
Happy Reading
Beberapa bulan telah berlalu, kini kandungan Anin sudah berumur sekitar 7 bulan. 2 bulan lagi Anin proses lahiran, sekarang Anin ke pasar. Dengan perut yang membuncit, dia sedikit kesusahan.
"Ya Allah panasnya, dari tadi ke sana- ke sini nggak dapet itunya." Anin mencari-cari ikan tongkol untuk di sambal nanti.
"Yaudahlah ini juga udah pas. Daripada nggak dapat apa-apa." Anin keluar dari pasar dan mencari Pakdenya.
Pakdenya yang nongkrong di warung bubur, Anin menghampirinya dan meletakkan belanjaannya di meja.
"Pak, buburnya satu ya!" Anin duduk dan Pakdenya memberi jalan untuk Anin duduk.
"Gimana dapat?"
"Nggak Pakde, Pakde nggak kerja nanti?"
"Oh iya nak, Pakde lupa kalau nanti siang ada acara di kantor Pakde, nah Bude juga harus ikut. Kamu sendiri di rumah nggak papa kan?"
"Nggak kok Pakde, jugaan itu acara penting. Jadinya Pakde harus menghadirinya."
Tukang buburnya pun meletakkan semangkuk bubur di hadapan Anin. "Pakde udah makan?" Anin mengambil sendoknya dan mengaduknya.
"Sudah nak, kamu yang makan aja."
Anin memakan buburnya sampai habis, dia sekarang makannya banyak dan porsinya melebihi sebelum hamil.
***
Akhirnya setelah beberapa jam di pasar, Anin pulang bersama Pakdenya. Sesampainya di rumah, Anin melepas kerudungnya dan selalu gerah sama panas.
"Nak, kamu nggak beli tongkol? Katanya tadi mau beli tongkol." Tanya Bude sembari mengecek barang yang di beli Anin.
"Iya Bude, tadi aku mau beli tongkol tapi penjualnya ada yang nggak berangkat, terus yang satunya berangkat tapi dagangannya udah habis.
Kalau ikan tongkol yang belum di olah ya nggak enak." Ucap Anin dengan menghidupkan kipas angin dan menyalakan TV.
"Oalah gitu, ehm... Semuanya lengkap, yaudah kalau begitu Bude mau siap-siap dulu."
"Iya Bude." Anin fokus dengan berita yang wara-wiri di TV.
"Kecelakaan yang menimpa keluarga Ajidarma membuat semua orang terkejut, apa kecelakaan ini di akibatkan dari seseorang atau kecelakaan tunggal? Kita simak infonya!" Suara yang menggema di TV, membuat keluarganya menangis pilu dan duka bagi keluarga Ajidarma.
"Alah kecelakaan lagi, apa nggak ada yang di bahas gitu? Dari kemarin gitu-gitu aja. Televisi macam apa?" Ucap Pakde dengan mengomel-omel sama televisinya sendiri.
__ADS_1
"Pak udah ibu, sekarang kita berangkat yuk Pak! Nanti telat lagi." Bude yang sudah siap, membuat Pakde melongo dan mendekati Bude.
"Yuk!"
"Ehm, ponakan sendiri di lupakan." Anin menyindir Pakdenya dan Bude tersipu malu gara-gara suaminya sendiri.
"Yaudah, Pakde sama Bude pamit dulu ya. Kamu di rumah hati-hati, kalau mau keluar ya nggak papa. Yang penting hati-hati!" Ucap Bude mencium kening Anin dan Anin menyalami Bude sama Pakdenya.
"Assalamu'alaikum..."
"Waalaikumsalam, hati-hati Pakde!"
"Iya... Kamu juga hati-hati!" Ucap Pakdenya dari pintu depan, Anin menutupnya.
"Apa aku ke rumah papah ya? Aku pingin ke sana, aku udah kangen bener nih." Anin mengambil tasnya di kamar dan memakai kerudung.
Sudah selesai semua, Anin melangkah ke pintu depan, membuka pintunya dan menutupnya.
Anin mengunci pintunya dan melangkah samping, meletakkan kuncinya di bawah pot yang besar.
Sampai jongkok-jongkok membuatnya keringetan, Anin berdiri kembali dan melangkah ke gerbang. Mengunci gerbangnya tanpa gembok, Anin mencari taksi yang lewat.
"Ah, di gang depan aja lah. Daripada di sini nanti nggak dapat-dapat." Anin mengayunkan kakinya ke gang depan.
***
Anin melambaikan tangannya, memberhentikan mobil taksi. Dia malas pesan taksi online, takutnya nggak dapat atau gimana? Memakan waktu yang lama.
"Mau kemana mbak?" Tanya sang supir dengan membuka pintu mobilnya.
"Jalan Sudirman nomer empat belas ya Pak!"
Anin masuk ke dalam dan menutup pintu mobilnya. "Mau ketemu sama pebisnis mbak? Siapa tau cepet jadi kaya mbak." Tanya sopir dengan menyetir mobilnya.
"Nggak, saya mau ketemu papah mertua saya." Sopir itu terkejut, hampir mencelakai anak menantu dari pebisnis.
"Hah, apa mbak?" Sopir menjalankan mobilnya kembali dan sampai di sana Anin menghentikan pembicaraannya dengan sopir taksinya.
Anin di dalam taksi, menguap beberapa kali sampai saat ini Anin benar-benar mengantuk dan akhirnya tidur di dalam taksi.
"Kayaknya mbaknya hamil ya?" Sopir melirik Anin dari kaca yang menempel di depan.
"Astagfirullah bener hamil. Berarti emang benar-benar anak dari seorang pebisnis ini mah... Untung nggak salah ngomong tadi." Sopir mengetuk-ngetuk tangannya di stir mobil dan menatap kembali wajah Anin.
__ADS_1
Akhirnya sampai di depan rumah Papah Rahmat, mobil taksi di perbolehkan untuk masuk karena membawa si anak menantu majikan mereka.
"Mbak, maaf sudah sampai." Ucap sopir dengan membangunkan Anin, Anin terbangun dan mengucek-ucek matanya.
"Ini Pak, kembaliannya bapak ambil saja!" Anin mengeluarkan uang 200 ribu dan Anin keluar dari taksinya. Taksi berjalan dan meninggalkan kawasan perumahan elit.
Anin memencet belnya dan ada seseorang yang membukakan pintunya, Anin melangkah ke ruang tamu. Mendaratkan pantatnya yang sedikit panas karena posisinya salah tadi kalau tidur di dalam taksi.
"Pak, papah ada?"
"Ada Non, tapi masih di ruang kerjanya."
Suara ketukan sepatu pantofel pria, dari pintu depan membuat Anin menatap laki-laki itu. Siapa lagi kalau bukan Rifa'i.
"Mau apa kamu ke sini?"
"Ehm, maaf mau jenguk papah aja."
"Selama ini, kemana saja? Dari papah sakit waktu itu, kamu nggak pernah menginjakkan kaki kamu ke sini. Kenapa kamu memunculkan wajahmu ke sini lagi?" Ucap Rifa'i dengan dingin dan Rifa'i memilih untuk berdiri di hadapan Anin.
"Maaf aku itu apa? Aku mau jenguk papah, tapi ada kendala yang mengalami ku."
"Eh nak..." Papah Rahmat yang memunculkan wajahnya di hadapan Anin. Memeluk Anin dari samping dan mencium perut Anin, mengelusnya pelan-pelan.
"Maaf pah, aku nggak sempat jenguk papah. Aku mau ke sini ragu pah, aku takut." Papah Rahmat memegang dagu Anin, supaya Anin menatap papah Rahmat.
Anin mendongak ke atas dan menatap papah Rahmat yang sehat, bahagia, tetap tersenyum.
"Udah kamu nggak boleh gitu. Papah seneng kalau kamu sehat terus sekarang cucu papah berkembang dengan baik di perut Ibunya." Ucap Papah Rahmat dengan tersenyum, sedangkan Rifa'i tersenyum kecut.
"Nak, kamu nggak mau mengakui ini anak yang di kandung Anin, darah daging kamu?"
Rifa'i menghela napasnya dan menatap bola mata papahnya, sebuah permintaan terakhir agar sang anak bisa memenuhi apa yang di bicarakan jauh-jauh hari.
"Saya mau kamu temui saya di taman, saya mau bicara pribadi sama kamu. Jadi, papah tunggu di sini dulu!" Ucap Rifa'i dengan melangkah pergi dan Anin menatap papah Rahmat, yang mengangguk.
"Kalau ada apa-apa papah yang nanggung nanti. Jangan dengarkan apa yang di bicarakan dan hal-hal yang membuatmu aneh, ya nak!" Nasehat dari papah Rahmat, akhirnya Anin melangkah, mengikuti Rifa'i yang ada di taman belakang.
Bersambung...
Jangan lupa Like, komentar positif, dan beri bintang lima ya😊😊😊
Terima kasih teman-teman yang sudah memberikan dukungannya 🙏💕
__ADS_1