa menggenang air matanya yang mengumpul di pelupuk matanya itu dan menatap adeknya dengan tatapan mata yang sudah tak mudah lagi.
“Maaf kalau kakak tak bisa bantu, kakak akan pergi dulu sebelumnya kakak sudah memaafkan kamu. Tapi, satu dari kakak! Nanti temui kakak kalau kamu benar-benar diterima oleh putrimu itu sendiri,” ujar pakde dengan menguatkan adeknya itu sendiri.
Dan pakde, lelaki itu sudah tidak kuat lagi. Air matanya tumpah, memeluk adeknya dengan erat dan tatapannya sudah menyesali jika dulu taka ada kesalahpahaman itu bakal tidak akan terjadi.
Maaf kehadiran ku memang akan sebentar, tapi akan membekas selalu di hati mu nak. Ayah, benar-benar bisa pergi dengan tenang setelah ini jika kamu tidak bisa menerima kehadiran ayah. Bisa kah kamu temui di detik kematian ku nanti, ayah akan melihat kamu sebelum kematian ayah nanti.
---
...Tamat... ...
Capek ya? Heehe, dah lah bisa namatin buat cerita ini. Lika-liku buat nerima cerita ini, sedikit tidak ngefeel buat episode ini. Seperti gantung, tapi insyaAllah bisa diterima dengan baik.
Huh, sudah dua tahun setengah baru tamat untuk cerita ini. Benar-benar kek nguras tenaga tapi untuk cerita ini bisa diapresiasi 🤣.
Hehehe kebayang lah, dah lah aku capek habis sekolah buat cerita ini.
Kebayang 'kan?
Pasti nggak ngefeel, kalau nanti dah balik moodnya baru aku benerin lagi 😫.
Hehehe jan lupa follow IG din buat cari info tentang up apa nggaknya dan novel barunya nanti 🤗.
@dindafitriani0911
Terima kasih buat kalian yang udah bisa sampai sejauh ini menemani cerita ini.
Sekian love you🙏💕
__ADS_1
Wkwk, nggak pantes saia kek gitu--
Dadah...