
Happy Reading 📖
Anin menunggu di ruangan, sampai jam pulang pun sudah tiba. Anin masih menunggu Aksa untuk membicarakan hal tadi siang.
"Ihhh dari tadi di tungguin, ini juga udah jam pulang. Dan ini Pak Aksa membiarkan saya untuk menunggu, ahhhh..." Ucap Anin dengan meminum satu gelas kopi.
Sekarang sudah malam, Aksa juga belum menjemput Anin di ruangannya. Anin ada teman, tapi cuma beberapa orang saja.
"Kamu nunggu siapa Nin?" tanya salah satu teman Anin yang membereskan tas dan mengalungkan di tangannya.
"Nggak nunggu siapa-siapa kak, anu tadi saya ada janji sama temen ruangan sebelah kak. Jadinya, saya tunggu dulu di sini kak." Jawab Anin dengan tersenyum, matanya sudah lengket sekali. Apalagi badannya terasa gatal dan ingin Anin pulang, setelah pulang makan terus bobo cantik.
Nggak repot-repot menunggu Aksa di sini.
"O gitu, tapi 'kan udah pada pulang semua nin dan kak Gita juga bentar lagi mau pulang itu. Kamu di sini sendirian nggak papa?" tanya sekali lagi, emang kalau temannya satu ini agak sedikit gesrek. Kadang baik, kadang jahat.
Sesuai moodnya dan tidak selalu setiap hari baik, Anin menggeleng.
"Beneran mau di sini sendirian? Soalnya udah mau jam delapan lebih ini mah, kamu belum pulang. Dan seharusnya kamu pulang itu sore tadi, apa nggak di cariin sama orang tua kamu Nin. Nanti mereka resah lagi," Anin tetap menggeleng.
"Yaudah kalau begitu, kita pulang. Tapi, kita ragu sih nin mau ninggalin kamu. Apa kita tunggu aja, kamu telepon tuh temen kamu yang di sebelah ruangan. Nanti dia lupa lagi," Anin tidak punya nomor telepon Pak Aksa. Dia mempunyai kartu namanya, tapi entah lari ke mana itu kartu nama?
Sampai Anin lupa mau menyimpan nomer telepon Aksa sendiri.
"Nggak punya nomer teleponnya kak." Jawab polos Anin, mereka berdua tertawa.
"Bukannya tadi janjian dan kamu sekarang jawabnya apa coba, nggak punya nomer teleponnya kak. Hah, kamu ini janji gimana? Kok nggak lewat telepon apa gimana gitu. Ada-ada aja kamu ini, janjian kok nggak saling tukar pesan apa gimana? Menanyakan jadi apa nggak nya itu pertemuan." Timpal kak Gita yang membereskan mejanya dan menutup laptopnya.
"Hehehe, tadinya 'kan suruh nunggu. Tapi, dari sore sampai sekarang belum juga di jemput." Ujar Anin dengan membenarkan posisi duduknya.
"Ya udah kalau gitu pertemuannya besok aja, daripada lumutan berjam-jam kamu di sini. Itu temen kamu lupa lagi sama pertemuannya, udah gitu kamu di sini nggak ada temennya lagi. Kita pulang yuk! Sebentar lagi juga kantor mau di tutup Nin." Anin memikirkan perkataan temennya tadi, dan ia mengangguk mantap.
Bener apa yang di katakan temennya dan kak Gita. Mending pulang, urusan besok mau di gimanain sama Pak Aksa-nya, Anin akan terima dari segi marah dan memberikan hukuman.
"Hem yuk pulang! Kamu udah pesen taksi online nin? Kalau belum pesan sekarang," saran kak Gita Anin lakukan dan memesan taksi online-nya.
Setelah di depan kantor Anin, bersama mereka berdua berpisah dan Anin melambaikan tangan kepada mereka.
Hati Anin berdesir kencang, sepertinya ada bau-bau minyak wangi Aksa ini. Apa dia ngintil dari Anin keluar tadi.
__ADS_1
***
Anin terkelonjak kaget karena taksinya berisi Aksa yang sedang menatapnya dengan tatapan menerkam mangsa.
"Lah, dari kapan Pak Aksa ada di sini?" Anin memegang dadanya agar jantungnya tidak copot karena ulah Aksa.
"Silakan masuk!" Ucap Aksa dengan hormat dan penuh kelembutan.
Hah, bukan muhrim Nin.
Kamu belum halal sama dia, kan nggak boleh dekat-dekat dengannya.
Sebelum Aksa memantapkan diri menjadi pasangan seumur hidup dan semati Anin.
"Ngggak Pak, saya mau pesan taksi lainnya aja. Daripada sama bapak, kita belum muhrim jadinya jaga jarak dulu Pak." Ucap Anin dengan menutup taksinya, heh kemarin-kemarin ke mana aja kamu Nin?
Hahaha...
Lupa itu kemarin nebeng sama si Aksa.
Aksa pun keluar dan dengan cepat dia memegang tangan Anin, membuka kotak bludru berwarna merah.
Anin tersenyum kalau Aksa benar-benar memantapkan hatinya untuk Anin sendiri.
"Aduh, nggak aku nggak terima dulu. Karena aku mau fokus ke pekerjaan dulu, kalau nanti hati ku sudah plong dan nyaman sama Pak Aksa. Boleh aku menerimanya dan mengulurkan tanganku untuk menjabat tangannya, mencium tangannya. Aku masih beberapa bulan bercerai bersama mas Rifa'i, takutnya kejadian itu terulang lagi." Ucap Anin di dalam hati, hatinya segenap jiwa Anin belum menerima dan masih terngiang-ngiang dengan kejadian Rifa'i yang pada saat itu menduakan-nya.
Apalagi Aksa ini pebisnis yang namanya masih naik daun, proyek dan tender ingin mendekat. Agar bisa leluasa berkerja sama dengan perusahaan yang Aksa bangun dari keringatnya sendiri. Tidak dari warisan temurun, melainkan ia bangun secara perlahan-lahan.
Butuh kurang lebih 2 tahun untuk membangun perusahaannya sendiri, agar semakin sukses dan berkembang.
Banyak wanita yang tergila dengan kekayaannya dan ketampanannya. Wanita di luaran, ataupun client nya yang cantik dan banyak perempuan yang muda-muda ingin sekali bersanding bersamanya.
Kenapa Aksa memilih Anin?
"Ini sebuah harapan untuk ke depannya, aku ingin melamarmu dan bisa di katakan kita akan menuju halal. Aku ingin menjadi suami untuk anak-anak kita nanti, dan aku ingin sekali melakukan kehidupan yang baru. Apalagi aku sudah di katakan matang umurnya untuk menuju pelaminan Nin." Ucap setulus dan segenap jiwa Aksa merasuki hati Anin.
Tapi, getarannya tidak sehebat Anin dulu ketika Anin di lamar secara tiba-tiba oleh Rifa'i.
Anin melupakan kejadian tadi, ia ulang kembali tadi. Mengalihkan pembicaraan, "Ehm Pak tadi bapak mau apa ya?"
__ADS_1
Membuat Aksa wajahnya penuh tanya.
Maksudnya gimana?
"Apanya Nin?"
"Tadi itu bapak marah-marah sama saya, nah katanya mau bahas urusan. Tapi, urusan apa ya Pak?" Anin mengusak pakaiannya dan menggerai rambutnya.
"Malah bahas ini sih Nin, kamu ini dari tadi membuat ku mau kehabisan napas gegara menghafalkan apa yang mau aku ungkapkan untuk kamu. Sampai aku pinjem temen yang suka ngegombal, aku aja nggak bisa buat gombal-gombal kayak gini. Tapi, kamu malah bahas kedinginan ku tadi, aku kan masih tahap kek awalan perkenalan gitu... Ah lupa tadi apa ya yang di bicarain." Ucap Aksa di dalam hati, dengan begitu Anin menepuk tangannya dan Aksa memandang Anin kembali.
Bener, Aksa tadi siang bukan ketemu client melainkan teman sebayanya.
Yang bisa di ajak berbicara tentang ala 'gombal-gombal mukiyo' Aksa bingung sama Anin, dia memang belum pernah sesekali menembak perempuan.
Nah, bibirnya nanti bisa aja keseleo.
"Iya maaf, ini tadi aku itu masih moodku kurang nyaman. Dan sekarang aku udah nyaman moodnya," ucap Aksa.
Anin kembali tertawa di dalam hati.
"Perasaan tadi marah ya Pak, kok sekarang malah ngegombal sih pak," si tukang gr ini.
Tapi, pada kenyataannya emang begitu.
Anin nggak salah ngomong, Aksa gelagapan sendiri. Lamarannya sepertinya di tolak, hahaha kasian sekali Aksa.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa Like dan komennya ya gess ☺☺☺
Gass terus, nanti jangan lupa di rem bang
😂😂😂
__ADS_1
Terima kasih 🙏💕