Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 79. Reputasinya Hancur


__ADS_3

Happy Reading 📖


Aksa pun memanggil mbak-mbak yang menjadi pelayan di kantin ini, Anin juga sudah memesan makanannya sesuai selera lidahnya.


"Oh iya Pak, besok 'kan udah mulai puasa nih Pak. Sekalian aja nanti makan-makan di rumah saya Pak, ada acara punggahan Pak. Bapak ke sana aja saya undang. Makan-makan pak," ucap Anin dengan berharap.


"Saya nggak bisa Nin, jugaan nanti saya mau pulang ke rumah dan besok saya mau cuti ke kantor dahulu. Karena mau pulang ke rumah orang tua saya, dan itu sudah berada di luar kota. Saya nggak mau ngerepotin orang tuanya saya untuk ke sini jauh-jauh, demi anaknya yang kurang ajar nggak pulang ke rumah orang tua." Ujar Aksa, membuat Anin sesekali memakan perkataan Aksa.


Memang anak yang berbakti, apalagi jika anak yang menginjakkan kaki di tempat kelahirannya dan di besarkan oleh orang dengan penuh kasih sayang. Maka, dari itu jangan sesekali melihat pekerjaan numpuk-numpuk yang ingin buat-buat alasan seperti itu. Apalagi orang tua ingin melihat anaknya di puasa kali ini, kalau nanti orang tua sudah nggak ada. Apa kita akan merasakan hal sama kembali?


Tidak jawabannya, karena orang tua menanti kehadiran anak di tengah-tengah keluarga yang hangat dan bisa di jadikan panutan untuk anak, cucunya kelak. Kebahagiaan itu sendiri yang akan menjadi penghangat bagi keluarga.


"Hem gitu ya Pak, berarti besok bapak nggak kerja?" tanya Anin dengan nada lemas.


Sepertinya ngeluh nih si laki-laki yang ingin ia kejar pergi jauh, tidak ada temen buat curhat lagi. Karena setiap sisi yang terbaik, nyaman yaitu Aksa sendiri. Menurut Anin begitulah,


Aksa mengangguk dan tiba-tiba makanan juga sudah datang. Anin matanya sudah tidak selera makan, melihat makanan yang masih belum di sentuh sama sekali.


"Makan dulu nin, besok udah nggak makan lagi. Takutnya sia-sia, ke buang." Tawar Aksa, Aksa memulai memakan dan Aksa menatap gerak-gerik Anin.


"Nggak mau makan, yaudah sini biar aku sekalian makan." Kekeh Aksa, membuat Anin mengerucutkan bibirnya dan membanting sendok di atas meja.


"Astaga, kamu ini nin. Kamu kenapa ada masalah? Atau ada hal lain yang ingin di sampaikan tapi nggak kesampaian?" tanya Aksa membuat Anin semakin kesal dan membuang muka.


"Jangan gitu dong! Jadi, jelek itu matanya." Ucap Aksa dengan tertawa.


"Ya, aku mau makan." Anin akhirnya makan. Makan dan diam. Itulah yang Anin lakukan setelah marah-marah sama Aksa.


***


Setelah makan, Aksa pamitan sama Anin untuk pulang dan Anin sama pulang ke rumah. Karena ingin membantu bude-nya masak-masak buat nanti malam.


Menyambut bulan Ramadhan Ya penuh berkah dan ampunan. Anin sampai di gerbang, senyam-senyum seperti kecepit sandal dan palang pintu.


"Assalamu'alaikum," sampai di depan pintu. Pakde yang membukakan pintu dan Anin menyembunyikan tasnya di belakang.


"Wa'alaikumsalam." Jawab Pakde, Anin menyalami tangan Pakde.

__ADS_1


Aneh sekali, nggak terlalu biasanya atau sering kali senyam-senyum sendiri.


"Anin." panggil Pakde, Pakde kembali ke kursi dan Anin menghampiri Pakdenya.


"Yeah, ada apa pakde? Oh iya bude kemana? Udah ke pasar nih keknya." Hem, Anin udah mengalihkan pembicaraan.


Pakde nggak jadi bertanya langsung, Anin sudah masuk ke dalam kamar.


"Ponakan aneh nanti kalau senyam-senyum sendiri, alah wis lah biarkan aja. Yang penting bahagia, sederhana, bisa di jadikan ini apa lupa aku. Itu satunya cinta... Hehehe iya," ucap Pakde dan ada yang mengklakson dari luar.


Mobil masuk ke dalam rumah, siapa?


"Eh sebentar siapa itu?"


"Assalamu'alaikum Pak, saya mau bayar kontrakan nih." Ucap orang itu, membuat Pakde menelan ludah.


"Wa'alaikumsalam, Pak. Iya, masuk dulu Pak! Silakan! Saya buka lebar-lebar nih pintunya." Karena melihat anak itu, membuat Pakde melihat di belakangnya. Macam atasannya yaitu direktur utama perusahaannya sendiri.


"Oalah jadi ini yang punya kontrakan, humm... Berarti anakku ini di jadikan ala kadarnya dan bisa di jadikan pembantunya. Healah, emang ini mah... Sebentar besok udah puasa, nggak boleh marah. Nanti kalau ada dendam, sepertinya harus maaf-maaf'an ini." Ucap bos Pakde dan mengulas senyum kepada Pakde.


Membuat sang bapak membulatkan matanya.


"Ck... Ck... Sungguh memalukan sekali ini anak, masa bapaknya direktur terus anaknya tukang ngutang. Hummmm... Hummm..." Hahaha si bapaknya dari tadi ngumpat-ngumpat kayak katak loncat.


"Nggak papa nak, bapak juga udah memaafkan kamu. Pak, masuk dulu!" Ucap Pakde dengan menawarkan dan si bos masih tetap diem-diem baek di sana.


"Makasih banyak ya Pak, ini ada tebusan juga buat bayaran nunggak-nunggaknya. Tapi, maaf kalau selanjutnya ini nggak bisa ngontrak di sini kembali. Dan ini titip salam buat ponakan bapak ya, sebenarnya aku juga punya rasa lho."


Bapak pun menarik tangan si anak dan Pakde menggeleng kepala.


"Pak..." Sapa si bos dengan ramah, demi apa begini? Jadinya, reputasinya hancur berantakan sebagai direktur.


Hihihi.


"Iya, Pak. Saya di sini,"


"Eh sebentar, jadi bapak dan ayah udah saling kenal?" tanya anak dengan melepas eratan tangan sang ayah.

__ADS_1


"Hummm, gitulah ceritanya panjang. Yuk, pulang! Bapak udah nggak akan ke sini lagi." Ayah menyeretnya ke mobil dan anaknya melambaikan tangan sebagai tanda perpisahan.


"Jadi, itu anaknya Pak-pak... Ya Allah," badan Pakde lemas seketika dan ambruk di kursi depan.


Ibu baru saja pulang dari pasar, melihat Pakde yang ambruk. Langsung menjatuhkan sepeda dan tanpa bude turunkan standarnya.


"Eh Pak, bapak kenapa? Kok pucet seperti ini," Bude cemas dan menaruhkan belanjanya di depan. Mengecek badan Pakde, nggak apa-apa.


"Pak, bapak itu ngapa kok seperti ini?" tanya Bude dengan begitu Pakde sadar.


Kalau terbawa mimpi-mimpi juga itu si anak bosnya dan Pakde hanya memberikan jawaban gelengan kepala.


"Hoalah mau masak aja keperluannya banyak, terus masalahnya banyak. Anin udah pulang?" Bude mengantarkan belanjaannya ke dapur.


"Sudah bude." Anin menyembulkan wajahnya secara tiba-tiba tanpa salam ataupun itu.


"Kamu ini ngagetin bude aja. Masak, kamu bantu iris-iris itu sayur dan tahunya itu." Perintah bude pun di laksanakan oleh Anin.


"Ini baskomnya ada di mana?" tanya Anin, membuat bude sungguh kepalanya panas.


Nggak di cari dulu sebelum bertanya.


Begitulah prinsip bude, sebelum bertanya alangkah sebaiknya di cari.


Emang ponakan kagak ada akhlak.


Tapi, mau gimana pun tetap ponakan. Iya, harus di akui. Dan jangan merasa dirinya memegang benar!


Bersambung...


Jangan lupa like dan komennya teman-teman


😊😊😊


Semangat buat berbuka teman-teman. Sebentar lagi kok, kalau di jalanin dengan niat dan insya Allah berkah kok, puasa hari ini 🌹


Terima kasih 🙏💕

__ADS_1


__ADS_2