
Happy Reading
Setelah kejadian beberapa bulan yang lalu, Rifa'i tidak pernah menginjakkan kaki di rumah papahnya lagi dan tiap hari minggu pasti ke makam mamahnya untuk ziarah ke makam mamahnya.
Saat ini, Anin menyiapkan beberapa makanan di meja makan, dengan peluh keringat dan sebelumnya dia belum mandi
Rifa'i memeluknya dari belakang dan mengendus tubuh Anin yang baunya asem.
“ yang kok baunya asem, belum mandi ya? ”
Rifa'i yang sudah bersiap-siap untuk berangkat dinas. Anin tersenyum dan menggelengkan kepalanya.
“ Hehehe, maaf mas tadinya aku mau mandi tapi udah kesiangan bangunnya. ”
“ Kamu ini akhir-akhir hari ini, kenapa bangunnya siang terus? ” Ucap Rifa'i melepaskan pelukannya dan mengambil roti yang sudah di sediakan oleh Anin.
Iya, bener. Akhir-akhir hari ini, Anin sering bangun terlambat kadang sampai Rifa'i marah berjam-jam dan selalu menghindari Anin.
“ Nggak tau, namanya juga aku nunggu kamu pulang sampai kadang pulang aja jam dua belas malem mas. ”
Emang juga, Rifa'i sekarang waktunya sedikit dan selalu menghindari malam mereka. Jarang sekali mereka melakukan apa yang suami istri lakukan setiap malam ataupun jam-jam senggang.
“ Ya namanya juga pekerjaan banyak, numpuk. ”
Nah, setiap hari pasti alasannya itu aja, tetapi Anin tidak curiga sama sekali.
“ Yaudah sekarang kamu makan dulu lah. Aku mau cuci baju sama gosok baju. ”
“ Iya. ” Jawaban yang selalu simpel dan nggak rumit-rumit untuk di ucapkan.
Anin membawa keranjang cucian yang numpuk dan selalu numpuk, entah kenapa?
Karena, setiap hari suaminya gonta-ganti baju sampai dia benar-benar lelah.
Sekarang ini, dia tidak di bantu oleh bi Isah dan mang Jalal, mereka berdua menjalankan tugasnya untuk bersama papah Rahmat.
Menjaga papah Rahmat, agar tidak keluar dari rumah, bisa membahayakan nyawa sekitarnya kalau papah Rahmat bisa keluar.
“ Ya Allah, cucian numpuk terus gosokan baju itu aja sampai aku berjam-jam di depan gosokan baju. Ini juga, huh rasanya capek banget. Apalagi kalau aku membersihkan rumah ini belum lagi menyiapkan sarapan, makanan buat suami. ”
Anin cuma bisa mengungkapkan rasa hatinya di depan mesin cuci, dia tidak mau mengeluh di depan suaminya.
Hahaha, emang bisa mesin cuci di ajak curhat...
Anin setiap hari mengeluarkan cairan bening dan itu pun kalau keluar pasti sedikit.
Setiap saat pasti pusing dan ingin rasanya pingsan, di rumah cuma ada Pak satpam yang jaga jam pagi sampai malam, tetapi kadang juga nggak berangkat.
Beberapa jam, berkutat di depan mesin cuci dan jemuran, kemudian dia lanjut menggosok baju.
Bajunya aja sekarang yang di pakai sedikit robek dan kerudungnya aja kucel.
__ADS_1
Emang beberapa bulan terakhir, pernikahannya tidak selanggeng sebelum mamah Hajar meninggal.
Sekarang adalah ulang tahun pernikahannya, serasa tidak hangat dan memulai memudar kadar cintanya.
Tetapi, Anin gigih dan kuat untuk semuanya, tidak apa-apa, suaminya melakukan yang dia mau, tetapi kalau suaminya selingkuh, jangan harap Anin bisa jatuh di pelukan Rifa'i selamanya!
“ Kenapa rasanya pingin martabak di depan sana, ah beli lah? Tapi, nanti dulu. Selesaikan ini dulu, baru beli. ”
Waktunya sebagai ibu rumah tangga selalu padat dan tidak ada waktu untuk keluar rumah.
Akhirnya, semuanya selesai. Anin membawa keranjang yang sudah ada pakaian rapi dan sudah dia gosok.
Di dalam kamarnya, Anin menata pakaian.
Setelah selesai, Anin mandi dan setelah mandi, dia memoles bedak di wajahnya, agar tidak kelihatan pucet pasi.
“ Ehm, kemarin kan uangnya masih, belum aku belanjain. Sekarang, sekalian ke pasar dulu. ”
Anin keluar dari kamarnya dan menatap rumah yang sebesar ini, tidak ada penghuninya sama sekali.
“ Baik-baik dulu ya, aku mau pergi. ”
Anin melangkah ke depan dan pintunya dia kunci.
Satpam yang baru saja berangkat dan Anin menyerahkan semuanya kepada satpam rumah.
“ Pak, jaga dulu ya rumahnya! Saya mau ke pasar, boleh pinjam motornya dulu Pak. ”
“ Ini bu, kuncinya. Hati-hati ya bu, nanti kalau ada apa-apa tinggal telepon saya aja. ”
“ Iya Pak. ”
Anin langsung menghidupkan motornya dan satpam membukakan gerbangnya.
“ Hm, gimana kalau aku ke kantor polisi dulu ya? Udah lama nggak ke sana. ”
Anin memutar arah dan ingin sekali ke sana.
Sekalian beli martabak terus meluncur ke sana.
Sampailah di kantor polisi dan Anin melepas helm-nya. Melangkah masuk ke dalam kantor dinas suaminya.
“ Selamat siang bu. Ada keperluan apa ibu ke sini? ” Tanya bapak polisi yang selalu jaga di depan pintu kantor.
“ Siang, gini Pak, saya mau ketemu Pak Rifa'i. Apakah beliau ada di ruangannya? ”
“ Hm, emangnya siapa Pak Rifa'i itu? Saya nggak kenal. ” Anin terkejut dan menatap bapak polisi itu dengan benar.
Dia takut ada kebohongan di matanya, tetapi tidak.
“ Hah, kok bisa Pak. ”
__ADS_1
“ Ya saya taunya itu, kemarin itu ada kapolres yang mengundurkan diri gitu. Katanya ingin mengurus perusahaan. ”
Anin menelan ludahnya dan tetap tenang.
“ Yasudah, kalau begitu saya permisi dulu. ”
Anin menunduk dan tersenyum.
“ Apa? Jadi, mas Rifa'i sekarang ngurus perusahaan papah. ”
Ya Allah, tega-teganya membohongi istrinya sendiri. Akhirnya Anin melaju ke rumah papah mertuanya.
Sesampainya di sana, membuat orang-orang rumah terkejut.
Kenapa Nona Anin tidak bersama dengan Tuan Rifa'i? Biasanya, mereka selalu berdua.
“ Assalamu'alaikum. ”
Anin melangkah masuk ke rumah dan meletakkan tasnya di kursi.
“ Non, nona apa kabar? ” Tanya bi Isah dengan senang dan bahagia.
“ Kabarnya baik. Allhamdulilah sehat, oh iya papah ada dimana bi? ”
“ Ada di kamarnya non, Non mau ngapa? ”
“ Hm, anu bi. Saya mau ketemu papah dulu bi. Bibi siapkan makan sama minumnya dulu ya bi! Letakkan di meja makan. ”
“ Baik Non. ” Bi Isah menuruti perkataan Anin, untuk membuatkannya makanan, sedangkan martabaknya dia bawa luntang-lantung.
Akhirnya Anin sampai di depan kamar papah mertuanya, dia menarik napasnya dalam-dalam dan membuangnya.
“ Bissmillah. ” Anin membaca do'a nya terlebih dahulu, nanti kalau ada apa-apa bisa tenang.
“ Assalamu'alaikum, pah. ” Anin membuka pintunya dan ternyata papah yang membelakanginya. Yang sedang melamun dan termenung, menatap jalanan yang begitu senggang.
“ Assalamu'alaikum pah. ” Anin mengulang perkataannya dan papah Rahmat langsung menengok ke belakang.
“ Nak Anin, ” papah Rahmat langsung mendekati Anin dan Anin menyalami tangan yang begitu hangat.
“ Pah, apa kabar? ” Papah Rahmat menghela napasnya.
“ Allhamdulilah baik nak. Papah sehat kok, ”
Ya Allah, apa penyakit papah udah sembuh?
Kok, berkata lembut selembut kain sutera dan benang wol yang begitu lembut di tangan.
“ Ini pah, tadi aku beli martabak. Sebenarnya mau aku kasih ke suamiku, tetapi dia malah nggak kerja di kantor udahan. ”
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen ya❤️❤️❤️