
Rifa'i dan Putri jalan-jalan, sampai mereka mampir ke sebuah kafe, Putri ingin memeriksakan rahimnya di dokter, adakah masalah di dalamnya, sampai saat ini mereka belum di karuniai seorang anak, calon jabang bayi di dalam kandungan Putri. Dan Rifa'i pun sama melakukan tes, hasilnya tidak ada masalah. Berarti mereka sehat, dan mereka sudah melakukan perjalanan honeymoon beberapa kali ke luar kota.
Satu Indonesia mereka jelajahi, dan tidak ada satu kota yang terlewat.
"Mas, beneran ini kafe terkenal itu." Putri memastikan, Rifa'i mengangguk.
Menyelusuri, masuk ke dalam mencari tempat yang cocok untuk bersantai.
Mendongak ke arah yang tepat, di sisi tersebut ada Anin dan Aksa mengobrol, Pakde juga. Ada orang-orang yang mengelilingi mereka, ada apa? Lalu, Putri sama dia membatin tidak percaya jika perempuan itu benar-benar ada di samping laki-laki teman bisnisnya itu.
"Mas," seru Putri dengan pelan.
Rifa'i menggeleng, sebaiknya pergi saja tapi berharap ke depannya mereka akan baik-baik saja. Tetapi, bagi Putri tidak ada kata untuk berteman dengan Anin.
Baginya cukup, sekarang ingin menikmati masa-masa indah dan hanya larut dengan perasaan yang ia dalami.
Sehingga tidak ada perkataan dari mulutnya yang panas itu, ejek, cacian, makian, maupun kata-kata kasar.
Rifa'i menarik tangan Putri, untuk mengikutinya dan segera pergi dari kafe ini.
Melihat ada yang aneh, Anin merasa ada sosok Rifa'i bersama istrinya tadi. Tapi, kenapa tiba-tiba menghilang dengan cepat?
Apa dia salah lihat?
Tapi, benar kok matanya belum rabun.
Ada apa mereka ke sini? Apa ini tempat yang biasa mereka kunjungi, atau mereka adalah pemilik kafe ini?
Anin bercakap-cakap, Anin beranjak berdiri ingin dia ke toilet dan memastikan pandangannya tadi. Salah atau tidak, harus Anin pastikan benar.
Aksa mengizinkannya, asal jangan terlalu lama di toilet! Anin menjawab 'iya' dirinya sanggup memenuhi keputusan Aksa.
"Lah, kemana ya orangnya? Apa benar aku salah lihat, sudah lah aku mau balik lagi saja." Anin mencuci tangannya dan mengeringkan pakai tisu.
Setelah semuanya sudah di siapkan, Anin dan Pakde pulang, Aksa yang mengantarkan mereka sampai rumah.
"Jangan sendirian bawa mobil nak! Kamu bentar lagi mau nikah lho nak, takutnya ada apa-apa. Seharusnya, kamu itu ada di rumah dan diam di rumah. Biarkan kami yang akan mengurusnya. Cepat, lambat. Pasti kami akan penuhi dengan sesuai yang ada." Pesan Pakde yang ada di dalam mobil, Pakde satu kursi dengan Anin. Di kursi penumpang, Anin malu sekali dirinya.
__ADS_1
Jika saja Pakde tidak mengomel, pastinya dia yang akan memberikan nasehat untuk Aksa.
"Pakde... Jangan gitu lah! Kasian itu mas Aksa nya, di takut-takuti gituan..." Anin bergelayut manja, memeluk perut Pakde dengan erat.
Seperti ayah, dan seorang anak yang ada di sampingnya. Menceritakan kisah-kisah yang penuh lucu dan tawa, membuat bahagia.
Kekosongan dan kehampaan, bagi Pakde dan Bude, ingin sekali mempunyai anak. Setiap hari di penuhi dengan suara tangisan bayi, repotnya mengurus bayi, dan tawa bayi di rumah.
"Sudah sampai Pakde," Anin membuka pintunya, tapi Aksa yang sudah membukanya dahulu.
"Iya, kamu mau mampir dulu nak? Tapi, kalau boleh sih di rumah saja nak daripada keluyuran nggak jelas." Aksa mengangguk.
Dan Aksa menyalami Pakde serta melambaikan tangan kepada Anin.
"Ehem, belum ya... Sah aja belum, kamu mau nyomot-nyomot itu bibir, mending Pakde kuncir sama jepitan baju." Gelak tawa memenuhi depan rumah itu. Aksa ikutan ketawa, benar saja dirinya pun belum mengucapkan kalimat sakral itu di hadapan orang tua, maupun calon istrinya.
"Ya sudah, Pakde sama Anin masuk dulu. Calon pengantin perempuan, nggak boleh kelamaan di luar... Pulang! Jangan kemana-mana dulu Aksa! Sebelum kamu mengucapkan kalimat itu di hadapan kita... Ngerti?" Pakde mengingatkan sekali lagi, ia tidak mau jika ada apa-apa nantinya.
Menurut primbon Jawa, jika di ketahui bahwa calon mempelai laki-laki maupun perempuan itu tidak boleh keluar selama sebulan sebelum akad nikah di mulai, tapi tanggal pernikahan saja sudah akan mendekat dan baru saja kemarin lamaran.
Sudahlah, yang penting jangan terlalu percaya! Mudah-mudahan tidak terjadi apa-apa, karena Allah yang tau.
"Assalamu'alaikum..."
"Wa'alaikumsalam... Hati-hati nak,"
"Iya, Pakde. Jaga Anin juga ya!"
"Oke..."
Pakde membuka pintu gerbang, seketika melihat Anin bengong membuatnya sedikit terheran.
"Kamu, kenapa?"
"Nggak papa, Pakde. Aku mikir sekarang, nikah itu nggak seperti mainan anak kecil, dulu aku menikah mikirnya nikah itu enak, punya anak, terus menjalankan pernikahan itu dengan baik. Tapi, ada saja yang di alami dengan namanya rumah tangga." Tutur Anin, berjalan masuk ke rumah.
Rumah terkunci, berarti Bude tidak ada di rumah. Pakde membukanya lewat belakang, pasti tidak di kunci pintu belakangnya.
__ADS_1
"Masuk dulu, nak! Biar Pakde jelaskan, kamu bisa paham nantinya." Pakde membuka pintu dan Anin masuk ke dalam rumah.
Mendaratkan bokongnya di kursi, Pakde masih mencuci tangannya di dapur.
Mencari makanan yang pas untuk camilan, jam satu siang, kemana istrinya?
"Nak, buatkan Pakde kopi! Pakde nggak bisa, soalnya berapa sendok nggak tau." Anin mengangguk.
Anin membuatkan kopi untuk Pakdenya, dan Pakde leyeh-leyeh di kursi. Menonton TV, dengan senyaman dan tidak ada tengok sana-sini.
"Ini, Pakde."
Anin duduk di samping Pakde.
Pakde mulai menyesap kopinya, yang masih mengepul asapnya dan sambil memakan roti yang di hidangkan di sana.
"Nak, Pakde mau lanjutkan pembicaraan mu yang tadi. Rumah tangga, iya kamu sebagai istri mempunyai tanggung jawab besar terhadap keluarga, sama-sama imbang dengan laki-laki.
Kamu bisa menjadi istri baik, melayani suami dengan baik, di mana pun keadaannya... Mau suami jatuh miskin, sakit, kita bantu, jangan kamu biarkan suami mu itu mengalaminya dengan sendiri! Sesuatu yang mendesak, bukan berarti di tinggalkan. Sama-sama pecahkan masalah itu dengan bersama, kita sebagai istri juga nurut apa permintaan suami.
Suami juga ada tanggung jawab besar terhadap keluarganya, membimbing istrinya, menjadi imam untuk keluarganya, dan mencari nafkah secara lahir dan batin untuk keluarga.
Sekali masalah, harus di selesaikan. Jangan lari sama masalah yang belum terselesaikan. Pakde cuma mengingatkan, rumah tangga bukan seperti mainan. Melainkan kita paham, apa yang masalah kita hadapi? Maupun masalah kecil, dan besar. Ya, rumah tangga itu tidak ada yang membayangkan semulus dengan aspal di jalan. Kadang kalanya di uji, dan sebisa mungkin kita menerimanya.
Awalnya sakit, tapi lama-lama bisa kita hadapi. Mau menerjang badai, salah satunya harus ada yang mau mengalah, dan bisa menguatkan rumah tangga kalian. Itu saja pesan Pakde untukmu. Pakde inginnya terbaik, bukan di ulang kembali masa lalu itu." Ucap Pakde dengan panjang, ngalor-ngidul.
Anin menjawabnya dengan anggukan kepala, jamuan yang di berikan Pakde benar-benar menjadi ilmu nya sampai nanti.
Pakde serasa kosong tenggorokannya, menyesap kembali kopinya.
Pakde memegang pundak Anin.
"Jalani saja! Sudah saatnya kamu mengabdi sebagai istri kembali." Anin mengangguk.
Anin memilih untuk berdiam ke kamar, merenungkan pikirannya. Dan mengguyur badannya dengan air, biar otaknya fresh lagi.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komennya satu bab lagi mau tamat yah 😂😂...
Terima kasih 😌🙏