
Happy Reading All 🤗
Anin mengayuh sepedanya dengan keringat menetes setiap jalan. Ada suara klakson mobil, membuat Anin memberhentikan mengayuhnya dan menatap mobilnya. Mobil siapa ini? Mobil bermerk fortuner.
"Siapa yah?" Anin meminggirkan sepedanya dan keluarlah sosok sepatu mengkilap, sepertinya habis di sol.
"Anin." Panggil Aksa, Aksa keluar dari mobilnya dan menghampiri Anin.
"Bapak, ehm bapak ke sini ada apa?" tanya Anin, Aksa menenggelamkan tangannya di saku celananya, seperti mengambil sesuatu.
"Nin, ini ada surat dari Pak Ali untuk berbisnis." Ucap Aksa, Aksa menyerahkan secuil surat itu dan Anin mengernyitkan kerut-kerut dahinya.
"Bukannya nolak Pak, maksutnya gimana ya Pak? Saya nggak ngerti." Anin juga nggak tau menau soal ini, kenapa Pak Ali mengasihkan surat ini. Ada apa sebenarnya? Anin menerima surat itu dan memasukkan di dompetnya.
"Nanti buka aja, sekarang kamu mau kemana? Kok bawa sepeda. Bukannya rumahmu masih jauh dan kamu bawa sepeda, terus itu keringetnya netes." Aksa mengeluarkan sapu tangan dari sakunya.
"Ini pakai saja, tenang itu bersih. Daripada kayak gitu," ucap Aksa. Membuat Anin melongo atas perlakuan Aksa terhadapnya, padahal Anin bukan siapa-siapanya. Anin sudah di perlakukan sebagai permaisurinya Aksa..
Jangan mimpi, kau nin! Lu nggak ada apa-apanya sama Pak Aksa.
Anin membatin, dia juga menatap dari bilik mata Aksa sepertinya dia suka dengan Anin.
"Iya, saya mau ke pasar tradisional Pak tadinya. Mau jahitin baju yang kepanjangan ini," ujar Anin dengan tersenyum dan sopir yang di mobil Aksa keluar, dia menyerahkan botol air mineral.
"Ini Pak."
"Iya terima kasih," Aksa memberikan botol air mineral itu kepada Anin.
"Hah, udah Pak nggak usah berlebihan." Aksa menggeleng, dia membuka tutup botolnya dan memberikannya kepada Anin.
TINNN
__ADS_1
Suara mobil berhenti di hadapan mereka sekarang, keluarlah wanita dan laki-laki.
"Mas Rifa'i dan Putri," ucap yang di lontarkan Anin. Anin terkejut, kenapa bisa lewat di sini?
"Wah, selamat ya kalian udah menjadi pasangan bahagia. Mudah-mudahan kalian bisa menjadikan anak kalian juga contoh buat kalian, biar nggak ini apa--?" Ucap Anin, Anin menyindir Putri dan Rifa'i.
Putri juga tersenyum manis dan memegang tangan Rifa'i.
"Apa kau nggak salah?" tanya Putri, Putri juga menimpali pertanyaan.
Membuat Anin kicheep.
🌙🌙🌙
"Apa maksud kamu nin? Kamu iri 'kan, jangan sok mimpi kamu! Pak Aksa yang berhati mulia dan bijaksana ini. Jangan deket-deket sama perempuan ini ya Pak! Wanita ini wanita---" Ucapan Putri di sahut oleh Anin sendiri.
"Apa? Kamu mau ngomongin aibku di depan CEO ku sendiri, silakan! Tapi, jangan harap kau menjadi wanita pilihan yang terbaik di mata mas Rifa'i sendiri!" Ucap Anin dengan kesal dan marah.
Sebenarnya ingin menampar permukaan pipi halus Putri, tapi apa boleh buat? Rifa'i sekarang bukan seperti dulu, dia tidak mendapatkan separuh harta warisan dari sang papah. Dia sekarang menumpang di rumah Putri, Putri juga melakukan Rifa'i bagaikan suami sendiri.
Putri juga setiap pagi memasak dan mengurus hal pribadi Rifa'i juga. Dari pagi tadi, tapi kedepannya entah nggak tau lagi? Karena dapat sindiran halus dari Anin.
"Emangnya ada apa kalian ini? Kok saya dari tadi bingung ya, Putri udah kenal sama Anin dan begitu sebaliknya. Apa kalian ada hubungan ini atau gimana?" Pertanyaan yang membuat Anin di sambar petir, karena pertanyaannya seolah-olah mau mendapatkan jawaban.
"I---" Putri mau mengucapkan.
"Sayang aku dapat chat dari kantor papah kamu, katanya aku di suruh ke sana. Kamu mau ikut kan?" tanya Rifa'i, Rifa'i mengalihkan istrinya. Agar istrinya bisa menurut.
"Kali ini lo selamat. Yaudah yuk mas! Byeee..." Dengan menyibakkan rambutnya di hadapan Anin.
Aksa menarik rambut Putri dengan sengaja.
__ADS_1
Dia tidak mau Anin di olok-olok seperti ini.
"Auuu... Mas," Aksa mendorong tubuh Putri. Membuat Putri terjatuh.
Rifa'i membelalakkan matanya. Menolong Putri terlebih dahulu, menatap tajam ke arah Aksa.
"Apa lo itu perempuan, mainnya kejamnya sama perempuan. Sungguh laki-laki macam apa kau ini?" Ucap Rifa'i, Rifa'i menggandeng istrinya dan di masukkan ke dalam mobil.
"Urusan kita belum selesai, ini alamat dan kantor yang harus lo tuju nanti malam! Ingat, kalau lo nggak datang berarti lo bukan laki." Ucap Rifa'i dengan menarik kerah jas Aksa dan Aksa tersenyum smirk.
"Oke, nanti aku akan ke sana. Karena lo juga bukan laki."
Anin menarik turunkan bibirnya dan semakin kesal, dia menarik tangan Rifa'i agar menjauh dari Aksa.
"Jangan salahkan Pak Aksa!" Ucap Anin
"Iya saya udah tau, tapi ini urusan lelaki. Harap nanti kedatangannya Pak Aksa yang terhormat. Saya pamit pulang," ucap Rifa'i. Rifa'i pergi dari pandangan mereka berdua.
Busss... Mobil pun pergi dan Anin menghadap ke arah Aksa.
"Kamu enggak papa 'kan?" tanya Aksa dan Anin berbarengan.
Mereka tersenyum.
"Yaudah kalau gitu Pak, saya pergi dulu. Terima kasih atas bantuannya, tapi ini juga bukan urusan bapak. Bapak nggak usah hadiri itu acara, nanti takutnya bapak kena apa-apa lagi. Saya minta maaf sekali lagi Pak, karena ini bukan urusan bapak. Saya pamit pak," Aksa mengangguk dan Anin mengayuh sepedanya kembali.
Bersambung...
Hihihi nih aku tambah upnya, biar semangat lagi 😇😇
Jangan lupa Like dan komennya yah 😊😊😊
__ADS_1
Makasih ❤️❤