
Happy Reading 📖
Anin terburu-buru sampai lupa bayar taksi secara offline, bertemu dengan sopir taksinya tapi dia juga lupa kalau pembayaran secara online pun belum dia aktifkan.
Anin kembali lagi ke gerbang, taksi masih menunggu di sana. Untung saja, batinnya jiga tersembunyi dan terselip bahwa sopir tidak akan pergi ketika si penumpang belum bayar.
"Maaf Pak, sekali lagi minta maaf ya Pak. Saya juga nggak akan seperti ini, jika keadaan pun tidak menyamai." Ucap Anin dengan beribu-ribu ucapan 'maaf' kepada sopir taksi.
Sopir taksi mengangguk, bukan berarti sopir tidak memaafkan. Sopir juga mengingat kalau hari ini mulai puasa, jadi sopir memahami.
"Iya mbak, nggak papa. Ya udah sana masuk. Katanya terburu-buru," ucap lembut sang sopir taksi dan Anin masuk ke dalam. Sampai matanya mengarah di kendaraan yang beroda empat itu sudah terparkir di halaman kantor.
"Waduh, Pak Aksa sudah berangkat ini. Aku harus bagaimana?" Anin masuk ke dalam kantor dan bertanya tentang ruangan meeting.
Akhirnya, yang punya lobi kantor memberitahukan sampai detailnya. Emang ruang meeting jauh sekali, benar memakan waktu sampai lima menit.
Dengan napas menderu-deru, Anin masuk tanpa permisi. Ada Aksa dan para karyawan atasan juga sedang menunggu kehadiran Anin. Di mana Aksa masih menjelaskan terhenti dengan keberadaan Anin. Aksa mengarah ke pandangan Anin dan Anin ketakutan, ia tidak bisa memberikan contoh yang baik.
"Kamu kemana saja Anin?" tanya Aksa dengan dingin dan membuang waktunya saja untuk pulang ke rumah orang tuanya. Aksa berubah pikiran kemarin, ke rumah orang tuanya dia tunda sampai jam siang nanti baru berangkat.
"Eh maaf Pak, saya terlambat ya? Ya udah silakan di lanjut lagi Pak, kalau begitu saya permisi dulu jika bapak tidak mengharapkan kehadiran saya, saya keluar dari kantor ini." Pasrah Anin, Anin sudah tidak sanggup kalau dia harus mengejar waktu dengan cepat dan waktunya juga ingin dia segerakan untuk bersenang-senang, bukan tersiksa seperti ini.
"Apa kamu sudah tidak membutuhkan pekerjaan? Sedangkan, kamu mendapatkan tawaran sebagai sekretaris pribadi saya. Kamu meninggalkan begitu saja," ujar Aksa dengan formal dan karyawan lain menatap sama, ada juga yang bingung dengan CEO-nya sendiri.
"Eike, bentar aku berkata apa tadi? Ada yang salah apa ya? Kok Pak Aksa mulai kepancing emosi ini." Ucap Anin di dalam hati dan Anin menundukkan kepala.
__ADS_1
"Kalian semua sudah mengerti 'kan, saya sudah menjelaskan secara rinci dan detailnya gimana tadi. Jadi, harap untuk memulai perjalanan karier itu cukup puas dan baik-baik untuk di jalankan secara ikhlas. Saya juga sudah sabar, untuk menunggu hasilnya. Tetapi, ini balasannya. Saya akan balik sekarang juga, jika ada yang melamar pekerjaan ini saya akan terima. Asalkan ikhlas, tepat waktu, dan sabar. Itu kunci dan prioritas utama yang harus kita utamakan. Bukan bekerja, berarti kita harus terlambat. Kita harus giat untuk mencari keahlian dan bakat kita bersama. Ya sudah kalian boleh bubar dan bisa melanjutkan pekerjaan kalian masing-masing." Ujar Aksa dengan lembut dan tegas.
Para karyawan membubarkan diri masing-masing dan Anin masih berdiam di sana.
"Maafkan perkataan saya tadi, saya tidak ingat jika hari ini saya puasa. Tapi, ini hal yang saya bingung. Kenapa kamu terlambat?" tanya Aksa dengan baik-baik.
"Silakan duduk! Biar nggak kaku kaki kamu," perintah Aksa dan Anin cepat-cepat duduk.
Kakinya sudah keram dan kaku, jantungnya menderu-deru sampai terdengar bunyi seperti orang yang mempunyai penyakit asma.
"Baik Pak, begini saya juga lupa kalau hari ini ada rapat dadakan dan sebelumnya saya belum pernah di ajak rapat beginian Pak. Nah, saya mengingat kalau hari ini saya kepingin berangkatnya agak siangan dikit. Tetapi, bude saya mengingatkan tadi. Di suruh beres-beres siapa tau nanti rezeki kamu akan tambah, dan bisa sedikit menambah pengalaman juga. Itu yang saya pikirkan, mengingat hari ini ada rapat. Jadinya, saya berberes Pak." Agak sedikit nyeleneh nggak papa kali ya, Anin membuat-buat alasan agar di terima dengan baik oleh bosnya sendiri.
Aksa sedikit aneh, karena ada alasan yang kurang pas di hati Aksa. Aksa menerimanya dan memasukkan alasan tersebut.
"Iya sudah kalau begitu, saya terima alasan kamu maupun kamu beralasan bagaimana juga, saya akan mampu untuk menerima." Ujar Aksa dan Anin langsung terang benderang hawanya.
Aksa terkejut karena Anin mendadak menjabat tangannya, padahal sebenarnya dia yang akan menjabat tangan Anin. Tidak tahu malu sekali Anin itu...
Tapi, bikin jantung Aksa ingin lari. Entah kemana larinya kalau nanti tidak bisa kekejar impiannya?
Anin baru tersadar, apa yang telah ia lakukan sudah melalui batas maksimalnya. Ingat sedang puasa nin! Jaga hati dan sikap!
"Sekali lagi maaf ya Pak, emmm... Kalau begitu boleh kasih libur hari ini aja ya pak." Canda Anin, Aksa tersenyum.
"Iya boleh, kalau mau kamu keluar dari perusahaan ini secara cepat dan gesit. Menginginkan libur, itu boleh. Boleh juga bertahun-tahun lamanya, apa nggak jenuh itu pikiran?" tanya Aksa dengan memasukkan handphone di tas dan berdiri dari kursi.
__ADS_1
"Hehehe iya Pak. Perkataan saya kadang terlalu di anggap serius Pak, sampai saya ngaca diri dari dulu sampai sekarang nggak ada berubahnya. Saya akan memulai hidup baru juga Pak, tidak akan terjerumus lagi dengan masalah namanya rumah tangga." Ucapan Anin membuat kepala Aksa terasa cenat-cenut.
"Iya, aku juga menginginkan menikah. Tapi, Allah belum kasih jalan untuk aku ke kamunya. Insya bulan depan, sehabis lebaran apa nggak nanti setengah perjalanan puasa aku akan melamarmu Nin. Jika, kamu terima aku akan membahagiakan mu sampai seterusnya dan sampai ajal menjemput kita." Batin Aksa dengan semangat dan berseri-seri wajahnya.
"Saya akan pertunjukkan ruangan kamu, di sebelah sana! Kamu bisa memulai pekerjaan mu sekarang. Saya permisi dulu, mau mengurus pekerjaan yang lain." Anin mengangguk dan Aksa permisi keluar, Aksa memencet tombol lift. Masuk ke dalam lift, Anin mencegahnya.
"Pak, saya mau tanya itu kunci ruangan saya ada di mana ya?" tanya Anin.
"Ada di cleaning service, coba kamu ke sana. Saya tadinya mau ke sana, tapi berujung ini ya saya nggak jadi." Sahut Aksa dan lift berjalan.
Anin tersenyum, membayangkan Aksa marah-marah tadi. Ingin ketawa tapi nggak ada yang serius amat.
Anin berjalan menuju ruangan cleaning service.
Bersambung...
Jangan lupa like dan komennya teman-teman
😊😊😊
Bonus buat kalian ❤️❤️
Hiks... mataku dah pedih... Ini dulu ya, sebelah juga libur 🥺🥺🥺
Buat kalian ini mah 🍃
__ADS_1
Terima kasih banyak 😌🙏