Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 64. Perjalanan akan dimulai


__ADS_3

Happy Reading All 🤗🤗


Rifa'i akhirnya membelokkan mobilnya ke arah kantor dan membukakan pintu mobil untuk Putri. Sampailah di ruangan Rifa'i, Rifa'i mendudukkan dirinya ke kursi yang setiap hari ia duduki. Dengan menghela napasnya.


"Mau apa kamu?"


...Deggghh......


Bagaikan di sambar petir, membuat Putri merebahkan tubuhnya ke atas sofa dan meletakkan tas jinjingnya.


"Mas, aku nggak mau apa-apa. Katanya tadi ada orang penting yang mau ke sini mas, tapi mana? Kok belum datang." Ucap Putri menatap seisi ruangan Rifa'i.


"Nggak jadi," Putri mendekati Rifa'i. Dan mengelus pelan pundak Rifa'i.


"Kamu kenapa mas? Kok marah sama aku, bukannya kita udah janji. Kalau menikah nanti kamu nggak boleh marah-marah sama aku." Ujar Putri, membuat Rifa'i menggedikkan bahunya.


Menata jasnya dan mengancingkannya.


"Kamu tunggu di sini, aku mau pergi sebentar!" Rifa'i pergi dan Putri mengepalkan tangannya seraya tidak terima dengan kejadian beberapa menit yang lalu.


Dia yang sakit, kenapa nggak di obatin malah pergi suaminya.


"Apa-apaan si Anin itu, bikin aku pingin ke sana lagi. Awas aja pembalasan ini belum berakhir," dengan melangkah ke kamar mandi dan mencuci tangannya di wastafel.


"Tadi, apa hubungannya sama Pak Aksa? Apa Pak Aksa CEO, CEO darimana? Bukannya Pak Aksa itu selama ini cuma bekerja sebagai manager saja. Tapi, aku tadi kenapa kepancing sama perkataan Anin? Yang CEO-CEO tadi. Apa sebenarnya ada yang di tutupin sama Aksa? Aku nggak pernah namanya sedeket itu sama Aksa. Anin? Wah..." Ucap Putri dengan keheranan.


Putri kembali lagi ke sofa dan mengambil buku yang ada di rak.


"Alur akan dimulai." Dengan tersenyum licik.


...---...

__ADS_1


Anin masuk ke dalam toko jahit, dia melihat ada orang juga yang mau menjahitkan baju.


"Assalamu'alaikum mbak." Salam Anin.


"Wa'alaikumsalam... Iya sebentar,"


Yang punya toko keluar dan menatap Anin dengan judes.


"Ini mbak, mau jahit baju." Ujar Anin dengan tersenyum, Anin menyerahkan kantong plastik.


"Ya, bentar saya mau ambil meterannya dulu." Mbaknya mengambil meteran, Anin memilih-milih baju di sana.


"Bajunya bagus, apalagi jahitannya. Apa beli ini? Harganya kira-kira berapa? Boleh di cicil nggak lagi," ucap Anin.


Utangnya saja numpuk si punya tokonya sampai perhari ada orang sepuluh yang menagih hutang.


"Sini, biar saya yang ukur." Ucap mbaknya, Anin menurut.


"Mbak ini berapaan kira-kira?" Tanya Anin, membuat mbaknya tidak suka dengan Anin karena pekerjaannya di ganggu.


"Itu tiga ratus, kalau mau. Harganya sebenarnya empat ratus, tapi aku kasih promo hari ini."


"Oalah. Boleh di ambil mbak?" tanya Anin, si mbak menghela napasnya berat.


"Bolehlah, kamu ini masa aku jualan kek gituan nggak boleh diambil. Udahlah yang penting cash, nggak ada yang namanya utang." Eh, si mbaknya aja tukang utang.


Terus yang beli nggak boleh ngutang gimana nih?


Untung Anin bawa dompetnya, sekitar uang 5 lembar juga ada.


Anin membayarnya dan setelah semuanya selesai. Anin pun pulang menggunakan sepedanya, dia merasa ada yang mengikuti.

__ADS_1


Entah siapa?


Tapi, pandangannya ke depan. Nanti kalau seumpamanya kayak hari itu gimana?


Dia di copet, terus apesnya lagi mencebur di selokan dan sekaligus sepedanya mengikut.


Mampir di tukang bakso perempatan jalan, Anin menengok kesana-kemari. Nggak ada orang sama sekali.


"Bang boleh pesen baksonya satu mangkok aja yah, bumbunya biar saya yang kasih sendiri." Ucap Anin, Anin menatap duduknya dan menatap sekitaran.


"Baik mbak." Jawab penjualnya.


"Sepi amat bang, nggak biasanya sepi kayak gini. Biasanya rame."


Anin juga bingung, setiap lewat nggak selalu sepi dan sampai kadang nggak kebagian tempat duduk.


"Ya, nggak tau ini. Saya juga setiap hari mangkal di sini, terus kenapa hari ini aja yang sepi. Nggak pernah lho namanya sepi," abang baksonya membawa nampan.


"Hem palingan juga pada kerja bang, tapi aku yang heran sendiri bang." Anin menerima baksonya dan meracik bumbunya sendiri.


"Bang bakso dua mangkok ya." Ucap laki-laki berdua itu.


"Iya." Abang baksonya terpencar lagi wajahnya, sepertinya dari pagi belum dapet pelanggan.


"Brakk"


Membuat Anin terkejut, hampir tersedak dengan kuah bakso yang panas dan pedas.


Bersambung...


Jangan lupa Like dan Komennya 🔥🔥🔥

__ADS_1


Terima kasih 🙏💕


__ADS_2