
Happy Reading
"Pa, aku nggak habis pikir sama Putri itu. Badan setiap hari di bawa kemari ke sana nggak capek apa. Aku aja yang setiap hari bawa tubuh ke sana-sini aja nggak ada yang bayar."
"Heh, emangnya lu tiap hari ke sini nggak di bayar? Ya, di bayar lah masa mau ongkang-ongkang kaki ke sini nggak di bayar. Nggak inget apa? Udahlah kasian itu istrimu. Nanti marah lagi," ucap Papa. Membuat Rifa'i melonggarkan dasinya dan menggulung bajunya sampai lengan.
"Kalau gitu aku pulang dulu Pa, nanti kalau pulang atau butuh apa-apa tinggal ngomong sama sopirnya Papa sendiri." Ujar Rifa'i, Rifa'i buru-buru mengejar Putri sebelum terkena lemparan sepatu dari tangan Papa.
"Anak kurang ajar, huh dasar itu menantu sama anak sama-sama nggak enak."
Papa pun mengembalikan handphone di meja dan melihat jam dinding yang berputar sesuai arah menit, detik.
"Jam dua siang, apa pulang aja ya?" Papa memakai jasnya dan melangkah, menarik handle pintu.
"Selamat siang Pak,"
"Astaga kamu ini ngagetin aja. Untung nggak copot," membuat karyawannya bingung dengan perkataan Papa.
"Apanya yang copot Pak?" tanya sang karyawan.
"Kolor... Ya jantung lah, kamu ini. Ada apa? Cepetan saya mau pergi." Papa menunggu jawaban, yang di sampingnya pun memikir-mikir tadi apa yang ingin di sampaikan.
Lupa segalanya.
"Lupa Pak, maaf tadi kalau ngomong puanjannggg banget Pak. Sampai sekarang hilang kemana." Jawaban karyawannya membikin Papa semakin ingin melayangkan sepatunya.
Dengan tatapan horor, karyawan menunduk.
"Karyawan sama-sama nggak becus, saya mau pergi bukannya ada sesuatu yang baik malah buruk. Yaudah kalau nggak penting juga nggak papa. Saya pergi, jangan lupa nanti kalau udah ingat tinggal telepon saya aja!" Karyawan mengangguk dan Papa pergi menggunakan tangga.
"Eh sebentar," ada yang di ingat-ingat kembali oleh Papa.
"Tadi kan ada meeting sama client dari Jepang, terus aku tinggalin aja gitu. Hem, itu Rifa'i mau keluar. Nah terus pekerjaannya gimana? Nanti malam lembur, semakin di ulur-ulur kayak tali muwel-muwel, nggak sempurna. Ah, ini kalau nggak ada asisten. Asisten anak sendiri, kalau waktunya habis yang ada mati di tengah jalan. Punya anak satu juga gitu, lah-lah." Frustasi Papa dengan melangkah menuju dapur. Membuat kopi agar badannya terasa sejuk dan nyaman.
***
Anin makan siang di kantin, rasanya masih sepi seperti kemarin. Tidak ada Ulfa rasanya uhhh... Pingin cubit kursi.
__ADS_1
"Anin..." Panggil Aksa, Anin mendongakkan kepalanya ke atas dan menyunggingkan senyuman kepada Aksa.
"Boleh duduk di sini?"
"Boleh lah Pak, masa nggak boleh. Mau pegel berdiri terus. Nanti, bapak bisa di bawa ke dokter lho malahan." Sahut Anin dengan bergembira, ada tambaan hati yang bisa untuk curhat.
"Haha... Iya bisa aja kamu nih Nin. Udah pesan makanan?" Tanya Aksa, dia menata barang-barang Anin yang ada di meja.
Melihat ada berkas yang harus ia tanda tangani, Aksa pun langsung mempertanyakannya.
"Ini berkas apa Nin?"
Anin bingung mau menjelaskannya, aduh runyam lagi nih. Gara-gara manager Anin sendiri yang memberikan tugas dengan asal dan tidak melihat apa isi berkasnya.
"Nggak tau Pak, saya taunya dari manager saya sendiri." Jawab Anin dan Aksa mengangguk kecil.
Anin bingung juga, mengerjakannya darimana sampai mana.
"Bukannya mau ini ya nin, ini saja udah pekerjaan berat dan kamu yang mengerjakan?" Aksa dalam hati bertanya-tanya sampai ingin membukanya saja susah.
"Iya sih Pak, saya juga bingung. Mau tanya ke managernya langsung, takutnya kena marah." Anin pura-pura nggak tau, padahal ia malas mau mengerjakannya. Ini paling mudah baginya.
"Yaudah saya pegang aja daripada ini berkas kemana-mana!" Aksa meletakkan di dekat handphone dan kembali menegakkan tubuhnya. Yang agak miring, Anin membuka buku pesanan makanan dan minuman.
Dia hanya diam, tidak bisa berkata. Emang di situ udah tertera nama CEO dan sudah ada cap perusahaannya.
Belum ada tanda tangannya, tapi kalau sudah ada cap berarti sudah di tangan Aksa sendiri yang menyandang status sebagai CEO.
Tidak ada yang memegang kuasa cap perusahaan ini selain CEO-nya sendiri.
"Gimana mau pesan apa? Saya juga sudah ada pikiran buat mesen makanan sama minumannya. Kamu mau apa?" Aksa menawarkan dan Anin baru mau ucap.
Ada teriakan, membuat Anin menengok ke arah tersebut. Itulah teman-teman satu ruangannya.
Pada iri dan semua pada ghibahin Anin.
Tidak memikirkan belakangnya, yang terpenting isi hati mereka juga ingin di perhatikan oleh sang CEO yang di impikan selama ini.
__ADS_1
"Ada apa itu?" Aksa menunjuk orang yang berteriak tadi, meminta ke hadapannya sekarang juga.
"Sini, siapa yang teriak tadi?" Orang itu mendekati Aksa dan Aksa memperhatikan atas sampai bawah.
"Kamu?" tanya sekali lagi dengan nada dingin dan ketus. Si teriak tadi mengangguk dan langsung memberikan jawaban, "iya saya sendiri Pak. Emang bapak itu dekat ya sama Anin ini?" tanya karyawan lain dan Aksa melihat arah ke Anin.
Jangan sampai Pak Aksa jujur. Awas aja! Esok tinggal kenangan aja Pak. Saya nggak akan nerima bapak sebagai calon suami.
Anin udah menggebu-gebu di dalam hati sampai ingin mengucapkan 'tidak' tapi, nanti temannya satu ini curiga. Yang di tanya Aksa, kenapa yang jawab Anin.
"Tidak, saya saja melihat kalau ada karyawan yang membawa berkas saya. Dan saya akan mengambilnya, begitu." Jawab Aksa. Hati Anin plong rasanya. Untuk impian terindah memang Aksa akan jawab 'tidak' melihat Anin yang udah bingung ingin memberikan kode.
Hatinya sungguh benar-benar melekat di separuh jiwanya Aksa.
Aksa berturut-turut ingin menyampaikan isi hatinya, keburu Anin selalu menghindar.
"Oalah ya udah, saya permisi dulu!" Si pengemis yang ingin di dekati Aksa pun malu karena Aksa sudah mempermalukan di depan Anin.
Di kirain mau jawab 'iya' ternyata 'tidak' malu sekali rasanya.
"Bentar! Saya mau tanya tadi kamu teriak kenapa? Apa ada masalah? Dan saya minta penjelasan sama kamu."
"Maaf sekali lagi Pak, saya minta maaf. Tadinya udah berpikiran aneh-aneh. Karena ini kawasan umum dan banyak orang berlalu lalang. Gitu maksud saya tadi Pak," jawab pengemis dengan menggaruk salah satu bahan yang ia jadikan garukan.
"Oh gitu, tak kirain kenapa? Kamunya jangan teriak-teriak di kantin, dan ini kantor. Bukan tempatnya untuk teriak-teriak. Ngerti!" Di balas anggukan dan pengemis pergi.
Aksa kembali duduk.
Bersambung...
Allhamdulilah, besok udah mau puasa nih 🥳🥳🥳 Marhaban ya Ramadhan ya 🍃🍃🍃
Maaf atas segala kesalahan dalam penulisan maupun ucapan yang tersela dan terketik dalam naskah semisalnya 🙏🤗
Makasih juga yang sudah mampir dan memberikan dukungan kalian ❤️❤️
Tanpa kalian, author juga tak akan sampai sekarang. Bisa membuat cerita walaupun terkadang ada penulisan kata yang salah dan harap di maafkan 🌺🌺
__ADS_1