
Happy Reading 📖
Setelah menguap beberapa kali, Anin akhirnya tertidur di sofa. Bude dan Pakdenya sudah tidur terlebih dahulu, menunggui sang keponakan. Besok tidak jadi untuk pergi ke luar kota setengah hari, dan itu pun berangkat pagi-pagi. Agar tidak terkena macet parah, karena jalanan kota begitu panjang kalau macet.
Jadinya rumit nanti.
TV masih menyala, Anin tidak bisa mematikan karena matanya udah benar-benar menempel dan tertidur lah sudah.
***
~Aksa PoV~
Aku tidak bisa tidur karena hal tadi yang belum aku ungkapkan secara terang-terangan. Kenapa bisa aku menjadi seorang laki-laki pemalu?
Padahal setiap aku ketemu dan setiap meeting, menyampaikan temanya apa itu. Aku selalu mengungkapnya dengan jelas dan real.
Tapi, kok aku mengungkapkan hatiku serasa menciut sampai di urat nadi-nadi.
"Apa sebenarnya Anin sudah menikah? Sepertinya Anin sudah menikah, karena desas-desus dari Anin, katanya menikah dengan anak dari perusahaan sebelah. Berarti mantan menantunya dong." Ucap ku dengan mondar-mandir, aku bingung.
Keputusan tepat atau tidak aku mengambil tindakan dan alih-alih seperti ini.
"Deerrr..." Membuat kaget saja, Ayah belum tidur. Ah, pingin sekali rasanya ngobrol sama ayah. Udah lama nggak ngobrol. Ayah masih ingin di sini, menginap dan aku setiap saat selalu ingin mendekati sama mendekap tubuh ayah.
__ADS_1
"Yah, " panggil ku dengan lembut dan mendekati Ayah. Aku belum bisa untuk membanggakan hati orang tua selama ini, beliau selalu menjodohkan ku dengan para perempuan.
Tapi, tidak ada yang sama sekali menurutku yang mantap di hati. Kecuali Anin sendiri, aku merasa berasumsi untuk mendapatkan Anin.
Kenyataannya hatiku tetep kekeuh di Anin.
Apakah aku boleh meminta pendapat sedikit sama Ayah? Takut kalau ayah tersinggung dan menatap sedikit keberadaan Anin.
Yang pasti di tolak mentah-mentah oleh ayah. Tapi, aku memilih untuk di situ. Tidak akan berubah sama sekali pikiran ku ini.
"Ada apa nak?" Aku mencoba merengkuh tubuh yang sudah mulai keriput, belum juga aku membuatkan cucu untuk ayahku ini.
Ayah sebenarnya ingin menimang cucu dari sejak dulu, tapi aku belum mendapatkan istri.
"Silakan!"
Aku ragu, mau gimana pun aku harus ungkapin. Tidak ada yang di tutup-tutupi, masalah hati harus di selesaikan dan nggak boleh di persulit.
"Ayah sebelumnya aku meminta maaf, beberapa kali aku menolak perjodohan yang ayah bangun, dan aku mengucapkan thankyou, ayah sudah menjalankan semuanya dengan baik. Menyangkut permasalahan pribadi dan privasi aku buka sekarang. Ingin aku sampaikan semua pada ayah." Aku memulai menghela napas, napasku udah ngeh-ngeh ini menyangkut masa depan.
Kagak ada yang namanya di tunda.
"Bissmillah... Yah, sebenarnya aku mau terang-terangan aja. Daripada gelap-gelapan---Ehhh..." Aku tersadar dengan ucapanku tadi.
__ADS_1
"Kamu mau gelap-gelapan, kenapa emangnya? Mau nunggu liln sama ada yang keluar," ucap ayah membuat aku menahan tawa.
Wah wiz pikun. Ealah nggak aku nggak boleh ngatain seperti itu, apapun itu caranya?
"Ini yah, aku lagi kepingin nikah." Salah ucap lagi, hem bisa aja ayah mendesah begitu.
"Lah, ayah udah pilihin jodoh kamu yang tepat ini mah. Nggak perlu biaya," ucap Ayah dengan memperhatikan layar gawai ke arah Aksa.
*Orang edan...
Emang mau si gilaa aja, yang waras juga mau dong*....
.
.
.
**Bersambung
Jangan lupa like dan komennya yah😊😊😊
makasih ❤️❤️🥰**
__ADS_1