
Aksa, laki-laki itu masih bingung dengan perlakuan papahnya yang masih diam tak bergeming. Kopinya itu masih ada di tangannya, tiba-tiba saja tangan papahnya melayang dan melempar gelas yang berisi kopi yang masih setengah.
Aksa sontak terkejut dan menganga agak lebar, melihat aksi yang ditunjukkan oleh papahnya itu. Aksa baru saja teringat, ia merunduk ke bawah pelan. Badannya merosot di atas papahnya yang masih menahan emosinya. Tetap saja meluap begitu saja, mata merah yang kini kembali hadir. Papahnya nggak pernah yang namanya bisa marah sebegitunya.
Air kopi tadi serta pecahan kaca yang sudah tak terbentuk gelas itu di bawah, di atas rerumputan. Aksa mengutuk dirinya, ia menatap ke bawah. Ia tak berani untuk menatap kelopak mata papahnya.
Kaki papahnya hampir saja melayang untuk menginjak punggung putranya itu, saking meredam emosi dari tadi. Sekarang baru meluap begitu saja, papahnya marah besar kembali akibat dia melalaikan.
Aksa jatuh ke bawah, ia hampir mencium kaki papahnya yang berbalut sandal itu yang harganya tak main-main. Emang tak anak serta ayah koleksinya dengan barang yang harganya fantastis.
Pria tua itu giginya bergemelatuk dan terkekeh yang kesannya bikin merinding.
Angin sepoi-sepoi nampaknya lebih takut dengan kemarahan orang yang ada di sana, ingin menyiksa putranya. Tampak malu menampakkan dirinya.
Pria itu menampakkan tangannya, terulur untuk membantu dan nyatanya pria itu mengepalkan tangannya lantas menonjok brutal ke wajah putranya tapi sebelum itu ada suara perempuan yang meneriaki mereka berdua.
Dua orang itu sontak tertoleh dan melihat seorang perempuan yang mengalirkan cairan bening yang turun dengan derasnya berjalan mengarah ke mereka.
Langkah perempuan itu terseok-seok dan memandang tajam ke dua orang itu yang saling memandang, tapi kedua insan itu seolah tak sadar dan perempuan itu sudah ingin menghentikan pada nyatanya mereka nyaman untuk menghajar satu sama lain.
Tak akan memedulikan perempuan yang tlah mengandung serta mendidik putranya walau itu hanya sebatas kenangan, tapi surga tetap di telapak kaki ibu jika putranya ini menikah dan menjalani kehidupan rumah tangga.
“Pah, nak. Udah stop!” tajam perempuan itu dengan suara seraknya akibat terlalu memendam rasa sakit yang terlalu lama membungkus akhirnya terbuka kembali.
Ya, suaminya mempunyai penyakit yang bakal kemungkinan kecil akan sembuhnya dan itu semua mengalami kejiwaan yang cukup mengguncang tubuhnya makanya jika emosi tak bisa ia redamkan akan meledak begitu saja.
Anaknya itu mengeluarkan darah segar dari mulut serta hidungnya, padahal hari ini hari yang dibilang harus menggemakan takbir dan melantunkan takbir sampai esok hari. Namun, dua insan yang tak lain papah serta anak malah bertengkar tak karuan.
“Nak besok sholat eid pagi, nggak bisa gitu pah.” Lerai Mamah Aksa yang masih memegang tangan papah Aksa dan mamah Aksa meringis, suara itu lolos membuat kedua lelaki yang sudah berumur itu pastinya khawatir.
Mereka berdua mendekati mamah Aksa itu. Tapi, yang ada penolakan dari mamah Aksa. Mamah Aksa meringkuk di atas bebatuan itu, kenyataan jika mereka memang keluarga yang nggak sebahagia yang orang bilang di TV.
Realita sesungguhnya jika mereka benar-benar keluarga yang tidak harmonis.
“Pah, aku bilang papah bisa kan jaga emosi papah. Nggak baik kalau papah tetap saja melukai putra papah sendiri, darah daging papah sendiri.” Marah mamah Aksa sedikit nada tinggi, Aksa pun merosot ke bawah. Membantu mamahnya untuk berdiri.
Mamahnya menerima uluran tangannya itu yang terkena muncratan darah dari mulutnya tadi, sedikit ia terkantuk oleh cincin yang digunakan oleh papahnya sendiri.
Mamah dan Aksa sekarang berdiri, mata pria yang menatap sedikit menunduk itu seperti takut jika perempuan yang seharusnya mendampingi separuh hidupnya akan meninggalkan dirinya.
Aksa, pria itu menatap bengis papahnya yang tidak pernah namanya menyakiti hati mamahnya sendiri sebagai anak pastinya akan melindungi keluarganya untuk tetap kokoh menjadi keluarga yang bahagia.
“Ya, mah ... maaf papah---” mata itu kembali mengeluarkan air mata dan mata kelam yang dulunya menatap dengan tatapan membunuh sekarang seperti bayi yang sedang meminta apa itu dengan induknya sendiri.
Langkah panjang pria itu cepat dan gesit menyamai langkah istrinya dan menghentikan dengan cara menarik sedikit kasar, “Kau apa-apaan mas. Inget kau udah tua dan berumur! Kalau nggak mau punya masalah, jangan bikin masalah!” bentak istrinya sendiri dengan semburan kuah yang keluar dari mulutnya.
Tak sopan!
Aksa yang di belakang itu memerhatikan kedua insan yang tampak diam tak seperti biasa yang saling bertukar informasi dan bertukar kondisi saja, itu saja yang mereka diskusikan ketika di rumah. Sebab itu Aksa tak pernah yang namanya menginjakkan kakinya ke rumah papahnya kembali.
__ADS_1
Yang ada kenangan terburuk bukan untuk kenangan yang terindah.
Aksa bergeming di sana, ia tak mau jadi penengah ataupun jadi orang yang paling tersakiti dan ia pergi saja dari sana. Karena lama-lama bisa pecah kepalanya, belum lagi nanti ia bisa tidur atau tidak.
Laki-laki itu tak pernah namanya yang memejamkan matanya dengan tenang akhir-akhir ini, tapi Aksa tak menyalahkan untuk kelahiran anaknya tetap saja ia salah sebagai ayah yang harus menerima buah hatinya apalagi dengan benihnya sendiri.
Papah Aksa tersentak ketika tangan berurat dan kurus itu dengan ringan dilayangkan ke pipinya yang berawajah tegas itu.
“Mah,” sorot mata tajamnya ia dominasikan sekarang dan mamah menganga tak percaya apa yang ia lakukan, ia tak pernah membantah semuanya. Ia tak mau jadi istri durhaka pada suami. Tapi, ini relita sesungguhnya ia pertama kali melayangkan tangannya itu ke pipi tegas suaminya itu.
“P-ppah, mmamah minta maaf.” Ujar mamah dengan nada terbata-bata, lidahnya serasa terbalik dan ia menatap manik suaminya yang tertarik untuk menamparnya balik.
“Mamah sanggup kok pah,” mamah menarik tangan papah dan Aksa yang mendengar itu dia tak sanggup sebenarnya mau melangkah meninggalkan dua insan itu bertengkar di rumahnya.
Masa iya rumahnya jadi korban kdrt juga.
Mana mereka dah tua masa nggak inget umur.
Mau cari jodoh kemana lagi, kalau nggak kembalinya kepada Tuhan.
Aksa berdecak, sebenarnya badannya serasa remuk redam. Ia ingin merendamkan diri ke kolam renang, bersemedi dengan air hangat begitu.
Biar bisa tenang, tapi mendengar itu ia berbalik dan melangkah kembali ke tempat asalnya. “Mah, pah. Sudah!” raut serius yang dikeluarkan oleh putranya itu dan mata rapuh mamahnya itu menatap anaknya yang tak jauh posisinya dengan mereka berdua.
Kecewa jika ia sudah menjadi istri yang jahat, ringan tangan.
Mamah pun melepaskan tangan papah, mendelosor begitu saja tepat di atas batuan kerikil itu. Aksa yang rasanya sedikit meringis itu, pasti sakit.
Aksa menatap papahnya sebagai tanda, ia mendesis ketika papahnya tetap bergeming tanpa bergerak untuk membantu istrinya sendiri. Akhirnya dengan sisa kekuatan tenaganya, Aksa mau dikatain anak durhaka nggak papa kalau ini keadaannya terpaksa.
Aksa menarik tangan kurus mamahnya dan mamahnya tangannya dingin sekali.
“Mah, jangan begitu! Mamah nggak pantes buat gitu, ini semua salah ku. Bukan salah mamah.” Aksa meyakinkan.
Mata Aksa sudah lelah sebenarnya, tapi masalahnya belum selesai.
“Diam nak, mamah mau ngomong sama papah mu. Biar sadar,” sebentar tadi apaan. Ia sudah salah sangka saja, Aksa mengukirkan senyumnya.
Mamahnya bohong kali ini, drama aktingnya cukup apik dimainkan.
“Lah bukannya mau mohon-mohon! Ck, sama aja dramanya. Drama gini nggak enak mending kita maaf’an!” seru Aksa agar mereka ini bisa memaafkan kembali, tak melanjutkan masalah ini yang akan semakin rumit.
Aksa mengangkat sudut alisnya sebelah, menatap papahnya yang menunduk dan Aksa menatap papahnya. Lantas ia melangkahkan kakinya ke arah papahnya, papahnya mendongakkan kepalanya melihat Aksa yang tersenyum lebar itu.
Menandakan semuanya baik-baik saja.
Putranya itu tampak merentangkan tangan untuk meminta ke pelukannya dan papahnya mengangguk, tak terasa cairan bening itu lolos turun begitu saja.
“Maaf,” cicit papahnya dengan suara seraknya.
__ADS_1
“Iya, nggak guna juga kalau dipanjangin. Nanti jadi tol malahan,” sedikit tertawa. Aksa memang bisa mencairkan keadaan, ia tak mau memperumit masalah yang semakin rumit dan tidak bakal akan bisa mencapai tujuannya pertama.
“Pah, mah...” panggil Aksa dengan memberikan ruang untuk berpelukan.
Mamahnya mendekat dan mereka saling berpelukan.
Mamah serta papahnya mengode, sepertinya mereka akan jahil tapi Aksa sudah menangkap pandangan itu jadi ia sudah bersedia untuk lari.
Namun, lagi gagal ketika tangan papahnya sigap mencegah.
“Hayo mau kemana?”
“Kamu tetap jadi anak papah sama mamah, nak. Jadi, mamah sama papah bakalan ada buat kamu.” Ucap sungguh mamah serta papahnya bersamaan.
“Hm iya lah, emang anak apa? Anak binatang, ih nggak jadi deh kalau gitu mau jadi anak mamah sama papah aja.” Dengan nada tak biasanya, mereka terkekeh dan Aksa memeluk mereka. Tangan kekarnya itu melingkar ke pinggang kedua paruh baya itu.
“Iya-iya, anak mamah sama papah lah.” Sahut papah diiringi kekehan kecil dan papah menggusak rambut putranya yang sudah awal berantakan.
“Mah ini lho papah berantakin rambut anak manja mamah,” ucap Aksa diselingi nada manjanya dan mengeratkan pelukannya ke mamahnya, kedua tangannya mengelilingi pinggang mamahnya.
“Papah!” Seru mamah, mata tajamnya itu menatap papah dan tangan papah berhenti.
“Mah, pah. Bahagia ya, nanti kalau ninggal. Jangan tangisin kalau aku bakalan nangis, salah satu harus ikhlas buat nenangin aku.” Ujar Aksa dengan nada kurang ajarnya, padahal harusnya ia yang menguatkan salah satu orang tuanya jika salah satunya meninggalkan dunia selamanya.
Entah akhir-akhir ini selalu bermimpi buruk tentang kedua orang tuanya.
Ia tak mau kehilangan, ia anak tunggal dan anak manja papah sama mamahnya, walau ia berdiri sendiri dengan kakinya itu. Sejak remaja ia tak pernah yang namanya menemui orang tuanya dan pada saat wisuda tidak ada kedua orang tuanya menemaninya.
Saat lelaki dewasa itu sukses tak ada kedua orang tuanya yang memotivasi dirinya dan memberikan dukungan di belakangnya, memberikan dorongan.
Aksa tak mau mengungkit kembali, sekarang di depan banyak yang harus ia hadapi. Apalagi ia sudah menjadi seorang ayah, harus laki-laki itu lakukan sebaik mungkin dan mengamati perkembangan anaknya sendiri sampai menikah sekalipun.
“Pah, aku ke kamar dulu. Jagain mamah nanti ilang, bingung papah!” canda Aksa dan mereka hanya menjawab senyum.
Aksa telah mengangkat kakinya dari sini, mereka memandang ke langit yang terang benderang. Bintang-bintang mengelilingi langit yang terang itu, tak ada sedikit mendung.
“Pah, katanya Aksa harus bahagia. Janji bahagia selalu sampai ajal menjemput kita pah.” ucap mamah dan papah mengambil tangan mamah.
Mengecupi setiap jari-jari mamah.
Papah tersenyum lebar dan mengecup dahi mamah. Aksa yang belum balik ke kamar dari pintu kaca itu tersenyum, ia ingin menyaksikan saja.
Bahagia selalu mah, pah. Aku nggak bisa jadi anak baik buat kalian, maaf.
--–
Baiklah ini sudah ya?
Hehhehe, segitu cukup nggak sebenarnya nggak sih tapi buat besok saia up setidaknya dua ribu kata lebih tapi nggak kerasa udah tamat besok🤭.
__ADS_1
Ya udah jangan follow IG Saia ya!
@dindafitriani0911