Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 6. Meminta Maaf


__ADS_3

🌷Happy Reading 🌷


Anin POV


Aku pun membuka pintu kamar dan membuatku lelah untuk menangis, aku melangkah ke ranjang dan aku mulai tidur, aku menjelajahi mimpi yang begitu membuatku tidak bisa tidur. Selama itu aku merancau di tengah-tengah mimpi. Karena mimpiku setengah menjadi di dunia nyata. Setelah beberapa menit, aku pun berhasil untuk bangun dari mimpiku. Aku terengah-engah karena mimpi itu membuatku merasa jadi buruk seketika. Aku pun mengusap-usap ketingatku yang bercucuran,


suamiku pun masuk karena aku berteriak dengan kencang. Membuat suamiku ke kamar dan mengetahui keadaanku.


Author POV


Sedangkan Rifa'i menunggu jawaban Anin,


“ Ehm, Nggak tau. Udah hilang semua karena terbawa bubur hangat tadi, dari cintanya mas Rifa'i makanya enak sekali buburnya. Jadi, hilang semua mimpinya” Ucap Anin dengan berbohong. “ Hahaha, kamu ini ya yang. Udahlah. Aku mau kembalikan mangkok sama gelasnya dulu, ” Ucap Rifa'i dengan membawa nampan berisi mangkuk dan gelas yang sudah habis. “ Ehm, enak juga. Badan udah anget tambah seger. Waw, hidup nggak usah kebanyakan beban. ” Anin tersenyum-senyum sendiri. “ Kenapa senyum-senyum sendiri? ” Tanya Rifa'i yang baru saja masuk ke kamar, membawa tas. “ Itu apa mas isinya? ” Kepo Anin karena tasnya begitu kecil, sampai Anin mengaguminya karena tasnya mahal sekali harganya.


“ Ehm, nggak ada apa-apanya. Ini juga cuma, isinya handphone aja. ” Jawab Rifa'i meletakkan tasnya di meja. Anin ber-oh ria dan Anin mengambil posisi untuk duduk. “ Oh iya mas, besok mau ke rumahnya kang pardi. Katanya bude, kang pardi menikah sama anak juragan teh. ” Ucap Anin dengan mengambil cemilan di meja. “ Hm, emang kang pardi itu siapa? Kok itu panggilannya kang-akang. Emang dia masih saudara? ” Tanya Rifa'i dengan mengambil jaket di lemari. “ Iya masih saudara dari ibu, ehm mamanya kang pardi, adiknya ibu. ” Jawab Anin,


“ Oh gitu. Yang aku mau ke kantor dulu ya, soalnya ada penangkapan pencurian. Aku di suruh untuk meminta keterangan, ” Ucap Rifa'i dengan memakai jaketnya. “ Ha, kok mendadak mas. Emang nggak ada yang lain? ” Anin langsung cemberut tidak bersemangat. “ Nggak ada yang berani, yang. Nanti kalau minta maaf sama ibu, nggak usah takut. ” Rifa'i mengelus kepala Anin dan Anin ingin rasanya menangis.


“ Ya udah, sekalian nggak usah pulang. Aku mau tidur aja, ” Ucap Anin membuat hati Rifa'i tertohok. “ Kamu kenapa yang? ” Tanya Rifa'i dengan duduk di tepi ranjang. “ Nggak papa, ya udah kalau mau berangkat. Sana, ” Ucap Anin dengan ketus. “ Nggak, masalahnya kamu kenapa? ” Rifa'i pun mencoba untuk meminta penjelasan. “ Nggak papa mas, aku cuma ngantuk aja. ” Ucap Anin dengan memakai selimut dan Anin berbalik arah. “ Yang kamu kenapa? ” Tanyanya kembali dan membuat geram Rifa'i, tetapi dia tahan agar tidak marah-marah di rumah mertuanya. “ Ya udah mas, nanti telat lho. ” Ucap Anin dan Rifa'i mau nggak mau harus berangkat dinas kembali.

__ADS_1


“ Ya udah yang, mana kiss malam untuk malam ini aja. Sekalian salamnya, ” Rifa'i pun mulai berdiri dan tersenyum. “ Nggak, udah lah nanti kamu telat. ” Ucap Anin membuat Rifa'i tidak bersemangat. “ Yang, aku mau besok pulang. Kamu siapkan barang-barang buat besok pulang! Aku mau berangkat dinas, assalamu'alaikum. ” Rifa'i melangkah keluar dan Anin ingin menangis sejadi-jadinya.


Anin menutupnya dengan bantal agar tidak kedengeran dengan ibunya. “ Hwa, jahatt kamu mas... Aku nggak kuat, hwa-hwa.. Ibu aku nggak kuat.... Aku nggak mau setiap hari begini... Hwa,


ibu aku nggak pengen seperti ini... ” Ucap Anin dengan menangis terisak. “ Hua, aku nggak mau... ” Ucap Anin dengan kencang, Anin pun menutup mulutnya dengan bantal. “ Ya Allah kenapa begini? ” Anin mengambil gulingnya yang berjatuhan di lantai. “ Ah, ingin rasanya aku menenangkan pikiranku di Danau. ” Anin melangkah mengambil kerudung di lemari dan Anin memakainya. Anin melangkah keluar dan mengendap-endap seperti pencuri. “ Kayaknya ibu nggak ada ini, aman terkendali. ” Gumam Anin. Anin pun melangkah keluar dan ibunya mau masuk ke dalam rumah.


“ Astagfirullahalazim nak, kamu ini. Untung jantung ibu nggak kumat lagi, ” Ucap ibunya yang membawa mukena dan sajadah.


“ Kamu mau kemana? Kok udah dandan aja, ” Ucap ibunya dengan lembut dan Anin pun duduk di kursi. “ Ehm, ibu nggak marah lagi. ” Ucap Anin dengan menunduk. “ Nggak boleh sama Pak ustaz, kalau marahan nggak boleh sampe menyakiti hati seorang anak. Biarkan anak untuk bahagia. ” Ucap ibunya dengan mengelus tangan Anin. “ Maaf ya bu, aku punya salah. Aku mau pergi dulu ya bu, ” Ucap Anin dengan menyalami ibunya. “ Kamu mau kemana? ” Tanya ibunya. “ Aku mau pergi sebentar bu, aku nanti pulang. ” Ibunya pun mengangguk dan Anin melangkah keluar. Anin pun berjalan,


Beberapa menit kemudian, sampailah di danau yang ada jembatan dan Anin pun duduk di kursi yang ada di danau. “ Kenapa hidupku seperti ini ya Allah? Aku nggak sanggup, akankah aku sanggup ke depannya.... Satu hari aja, aku nggak sanggup. Apalagi ke depannya? Hwa... Hiks-hiks.... Ibu, ” Anin menangis semakin menjadi-jadi sampai ada Pak Rwanda yang lewat di danau. “ Assalamu'alaikum neng, ’’ Ucap pak Rwanda dengan membawa tasbih.


“ Assalamu'alaikum, neng. ” Ucap Pak Rwanda dengan keras dan Anin tersadar kalau ada Pak ustaz. “ Waalaikumsalam Pak, srukk. ” Ucap Anin dengan mengelap air matanya.


“ Neng kenapa? Kok menangis, bukannya neng udah punya suami di rumah. Kok ke sini, kenapa emang neng? ” Pak Rwanda ikut duduk. “ Nggak papa Pak, ” Jawab Anin. “ Nggak papa neng, kalau neng mau cerita. Biar saya beri nasehat ataupun penjelasan neng, ” Ucap Pak Rwanda.


“ Ini Pak, saya mau tanya. Suami saya kerja jadi polisi, tetapi saya nggak kuat. Karena suami saya setiap saat di tugaskan untuk pergi. Hwa.. hiks-hiks, ” Ucap Anin dengan menangis dan Pak Rwanda pun menghela napasnya.


“ Astagfirullahalazim neng, saya kirain apa neng. Begini ya neng, suami neng kan Abdi negara untuk kebutuhan negara dan keamanan negara. Neng harus bangga sama suami neng, ” Ucap Pak Rwanda.

__ADS_1


“ Tapi Pak, saya nggak kuat menghadapi itu semua. Kapan itu-itunya Pak, kalau setiap saat di panggil untuk menghadapi tugasnya Pak. Hwa-hwa.... Hiks-hiks, ” Pak Rwanda memikirkan, bagaimana caranya agar Anin bisa menghadapi semua ini? ”


“ Begini neng, kunci utama untuk menuju kesuksesan dalam berumah tangga itu sabar dan tenang neng. Sama-sama saling menguatkan neng, perlahan-lahan akan bisa menghadapi semua ujian dengan baik. Sama-sama memikirkan hal yang positif, jangan mudah untuk emosi dan marah! Semua itu cuma membawa pernikahan hancur dan berantakan neng. Pasangan yang mampu untuk bersabar itu akan menjadi sama-sama kuat dan melewati itu semua dengan mudah neng. ” Ucap Pak Ustaz Rwanda.


Bersambung


🌷 Jangan lupa untuk LIKE, KOMEN POSITIF, DAN VOTE 🌷


🌷Jangan lupa untuk mampir ke instagram 🌷


@dindafitriani0911





# Terima kasih.... Lop-lop

__ADS_1


__ADS_2