Samawa Till Jannah

Samawa Till Jannah
– S2 – Episode 8. Hari Berduka Cita


__ADS_3

“ Aku akan selalu menemanimu, sampai nanti ajal menjemput kita. Ibumu sudah menitipkan ku untuk menjagamu sampai akhir hayat. ”


- Rifa'i -


🌷Happy Reading 🌷


“ Iya, kalau kamu. Kalau kamu nggak mau, ya nggak papa. Mas akan nurut aja, ” Anin merasa kalau dirinya sudah durhaka dengan suaminya karena tidak menuruti perkataan suaminya.


“ Nggak usah mas, aku mau pulang jugaan. ” Ucap Anin dengan tersenyum dan Rifa'i mencoba untuk mencari cara, akhirnya diam-diam, Rifa'i mengecup kening Anin.


“ Hehehe mas, dari tadi kamu mau cium kening aku. Kok nggak jadi, ” ucap Anin dengan tersenyum kecut kepada Rifa'i. “ Nggak papa, yang kalau mau tidur. Tidur aja, sini biar mas elus-elus kepalanya. ” Ucap Rifa'i dengan meluruskan kakinya. “ Nggak usah mas, kamu pasti capek. Biar Anin pijitin, mas tiduran aja. ”


Ucap Anin dan Rifa'i mau nggak mau menerima ajakan Anin. Karena Anin sudah memberi celah untuk Rifa'i menidurkan badannya.


“ Ya udah, ” Ucap Rifa'i dengan membuka bajunya membuat Anin terkaget dengan pemandangan yang begitu membahagiakan untuknya. Rifa'i pun kembali dan menidurkan tubuhnya ke ranjang. “ Mas pakai body lotion aja ya, soalnya aku nggak punya minyak zaitun.


Ini juga udah malem, masa iya mau keluar lagi. Pakai body lotion sama di campur minyak kayu putih aja. ” Ucap Anin mengambil piring kecil dan menyemprotkan body lotion ke piring dan menuangkan minyak kayu putih.


“ Ya udah, kamu nggak ngatuk yang. ” Ucap Rifa'i dengan membenarkan bantalnya.


“ Udah tenang aja, ya udah mas ini udah di campur. Jadi, aku pijat ya mas. ” Ucap Anin dengan naik ke ranjang dan mulai memijat punggung Rifa'i, walaupun udah bener wat lagi, tetapi dia tetap semangat untuk tidak memejamkan matanya.


Beberapa menit sudah terlewati, sampai sekarang sudah jam 01.30. Anin sudah mengantuk-ngantuk sampai tangannya sudah kemana arahnya? Sampai Anin memegang, daerah rawan longsor. Rifa'i mulai tidak bisa mencegah, itunya kelaparan yang ada di bagian rawan longsor. Anin akhirnya terkulai dan Rifa'i dengan sigap menerimanya. Rifa'i mengangkat tubuh Anin dan membenarkan tubuhnya.


*********


Jam 04.30, Anin pun bangun dari tidurnya dan melihat sampingnya kalau suaminya masih tidur. Anin pun membangunkan suaminya,

__ADS_1


“ Assalamu'alaikum mas, mas yuk bangun! Mau subuh ini, ” Ucap Anin dengan lembut dan Rifa'i pun bergeliat. “ Euuuh, waalaikumsalam yang. ” Jawab Rifa'i dengan pelan dan Rifa'i mengumpulkan nyawanya. “ Mas, aku mandi dulu ya. Nanti aku siap-siapkan barang untuk pulang nanti. ” Anin turun dari ranjang dan Rifa'i mencegahnya. Rifa'i mencium bibir Anin dan ******* bibir Anin. Anin wajahnya bersemu merah dan Anin menghindari dengan cara menggigit bibir Rifa'i. “ Hehehe maaf mas, itu mau subuh. Setan subuh biasanya berkeliaran, jadi jangan sekarang! ” Anin cengengesan dan Rifa'i memegang bibirnya. “ Ya udah, ” Ucap Rifa'i dengan pelan.


Anin tersenyum mengejek kepada Rifa'i. Anin pun melangkah dan mengambil handuk di cantolan. Anin membuka pintu kamarnya dan melangkah ke kamar mandi. Anin melihat kamar ibunya terbuka, Anin pun masuk, ternyata ibunya masih tidur. Anin curiga dengan tubuh ibunya yang kaku dan tidak bergerak sama sekali. Anin pun mencoba untuk mendekat dan memegang tubuh ibunya. “ Astagfirullahalazim, ya Allah. Bu... Bu, ibu... Bu... Mas, tolong mas. ” Rifa'i yang ada di kamar pun berlari dan masuk ke kamar ibu mertuanya karena suara Anin ada di sana. “ Yang, kenapa? ” Dengan begitu Rifa'i memegang tangan ibu mertuanya dan terasa dingin sekali.


Rifa'i mencoba untuk mengecek nadi di tangan ibu mertuanya dan ternyata sudah hilang. Rifa'i pun mengecek nadi di leher ibu mertuanya, ternyata hasilnya sama. Rifa'i juga mengecek tubuh ibunya dan ternyata hasilnya tetap sama.


“ Inalilahi Wa Inalilahi Roji'un, ” Ucap Rifa'i. Membuat Anin menangis dengan kencang dan Rifa'i keluar untuk meminta bantuan warga sekitar. “ Pak... Pak, bu... Tolong kami, ” Ucap Rifa'i dan membuat warga sekitar berdatangan ke rumah ibunya Anin. “ Ada apa mas? ” Tanya warga dan Rifa'i menjawab dengan cepat.


“ Ibu meninggal, ” Ucap Rifa'i dan warga pun masuk, warga memastikannya. Pak Rwanda yang kebetulan lewat di rumah Anin, akhirnya mampir karena rumahnya Anin ramai sekali.


“ Assalamu'alaikum, Pak.. Bu, ” Ucap Pak Rwanda. “ Waalaikumsalam Pak ustaz, Pak tolong itu di periksa. Ibunya Anin sudah meninggal atau belum, Pak. ” Akhirnya dengan cepat Pak Rwanda memeriksanya dan ternyata Allah lebih sayang kepada ibunya Anin.


Ibunya Anin sudah berada di pangkuan Allah SWT dan Anin menangis semenjadi-jadi.


Rifa'i memeluk Anin dan merengkuh tubuh Anin.


Ada warga yang mengumumkan di masjid dan ada juga warga yang mengurus di pemakaman. Di rumah juga, ada yang mengurus jenazahnya dan ada yang mengurus untuk masak-memasak.


Rifa'i dan Anin pun sholat berjamaah di masjid terlebih dahulu, sebelum matahari terbit. Akhirnya Anin lebih legowo dan ikhlas menerima semua kenyataan pahit yang dia alami untuk di dunia ini. Hatinya mulai tenang dan Anin mendoakan ibunya agar di Terima semua amal ibadahnya di pangkuan Allah SWT dan semua dosanya di kurangi. Anin mendoakan agar ibunya mendapatkan tempat tinggal yang lebih baik, semuanya Anin akan jalankan. Akhirnya Rifa'i selesai berdoa dan melihat Anin menangis terisak. Rifa'i mendekati Anin dan memeluk tubuh Anin.


“ Udah ya, nggak boleh begitu. InsyaAllah semuanya akan berlalu dan semua akan terlewati. Yuk kita pulang! Kita urus pemakamannya sampai selesai, ” Anin mengangguk dan melepas mukenanya. Anin berdiri dan Rifa'i tersenyum.


Rifa'i menggandeng tangan Anin dan Anin mau tidak mau dia harus melepas tangan Anin. Karena semua itu akan batal begitu saja. Suami istri, jika bergandengan tangan ataupun menyentuh bagian apapun. Mereka tidak sah untuk menjalankan ibadahnya. Kecuali, sedarah dengan suami atau istrinya ataupun sesama sejenisnya.


Anin pun kembali berwudhu dan Rifa'i pun sama. Anin di gandeng oleh budenya agar tetap kuat untuk berjalan. “ Udah bude tadi di suruh buat jaga kamu. Jadi, bude jaga kamu. ” Bude Wati pun menggandeng tangan Anin dan berjalan sampai ke rumah. Rifa'i mengabarkan kepada papahnya dan mamahnya.


Rifa'i memencet tombol telepon dan mencari nama papahnya. Rifa'i memencet tombol telepon. Akhirnya nyambung dan papahnya menjawabnya.

__ADS_1


“ Assalamu'alaikum Pah, ” Sapa Rifa'i dengan pelan dan suaranya parau.


“ Waalaikumsalam nak, ada apa nak? Kok pagi-pagi udah telepon papah. ” Ucap papahnya yang baru saja bangun tidur.


“ Pah, aku mau ngabarin kalau Ibu meninggal dunia Pah. Aku cuma ngabarin itu aja, kalau begitu aku tutup dulu ya Pah. Assalamu'alaikum, ” Ucap Rifa'i memutuskan sambungan sepihak dan Rifa'i melangkah ke rumah.


Bersambung


Huhuhu 😭😭😭😭 Nangis aku... Tahun 2020, tahun yang begitu pedih dan pahit...


Semoga semuanya akan berlalu dan menjadi jalan hikmah untuk kita semua... Amiinn...


🌷Jangan lupa like dan komen positif 🌷


🌷Jangan lupa mampir ke instagram 🌷


@dindafitriani0911





# Terima kasih


Lop-lop

__ADS_1


__ADS_2