Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 46. Mengeluh


__ADS_3

Happy Reading


Bude dan Pakde menunggu Anin sampai benar-benar sekarang mereka ingin pulang dan tidur-tiduran di rumah.


"Pak, ibu kok badannya pegel-pegel semua ini, pingin pulang tapi Anin di sini sama siapa nanti? Ibu kasian sama Anin kalau Anin sendiri di sini." Bude menyenderkan kepalanya di pundak Pakde.


"Iya bu, bapak juga pingin pulang."


"Maaf, selamat sore Pak Bu. Kami meminta bapak dan ibu untuk membayar semua tagihan rumah sakit atas pasien bernama Anin Fitri Ani bu, Pak." Ucap suster yang membawa surat tagihan di amplop putih dan suster menyerahkan amplopnya.


"Hah, bukannya ponakannya saya kan belum sembuh Sus. Kok sudah di tagih pembayarannya, seharusnya kan nanti." Ucap Pakde, Pakde pun berdiri dan suster menggaruk tengkuk belakang.


"Bukannya sudah sembuh ya Pak, tadi dokter mengatakan kalau Ibu Anin boleh


di bawa pulang." Pakde dan Bude bingung, kenapa jadinya seperti ini?


"Sus kan habis operasi, harusnya ada masa pemulihan dulu, tapi kok jadinya seperti ini." Ucap Pakde, dengan begitu suster pun mengambil amplop yang sudah di tangan Pakde Anin.


"Kalau begitu saya permisi dulu ya Pak, Bu. Saya cuma mau menyampaikan ini tapi kebalik kayaknya." Ucap suster itu dengan malu, akhirnya suster pergi dan Bude menggelengkan kepalanya.


"Ada-ada saja, sini pusing, situ pinginnya minta tagihan pembayaran. Aduh, pak-pak."


Pakde duduk kembali dan memijat kepalanya, yang meronta-ronta dengan kata 'pulang'.


"Pak, kita pulang saja yuk! Ibu sudah nggak betah disini, banyak orang terus bikin pusing lagi. Apalagi ada anak kecil, orang tuanya itu nggak kasian apa? Sama anak kecil yang di bawanya, terus kalau nanti kena kuman gimana lagi? Ih ngeri juga kan." Ucap Bude panjang kali lebar, Pakde menganguk-angguk sampai mendengarkannya saja bikin ngantuk.

__ADS_1


"Yuk!!!" Dengan semangat empat lima, Pakde menyuruh suster untuk menjaga Anin dari marabahaya nanti. Takutnya ada apa-apa bisa telepon langsung dengan Pakde Anin.


"Akhirnya sekian purnama dari tadi bujuk bapak, nggak mempan. Sekarang uuh... Mempan juga." Bude mengikuti langkah Pakde, dengan begitu ada dua orang yang melangkah ke ruangan Anin. Pakde dan Bude menengok.


"Siapa Pak?"


"Nggak tau bu, yaudah kita balik lagi. Nanti takut ada apa-apa."


"Hoalah Pak-pak, mau pulang saja ada apa-apa lagi. Nggak jadi pulang," pakde menyentil kening Bude dan Bude mengaduh.


"Ibu jangan pikirkan pulang-pulang! Sekarang bahaya datang. Nanti saja kalau memikirkan pulang, kita balik lagi ya!"


Bude pun mengangguk, Pakde dan Bude balik lagu ke ruangan Anin. Melangkah masuk dan jantungnya jedag-jedug, nggak jelas.


"Ada apa bapak ke sini?" Tanya Pakde dengan nada arogan dan dingin.


"Bapak nggak usah bermuka dua, silakan bapak keluar baik-baik atau saya panggilkan satpam!" Ucap Pakde dengan marah, Pakde benar-benar habis kesabarannya.


"Pak, jangan gitu lah sama Pak Rahmat! Bapak itu nggak menghargai Pak Rahmat ke sini, jauh-jauh lagi. Pak hormatilah sedikit, jangan sampai bapak nggak menghargai tenaga Pak Rahmat ke sini." Ucap Bude, mengelus bahu Pakde dengan lembut agar memberikan kelonggaran untuk menjenguk menantunya.


"Nggak bisa gitu bu, dia ini udah membunuh anaknya sendiri. Apa nggak nyadar kamu pasti merencanakan ini semua kan? Saya sudah tau, tapi kamu pura-pura nggak tau. Biar nggak di penjara kan. Saya ini mencoba bau-bau busuk seperti kalian ini, jangankan bau busuk! Kalian ini sudah mengotori tangan Anin untuk menyentuh keluarga kalian." Ucap Pakde dengan lantang tanpa haluan kemana-mana.


"Pak, sudahlah. Biarin, jangan sampai itu jantung kumat! Kalau kumat awas saja! Ibu nggak akan segan-segan memasukkan bapak ke rumah sakit yang di luar negeri. Biar bapak nggak akan pulang ke Indonesia lagi, nggak usah ketemu ibu lagi kalau bapak nggak mengizinkan mereka berdua menjenguk Anin."


"Apaan kamu Bu? Kamu melawan bapak, memilih untuk membela mereka? Iya?"

__ADS_1


"Iya, ibu akan membela mereka ketimbang bapak yang nggak menghargai tenaga mereka, yang ke sini jauh-jauh. Bapak ngerti nggak? Waktu dan tenaga. Coba bapak pikirkan? Gimana posisi bapak sama persis kayak mereka, apa bapak terima?"


"Sudah Pak, bu. Kalau nggak boleh, berarti belum rezeki kita untuk ke sini. Kalau begitu saya dan anak saya izin pulang, Assalamu'alaikum." Ucap Papah Rahmat memilih untuk pergi, daripada masalah rumah tangga Pakde dan Bude hancur nanti.


Bude mencegah mereka berdua yang ingin keluar dari ruangan. "Pak udahlah, kalau bapak ingin jenguk. Silakan! Karena kami ingin pulang, soalnya saya dan bapak ingin mengambil beberapa baju untuk di bawa ke sini." Ucap Bude.


"Oalah ternyata ada muka dua di balik ini semua, pintar juga kamu bu. Yaudah, lah kan ada yang jaga kalau gini. Bisa tiduran sehari di rumah." Ucap Pakde di dalam hati.


"Kenapa ya, ada apa? Apakah Rifa'i membunuh calon anaknya yang ada di perut Anin, tapi nggak mungkin Rifa'i seperti itu." Ucap Papah Rahmat di dalam hati.


"Pah, gimana?" Tanya Rifa'i dengan berbisik dan Papah Rahmat mengangguk.


"Baiklah kalau begitu, bagaimana dengan bapak? Apakah di izinkan?"


"Iya, saya izinkan. Maafkan saya tadi atas perilaku saya ke bapak. Kalau begitu saya dan istri saya permisi pulang dulu.


Assalamu'alaikum..." Ucap Pakde menggandeng tangan Bude dengan erat.


Keluar dari ruangan, mereka tertawa senang, akhirnya selamat dari rumah sakit. Ya, nggak betah selalu mengeluh itulah dan inilah.


"Nak apakah kamu membunuh calon anak kamu sendiri? Papah cuma tanya." Ucap Papah Rahmat mendaratkan bokongnya dan menatap Anin di ranjang yang masih menutup mata.


Bersambung...


Jangan lupa Like dan Komentar positifnya ☺☺

__ADS_1


Terima kasih yang sudah memberikan dukungannya dan yang sudah mampir ke sini


🙏💕


__ADS_2