Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
–S2– Episode 58. Nikah, Membuat Gegara


__ADS_3

Happy Reading


Anin buru-buru masuk ke dalam kantor, karena menurutnya terlambat 2 menit dan itu pun kantor memundurkan jadwal jam masuk kerja.


Ada beberapa orang berlalu lalang lewat, yang jelas masih sepi, pada di kantin semua kalau pagi... Karena orang yang di kantin belum sempat bersarapan di rumah, jadinya makan di kantin.


"Lah, kok sepi?" Anin pun menarik kursi dan meletakkan tas serta berkas yang di tangannya, bagaimana caranya agar tidak terlambat di kantor, Anin mendesah pelan.


Teman yang satu ruangan dengan Anin tertawa, dia mendekati Anin. "Kamu udah berangkat jam segini, masih ada waktu sejam lagi lho buat ke kantin apa gimana!?" Ucap teman Anin, Anin menggeleng pelan dan tersenyum.


"Nggak usah kak, saya mau lanjut kerja dulu ya. Nanti filenya bisa nggak selesai kalau nggak dikerjakan." Ucap Anin membuka tas yang berisi file dan data-data yang ada.


"Ini 'kan hari bebas nin, sekarang saja atasan kita lagi menghadiri pernikahan nin, katanya semua atasan yang ada di kantor ini di undang, karena juga ada kaitannya dengan pengantinnya." Ucap teman Anin, Anin mengernyitkan kerut-kerut dahinya.


"Pernikahan siapa emangnya? Kok sebegitu pentingnya." Tanya Anin, Anin heran... Siapa sih yang menikah kok sepenting-penting kayak client saja dari luar negeri, di sambut dengan baik.


"Itu katanya sih ya, aku kurang tau kalau masalah itu. Tapi, katanya itu ini siapa, menantunya itu orang yang terkenal sih, namanya pokoknya Rifa'i begitulah anaknya Pak Rahmat, orang yang juga mempunyai saham di kantor cabang, kantor ini. Tapi, nggak tau ya kalau namanya... Pokoknya itu sih...." Anin terkejut karena kantor ini juga mempunyai urusan dengan kantor Wijaya Koesomo.


Bisa jadi, papahnya Putri ada kaitannya dengan kantor ini. Apakah atasan ataukah CEO-nya perusahaan ini?

__ADS_1


"Oalah yang itu, yaudah kalau gitu aku ke kantin dulu ya. Kantinnya ada di sebelah mana? Soalnya aku 'kan masih kurang paham dengan tata letak kantor ini." Teman Anin menunjukkan jalannya dengan berbicara cepat, membuat Anin bingung. Sebegitu banyak arah menuju kantin, aduh... Bisa tujuh keliling kalau nanti ketemu CEO perusahaan ini. Karena ruangannya pasti dalam dan jauh dari ruangan Anin.


***


Sedangkan, Rifa'i sudah ada di depan penghulu dan para saksi-saksi, papah Rahmat sebenarnya dari tadi tidak suka dengan keberadaan papahnya Putri yang sedari tadi mengatur jalan kegiatan pernikahan anaknya ini, iya tapi jangan juga ikut campur! 'kan sudah ada yang menangani kelanjutan pernikahan ini.


"Bagaimana Pak, apakah bapak akan mengijabkan anak bapak sendiri, ataukah saya sendiri?" Tanya Pak penghulunya dengan sopan dan santun, loh kok begini jadinya?


"Silakan adik saya yang akan mewakili karena saya bukan orang muslim, jadinya saya memilih untuk adik saya yang akan menikahkan anak saya. Boleh kan? Adik saya seorang mualaf beberapa tahun yang lalu, beliau mengikuti ajaran agama istrinya. Jadi, mohon dimaklumi!" Ucap papah Putri dengan tegas dan tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, silakan Pak!" Ucap Pak penghulu dengan mengisyaratkan untuk segera menduduki kursi yang sudah disediakan.


Akhirnya ijab qabul di mulai, Rifa'i menjawabnya dengan satu tarikan, tidak di ulangi kembali.


"Bagaimana para saksi sahhhh???" Tanya Pak penghulu dengan tersenyum, para saksi dan para hadirin yang bertamu menjawab.


"SAHHHHH..."


Penghulu memulai do'anya dan akhirnya selesai berdo'a, "silakan kalian berdua boleh cium tangan dan saling memakaikan cincin, apakah ada kesulitan nanti kita bantu!?" Tanya Pak penghulu dengan tertawa.

__ADS_1


"Hahaha..." Mereka semua yang ada di dalam ruangan tertawa, membuat dua sejoli mengulas senyuman.


***


"Apaaaa?" Ucap Bude dengan keras, karena ada tayangan live di TV, acara pernikahan Putri dan Rifa'i.


"Ibu, jangan teriak-teriak napa! Telinga bapak budeg denger suara ibu yang cempreng itu, kayak wajan kemlontengan." Ucap Pakde, Pakde meletakkan kopinya, tetapi diseruput Bude karena saking kesal.


"Ibuuuuuu, udah capek buat... Sekarang kamu buatkan kopi lagi!!!!" Pakde dengan sesekali mengucap ucapan yang dingin sekali, membuat Bude terkejut dengan perkataan Pakde. Pakde membanting koran yang dia pegang dan pergi ke kamarnya.


Bude pun mengerti, dia kembali membangunkan suasana yang menjadi hangat kembali.


Tapi, Tvnya gimana? Masih ada waktu, nggak papalah tinggal sebentar, karena acaranya masih panjang.


Bersambung...


Maaf kalau dikit updatenya sering, terus ini sedikit... Ada yang harus diurus didunia nyata... Jangan lupa berikan like dan komentar positifnya ❤️❤️


Terima kasih 🙏💕

__ADS_1


__ADS_2